
Tiga hari berlalu setelah kabur dari rumah sakit jiwa tempat Mama Yuna dirawat, Mutiara merasa cukup nyaman tinggal di apartemen bersamanya.
Akan tetapi, masalah belum selesai sampai disitu, Mama Yuna yang sebelumnya sudah membaik, ternyata belum sepenuhnya sembuh dari gangguan mentalnya.
Emosinya belum stabil. Walaupun Mama Yuna sudah tidak lagi sering menangis dan tertawa sendiri, tetapi terkadang Mama Yuna masih sering murung, melamun sendiri dan tidak menyahut saat diajaknya berbicara.
Mutiara sangat memaklumi keadaan Mama Yuna yang seperti itu. Karenanya, Mutiara tetap merawat dan mendampinginya dengan baik. Dari pelatihan yang pernah didapatkannya di rumah sakit, dia tahu kalau orang yang pernah mengalami gangguan kejiwaan tidak bisa serta merta sembuh, diperlukan banyak pendekatan secara emosional untuk membuatnya kembali normal seperti sedia kala.
Di sofa ruang tamu, Mutiara menyandarkan tubuhnya. Matanya menatap ke pintu kamar Mama Yuna yang terkunci dan tertutup rapat.
Sudah hampir seharian Mama Yuna mengurung diri di dalam kamarnya, dan yang lebih membuatnya khawatir adalah selama itu Mama Yuna belum makan. Parahnya lagi, Baruna ada bersamanya di kamar itu.
Sudah beberapa kali Mutiara mengetuk pintu kamar itu dan mencoba mengajaknya makan. Namun, Mama Yuna tidak meresponnya.
"Bagaimana caranya membujuk Nyonya Yuna agar mau membawa Baruna keluar dari kamarnya? Dari tadi siang anak itu belum makan, pastinya dia sudah lapar," gerutunya.
Mutiara memandangi piring yang berisi makanan di hadapannya. Makanan itu disiapkannya untuk Mama Yuna dan putranya. Sudah lebih dari satu jam makanan itu tersaji di piring dan kini sudah mulai dingin.
Mutiara belum menyerah, ia kembali mendekati kamar Mama Yuna dan mengulang mengetuk pintu.
"Nyonya..., buka pintunya, Nyonya! Sudah sore, Baruna sudah terlambat makan siang!" panggilnya sambil terus mengetuk pintu kamar itu.
Mutiara menempelkan telinganya di pintu, ia berharap akan terdengar ada derap kaki mendekat yang akan membukakan pintu itu dari dalam.
Mutiara menghela nafas panjang, tidak ada tanda Mama Yuna akan membukakan pintu untuknya.
"Nyonya, saya mohon buka pintunya, izinkan Baruna makan dulu, setelah itu Nyonya boleh mengajaknya bermain lagi," ucap Mutiara terduduk pasrah di lantai di depan pintu.
Cukup lama Mutiara duduk di tempat itu, dia sangat khawatir, takut sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi di dalam kamar.
Ceklek...!
Pintu itu tiba-tiba terbuka, Mutiara tersenyum dan segera berdiri dari duduknya, ia mendongakkan kepalanya melihat ke dalam kamar Mama Yuna.
"Ibu...!" Baruna berlari ke luar kamar dan langsung berhambur ke pelukan Mutiara.
"Baruna lapar, ajak dia makan dulu," ujar Mama Yuna yang ikut keluar kamarnya menyusul Baruna.
"Nyonya juga harus makan," pinta Mutiara sambil melemparkan sebuah senyum ramah kepada Mama Yuna.
"Tentu saja," jawab Mama Yuna singkat sambil melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Sambil menggendong Baruna, Mutiara mengambil piring makanannya yang sudah siap tadi dan membawanya ke meja makan.
Ketiganya lalu makan bersama dan seperti biasa Mama Yuna tidak mengizinkan Mutiara yang menyuapi Baruna, dialah yang mengambil alih semua pekerjaan mengurus Baruna. Mutiara juga tidak pernah melarangnya, selama Mama Yuna tidak menyakiti Baruna, baginya itu bukanlah masalah yang besar.
"Emm.., ikan ini enak. Apa kau yang memasaknya, Ra?" tanya Mama Yuna yang terlihat lahap memakan hidangan di piringnya setelah selesai menyuapi Baruna.
__ADS_1
"Iya, Nyonya. Maaf hanya masakan ala kampung, saya hanya bisa masak itu untuk Nyonya," sahut Mutiara merendah dan Mama Yuna hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Kamu itu wanita yang istimewa, Ara. Selain cantik dan baik hati, kamu juga pintar memasak. Suamimu sangat beruntung bisa memiliki istri seperti dirimu," puji Mama Yuna sambil mengelap bibirnya dengan tisu karena dia sudah menyelesaikan makannya.
"Ah.., Nyonya bisa aja," sahut Mutiara tersipu.
"Ohya, bagaimana dengan suamimu? Apa dia sudah menghubungimu?" tanya Mama Yuna.
Mutiara menggelengkan kepalanya, "belum, Nyonya."
"Semenjak sampai di kota ini saya tidak pernah bisa menghubunginya. Apalagi sekarang saya sudah mengganti nomor ponsel saya semenjak kita meninggalkan rumah sakit, sudah pasti dia tidak bisa menghubungi saya," lanjutnya.
"Sabar ya, Ra. Kalau memang kalian saling mencintai, suatu hari pasti cinta juga yang akan mempersatukan kalian," hibur Mama Yuna.
Mutiara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Mama Yuna, mana mungkin cinta akan mempertemukannya dengan Genta. Sedangkan, dia sendiri belum bisa membuka hatinya untuk Genta, satu-satunya cinta di hatinya hanyalah Segara.
"Seandainya saja putraku bisa memilih wanita sepertimu menjadi istrinya, aku pasti akan sangat bahagia, Ra," keluh Mama Yuna sambil menatap wajah Mutiara.
Mutiara tetap hanya membalas dengan senyum, dari apa yang diucapkan Mama Yuna, Mutiara mengira kalau emosi Mama Yuna sedang terkontrol saat itu. Sebab itu, dia merasa punya kesempatan mengorek informasi dari Mama Yuna tentang problema kehidupan pribadinya sehingga membuatnya sampai menderita gangguan jiwa.
"Maafkan kalau saya lancang bertanya, Nyonya. Kalau boleh saya tahu, ada apa dengan menantu Nyonya, sampai Nyonya begitu membencinya?" tanya Mutiara penasaran.
Mama Yuna tidak menjawab dan wajahnya kembali terlihat murung setelah mendengar pertanyaannya, sehingga Mutiara tidak jadi melanjutkan bertanya.
"Aku mau istirahat, dan Baruna akan tetap menemaniku di kamar," ujar Mama Yuna sambil mengangkat tubuh mungil Baruna dan menggendongnya.
"Ayo, Oma, Ayo!" sambut Baruna bersemangat.
Melihat hal itu, Mutiara tidak berani mencegahnya. Baruna begitu dekat dengan Mama Yuna sehingga ia tidak punya alasan untuk melarang semua itu.
"Tapi saya mohon pintu kamarnya tolong jangan dikunci, Nyonya. Sebelum tidur Baruna harus minum susu, saya akan membawakannya langsung ke kamar," sergah Mutiara. Dia hanya khawatir kalau Mama Yuna akan kembali mengunci pintu, sehingga dia tidak bisa masuk untuk mengawasi mereka.
Mama Yuna tetap tidak menjawab dan langsung masuk ke kamarnya bersama Baruna.
Ting tung...!
Suara bel di apartemen itu terdengar nyaring dan Mutiara bergegas membuka pintu.
"Hai, Ra!" Sandra sudah berdiri di depan pintu dengan tangannya yang dipenuhi kantong plastik belanjaan. Sandra langsung masuk saat Mutiara membukakan pintu.
"Dimana Nyonya Yuna, Ra?" tanya Sandra sambil berjalan menuju dapur dengan semua barang bawaannya.
"Nyonya ada di kamar, San. Barusan habis makan, tapi Nyonya langsung masuk lagi ke kamarnya," terang Mutiara dan Sandra hanya membalas dengan mengganggukan kepala.
"Aku sudah belanja banyak bahan-bahan makanan untuk kalian, stok ini cukup untuk kamu masak beberapa hari," celoteh Sandra sambil menurunkan semua barang belanjaannya yang isinya adalah bahan-bahan makanan yang langsung disimpannya di dalam kulkas besar yang ada di dapur.
"Iya, makasih banyak, San," sahut Mutiara sambil duduk di kursi meja makan dan hanya memperhatikan kesibukan Sandra.
__ADS_1
Sandra memang tidak tinggal bersamanya di apartemen itu, setiap hari dia akan datang kesana hanya untuk membawakan barang-barang kebutuhan Mama Yuna dan Mutiara.
Sambil mengambil dua kaleng minuman kemasan dari kulkas itu, Sandra ikut duduk di kursi sebelah Mutiara.
"Minum, Ra!" ujarnya sambil menyodorkan sekaleng minumannya kepada Mutiara.
"Aku senang sekali Nyonya Yuna sudah jauh lebih baik semenjak bersamamu, Ra. Beliau sudah mulai mengingat semuanya, dan aku yakin tak lama lagi dia akan sembuh seperti dulu," beber Sandra sambil tersenyum memulai obrolannya dengan Mutiara.
"Sandra, apa aku boleh tanya sesuatu padamu?" tanya Mutiara.
"Iya, kenapa, Ra?"
"Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu Nyonya Yuna, San. Kenapa dia begitu membenci menantunya?"
"Menantu Nyonya Yuna itu wanita yang materialistis, Ra. Dia tidak pernah mencintai putra Nyonya Yuna, dia mau menikah dengan putranya itu hanya karena kekayaannya saja," ungkap Sandra sambil menyeruput minuman kaleng miliknya.
"Padahal sebenarnya, kamu tahu? sebelum menjadi menantu Nyonya Yuna, dia itu hanya seorang gadis miskin. Beruntung sekali dia bisa menikah dengan putra Nyonya Yuna," terang Sandra lagi.
"Apa cuma karena itu, San?" Mutiara menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu apalagi selain itu, Ra. Setahuku yang menyebabkan Nyonya Yuna mengalami depresi itu karena dulu putranya pernah mengalami kecelakaan, bahkan putranya sudah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan itu."
"Kalau itu aku juga tahu, San. Dokter di rumah sakit sudah menerangkannya kepadaku. Tapi yang aku tidak habis pikir kenapa Nyonya Yuna begitu membenci menantunya." Mutiara masih merasa penasaran.
"Aku sudah lama mencurigai menantu Nyonya Yuna itu, Ra. Semenjak putranya menghilang dan dinyatakan meninggal, aku tidak pernah tahu keberadaan Nyonya Yuna, beliau menghilang begitu saja tanpa jejak, aku baru tahu kalau ternyata Nyonya Yuna dirawat di rumah sakit jiwa setelah putranya kembali dan ternyata dia masih hidup." Sandra menceritakan hal yang menjadi kecurigaannya selama ini.
"Aku curiga kalau keberadaan Nyonya Yuna di rumah sakit jiwa itu adalah karena ulah Livina menantu matre itu, Ra!" ucap Sandra gusar.
"Livina?" Mutiara sangat terkejut mendengar sebuah nama yang disebutkan Sandra. Seketika dia ingat dengan cerita Genta tentang istri pertama Segara yang bernama Livina.
"Kenapa kamu terkejut mendengar nama itu, Ra? apa kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Sandra.
"Ah tidak, San. Aku hanya seperti pernah mendengarnya saja," kilah Mutiara gugup.
"Tuan Arkha sangat mencintai Livina, walaupun mereka pernah berpisah, tapi Tuan Arkha menikahinya lagi karena Livina sudah melahirkan putri mereka saat Tuan Arkha menghilang," lanjut Sandra lagi.
"Arkha?" Mutiara semakin terkejut mendengar penuturan Sandra. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendengar nama-nama itu disebutkan oleh Sandra.
"Iya, Arkha itu nama putranya Nyonya Yuna, dan Kaka itu hanya panggilan sayang Nyonya Yuna untuk putranya sewaktu kecil." Sandra memperjelas lagi.
"Memangnya ada apa, Ra? kenapa kau begitu terkejut mendengar ceritaku, apa kau kenal dengan Tuan Arkha?" heran Sandra sambil menatap wajah Mutiara yang tiba-tiba keluar keringat dingin.
"Tidak, San. Aku sama sekali tidak mengenalnya," elak Mutiara sambil berusaha menyembunyikan rasa terkejut dan gugupnya.
"Yang aku dengar, Tuan Arkha hilang ingatan selama dia menghilang dan tinggal di sebuah pulau terpencil yang kini sudah tenggelam diterjang tsunami," Sandra masih melanjutkan bercerita.
Mutiara seketika terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
"Astaga, ternyata Kaka itu adalah Arkha dan Nyonya Yuna adalah Mama dari Bang Segara yang sebenarnya adalah Arkha. Nyonya Yuna dan Baruna punya ikatan darah, karena itu rupanya mereka begitu dekat," batin Mutiara bergejolak. Satu rahasia yang terungkap kini membuat berjuta perasaan memenuhi benaknya.