Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #36 Bujukan


__ADS_3

"Kasihan Livina, dia mengira kalau aku sudah tewas saat ia tengah mengandung anakku. Dia pasti sangat berat menjalani hidupnya saat itu, wajar saja kalau dia menikah lagi," ucap Arkha sendu.


"Tapi mengapa harus menikah dengan Alfin? Apa memang benar mereka punya hubungan rahasia dibelakangku sebelumnya?" Arkha kembali berdecak murka saat mengingat pengkhianatan Alfin sahabatnya.


Genta dan Rendy kembali hanya saling menatap, mereka berdua tidak bisa menjawab pertanyaan Arkha, karena kenyataanya mereka berdua pun tidak pernah tahu apa ada hubungan lain antara Alfin dan Livina sebelum mereka menikah.


"Sudahlah, itu bukan hal yang terpenting saat ini!" seru Arkha. Melihat dua asistennya itu hanya diam tak menjawab, Arkha tidak terlalu memperdulikannya karena masih banyak pertanyaan lain yang masih belum ditanyakannya, dan masih menyesakkan dadanya.


"Lalu bagaimana keadaan Mamaku?" tanya Arkha lagi, ia sangat mengkhawatiekan keadaan mamanya karena sebelumnya Genta mengatakan bahwa mamanya itu sedang sakit parah..


"Nyonya Besar sedang sakit dan harus dirawat secara khusus di rumah sakit, Bos. Beliau sangat terpukul setelah mengetahui anda tewas saat itu," sahut Genta dengan raut wajah sedih.


"Maafkan kami! kami tidak bisa menjaga Nyonya Besar, Bos! selama ini Pak Alfin lah yang menjalankan perusahaan anda, Pak Alfin juga menugaskan kami menjaga kapal kapal ikan antar pulau agar kami jarang bisa ke kota. Bahkan Pak Alfin juga memisahkan kami, saya di ujung timur dan Rendy di ujung barat, karena itulah selama ini kami berdua mendapat kesulitan dalam menyelidiki semuanya, Bos!" imbuh Genta.


"Ya Tuhan, banyak sekali yang sudah terjadi dalam waktu setahun ini dan aku tidak tahu apapun karena disini aku juga hilang ingatan!" pekik Arkha dengan mata berkaca sambil meremas rambutnya dengan kasar.


"Alfin..!" decak Arkha sambil mendengus kesal.


"Dia adalah akar dari semua permasalahan ini! Aku harus buat perhitungan dengannya!" tatapan Arkha seketika nanar, kobaran amarah terlihat jelas dari sorot matanya.


"Bos, kita harus segera kembali ke kota. Hanya Bos yang bisa menghentikan semua kebusukan Pak Alfin!" segah Rendy, ia pun ikut merasa gusar mengingat kelakuan Alfin yang sudah merencanakan semua kejahatan yang terjadi selama ini.


"Tidak semudah itu, Rendy! Pak Alfin bukan orang sembarangan. Sebelum dia merencanakan semua ini, dia pasti sudah menyiapkan semuanya matang matang, kita tidak akan mudah mengungkapkan semuanya. Kita harus kumpulkan dulu bukti sebanyak banyaknya untuk menjeratnya ke dalam tuntutan hukum!" sela Genta dengan suara tegas.

__ADS_1


"Genta benar! sebelum melaksanakan semua akal liciknya, pasti dia sudah mempersiapkan siasat dan dia bisa dengan mudah menghapus semua barang bukti dan menghabisi semua saksi!" tegas Arkha.


"Kalau kita bekerja sama, saya yakin kita pasti bisa membongkar semua kejahatan yang dilakukan Pak Alfin, Bos!" seru Rendy.


"Lalu apa rencana kalian?" tanya Arkha dengan aura kemarahan masih terlihat di wajahnya.


Genta dan Rendy lalu membisikkan sebuah rencana untuk menjebak Alfin, keduanya nampak sangat serius dengan rencana mereka itu


Akan tetapi Arkha hanya terdiam. Dia hanya menghela nafasnya kasar sambil menyandarkan punggungnya di sandaran bangku.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan pulau ini!" ucapnya datar.


"Aku mempunyai ikatan dengan Mutiara dan juga Pak Imran disini, meski mereka hanya mengenalku sebagai Segara, tapi aku berhutang budi pada mereka. Pak Imran yang sudah menyelamatkanku saat aku hanyut di tengah gelombang laut dan Mutiara lah yang merawatku selama ini. Aku juga berhutang nyawa pada mereka berdua," lanjutnya.


"Bos, kita bawa saja mereka ikut bersama kita ke kota!" ujar Genta memberi saran.


"Tidak! aku tidak akan kembali ke kota! aku akan tetap disini. Aku mencintai Mutiara, aku tidak peduli lagi dengan semua uang, harta dan kekuasaan itu!" teriak Arkha.


"Apa anda yakin tidak mau kembali ke kota, Bos?" tanya Rendy lagi.


"Apa anda tidak peduli tentang kondisi Nyonya Besar dan juga perusahaan anda? apa anda rela membiarkan perusahaan yang sudah dibangun susah payah oleh mendiang Tuan Besar diambil alih begitu saja oleh Pak Alfin?" seringai Rendy sambil menatap tajam ke arah Arkha.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Arkha menundukkan wajahnya, ada kebimbangan yang nampak jelas dari tatapan matanya.

__ADS_1


"Mau tidak mau, untuk sementara waktu anda harus meninggalkan pulau ini. Nanti saat misi kita sudah selesai, baru kita akan jemput Nona Mutiara dan Bapaknya kesini lagi!" tegas Rendy.


"Bagaimana aku harus menjelaskan semuanya kepada Mutiara? aku bahkan belum menceritakan kalau ingatanku sudah kembali kepadanya!" keluh Arkha.


"Kalau anda memang belum mengatakan bahwa ingatan anda sudah kembali pada Nona Mutiara, itu akan lebih mudah, Bos! Anda cukup katakan kepada mereka bahwa kami kesini untuk mengajakmu pergi bekerja ke kota, dan katakan bahwa anda akan menjemput mereka nanti setelah anda sukses di kota!" kembali Rendy mengeluarkan ide briliannya untuk meyakinkan Arkha agar bersedia diajak kembali ke kota.


"Berat, Rendy! aku tidak mungkin melakukan semua itu!" ucap Arkha pelan.


"Setahun disini, rupanya anda sudah menjadi budak cinta, Bos! dimana keberanian anda yang dulu? Seorang Bos Arkha yang saya kenal adalah seseorang yang sangat pemberani, seorang yang ambisius dan juga bertangan dingin!" ejek Rendy dengan suara tegas. Dia menjadi sangat tidak suka mendengar pernyataan Arkha yang seakan pasrah, lebih memilih cintanya daripada ambisinya.


"Tutup mulutmu, Rendy!" kembali Arkha berdecak marah dan mencengkram kerah jaket Rendy.


"Kau tidak pernah jatuh cinta, bagaimana kau bisa mengerti arti mencintai, kau tidak akan pernah tahu apa yang tengah aku rasakan sekarang!" hardik Arkha sambil mendorong tubuh Rendy hingga ia terjengkang ke atas bangku.


"Sudah, sudah hentikan semuanya!" seru Genta.


"Yang dikatakan Rendy benar, Bos! anda harus kembali ke kota dulu, kita harus merebut kembali semuanya dari Pak Alfin, untuk sementara kita harus tinggalkan dulu Nona Mutiara disini, setelah misi kita selesai anda bisa kembali ke pulau ini, dan menjemput Nona Mutiara disini!" sanggah Genta sambil memegang pundak Arkha dan menatap wajahnya yang nampak lesu.


"Mutiara, bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini? sedangkan aku sendiri tidak bisa hidup tanpamu!" gumam Arkha.


"Tapi bagaimana dengan Mama? dia juga pasti sangat membutuhkanku saat ini!" Arkha terus berfikir, ia sangat bimbang menentukan keputusan apa yang harus diambilnya saat ini.


Bab ini hanya penghubung cerita saja ya guys...

__ADS_1


Haruskah Arkha kembali ke kota atau tetap tinggal di pulau itu?


Jangan bosan dulu lanjut terus baca next episode ya...


__ADS_2