Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Bonus Part #1


__ADS_3

Matahari sudah tinggi, hari sudah semakin siang.


Seorang wanita melangkahkan kakinya dengan percaya diri masuk ke gedung kantor perusahaan Arkha. Dia menenteng sebuah rantang susun yang berisi makan siang di tangannya.


"Selamat siang, semua!" sapa wanita itu tersenyum ramah kepada semua karyawan yang ada di kantor itu. Beberapa orang terlihat membalas sapaannya. Namun, beberapa orang justru terlihat cuek saja tidak menanggapi.


Setelah wanita itu berlalu, nampak dua orang karyawan wanita berbisik-bisik tentangnya.


"Menurutmu, apa Sandra bakalan bisa menaklukkan hati Pak Rendy?" seringai salah seorang karyawan itu kepada temannya.


"Kita lihat saja nanti. Palingan lama-lama juga Sandra bakalan mundur dengan sendirinya! Pak Rendy itu kan pria paling dingin sedunia, bahkan melebihi antartika," sahut temannya ikut meremehkan.


"Aku salut juga sih sama Sandra. Dia sangat percaya diri mendekati seorang beruang kutub seperti Pak Rendy. Kalau aku sih ogah ya. Udah dingin, nggak pernah senyum, galak, pemarah lagi!"


"Iya, aku juga ogah. Jujur nih, dari dulu aku tuh curiga kalau Pak Rendy bisa saja punya kelainan. Jangan-jangan dia penyuka sesama jenis, makanya selama ini dia sangat dingin sama semua cewek,"


"Ush ..., jangan asal bacot! Didenger Pak Rendy, tamat riwayatmu nanti!"


"Ha ..., ha ...., ha ...," kedua karyawan wanita itu tertawa terkekeh.


Selama ini bisik-bisik karyawan yang bergosip tentang Rendy memang sering terdengar. Banyak diantara mereka yang mencibir sikap Rendy yang sangat dingin dan jarang tersenyum khususnya kepada lawan jenisnya.


Di depan ruangan Rendy, Sandra menghampiri seseorang yang ada di sana.


"Mbak, apa aku boleh bertemu Pak Rendy?" tanya Sandra dengan sopan kepada seorang wanita yang meja kerjanya ada di depan ruang kerja Rendy. Wanita itu adalah Executive Secretary di kantor itu.


"Ditunggu sebentar ya, Mbak Sandra. Saya coba konfirmasi ke Pak Rendy dulu. Mudah-mudahan Pak Rendy sedang tidak sibuk!" sambut sekretaris itu.


"Mbak Sandra silahkan duduk dulu," sambung sekretaris itu lagi dan mempersilahkannya untuk menunggu.


Sandra lalu duduk di kursi ruang tunggu di depan ruang kerja Rendy.


Beberapa hari semenjak Arkha dan Mutiara pergi berbulan madu, Sandra memang rajin mengunjungi Rendy di kantor itu untuk membawakannya makan siang atau mengajaknya makan di luar bersama. Ada keinginan untuk lebih dekat dengan Rendy di benak Sandra.

__ADS_1


Saat menunggu itulah, sebuah senyum tersimpul di bibirnya kala mengenang sebuah kejadian pada saat hari pernikahan Arkha dan Mutiara.


****


Flash back


Satu persatu rundown acara pernikahan Arkha dan Mutiara berjalan dengan lancar, hingga kini acara terakhir yang paling ditunggu-tunggu semua orang yaitu pelemparan bunga pengantin dan foto bersama.


Tradisi melakukan lempar bunga pengantin ini memang diyakini memiliki makna penting. Bunga untuk pernikahan yang dipegang oleh mempelai wanita merupakan perlambang bagi kesuburan dan juga keindahan.


Ketika bunga tersebut dilempar dan didapatkan oleh seseorang yang masih lajang, diharapkan akan bisa segera menyusul pengantin untuk menikah dan mendapatkan kehidupan yang bahagia. Sedangkan bila didapatkan oleh tamu undangan yang sudah memiliki pacar atau kekasih, diharapkan agar bisa segera menyusul kedua mempelai ke pelaminan.


Itulah sebabnya, banyak dari para undangan disana khususnya yang masih berstatus lajang yang sudah sedia berkumpul di belakang pasangan pengantin tepat sesaat sebelum pelemparan bunga itu akan dilaksanakan.


Seperti halnya Rendy. Ejekan Arkha yang mengatakan dia jomblo akut membuatnya merasa jengah, dia sangat ingin mendapatkan bunga itu agar keinginannya memiliki pasangan hidup bisa segera terwujud.


Untuk sesaat Arkha dan Mutiara saling memandang dan tersenyum lebar sambil menyiapkan aba-aba akan melempar hand bouquet itu ke belakang mereka.


Rendy tertunduk lesu, bunga itu ternyata tidak jatuh kepadanya, tetapi terlempar jauh ke belakang.


"Aaw ...!" ringis Sandra terkesiap merasakan rangkaian bunga itu menimpa kepalanya. Dengan cepat tangannya langsung meraihnya dan memegangnya erat.


Dari awal Sandra sama sekali tidak berharap mendapat bunga itu. Karenanya, dia sangat terkejut dan merasa grogi ketika bunga itu kini ada di genggamannya.


"Sandra ...! Sandra ...!" teriak beberapa orang disana mengelu-elukan nama Sandra. Tepuk tangan para hadirin semakin hingar-bingar.


Akan tetapi, Sandra hanya terpaku tidak tahu harus berbuat apa. Saat itulah pandangannya tertuju kepada sosok seorang pria yang sejak beberapa hari ini berhasil mencuri perhatiannya.


Rendy, pria dingin yang selalu memasang wajah datar tanpa pernah tersenyum kepada lawan jenisnya itu sempat membuat jantungnya sedikit terpacu saat tanpa sengaja mereka bertatapan.


Perlahan Sandra mendekati Rendy sambil tersenyum penuh arti.


"Bunga ini buat kamu saja, Rendy. Aku rasa kamu lebih cocok mendapatkannya," cibir Sandra.

__ADS_1


Rendy sama sekali tidak menoleh ke arah Sandra, dia hanya sedikit memutar bola matanya menoleh ke arah Sandra dan tersenyum datar. Dia sadar betul kalau saat itu Sandra tengah meledeknya.


"Kamu tidak perlu mengejekku, Sandra! Sesama jomblo dilarang saling mencela!" umpat Rendy. Namun, sebuah senyum samar tergurat di bibir Rendy saat itu.


Meski terkadang sikap Sandra terlihat pecicilan di mata Rendy, tetapi wanita itu juga cukup mampu menarik perhatiannya. Bicaranya yang ramai dan tidak pernah absen menyapanya, cukup membuat Rendy terkesan.


Semenjak saat itulah Sandra semakin terobsesi mendekati Rendy . Bahkan dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan berusaha keras untuk bisa meruntuhkan dinding es di hati Rendy.


****


"Mbak Sandra, silahkan masuk, Mbak!" Sekretaris itu mempersilahkan Sandra masuk ke ruangan Rendy tetapi Sandra masih saja bengong terlalu hanyut dalam lamunannya.


"Mbak Sandra ...!" seru sekretaris itu lagi.


"Ini orang kenapa bengong dan senyum-senyum sendiri, ya? Jangan-jangan lagi kesambet setan? Iiihh ...!" batin sekretaris itu bergidik.


"Mbak Sandra ...!" seru sekretaris itu sekali lagi yang seketika membuat Sandra terkejut dan membuyarkan lamunannya.


"Ah ..., iya kenapa, Mbak?" gapap Sandra.


"Pak Rendy sudah menunggu, Mbak. Jadi silahkan masuk sekarang!" ujar sekretaris itu mengulang lagi kata-katanya sebelumnya.


"Oh iya, terimakasih, Mbak," sahut Sandra gugup dan tersipu malu, lalu dengan cepat masuk ke ruangan Rendy.


Di dalam ruangan itu, Rendy tampak masih sangat sibuk dengan pekerjaanya. Matanya menatap layar laptop dengan wajah yang ditekuk.


Sudah beberapa pekan Arkha tidak ke kantornya karena sedang menikmati bulan madunya bersama Mutiara. Selama itu, Rendy lah yang mengambil alih semua tanggung jawab mengurus semua operasional di kantor itu.


Wajar saja, dari semenjak Arkha merebut kembali perusahaan itu dari tangan Alfin tiga tahun yang lalu, Rendy lah yang menggantikan posisi Alfin sebagai Executive Assistant Manager di perusahaan Arkha.


___________________


Readers tercinta,

__ADS_1


Sambil menunggu up karya baru dan sesuai janji Author sebelumnya, bonus part untuk cerita ini akan author update secara berkala. So, jangan ketinggalan part selanjutnya ya ...


__ADS_2