
"Lalu sampai kapan kita akan terus membohongi Baruna, Ra?" tanya Genta lagi dengan penuh penekanan.
Sampai disitu Genta belum menyerah, dia tetap melanjutkan usahanya untuk bisa mendapatkan hati Mutiara.
"Semenjak lahir, Baruna menganggapku sebagai ayah kandungnya, Ra. Aku juga sangat menyayanginya seperti anakku sendiri," sosor Genta.
Mutiara menghela nafas datar mendengar ucapan Genta, dia menyadari kalau dia sudah melakukan kesalahan karena membiarkan putranya menganggap Genta sebagai ayahnya sementara hubungannya dengan Genta bukanlah apa-apa selain hanya sebuah kebohongan. Selama tiga tahun ini, Genta memang sangat tulus peduli dan perhatian terhadapnya dan juga Baruna, bahkan kasih sayang yang diberikan Genta untuk Baruna melebihi kasih sayang seorang ayah kandung sekalipun.
"Sekali lagi maafkan aku, Bang. Aku selalu berusaha membuka hatiku untukmu, tapi sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan Bang Segara," ungkap Mutiara jujur, namun dia masih memberi sedikit harapan untuk Genta. Semua itu dilakukannya semata-mata demi buah hati kesayangannya yaitu Baruna. Dia tidak ingin bocah kecil itu tumbuh tanpa kasih sayang seorang pria yang disebutnya sebagai ayah.
"Bang, aku mohon kamu bisa sabar dan beri aku kesempatan, aku akan terus belajar untuk bisa mencintaimu," sambung Mutiara lagi tetap memberi harapan untuk Genta.
Genta tersenyum mendengar janji yang diucapkan Mutiara, "sampai berapa lama pun aku akan sabar menunggumu, Ra!" sedianya.
"Ayah...., mainannya yucak!"
Tiba-tiba Baruna berlari keluar dari dalam ruang tamu di rumah itu dan bergegas naik ke pangkuan Genta, sambil menyerahkan sebuah mainan kapal-kapalan kepada Genta.
"Apanya yang rusak, Sayang? ini kan mainannya masih baru?" tanya Genta sambil mencium gemas pipi bocah yang kini sudah duduk manja di pangkuannya itu.
"Yucak, Ayah. Yucak!" seru Baruna lagi sambil memberikan mainannya kepada Genta.
"Sini, Ayah akan perbaiki," sahut Genta sambil meraih mainan itu. Dia tahu kalau bocah kecil itu belum paham cara memainkan mainannya dengan benar.
"Ayah kan mekanik kapal yang hebat, Ayah pegang aja mainan kapal ini pasti nyala lagi," aku Genta percaya diri sambil menekan tombol on pada mainan itu dan seketika mainan itu pun menyala.
__ADS_1
"Ayah hebat, Ayah hebat!" seru Baruna sangat senang ketika melihat mainan itu bisa bergerak dan ada lampu-lampu kecil di mainan itu juga menyala berkedip-kedip.
"Kalau Una cudah becal, Una mau jadi cepelti Ayah!" puji polos bocah itu dengan kata-katanya yang terdengar sangat lucu dari lidahnya yang masih belum sempurna mengucapkan kosa katanya.
"Oh ya? memangnya Una mau jadi kapten kapal juga?" tanya Genta sambil mengusap rambut Baruna.
"Mau, Ayah! hoyee..., Una jadi kapten kapal!" seru bocah yang usianya sudah dua setengah tahun itu lagi sambil tersenyum manis terlihat sangat senang sambil terus memegang mainan yang sangat disukainya itu.
Genta ikut tersenyum menatap wajah polos toddler kecil itu, sesaat senyum bocah itu mengingatkannya akan mantan atasannya, Arkha. Lukisan wajah Arkha memang tergurat jelas di wajah Baruna, sangat mirip, bahkan kombinasi wajah Mutiara sama sekali tidak ada disana, genetik Arkha lah yang mendominasi di diri bocah kecil itu.
Mutiara ikut tersenyum melihat kedekatan putranya dengan Genta.
"Bang Genta sangat menyayangi Baruna, sebaiknya aku memang membuka hatiku untuknya," kata hati Mutiara.
"Nggak apa-apa, Ra. Biar Baruna main bersamaku dulu!" sahut Genta tetap memeluk tubuh mungil bocah itu dipangkuannya sambil ikut memainkan mainan kapal-kapalan itu bersama Baruna.
Kembali Mutiara hanya tersenyum mendengar jawaban Genta. Meski sedang lelah, Genta memang tidak pernah menolak menemani putranya bermain, apalagi Genta sangat jarang pulang ke rumah itu, pastinya Baruna sangat rindu kepadanya.
Seperti halnya hari itu, sudah dua bulan sebelumnya Genta meninggalkan kampung itu. Biasanya dia hanya pulang paling lama seminggu dan setelah itu akan pergi lagi selama dua hingga tiga bulan lamanya. Selama itu biasanya mereka akan saling berkabar lewat pesan singkat atau sekedar berbicara lewat telepon.
"Ra, kalau aku sudah bekerja di tempat yang baru, aku pasti akan sangat jarang bisa pulang, aku akan lebih sering di kota,' ungkap Genta.
"Kalau kamu bersedia, aku ingin membawamu dan juga Baruna ikut bersamaku, dan kita akan tinggal sama-sama di kota," sambungnya lagi.
Mutiara mengerutkan keningnya mendengar ajakan Genta, "Abang ingin mengajak kami ke kota, apa aku nggak salah dengar, Bang?" tanyanya sedikit heran karena selama ini mereka berdua memang tidak pernah punya niat tinggal di kota.
__ADS_1
"Kali ini aku serius, Ra. Ini semua demi masa depan Baruna," ujar Genta.
"Memangnya kenapa dengan masa depan Baruna, Bang?"
"Sebentar lagi dia sudah harus bersekolah, Ra. Pendidikan di kota pasti akan jauh lebih baik dari pada di kampung ini."
Mutiara hanya terdiam, dalam hati dia setuju dengan alasan Genta ingin mengajaknya ikut ke kota, dia juga sangat ingin putranya bisa mendapat pendidikan terbaik untuk masa depannya. Tekadnya sangat kuat agar suatu ketika nanti, putranya bisa menjadi seseorang yang sukses.
"Lagipula perusahaan baru tempatku bekerja nanti akan menyediakan rumah inventaris buatku, Ra. Kita bisa tinggal disana tanpa harus pusing memikirkan tempat tinggal selama di kota." Genta terus berusaha meyakinkan Mutiara agar bersedia diajaknya ikut tinggal di kota.
"Biar aku pikirkan dulu ya, Bang!" balas Mutiara. Sebenarnya dia sangat ingin ikut bersama Genta pergi ke kota, namun ada kekhawatiran di pikirannya apabila nanti di kota dia bertemu dengan Arkha.
"Kamu nggak perlu takut bertemu Bos Arkha di kota, Ra. Kota itu luas, tidak mudah menemukan orang disana, kecuali hanya kebetulan saja, " celetuk Genta. Dia sudah langsung bisa menebak kalau Mutiara pasti akan mengkhawatirkan hal itu.
"Apalagi kita sudah mengubah identitas kita, pasti tidak akan ada yang mengenali kita di sana!" sambungnya.
Mutiara hanya menganggukkan kepalanya dan kembali hanya terdiam, yang dikatakan Genta cukup masuk akal baginya.
Sesaat Genta melirik ke arah Baruna yang kini sudah turun dari pangkuannya dan bermain di lantai teras itu.
"Una mau tinggal di kota nggak sama Ayah? di kota banyak mainan yang bagus-bagus loh!" bujuk Genta kepada bocah kecil itu.
"Mau, Yah, mau! acik..., Una mau ke kota!" girang bocah itu sambil melompat-lompat terlihat sangat senang.
Genta lalu tersenyum menoleh ke arah Mutiara yang juga ikut tersenyum melihat tingkah girang Baruna, saat mendengar orang tuanya akan mengajaknya tinggal di kota.
__ADS_1