
Tiga tahun pasca bencana besar yang terjadi, wilayah-wilayah yang terdampak pastinya masih menyimpan trauma, duka dan kesedihan masih terasa, namun hidup tetap lah harus berjalan. Pulau-pulau yang terdampak itu kini mulai berbenah, kampung-kampung nelayan di sekitar pesisir pun sudah mulai kembali menampakkan aktivitasnya.
Pasca bencana, pemerintah bergerak cepat dalam merehabilitasi daerah-daerah itu dan membangun kembali semua infrastruktur, sehingga roda perekonomian di sana dengan cepat bisa kembali berjalan normal.
Warga yang kehilangan tempat tinggalnya pun sudah tidak risau lagi karena pemerintah juga sudah merelokasi mereka dan memberikan perumahan layak huni sehingga mereka bisa hidup lebih damai di sana.
Di ujung sebuah jalan perumahan relokasi itu, tampak seorang wanita tengah kebingungan, kepalanya menoleh kesana-kemari seperti sedang mencari seseorang dan wajahnya terlihat letih karena sudah cukup jauh berjalan.
"Una....! kamu dimana, Nak!" teriak wanita itu.
"Baruna....!"
"Baruna....! pulang, Nak! Ibu lelah mengejarmu!"
Wanita itu terus memanggil-manggil nama anaknya sambil terus berjalan menyusuri jalanan di depan perumahan padat itu.
"Huh, entah kemana larinya bocah nakal itu?" gerutu wanita itu, kini wajahnya terlihat kesal karena tidak kunjung menemukan dimana anaknya berada.
"Ara, kamu lagi cari anakmu ya, Ra?" sapa seorang wanita paruh baya yang kebetulan ditemui oleh wanita itu.
"Iya, Bu. Anak itu selalu saja merepotkanku, baru aku tinggal sebentar dia sudah menghilang dari rumah," sahutnya.
"Anakmu itu memang hiperaktif dan nggak pernah bisa diam, Ra. Coba kamu cari di depan sana, Ra. Tadi Ibu melihatnya berlari mengejar kucing ke arah pantai!" ujar Ibu itu sambil menunjuk ke sebuah jalan setapak yang menuju ke pantai.
"Baik, terimakasih ya, Bu." jawab wanita itu sambil bergegas menyusuri jalan setapak itu untuk kembali mencari anaknya.
Wanita itu tidak lain adalah Mutiara, pasca bencana dia juga tinggal di perumahan itu, berbekal identitas barunya sebagai pasangan suami istri palsu bersama Genta, dia mendapatkan sebuah perumahan relokasi dari pemerintah dan sudah hampir tiga tahun juga dia dan Genta tinggal disana.
Mutiara terus berjalan menyusuri jalan setapak itu hingga akhirnya dia tiba di pantai.
"Baruna....! kau sembunyi dimana?" teriaknya lagi.
Mutiara sudah cukup lelah berjalan sehingga dia hanya diam berdiri di tepi pantai itu. Matanya tertuju ke dermaga yang tak jauh dari bibir pantai dan Mutiara tersenyum melihat seorang bocah laki-laki kecil berlari ke arahnya.
"Ibu..., ayah Tilta puyang!" seru bocah itu dengan kata-katanya yang masih cadel dan Mutiara segera menangkap tubuh bocah itu lalu membawanya ke dalam gendongannya.
"Kamu kemana aja, Sayang? Ibu mencarimu kemana-mana. Dasar bocah nakal!" cecar Mutiara kepada putra kecilnya itu sambil mencubit gemas hidungnya.
__ADS_1
"Ayah Tilta puyang." Kembali bocah itu mengucapkan kata-kata yang sama.
"Ayah Tirta pulang? mana dia, Sayang?" tanya Mutiara dan putra kecilnya itu menunjuk ke arah dermaga.
Dari dermaga itu tampak seorang pria dengan cepat menyusul langkah bocah kecil itu dan ikut menghampiri Mutiara.
"Bang Tirta, kapan tiba, Bang?" tanya Mutiara kepada pria itu sambil mencium punggung tangannya.
Pria itu tak lain adalah Genta dan selama tinggal di pulau itu dia mengganti identitasnya dengan nama barunya yaitu Tirta. Di hadapan putranya, Mutiara memang selalu menunjukkan bahwa Genta adalah suaminya, karena itulah putranya itu memanggil Genta dengan panggilan Ayah dan menganggapnya sebagai ayah kandungnya.
"Aku baru saja tiba, Ra. Itu lihat, kapalnya baru saja meninggalkan dermaga!" sahut Genta sambil menunjuk sebuah kapal ikan yang baru saja meninggalkan dermaga itu dan terlihat belum terlalu jauh dari sana.
Semenjak Mutiara bersikeras tidak mau pergi ke kota bersamanya, Genta tetap tinggal di kampung itu menemani Mutiara. Awalnya Genta bekerja sebagai buruh serabutan di kampung itu, namun kesenangannya berlayar di tengah samudra membawanya bekerja lagi di sebuah kapal ikan milik perusahaan asing. Sudah lebih dari dua tahun Genta bekerja di kapal itu dan selama itu juga dia sangat jarang ada di daratan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya berlayar, berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain.
"Ohya Una, ini Ayah belikan mainan buat kamu dari kota!" sambung Genta sambil memberikan sebuah kotak mainan kepada putra kecilnya Mutiara yang diberi nama Baruna itu.
Baruna yang masih di gendongan Mutiara langsung meraih mainan itu, "teyimakaci, Ayah!" sahutnya cadel.
"Ayo kita pulang!" ajak Genta, lalu mereka melangkah meninggalkan pantai itu menuju rumah mereka.
Bocah itu pun langsung berlari ke dalam rumahnya sambil membawa mainan yang dibelikan oleh Genta.
"Tunggu sebentar, aku buatkan kopi ya, Bang," ujar Mutiara sambil melangkah menuju warung kecil miliknya yang ada di depan teras rumahnya.
Selama tinggal di kampung itu, Mutiara juga membuka warung kecil di depan teras rumahnya, di warung itu dia berjualan makanan ringan serta sembako dan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Genta meletakkan tas ranselnya di kursi lalu duduk di salah satu kursi lainnya yang ada di teras rumah itu.
"Silahkan kopinya, Bang!"
Mutiara menyuguhkan kopi untuk Genta sambil ikut duduk di kursi di sebelah Genta.
"Bagaimana kabarmu dan Baruna, Ra?" tanya Genta sambil meraih cangkir kopinya dan perlahan meniup kopi yang masih panas itu.
"Aku dan Baruna baik, Bang. Abang sendiri gimana kerjaannya, Bang. Apa semua lancar?" sahut Mutiara ikut menanyakan kabar Genta. Walau mereka tinggal di satu rumah, namun mereka sangat jarang bertemu karena Genta lebih banyak bekerja daripada menemaninya di rumah itu.
"Semua baik, Ra!" sahut Genta sembari menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Mulai minggu depan aku nggak akan bekerja di kapal ikan itu lagi, Ra," lanjut Genta bercerita.
"Loh, Abang resign, Bang?" tanya Mutiara heran.
"Aku mendapat tawaran pekerjaan yang lebih bagus. Aku akan bekerja di kapal yang lebih besar dan menjadi kapten kapal di sana."
"Kapten kapal? serius, Bang?"
"Iya, serius, Ra!"
"Wah, selamat ya, Bang. Pasti gajinya lebih besar di sana?"
"Iya pasti. Tapi aku akan lebih sering ke kota bersama kapal itu, bahkan aku juga akan dapat fasilitas rumah di kota," ucap Genta datar. Ada beban yang tersirat dari kalimat terakhir yang disampaikannya.
"Ya, nggak apa-apa, Bang. Namanya juga resiko pekerjaan," sahut Mutiara sambil tersenyum, baginya itu adalah sebuah kesuksesan yang diraih oleh Genta.
Genta hanya menghela nafas dalam mendengar kata-kata Mutiara.
"Sudah hampir tiga tahun, Ra. Selama itu juga kau belum menjawab pertanyaanku," ujar Genta sambil menatap wajah Mutiara.
"Pertanyaan yang mana ya, Bang?" seloroh Mutiara.
"Hmm..., kamu sudah melupakannya ya, Ra?" sungut Genta dengan wajah kesal dan tersenyum cemberut memajukan bibirnya.
"Aku hanya bercanda, dan aku nggak pernah lupa kok, Bang," ujar Mutiara sambil terkekeh.
"Kalau kamu nggak lupa, lalu kapan kamu akan menjawabnya, Ra?" pinta Genta menekankan keinginannya agar Mutiara segera menjawab sebuah pertanyaan yang dulu pernah ditanyakannya kepada Mutiara.
"Maafkan aku, Bang!" sahut Mutiara sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudah nggak usah dijawab, Ra!" lontar Genta memotong ucapan Mutiara.
"Aku tahu kamu nggak akan pernah bisa mencintaiku, Ra. Sampai sekarang aku juga tahu kalau cintamu hanya untuk Segara!" cetus Genta dengan wajahnya yang berubah tampak kecewa.
Tiga tahun hidup bersama, membuat benih-benih cinta tumbuh di hati Genta untuk Mutiara. Ketegaran dan kesederhanaan Mutiara membuat Genta begitu kagum padanya, sehingga Genta juga tidak ingin Mutiara pergi ke kota dan bertemu Arkha, ada rasa ingin memiliki Mutiara di benak Genta.
Akan tetapi, sampai saat itu Mutiara belum bisa membuka hatinya untuk pria lain, Segara masihlah satu-satunya pria yang mengisi hatinya, terlebih dengan kehadiran Baruna putra kecilnya yang merupakan darah daging Segara. Bocah kecil itu juga memiliki wajah yang sangat mirip dengan Segara yang selalu mengingatkan Mutiara akan sosok seorang pria yang dia kenal bernama Segara.
__ADS_1