
Hari semakin siang, namun Alfin masih terlihat sibuk di ruangan kantornya.
Pikirannya sedang tidak tenang dan keningnya nampak berkerut, kerugian yang terus dialami perusahaannya membuatnya merasa sangat tertekan. Wajahnya sangat tegang saat menatap layar laptopnya.
Tok...!
Tok...!
Terdengar pintu ruangannya ada yang mengetuk.
"Sudah aku bilang jangan ada yang masuk ke ruanganku, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun!" teriak Alfin kesal karena merasa perintahnya tidak diindahkan oleh karyawannya.
"Maafkan saya sudah lancang masuk ke ruangan anda tanpa izin, Tuan!" ucap seorang pria dengan suara terengah engah, pria itu langsung masuk ke ruangan Alfin seraya mendekati Alfin yang tengah duduk di meja kerjanya.
"Kau?"
Alfin terkejut melihat pria itu yang merupakan salah seorang anak buahnya yang ditugaskannya menjaga markas di pelabuhan. Pria itu langsung masuk ke ruangannya dengan tergopoh.
Alfin lalu berdiri dan mendekati pria anak buahnya itu sambil menunjukkan wajah tidak senangnya.
"Buat apa kau datang kesini, dan kenapa wajahmu seperti sedang ketakutan seperti itu?" tanya Alfin sambil menatap wajah anak buahnya yang terlihat sedang ketakutan.
"Markas kita diserang kawanan orang tak dikenal, Tuan, anggota kami sudah berhasil dilumpuhkan oleh orang orang itu! untung saya bisa melarikan diri!" sahut pria itu sambil menundukkan wajahnya dan nafasnya masih tersengal sengal, sepertinya dia baru saja habis berlari karena dikejar seseorang.
"Apa, diserang?" kaget Alfin seketika membulatkan matanya.
"Siapa yang berani menyerang markas kita? Bukankah pengamanan sangat ketat, disana?" tanya Alfin tidak percaya.
"Saya perhatikan sepertinya mereka bukan ingin merampok, Tuan. Mereka juga sangat paham kelemahan kita. Mereka tidak mengambil apapun dari sana, mereka hanya menakut - nakuti kami supaya kami pergi meninggalkan markas itu!" urai pria itu menjelaskan kejadian penyerangan di markasnya kepada Alfin.
"Aargghhh.... sial! kenapa ada saja masalah, siapa lagi ini yang bikin ulah!" sungut Alfin kesal dan semakin marah sambil memukul meja di hadapannya.
__ADS_1
"Sekarang kumpulkan anggotamu yang lain, kita akan lawan mereka!" perintah Alfin kepada anak buahnya itu.
"Siap, Tuan!" sahut pria itu sambil berjalan cepat keluar dari ruangan Alfin.
Alfin mengusap wajahnya kasar dan berkacak pinggang, "benar benar sial! dasar bang**t!" gerutunya penuh murka.
Praakk....!
Terdengar pintu ruangannya didobrak secara paksa, diiringi tubuh anak buahnya yang tadi terhempas di lantai ruang kerjanya itu. Anak buahnya itu jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan, dari ujung bibirnya terlihat ada setetes darah dengan dagunya yang membiru akibat sebuah pukulan benda tumpul.
"Apa apaan lagi ini?" teriak Alfin. Dia langsung terperanjat melihat kondisi anak buahnya saat itu.
Belum habis rasa terkejutnya, Alfin kembali tersentak melihat sesosok pria sudah berdiri angkuh menatap tajam ke arahnya. Pria itu mengenakan jaket hitam, topi dan juga penutup wajah. Pria itulah yang sudah menghajar anak buahnya dan mendorong tubuhnya kembali ke ruangan Alfin.
"Siapa kau, dan kenapa kau bisa masuk kesini!" teriak Alfin sambil ikut menatap pria itu dengan kemarahannya.
Pria yang menggunakan jaket hitam itu langsung melemparkan topinya ke lantai dan melepaskan penutup wajahnya.
Alfin membelalakkan matanya, dia seolah tidak percaya dengan sosok pria yang kini tengah ada di hadapannya, dan terus menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa, Al? kau kaget melihatku?" tanya Arkha dengan senyum seringainya. Ada amarah dan dendam yang tersirat dari sorot matanya.
"Kau pasti mengira aku sudah mati, kan?" cibir Arkha sambil mendekati Alfin dan menepuk pundaknya.
"Kau mau apa datang kesini lagi, Kha?" tanya Alfin gugup, kemunculan Arkha dihadapannya yang tidak pernah diduganya itu membuat nyalinya menciut.
"Ha..ha...ha... kau itu sangat konyol, Al!" Arkha tergelak dan tersenyum sinis.
"Kau bertanya apa tujuanku kesini? ehmm..., menurutmu sendiri, apa tujuanku kesini, Al?" cibir Arkha kembali menyeringai, jari telunjuknya ditempelkannya di pipinya sementara ibu jari dan jari tengahnya memangku dagunya, senyum kecut masih terus menghiasi bibirnya.
"Semua orang sudah menganggapmu mati, Kha. Semua ini sudah menjadi milikku sekarang! kau itu hanya seorang pecundang, Arkha!" pekik Alfin sambil ikut menunjukkan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Iya kau benar, Al. Semua orang memang sudah menganggap aku sudah mati, dan itu semua karena kau, Alfin!" bentak Arkha sambil mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Alfin.
"Aku akan menuntutmu dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadapku, Al! aku sudah tahu kalau sebenarnya kau lah dalang dari semua ini, kau yang merencanakan kecelakaan di kapalku waktu itu dan kau juga yang sudah membeli mayat tak dikenal dari kamar mayat yang kau akui sebagai jasadku!" seru Arkha.
"Aku benar benar tidak menyangka kalau orang yang aku anggap sebagai sahabat baikku selama ini ternyata diam diam menikam ku dari belakang!" Arkha berdecak penuh amarah.
"Hari ini semuanya akan berakhir, Alfin! aku akan mengirimmu ke penjara!" seru Arkha menegaskan ancamannya.
"Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu, Arkha! kau tidak punya bukti apapun! dan dengar baik baik Arkha, justru aku yang akan menuntutmu karena memberi tuduhan palsu!" serang Alfin ikut memberi ancaman.
"Ha...ha...ha...! tentu saja aku punya banyak bukti dan saksi yang akan memberatkanmu, Alfin!" gelak Arkha sambil menoleh ke arah pintu masuk ruangan itu sambil menepuk tangannya beberapa kali memberikan sebuah isyarat.
Rendy langsung masuk ke ruangan itu sambil mendorong tubuh seorang pria yang terlihat ketakutan.
"Ampuni saya, Pak, jangan penjarakan saya! saya tidak bersalah, saya hanya menjalankan perintah saja," rengek pria itu memelas terlihat sangat takut.
"Sekarang katakan, apa benar orang ini yang sudah membeli mayat dari kamar jenazah tempatmu bekerja?" bentak Rendy kepada pria itu, sambil menunjuk ke arah Alfin.
"Ayo ceritakan semuanya dan kau tidak perlu takut, tujuanku disini untuk menolongmu lepas dari ancaman Pak Alfin, karena itu akuilah semua sejujur jujur nya sekarang!" geram Rendy menekankan perintahnya kepada pria itu.
Alfin kembali membulatkan matanya saat melihat pria dihadapannya saat itu, tiba tiba hatinya merasa gentar, satu rahasianya pasti akan terbongkar olehnya.
"Iya benar, Pak! Bapak inilah yang sudah membeli sesosok mayat Mr X waktu itu dan menyuruh saya melemparkannya ke tengah laut!" sahut pria itu dengan ketakutan masih terlihat di wajahnya karena Rendy yang terus menekannya dengan tatapan penuh ancaman.
"Tugas saya hanya mengantarkan mayat Mr X itu saja, Pak! yang melakukan transaksi adalah teman saya dengan Pak Alfin, tapi sayangnya teman saya itu sudah dihabisi oleh anak buah Pak Alfin untuk menghilangkan bukti!" beber pria itu lagi.
"Kau dengar itu, Al! orang ini akan bersaksi untuk memberatkanmu nanti di pengadilan!" seru Arkha sambil tersenyum miring kepada Alfin.
Alfin menghela nafas kasar, "brengsek! sial sekali aku hari ini!" gumamnya sambil mengacak rambutnya kasar.
"Harusnya aku juga menghabisimu waktu itu!" bisik Alfin marah kepada pria itu.
__ADS_1
"Semua ini belum cukup untuk bisa membawaku ke pengadilan, Arkha! kau belum tahu siapa aku! aku bisa melakukan apapun!" tantang Alfin setelah merasa terpojok dengan tuduhan Arkha dan Rendy.