Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Bonus Part #5


__ADS_3

Desiran angin terasa sangat menyejukkan tatkala siang yang terik kini sudah berganti sore yang hangat. Bisik suara dedaunan yang bertautan terdengar begitu menenangkan jiwa saat sang bayu menyapanya.


Di sebuah taman kota, Genta duduk di atas kursi rodanya ditemani seorang gadis yang selalu ada bersamanya dan setia merawatnya selama dua bulan terakhir.


Dua bulan menjalani rawat jalan setelah sadar dari komanya, kondisi fisik Genta sudah jauh lebih baik. Meski masih harus dibantu kursi roda, tetapi Genta sudah mulai bisa melakukan banyak hal dengan mandiri. Luka dalam yang dideritanya pun sudah sembuh, hanya saja luka akibat patah tulang paha dan punggungnya masih sedikit membuatnya susah bergerak, sehingga masih harus dibantu saat ia berjalan.


Sore itu, suster pribadinya memang sengaja membawa Genta pergi ke taman kota sekedar untuk melepas penat, karena semenjak menjalani perawatan, Genta hanya menghabiskan waktunya di rumah saja tanpa pernah berinteraksi dengan dunia luar.


"Kak Genta, mau aku belikan es krim, tidak?" tanya suster itu saat melihat tukang es krim melintas di depan tempat duduk mereka.


"Boleh," sahut Genta sambil tersenyum menatap wajah manis suster itu.


"Mau yang rasa apa, Kak?" Suster itu mulai memilih beberapa varian es krim dari kotak pendingin yang dijajakan oleh tukang es krim.


"Apa aja boleh," sahut Genta.


Suster itu lalu memesan dua porsi ice cream cone. Satu untuk Genta dan satu lagi untuknya.


"Ini, Kak!" Suster itu menyerahkan ice cream cone rasa vanila dan coklat kepada Genta.


"Terimakasih, Zahra," sambut Genta meraih es krim dari tangan suster pribadinya yang bernama Zahra.


Keduanya lalu asyik menikmati es krim sambil merasakan sejuknya semilir angin yang terus menerpa wajah mereka.


Hari sudah semakin sore, suasana di taman itu juga kian ramai. Orang-orang mulai berdatangan sekedar untuk bersantai di taman itu bersama keluarganya, ataupun hanya untuk berolahraga sore, joging maupun bersepeda.


Genta terus saja memperhatikan ekspresi gadis di sebelahnya yang tengah asyik menyesap es krimnya.


"Pelan-pelan dong makan es krimnya. Jangan sampai belepotan kayak gini, jorok tahu!" Genta menaikkan tangannya dan mengusap bibir Zahra dengan ibu jarinya saat melihat ada es krim menempel di ujung bibir gadis itu.


"Makasih, Kak," lirih Zahra seketika menundukkan wajahnya dan tersipu malu oleh perlakuan Genta.


Beberapa bulan tinggal bersama, keduanya memang sangat dekat, apalagi dengan kondisi Genta yang harus dilayani dalam segala hal, membuat ada kedekatan yang semakin istimewa di antara mereka.


Keduanya hanya duduk santai di sana sampai matahari mulai condong ke arah barat dan rona jingga menghiasi langit kota.


"Pulang yuk, Kak. Sebentar lagi maghrib," ajak Zahra sambil berdiri dari tempat duduknya dan meraih pegangan kursi roda Genta lalu mendorongnya perlahan.


"Terimakasih banyak, Zahra. Kamu sudah bersedia menemaniku jalan-jalan sore ini," ujar Genta seraya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sama-sama, Kak. Ini memang tugasku untuk selalu bersamamu." Zahra lalu mendorong kursi roda itu menuju ke jalan di sisi taman dan memesan sebuah taksi di sana.


Hanya beberapa menit dalam perjalanan, mereka pun sampai di kediaman Genta.


Sebelumnya di rumah itu Genta memang tinggal sendiri. Maklum saja, Genta hanyalah pria yang hidup merantau untuk bekerja di kota itu. Keluarganya berada jauh di kampung halamannya di sebuah pulau yang berada paling utara di negeri ini. Namun, dua bulan terakhir ini, ada Zahra yang ikut tinggal di rumah itu, karena Arkha memang sudah membayarnya untuk merawat dan mengurus semua kebutuhan Genta selama dia belum sembuh total.


"Kak Genta mau makan sekarang, Kak?" tanya Zahra saat mereka sudah masuk ke dalam rumah itu.


Zahra sudah sangat hafal jadwal keseharian Genta, dia tahu kalau jam-jam seperti itu adalah saatnya Genta makan malam.


"Nanti saja, Zahra. Aku mau mandi dulu, badanku gerah sekali," jawab Genta dan Zahra langsung mendorong kursi roda genta menuju kamarnya.

__ADS_1


Zahra membantu Genta berdiri dari kursi rodanya dan mengalungkan lengan Genta di bahunya, lalu memapahnya menuju kamar mandi.


Setelah Genta masuk ke dalam kamar mandi, Zahra langsung mempersiapkan handuk dan pakaian ganti untuk Genta dan diletakkannya di atas tempat tidurnya.


"Aku sudah siapin semuanya ya, Kak. Kalau sudah selesai, nanti Kakak tinggal panggil aku. Aku akan tunggu di luar!" seru Zahra dari depan pintu kamar mandi.


Tidak ada jawaban terdengar dari dalam sana, hanya suara gemericik air yang sayup semakin keras pertanda Genta sudah mulai mandi. Zahra pun membalikkan badannya hendak keluar dari kamar Genta.


"Aw ...!"


Bruugh ...!


Belum sampai di pintu kamar Genta, tiba-tiba Zahra mendengar pekikan Genta dari dalam kamar mandi diiringi suara sesuatu yang terjatuh di sana.


"Kak Genta!" sentak Zahra kembali mendekat ke pintu kamar mandi.


"Ada apa, Kak?" pekik Zahra merasa khawatir, takut sesuatu terjadi terhadap Genta di dalam sana.


"Zahra, tolong ... Aku kepeleset!" seru Genta meringis dari dalam kamar mandi.


"Kak Genta nggak apa-apa kan?" Zahra menggedor pintu kamar mandi dan merasa semakin khawatir.


Refleks tangannya memutar gagang pintu dan segera berhambur masuk ke kamar mandi itu. Zahra membelalakkan matanya saat melihat Genta terkapar di lantai kamar mandi dengan posisi setengah tertelungkup, sedangkan tubuhnya masih dipenuhi busa sabun.


"Aduh ..., kakiku sakit sekali! Tolong aku, Zahra! Aku nggak bisa bangun," rintih Genta minta tolong.


"Kak ...!" Zahra berteriak kaget dan bergegas mengangkat pundak Genta membantunya bangun dari lantai kamar mandi yang licin dan basah.


"Nggak apa-apa, hanya luka kecil saja," elak Genta agar Zahra tidak terlalu khawatir padanya sambil menyeka darah di keningnya dengan tangannya.


"Aaa ...!" Seketika Zahra menutup matanya dengan kedua tangannya saat menyadari bahwa saat itu Genta sedang tidak memakai sehelai benangpun.


"Aaa ...!" Genta juga ikut berteriak dan segera mebalikkan badannya beralih dari Zahra yang berdiri mematung di hadapannya.


"Ambilkan handukku, cepat!" perintah Genta.


"Ba-baik, Kak!" sahut Zahra sambil berlari keluar dari kamar mandi dan mengambil handuk untuk Genta.


Setelah Zahra keluar dari kamar mandi, Genta segera membilas badannya, membersihkannya dari busa-busa sabun yang masih menempel disana.


"Ini handuknya, Kak." Zahra menyerahkan handuk kepada Genta dari balik pintu kamar mandi dengan posisi memunggungi Genta tidak mau menoleh ke arah Genta yang masih telanjang bulat.


Genta segera menyambar handuk itu dari tangan Zahra dan melilitkannya di pinggangnya karena dia sudah selesai mandi.


Dengan tertatih, Genta mencoba melangkah keluar sendiri dari kamar mandi. Genta termangu saat melihat Zahra masih menunggunya di depan pintu kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat khawatir akan keadaanya.


"Kak Genta terluka, aku sangat mengkhawatirkanmu, Kak!" sergah Zahra sambil mengalungkan lengan Genta di lehernya dan kembali memapahnya untuk duduk di tepi tempat tidur.


Zahra ikut duduk di sebelah Genta. Dengan cekatan, Zahra membuka kotak P3K dan mengambil salep antiseptik.


"Lukamu harus segera diobati, Kak. Kalau tidak nanti bisa infeksi." Zahra mengoleskan obat luka itu di pelipis Genta.

__ADS_1


"Aah, perih sekali," ringis Genta lagi saat jari Zahra menyentuh keningnya. Dan saat itulah tanpa sengaja tatapan Genta dan Zahra saling beradu. Senyum manis terbersit begitu saja di bibir Genta saat wajah Zahra begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdetak tidak biasa. Tanpa disadarinya, perhatian dan ketulusan Zahra dalam merawatnya selama ini, membuat sebuah perasaan berbeda tumbuh di hati Genta untuk Zahra.


Begitu pula dengan Zahra. Kedewasaan, tutur kata dan perlakuan manis Genta juga sudah menumbuhkan getaran aneh di hatinya. Ada rasa sayang yang mulai tumbuh bersemi untuk Genta di hati Zahra.


"Zahra, kamu cantik sekali," bisik Genta tidak sanggup menyembunyikan kekagumannya terhadap gadis belia yang sedang ada di hadapannya. Usia mereka terpaut cukup jauh. Saat itu Zahra masih berusia dua puluh dua tahun, sedangkan Genta sudah delapan tahun lebih tua dari Zahra.


"Jangan merayuku, Kak," tampik Zahra seketika menjauhkan posisinya dari tempat duduk Genta. Namun ada sebuah senyum yang juga terlukis indah di bibirnya.


"Zahra, kemarilah!" Genta menarik tangan Zahra untuk kembali duduk di dekatnya.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa, Kak?"


"Apa ..., apa kamu mau menjadi pendamping hidupku?" tanya Genta tanpa basa-basi dan langsung ke pokok permasalahan.


Menyadari kedekatannya dengan Zahra, dia sangat ingin memantapkan hatinya untuk gadis itu. Setelah cintanya tidak terbalas bersama Mutiara, tentunya dia berusaha keras membuka hatinya untuk wanita lain dan melupakan semua perasaanya terhadap Mutiara yang kini sudah bahagia hidup bersama Arkha.


"Kak Genta bilang apa tadi, Kak?" Zahra membulatkan matanya setelah mendengar pertanyaan Genta.


"Aku ingin melamarmu dan menjadikanmu istriku, Zahra." Genta mengulang penjelasannya.


"Kak Genta pasti sedang bercanda, kan?" Zahra menggeleng masih tidak percaya.


"Aku serius, Zahra! Aku ingin kita menikah, karena aku sudah jatuh cinta kepadamu," ungkap Genta berterus terang tidak ingin menyembunyikan perasaanya.


"Tapi, Kak?"


"Katakan kalau kamu juga cinta sama aku, Zahra," desak Genta penuh penekanan.


"Kakak serius?"


"Sudah ku bilang kalau aku sangat serius, Zahra. Kamu mau kan jadi istriku?"


Zahra menundukkan wajahnya. Tanpa diminta, ada sebingkai kaca melintas di ujung matanya. Rasa haru menyelimuti sukmanya.


"Aku juga cinta sama Kak Genta," sahut Zahra lirih sambil menundukkan wajahnya dan pipinya kini basah oleh air mata bahagia yang menetes tak tertahankan.


Genta tersenyum bahagia karena perasaanya disambut manis oleh pengakuan jujur Zahra.


"Aku tidak ingin pacaran, Zahra. Aku akan buktikan kalau aku sangat serius kepadamu dan mohon izinkan aku untuk segera menemui orang tuamu dan membahas pernikahan kita," terang Genta sambil mengangkat wajah Zahra dan mengusap air mata di pipinya. Genta terus mengulas senyum dan menatap mata Zahra lebih intens.


Zahra mengangguk, tanpa rasa ragu ia menerima semua ungkapan perasaan Genta kepadanya.


Perlahan Genta meraih tangan Zarha dan memegangnya erat. Genta mencium kedua punggung tangan Zahra lalu membawanya ke dalam dekapannya.


"Terimakasih karena kamu mau menerima lamaranku, Zahra. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan aku juga berjanji akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu serta menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk keluarga kecil kita nanti," janji Genta.


"Aku juga berterimakasih sama Kak Genta. Semoga setelah kita menikah, aku juga bisa menjadi istri yang baik buatmu, Kak," sambut Zahra.


Keduanya sama-sama tersenyum dan menatap penuh kebahagiaan. Sebuah masa depan baru akan mereka jalani bersama dan berjanji saling setia selamanya.

__ADS_1


__ADS_2