Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #93 Nasehat Mama


__ADS_3

Malam semakin larut, suasana haru antara tiga orang yang baru bisa bersama lagi itu pun semakin terasa.


Mama Yuna menatap wajah Mutiara dan putranya secara bergantian dan kembali tersenyum bahagia. Meski semua sudah terungkap, Arkha dan Mutiara kini lebih banyak diam. Akan tetapi, Mama Yuna bisa merasakan ada bias-bias kerinduan yang terpancar dari wajah-wajah itu. Karenanya, ia ingin memberikan sedikit waktu untuk keduanya bisa berbicara empat mata.


"Apa Baruna ada di kamarmu, Ra?" tanya Mama Yuna mengalihkan sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, Nyonya. Baruna sudah tidur di kamar," jawab Mutiara.


"Baiklah, kalian berdua silahkan ngobrol dulu, aku akan menemui cucuku."


Sambil terus tersenyum, Mama Yuna melangkahkan kakinya menuju kamar Mutiara.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada Sandra yang masih duduk di kursi ruang makan. Sedari tadi Sandra duduk di sana dan hanya menyimak cerita antara Mama Yuna, Arkha dan Mutiara tanpa berani berkomentar. Saking seriusnya bercerita dengan putranya, Mama Yuna lupa kalau Sandra masih ada di apartemennya saat itu.


"Sandra, Mutiara dan Baruna sudah kembali. Aku berterima kasih karena kau sudah mau datang ke sini menemaniku. Ini sudah larut malam, kau boleh pulang sekarang," ujar Mama Yuna.


"Nyonya tidak perlu berterima kasih pada saya, Nyonya. Sudah tanggung jawab saya harus selalu ada untuk Nyonya," sahut Sandra sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Saya permisi dulu, Nyonya." Sandra membungkukkan badannya lalu melangkah keluar meninggalkan apartemen itu.


Setelah Sandra menghilang di balik pintu, Mama Yuna melanjutkan langkahnya masuk ke kamar Mutiara untuk menemui Baruna yang sudah tertidur di sana.


Di ruang tamu, kini hanya ada Arkha dan Mutiara yang masih sama-sama membisu dan saling menundukkan wajahnya.


"Rasanya bagai mimpi akhirnya kita bisa bersama lagi, Ra," Arkha berusaha memulai obrolan dan mencairkan kebekuan di antara mereka.


"Aku ingin minta maaf sama kamu, Bang. Sekarang, aku menyesali semua sikap keras kepalaku. Selama ini aku sudah salah paham terhadapmu," sesal Mutiara merasa bersalah karena sudah salah paham terhadap Arkha.


Arkha hanya tersenyum mendengar ucapan Mutiara lalu dia bangun dari tempat duduknya dan mendekati Mutiara. Arkha berjongkok di hadapan Mutiara sambil menatap wajahnya. Perlahan Arkha meraih kedua tangan Mutiara dan memegangnya erat.


"Aku yang salah karena sudah berbohong padamu akan kebenaran tentang diriku waktu itu, Ra. Seharusnya dari awal ketika ingatanku sudah kembali, aku langsung menceritakannya padamu," ucap Arkha sambil mencium lembut punggung tangan Mutiara dan terus menatap wajahnya.


"Kalau seandainya dari awal aku jujur padamu, aku yakin semua ini tidak akan pernah terjadi," lanjut Arkha.

__ADS_1


"Lebih dari tiga tahun kita berpisah, Bang. Selama itu aku selalu merindukanmu. Tapi, karena keegoisanku, aku juga sudah memisahkanmu dari putramu, darah dagingmu sendiri," ucap Mutiara sambil menyeka air mata yang kembali menetes deras membasahi pipinya.


"Semua sudah terjadi, Ra. Mungkin memang sudah jalannya harus seperti itu. Yang penting sekarang kita sudah kembali bersama. Kita akan mulai awal yang baru bersama Baruna putra kita, Ra." Arkha ikut mengusap air mata di pipi Mutiara dengan ibu jarinya lalu duduk di sebelah Mutiara.


"Tapi bagaimana dengan Livina, Bang? Saat ini dia masih istrimu, kan?" Mutiara kembali menampakkan wajah ragunya.


"Aku akan segera mengurus perceraianku dengannya, Ra. Setelah aku tahu semua kejahatannya, sudah tidak ada lagi alasanku untuk mempertahankannya, justru dia harus membayar mahal atas semua perbuatan buruknya selama ini," tegas Arkha sambil memegang pundak Mutiara dan terus menatap kedua matanya.


"Setelah semua masalah ini selesai, kita akan selalu bersama dan tidak akan ada lagi yang memisahkan kita, Ra," sambung Arkha sambil mendekatkan tubuhnya, merangkul pundak Mutiara dan membawanya ke dalam dekapannya. Mutiara tidak dapat menolak semua perlakuan Arkha terhadapnya, sehingga tanpa ragu ia ikut membenamkan kepalanya di dada Arkha.


Untuk sesaat, hanya perasaan yang berbicara di antara mereka. Jantung mereka berpacu sama cepatnya, semua rasa yang terpendam selama tiga tahun lamanya, akhirnya tertumpahkan dengan penuh haru malam itu.


Arkha membelai rambut Mutiara yang tergerai dalam pelukannya, pancaran kebahagiaan berseri di raut wajahnya.


"Aku sangat mencintaimu, Ra. Walaupun selama ini aku sudah menganggapmu tiada, tapi aku tetap mencintaimu, bahkan sedetikpun aku tidak pernah bisa melupakanmu." Arkha kembali memegang bahu Mutiara, tanpa berkedip, Arkha terus memandangi wajah Mutiara dan sebuah senyum tidak pernah lepas dari bibirnya.


"Aku juga selalu cinta sama kamu, Bang," balas Mutiara sambil ikut tersenyum tidak kuasa menahan gejolak hatinya saat itu. Wajahnya kini bersemu merah, tatapan mata Arkha membuat hatinya luluh dan tidak mampu lagi menahan semua perasaannya.


"Ehhheeemm ...!"


Belum sempat Arkha mengecup bibir Mutiara, tanpa mereka sadari Mama Yuna sudah berdiri tepat di depan mereka dan berdehem keras.


Arkha dan Mutiara terkejut lalu sedikit membuat jarak di antara mereka. Tatapan tajam Mama Yuna membuat mereka tersipu malu dan langsung menundukkan wajahnya.


"Ahhh ... sial! Mama mengganggu kesenanganku saja," umpat Arkha dalam hati merasa kecewa karena gagal mencium Mutiara saat itu.


"Mutiara, sebaiknya sekarang kamu masuk ke kamar dan tidur, temani Baruna!" perintah Mama Yuna sambil terus menatap tajam ke arah Mutiara.


"Dan kamu, Arkha! Ini sudah malam sebaiknya kamu pulang dan segera selesaikan semua urusanmu dengan Livina!" perintah Mama Yuna sambil memberi kode agar Arkha segera meninggalkan apartemennya.


"Ma, Mutiara adalah istriku, setelah tiga tahun lebih aku berpisah dengannya, aku sangat merindukannya. Kenapa Mama malah melarangku bersamanya?" gerutu Arkha tidak senang dengan sikap Mamanya saat itu.


"Arkha, Mutiara, Mama tahu dulu kalian sudah pernah menikah secara sah. Tetapi, setelah semua yang sudah terjadi, saat ini kalian bukan muhrim lagi, jadi sebaiknya kalian jaga jarak dulu, Mama melarang kalian terlalu dekat sebelum kalian resmi menikah lagi!" tentang Mama Yuna sambil menggelengkan kepalanya. Meskipun dia tahu putranya begitu merindukan Mutiara, sebagai orang tua, dia harus bersikap tegas kepada putranya.

__ADS_1


"Karena itu Arkha, Mama minta kamu segera ceraikan Livina, setelah itu baru Mama akan menikahkan kalian lagi," terang Mama Yuna.


Arkha mengangguk paham, yang dikatakan Mamanya benar adanya. Setelah dia kembali menjadi Arkha, tentunya dia harus mengulang pernikahannya dengan Mutiara dengan identitasnya yang sebenarnya sebagai seorang Arkha Waradana.


"Nunggu apa lagi kamu, Ra? Kenapa masih bengong disitu? Ayo cepat ke kamarmu dan tidurlah!" tegas Mama Yuna lagi saat melihat Mutiara masih hanya diam mematung di tempat semula.


"Baik, Nyonya!" sahut Mutiara patuh. Sambil menundukkan wajahnya, ia berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Arkha dan Mamanya yang masih berdua di ruang tamu.


"Kamu juga, Arkha. Cepat pulang sana! ini sudah hampir tengah malam!" Mama Yuna kembali menegaskan perintahnya kepada Arkha.


"Aku nggak ingin pulang ke rumah, Ma. Aku malas ketemu Livina. Wanita menjijikkan itu pasti akan membuatku darah tinggi kalau aku pulang. Aku mohon izinkan aku tidur disini saja malam ini, aku ingin menenangkan pikiran. Boleh ya, Ma. Please ...!" pinta Arkha merengek sambil memegang tangan Mamanya.


"Enak saja! Memangnya kamu mau tidur dimana? Di sini hanya ada dua kamar tidur!' ketus Mama Yuna menyeringai dan menoyor kening Arkha.


"Emm... di sofa ini juga nggak apa-apa, Ma," sahut Arkha cengengesan sambil mengacak rambutnya dan tersenyum memelas kepada Mamanya.


"Nggak bisa! Kamu harus pergi dari sini. Apa kata orang nanti kalau melihatmu disini bersama Mutiara sementara statusmu saat ini masih suami wanita lain? Kamu mau, nanti ada orang yang mengatakan Mutiara seorang pelakor?" cibir Mama Yuna.


"Yaelah, Ma ..., mana ada orang yang peduli sih?" Arkha menggeleng sambil mencebikkan bibirnya menanggapi cibiran Mamanya.


"Akan banyak orang yang peduli dan bergosip tentang kamu, Arkha. Hanya karena kerinduanmu sama Mutiara, kamu jangan sampai lupa siapa dirimu. Apa kata orang nanti saat mengetahui seorang pria terpandang dan berpengaruh di kota ini ternyata punya istri simpanan?" Mama Yuna kembali menyeringai, tetapi ada nasehat yang tersirat dalam kalimat yang diucapkannya.


"Ayo cepat, pulanglah! kalau kamu malas pulang, kamu cari hotel atau apa kek, yang penting sekarang kamu pergi dari sini! Siuh ..., siuh ..!" usir Mama Yuna sambil mendorong tubuh Arkha ke arah pintu keluar apartemennya.


"Tapi besok aku boleh kesini lagi kan, Ma? Aku kan sudah janji mau antar Mutiara menemui Genta di rumah sakit?" sosor Arkha lagi sambil menahan daun pintu agar Mamanya tidak menutup pintu itu, karena posisi berdirinya kini sudah ada di luar apartemen itu.


"Iya!" jawab Mama Yuna ketus sambil menutup rapat pintu itu dengan cepat.


Arkha diam terpaku di depan pintu apartemen itu. Sebuah senyum tetap menghiasi bibirnya.


"Uh ..., Mama itu pelit sekali. Masa, ingin bersama lebih lama sama orang yang sangat aku ridukan selama ini saja tidak boleh?" sungutnya kecewa.


Akan tetapi, ada rasa bahagia memenuhi jiwanya ketika menyadari bahwa Mutiara sudah kembali ke dalam hidupnya, serta ketegasan sikap Mama Yuna terhadapnya juga sudah bisa dirasakannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2