
Matahari sudah terbenam berganti malam yang dipenuhi bintang-bintang.
Genta duduk di ruang tamu dan terlihat masih asyik bermain bersama Baruna. Malam itu adalah malam terakhir Genta ada di rumah itu karena besok pagi dia sudah harus kembali bekerja di kapal, karenanya Genta ingin menghabiskan malam itu bersama Baruna.
Bocah kecil itu memang sangat senang ditemani oleh Genta yang selalu bisa mengimbanginya bermain apapun sambil sesekali bercerita sehingga membuat Baruna tidak ingin lepas darinya. Genta memang sangat menyukai anak kecil dan dia juga pintar menarik perhatian Baruna sehingga bocah itu sangat lengket dengannya.
"Una, ini sudah malam, Sayang. Ayo kita tidur!" bujuk Mutiara kepada putranya.
Namun, Baruna hanya menggelengkan kepalanya, "beyum mau bobo. Mau cama Ayah," sahut bocah itu dengan polosnya.
"Besok kan Ayah harus berangkat bekerja, Una. Ayah sekarang harus istirahat dulu," tegas Mutiara lagi tetap membujuk agar putranya mau mengikuti perintahnya.
"Nggak mau. Mau bobo cama Ayah," sahut bocah kecil itu lagi.
"Nggak apa-apa, Ra. Nanti biar aku yang menidurkan Baruna," sela Genta sambil melanjutkan bermain bersama anak kecil itu.
"Abang kan harus berangkat pagi-pagi sekali besok, Bang!" ujar Mutiara mengingatkan Genta bahwa besok dia sudah harus berangkat lagi meninggalkan kampung itu untuk bekerja.
Genta hanya menanggapi dengan tersenyum ucapan Mutiara itu. Genta lalu beranjak merangkul Baruna dan membawanya ke pangkuannya.
"Una, kita bobo sekarang, yuk! Ayah udah ngantuk," bisik Genta di telinga Baruna sembari mencium pipinya.
Seolah ada sihir yang keluar dari mulut Genta, bocah itu pun langsung menurut, tangannya menunjuk ke arah kamar Genta, dan meminta Genta membawanya tidur bersama disana.
"Una mau bobo di kamar Ayah ya?" tanya Genta dan Baruna hanya menganggukan kepalanya sambil terus menunjuk ke arah pintu kamar Genta, dan Genta pun segera menggendong bocah itu menuju kamarnya.
Rumah relokasi yang mereka tempati itu memang memiliki dua kamar tidur, sehingga Genta dan Mutiara mendapatkan kamar masing-masing satu kamar secara terpisah.
Mutiara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja Baruna terhadap Genta. Putra kecilnya itu sudah sangat dekat dengan Genta sehingga Mutiara enggan melarang Baruna tidur bersamanya, apalagi malam itu adalah malam terakhir Genta ada di rumah itu sebelum besok kembali meninggalkannya untuk pergi bekerja di kapal yang baru.
__ADS_1
Mutiara tetap duduk di ruang tamu, sejenak dia kembali memikirkan tawaran Genta yang ingin mengajaknya ikut ke kota.
"Baruna sangat dekat dengan Bang Genta, apa aku ikut saja bersamanya ke kota?" pikirnya.
Mutiara terus menimang-nimang keputusannya, namun sampai saat itu dia masih belum bisa memutuskan akan ikut atau tidak ke kota bersama Genta.
Mutiara menyadari kalau setelah Genta pindah bekerja pastinya Genta akan lebih jarang lagi bisa pulang ke kampung itu, dan pastinya Baruna akan semakin rindu kepadanya. Melihat Baruna yang begitu dekat dengan Genta, ada keinginannya untuk bersedia ikut dengan Genta ke kota, akan tetapi dia juga masih takut apabila bertemu Arkha disana. Mutiara khawatir kalau Arkha mengetahui bahwa Baruna adalah putranya, Arkha pasti akan mengambil Baruna darinya.
"Tidak, Arkha tidak boleh mengambil Baruna dariku," gumamnya.
Cukup lama Mutiara melamun seorang diri di ruang tamu rumahnya itu, sesaat dia teringat akan putranya yang mungkin saja sudah tertidur di kamar Genta.
Mutiara beranjak dari tempat duduknya lalu mengintip ke kamar Genta. Baruna terlihat sudah terlelap di pelukan Genta dan Genta pun sudah tertidur pulas, namun lampu di kamar itu masih menyala. Perlahan Mutiara masuk ke kamar itu dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Genta dan juga putranya lalu mematikan lampu di kamar itu.
Mutiara melangkah ke kamarnya dan malam itu dia harus merelakan lagi putranya tidur di bersama Genta. Semenjak Genta kembali Baruna selalu tidur disana dan Mutiara tidur sendiri tanpa putra kesayangannya itu.
****
Dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di pelabuhan dengan menggunakan ojek.
"Maafkan aku bangun kesiangan, Bang!" sesal Mutiara. Dia merasa bersalah membiarkan Genta berkemas sendiri sebelum berangkat hari itu.
"Jangan khawatir, Ra. Kan sudah semua kebutuhanku kamu siapkan dari kemarin," sahut Genta.
"Nanti, kalau aku sudah sampai di kota aku akan menghubungimu lagi, Ra. Aku harap saat itu kamu sudah berubah pikiran dan mau menyusulku ikut ke kota!" tegas Genta mengingatkan akan keinginannya yang belum ditanggapi oleh Mutiara.
"Kita lihat nanti ya, Bang," jawab Mutiara datar, keraguan masih ada di hatinya.
"Ra, kamu simpan ini, ya!" Genta menyerahkan sebuah amplop kepada Mutiara.
__ADS_1
"Kalau kamu mau menyusulku ke kota, uang ini cukup untuk bekalmu selama di perjalanan," sambung Genta.
Mutiara meraih amplop itu dari tangan Genta, "baik, terima kasih ya, Bang," balasnya.
Setiap kali akan berangkat bekerja, Genta memang selalu memberi uang kepada Mutiara. Genta selalu mencukupi kebutuhan Mutiara dan Baruna, dia tahu hasil warung Mutiara tidaklah seberapa, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
"Baiklah, aku akan berangkat sekarang, ojek yang ku pesan sudah menunggu di depan!" lanjut Genta sambil melangkah keluar rumahnya diikuti oleh Mutiara.
"Jaga Baruna baik-baik ya, Ra!" seru Genta saat dia sudah berada di atas ojek yang ditumpanginya sambil melambaikan tangannya kepada Mutiara dan Mutiara hanya mengangguk sambil membalas lambaian tangan Genta.
Setelah Genta pergi Mutiara segera masuk ke kamar Genta, untuk melihat Baruna disana. Bocah itu terlihat sudah bangun dan duduk di atas tempat tidur sambil mengucek matanya dan terisak.
"Ayah, Ayah" teriak bocah itu terus menangis.
"Ayah sudah berangkat kerja, Sayang. Sekarang Una sama Ibu di rumah, ya!" bujuk Mutiara sambil mengangkat tubuh putra kecilnya itu.
"Ayah, Ayah" Lagi-lagi hanya kata itu yang diteriakkan oleh putranya sambil menunjuk pintu keluar rumahnya.
"Una ikut ke kota, ikut Ayah..., ikut!" seru bocah itu sambil melorotkan badannya turun dari gendongan Mutiara dan berlari ke depan rumahnya.
"Ikut Ayah!"
"Ikut Ayah!"
Bocah itu langsung menangis menjerit-jerit karena tidak melihat Genta ada di rumahnya.
"Baruna sayang, Ayah sudah pergi, Una sama Ibu, ya!" Mutiara berusaha menenangkan putranya, namun Baruna malah menjatuhkan badannya di lantai dan berguling-guling sambil terus berteriak memanggil Genta dan menangis menjerit.
"Aduh, tantrum anak ini kumat lagi!" sungut Mutiara.
__ADS_1
Baruna memang akan selalu seperti itu apabila tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Bocah seusianya sangat wajar mengalami fase seperti itu.