
Malam itu adalah malam yang sangat indah bagi pasangan yang tengah dimabuk asmara. Arkha benar-benar membuktikan kata-katanya kepada Mutiara. Tidak sedetikpun ia melepaskan pelukannya dari wanita yang baru saja kembali sah menjadi istrinya itu.
Setelah mengulang pergulatan panas mereka hingga beberapa kali lagi, mereka tampak sudah mulai kelelahan. Keringat membanjiri tubuh mereka yang hanya sedikit tertutup oleh duve cover di ranjang itu dan keduanya masih sama-sama belum memakai sehelai benangpun.
Sekilas Mutiara melirik angka yang ada di jam digital yang masih melingkar di tangan kanan suaminya yang tidak pernah lepas memeluknya, dan angka di jam itu kini sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
"Bang, badan kamu bau keringat," bisik Mutiara merasa sesak karena Arkha terus memeluknya erat.
"Sejak sampai di kapal ini, kita belum mandi, Sayang. Aku ingin berendam air hangat di bath tub sama kamu. Kamu mau kan, Sayang?" ajak Arkha sambil sedikit melonggarkan pelukannya dan beberapa kali mengecup tengkuk Mutiara yang berbaring memunggunginya.
"Iya aku mau, Bang! Badanku juga gerah sekali rasanya," sahut Mutiara menyetujui keinginan suaminya.
Mutiara mengganti posisi berbaringnya dan menengadah karena Arkha sudah melepaskan pelukannya.
"Tapi aku nggak bisa bangun, Bang. Kakiku lemas, tenagaku sudah habis Abang kuras," keluh Mutiara merengek manja berharap Arkha akan menggendongnya.
"Aku masih kuat menggendongmu, Sayang. Bahkan kalau kamu sanggup aku masih bisa memuaskanmu sekali lagi sekarang," goda Arkha sambil kembali menarik tangan Mutiara dan mengarahkannya ke sela-sela pahanya.
"Ish, Abang ...! Kita sudah tiga kali melakukannya. Memangnya Abang nggak capek?" gerutu Mutiara sambil mencubit gemas perut sixpack Arkha.
"Aww ...! Geli, Sayang," ringis Arkha lalu kembali mengecup bibir Mutiara dengan mesra.
Sambil tersenyum menggoda, Arkha beranjak bangun dari ranjang itu dan mengangkat tubuh lelah istrinya, membawanya ke kamar mandi di dalam suite room itu.
"Wah ..., bath tub ini juga dihiasi bunga, Bang!" seru Mutiara kagum, ketika Arkha sudah menurunkan tubuhnya di depan bath tub.
Kamar mandi di suite room kapal itu juga sudah dihias beberapa rangkaian bunga serta rose petal yang bertaburan di atas genangan air dingin di dalam bath tub. Aroma wangi lavender dari lilin aromatherapi tercium semerbak memenuhi kamar mandi itu.
Arkha duduk di tepi bath tub dan menekan tombol kran air panas di sana, sehingga suhu air dalam bath tub menjadi hangat.
"Ayo kita berendam, Sayang!" ajak Arkha sambil menarik tangan Mutiara mengajaknya masuk ke dalam bath tub.
"Bath tub ini sempit, Bang, bagaimana kita bisa mandi bareng di dalam sini," protes Mutiara.
"Bisa dong, Sayang. Kamu bisa berendam sambil rebahan di atas badanku," balas Arkha enteng lalu keduanya pun sama-sama masuk ke dalam bath tub.
Daya tampung bath tub itu harusnya hanya muat untuk satu orang saja, tetapi hal itulah yang justru menjadi kesenangan untuk pasangan yang sedang dilanda asmara seperti Arkha dan Mutiara. Dengan posisi saling berhimpitan mereka sangat senang membenamkan tubuhnya di dalam bath tub sambil bercanda dan tergelak berdua.
Sesekali mereka saling balas meraba bagian-bagian sensitive di tubuh mereka sehingga suara ******* juga berbaur dengan gelak tawa mereka.
Akan tetapi, mereka tidak bercinta lagi di sana. Mereka hanya mandi dan berendam untuk merelaksasi tubuh mereka yang sempat beberapa kali menegang karena pergumulan panas sebelumnya.
__ADS_1
Setelah cukup lama berendam dan mandi bersama, Arkha dan Mutiara kembali beranjak ke kamar tidur yang sudah berantakan layaknya kapal pecah.
Sheet warna putih itu sudah dipenuhi bercak cairan percintaan mereka, sedangkan pakaian mahal pernikahan mereka juga berhamburan di lantai. Semua kemewahan itu seakan tidak ada nilainya dibandingkan dengan deburan gairah mereka, yang sudah mampu mengalahkan segalanya.
Saat keluar dari kamar mandi, Arkha hanya melilitkan sebuah handuk di pinggangnya sedangkan Mutiara sudah memakai bathrobe yang tersedia di dalam kamar itu. Mutiara duduk di depan dressing table sambil mengeringkan rambut basahnya dengan hair dryer, sementara Arkha kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang menunggu Mutiara.
Saat yang sama, mata Mutiara tertuju kepada kopernya yang oleh pelayan kapal itu sudah di letakkan di atas luggage rack.
Tiba-tiba Mutiara teringat akan sebuah hadiah yang diberikan Mama Yuna kepadanya.
Mutiara bergegas membuka kopernya dan mengambil kotak berwarna merah itu.
"Aku melupakan sesuatu, Bang. Mama memberikan hadiah ini dan menyuruhku membukanya saat malam pertama kita." Mutiara berjalan menghampiri Arkha di tempat tudur sambil menunjukkan kotak hadiah pemberian Mama Yuna.
"Emang apa isinya, Sayang?"
"Nggak tahu, Bang. Mama hanya mengijinkan aku membukanya saat sudah sama kamu,"
"Kalau gitu, ayo sekarang dibuka!"
Arkha meraih kotak itu dari tangan Mutiara lalu bersama-sama membukanya.
Arkha membelalakan matanya dan tertawa geli saat melihat isi di dalam kotak itu.
Perlahan Mutiara meraih benda berwarna merah hati dari dalam kotak dan memperhatikannya dengan seksama.
"Ini seperti sebuah pakaian dalam wanita. Apa ini yang disebut lingerie ya, Bang?" tanya Mutiara jujur karena dia memang belum pernah melihat apalagi memakai benda seperti itu.
"Iya, Sayang. Ini namanya lingerie. Sekarang aku paham kenapa Mama menyuruh kamu membuka hadiah ini saat malam pertama kita." Arkha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menggoda. Walau Mutiara juga mengerti tujuan Mama Yuna menghadiahkan benda itu untuknya, tetapi keluguan seorang Mutiara tetaplah sama.
"Apa aku harus pakai ini, Bang?" tanyanya ragu.
"Tentu dong!"
"Tapi ini kan tipis sekali, Bang. sama dengan nggak pakai baju dong!"
"Nggak apa-apa, Sayang. Justru pakai ini kamu akan terlihat lebih seksi dan menggairahkan," goda Arkha dengan senyum genitnya.
"Ayo sekarang kamu pakai!" bujuk Arkha. Mutiara hanya menyerngitkan dahinya dan menggelengkan kepala.
"Nggak ah, Bang. Malu ...!"
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Aku kan suamimu dan kamu juga memakainya hanya saat bersamaku saja,"
"Tapi, Bang ...?"
"Sudah, ayo pakai saja! Ini kan hadiah dari Mama, kalau kamu nggak mau pakai Mama pasti akan sangat kecewa." Arkha terus membujuk dan semakin menggoda Mutiara.
Karena desakan Arkha akhirnya Mutiara bersedia masuk ke kamar mandi sambil membawa lingerie pemberian Mama Yuna. Dengan cepat Mutiara mengganti bathrobe yang dikenakannya dengan lingerie itu.
Di depan cermin wastafel, Mutiara memperhatikan bayangannya dan tersenyum kecut.
"Hmm ..., aku terlihat seperti seorang wanita nakal memakai lingerie ini," gumam Mutiara.
"Tapi kan aku hanya nakal dan jadi penggoda untuk suamiku saja," pikiran Mutiara langsung mengalihkan. Sambil tersenyum kikuk, Mutiara melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan kembali menghampiri Arkha yang sudah tidak sabar menunggunya di tempat tidur.
Pupil mata Arkha kembali melebar saat melihat Mutiara mengenakan lingerie tipis yang hanya menutupi bagian paling inti di tubuh Mutiara.
"Sayang, kamu seksi sekali!" Mulut Arkha menganga tidak sanggup menyembunyikan kekagumannya saat melihat Mutiara tampil seksi dan menggoda. Gairahnya kembali memuncak saat melihat pemandangan indah itu tepat di depan matanya.
Secepat kilat Arkha menarik tangan Mutiara sehingga keduanya kembali berguling di atas kasur dengan posisi Mutiara ada diatas menindih tubuh Arkha.
"Sayang kamu benar-benar seksi dan semakin menggairahkan memakai lingerie ini," bisik Arkha dengan nada suaranya yang dipenuhi b*rah* sambil memeluk tubuh Mutiara dan mengecup semua bagian-bagian yang peka akan sentuhan di tubuh Mutiara.
"Kita lakukan sekali lagi, dan sekarang giliran kamu yang mengendalikan permainan, Sayang!" lirih Arkha lagi sambil mengecup telinga dan leher Mutiara tanpa henti.
"Aku nggak bisa, Bang. Nggak ngerti caranya. Aku takut mengecewakan Abang," jawab Mutiara lugu.
"Pasti bisa, Sayang. Aku akan kasih tahu caranya." Sambil mencium dalam bibir Mutiara, tangan Arkha kembali berkelana menjamah semua yang ada di tubuh Mutiara. Handuk yang tadi melilit di pinggangnya kini sudah terlepas sehingga pusakanya yang kembali mengeras menyentuh paha Mutiara yang masih menindih tubuhnya. Mutiara juga merasakan tubuhnya kembali menghangat saat sensasi gesekan pusaka itu menyentuh area intinya.
Arkha lalu mengangkat sedikit punggungnya bersandar di head board ranjang sambil terus memeluk dan mencium Mutiara yang duduk dengan posisi kedua kakinya dibuka di atas tubuhnyanya serta kedua lutut Mutiara berpangku di atas kasur. Kedua paha Mutiara menghimpit pinggang Arkha. Lingerie yang di pakai Mutiara sangatlah tipis, sehingga hanya dengan menyibaknya sedikit saja, pedang pusaka Arkha sudah masuk seluruhnya dengan sangat mudah ke dalam sarungnya.
"Aahh ...," d*sahan nikmat tidak terelakkan keluar dari mulut Mutiara. Dengan posisinya seperti itu dia bisa merasakan pedang pusaka Arkha menancap sangat dalam di lubang intinya bahkan terasa menusuk hingga ke jantungnya. Arkha memegang pinggul Mutiara sambil menarik dan mendorongnya perlahan. Sedikit demi sedikit, Mutiara sudah mampu mengikuti gerakan sesuai keinginan Arkha. Sensasi kenikmatan yang begitu luar biasa kembali mereka rengkuh bersama.
"Aaahhhh ....," ******* panjang kembali menggema saat Mutiara merasakan puncak kehangatannya. Mutiara mencengkram kuat dan meremas dada Arkha.
Bruugh ...!
Mutiara tidak mampu lagi melanjutkan gerakannya. Tubuhnya langsung ambruk bermandikan keringat di atas tubuh Arkha, nafasnya tersengal. Posisi berbeda yang baru saja dicobanya bersama suaminya terasa begitu panas membakar gairahnya.
"Gimana, Sayang? Kamu puas?" bisik Arkha sambil mengusap punggung Mutiara dan merasakan tubuh istrinya sudah lemas menindihnya.
"Iya, Bang, dan sekarang aku merasa sangat lelah," ucap Mutiara lirih dan tersengal.
__ADS_1
Arkha lalu menurunkan tubuh Mutiara dari atas tubuhnya dan berbalik posisi. Arkha kembali melanjutkan serangan mautnya hingga cairan cintanya kembali berdebur membasahi raga Mutiara.
Setelah menuntaskan semuanya, Arkha dan Mutiara sama-sama berbaring di atas ranjang. Mutiara menyandarkan kepalanya di dada Arkha. Saking lelahnya, keduanya pun tertidur pulas menghabiskan sisa gelap yang hanya sisa beberapa jam saja, karena fajar sudah menyingsing dan pagi sudah menyapa.