Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #77 Tujuan Rahasia


__ADS_3

Setelah pertengkarannya dengan Arkha, Livina terpaksa melewati malam itu dengan penuh kecemasan.


Perasaannya dipenuhi rasa khawatir, setiap kali dia mengingat kemarahan Arkha, hatinya terasa menciut, sangat takut apabila semua kebohongan yang selalu ditutupinya rapat-rapat selama ini ternyata sudah diketahui oleh Arkha.


Malam itu Arkha bahkan sama sekali tidak mengajaknya bicara, jangankan tidur di kamar bersamanya, meliriknya pun sepertinya Arkha enggan, sehingga Arkha memilih tidur sendiri di ruang kerjanya karena tidak ingin bertemu muka dengannya.


Begitu juga keesokan harinya, Arkha tidak ikut sarapan bersama Livina. Justru, pagi-pagi sekali Arkha sudah berangkat ke kantor dan tanpa berpamitan padanya. Kalau biasanya Ardila berangkat ke sekolah bersama Arkha, hari itu Livina lah yang terpaksa harus mengantarkannya.


Setelah mengantar Ardila ke sekolah, Livina biasanya akan sibuk dengan segala kesukaan pribadinya. Mulai dari perawatan mahal di spa, shopping barang-barang mewah dan arisan sosialita, semua itu adalah kegemarannya dan jatah uang bulanan yang diberikan Arkha padanya, tentunya lebih dari cukup untuk Livina bisa memenuhi gaya hidupnya yang sangat glamour itu.


Namun, berbeda dengan hari itu. Livina melajukan mobilnya pelan menuju ke suatu tempat. Karena sedang merasa gundah gulana, ada seseorang yang sangat ingin ditemuinya saat itu.


"Tumben kau membesukku ke sini, Livina. Tadinya aku pikir kau sudah melupakanku," cibir Alfin sangat ketus, saat bertemu Livina yang sengaja datang ke Lapas untuk membesuknya. Sudah tiga tahun Alfin menjadi penghuni lapas itu, dan selama itu dia dan Livina masih bisa saling menghubungi secara diam-diam.


"Kau jangan mengejekku, Al. Kau tahu pasti bagaimana posisiku saat ini bersama Arkha. Aku tidak mungkin sering-sering membesuk mu kesini, Arkha bisa saja curiga terhadapku," cemberut Livina menanggapi cibiran Alfin.


Sebelum menikah lagi dengan Arkha, Livina memang sangat rajin mengunjungi Alfin di Lapas itu untuk menyusun strategi demi bisa membalaskan dendamnya lagi kepada Arkha. Akan tetapi, setelah kembali bersama Arkha, Livina membatasi dirinya berkunjung kesana, agar Arkha tidak memaruh rasa curiga kepadanya. Ke Lapas itu pun dia pergi dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ada orang yang sampai mengetahuinya.


"Sekarang bagaimana, apa kau sudah mulai menjalankan semua rencana kita, Vin?" tanya Alfin penuh penekanan.


Livina menghela nafasnya dalam-dalam lalu menggelengkan kepalanya.


"Belum, Al. Sampai saat ini aku belum mendapat kesempatan untuk memulainya," sahut Livina lalu menundukkan wajahnya.


"Apa lagi yang kamu tunggu, Vin? sudah dua tahun kau tinggal bersama Arkha. Masa, selama itu kau tidak bisa mengambil banyak uang darinya untuk mengeluarkan aku dari sini?" sergah Alfin penuh rasa kecewa, karena Livina belum bisa membantunya keluar dari penjara sampai saat itu.

__ADS_1


"Selama ini Arkha hanya menjatahiku uang bulanan saja, Al. Aku belum bisa mengambil lebih banyak lagi darinya," kilah Livina berbohong.


Meskipun kenyataanya Livina sering meminta uang tambahan dari Arkha, uang itu pastinya hanya akan dipakai bersenang-senang sendiri olehnya.


"Arghh..., kau memang bodoh, Vin. Melakukan hal sepele seperti itu saja kamu tidak bisa. Percuma aku menutupi semua rahasia kita, harusnya kau juga ikut ada di dalam penjara ini sepertiku," dengus Alfin kesal.


Tiga tahun hidup keras di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan, pastinya membuat emosi Alfin membludak dengan sangat mudah.


"Apa yang sedang kau bicarakan, Al? Apa kau kira selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri saja, Al?"


"Iya! Kenyataanya kau memang sangat egois, Vin!" tuding Alfin kesal menanggapi jawaban Livina.


"Kamu salah, Al. Selama ini aku juga susah, Arkha sudah tidak mencintaiku lagi seperti dulu, dia sudah tidak seloyal sebelumnya lagi kepadaku. Aku bertahan disana hanya demi Ardila, aku tidak mau masa depan putri kita hancur!" tampik Livina ikut kesal mendengar tuduhan Alfin kepadanya.


"Ardila...., bagaimana kabar putri kita, Vin? dia pasti sekarang sudah besar."


"Iya, Al. Ardila sudah mulai bersekolah sekarang," ujar Livina.


"Aku sangat merindukan putriku, Vin."


"Tapi saat ini Ardila belum boleh tahu kalau kau adalah ayah kandungnya, Al,"


"Kau tidak usah mengingatkan aku tentang hal itu lagi, Vin. Aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh aku katakan, dan apa yang mesti aku rahasiakan."


"Sebenarnya tujuanku kesini adalah untuk membahas sesuatu yang sangat penting denganmu, Al."

__ADS_1


Livina kemudian mulai menceritakan semua kecemasannya kepada Alfin termasuk perubahan sikap Arkha dan kemarahannya yang tidak jelas tadi malam.


Alfin mengerutkan keningnya sambil menatap mata Livina yang terlihat menyimpan kegalauan.


"Mama Yuna, Vin! Cuma dia satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kita. Dia yang mendengar percakapan kita setelah hari Arkha dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu," terka Alfin sambil berdecak gusar.


"Iya aku tahu itu, Al. Apalagi Arkha bilang kalau sekarang kondisinya sudah membaik, aku takut dia akan membongkar semua rahasia kita, Al," beber Livina berharap Alfin akan memberikan solusi untuknya, bagaimana caranya agar dia bisa membungkam Mama Yuna dan tidak membocorkan semua rahasia kejahatan mereka.


"Jangan tunggu sampai Arkha benar-benar menjemputnya dan membawanya pulang, Vin. Itu akan sangat membahayakan posisimu di rumah itu!" tegas Alfin.


"Sekarang kau sendiri yang harus menyingkirkan Mama Yuna dari rumah sakit itu, bawa dia pergi sejauh-jauhnya dari kota ini, bila perlu kau habisi saja dia supaya Arkha tidak pernah bisa menemukannya lagi!" saran Alfin dengan kobaran dendam yang membara di matanya.


"Kau benar, Al. Aku yang akan lebih dulu menjemput Mama Yuna ke rumah sakit jiwa itu sebelum Arkha!" Livina tersenyum licik karena merasa mendapat ide brilian untuk bisa menyingkirkan Mama Yuna dari kehidupannya.


"Sekarang pergilah dan mulai jalankan rencana kita, aku sudah tidak tahan tinggal di Lapas ini, dan saat ini hanya kau yang bisa mengeluarkan aku dari sini, Vin!" tegas Alfin lagi mengulangi tujuan utama persekongkolan mereka.


"Baik, Al. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalankan rencana kita," sahut Livina sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Jaga dirimu baik-baik, Vin. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai harapan kita," harap Alfin sambil meraih kepala Livina dan mengecup keningnya.


"I love you, Vin. Tolong jaga selalu Ardila untukku, aku sangat merindukannya!" sambung Alfin.


"I love you too, Al. Kamu juga jaga diri disini dan doakan aku berhasil menjalankan misi kita," pungkas Livina sambil mencium punggung tangan Alfin lalu bergegas meninggalkan Lapas itu.


#########################

__ADS_1


♥️ Buat para readers yang selalu rajin kasih jempol untuk karya ini, author harap sesekali tinggalkan coretan di kolom komentar, kasih kritik dan saran supaya karya ini sesuai harapan pembaca semua.♥️


🌹Terimakasih dan Selamat Berbuka Puasa🌹


__ADS_2