
Hari sudah sangat gelap, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Arkha bisa lebih cepat memacu laju mobilnya di jalanan utama kota karena jalan sudah cukup lengang saat ia melintas.
Sudah dua minggu ini, hari-hari Arkha selalu monoton, setiap hari dia selalu pulang larut malam, kesibukannya di kantor memaksanya harus lembur dan terlambat tiba di rumah. Selain itu, dia juga harus ikut memantau perkembangan keadaan Genta dan juga pencariannya terhadap Mutiara yang sampai saat itu belum juga membuahkan hasil, semua itulah yang menyita cukup banyak waktunya.
Namun, di tengah semua kesibukan dan kegalauannya saat itu, ada satu hal yang membuatnya selalu ingin tersenyum.
"Mengapa aku rindu sekali pada Baruna?" Sepanjang perjalanan pikiran Arkha teringat kepada Baruna, bocah lucu yang sudah berhasil mencuri hatinya.
"Ah..., kenapa aku bisa lupa! aku pernah berjanji akan membawakan mainan yang banyak untuknya," sesalnya seraya menepuk keningnya sendiri.
Arkha memutar bola matanya melirik jam di pergelangan tangannya, "sudah selarut ini aku tidak mungkin ke rumah sakit dan menemui Baruna, mereka pasti sudah beristirahat, aku tidak boleh mengganggu mereka," gumamnya.
Tanpa terasa keempat roda yang membawanya pulang kini sudah bergelinding di halaman rumahnya.
Dengan tergesa Arkha masuk ke dalam rumah dan melihat muka masam Livina sudah menyambutnya.
"Sampai kapan kamu akan terus-terusan pulang selarut ini, Kha?" seringai Livina. Ada raut tidak suka di wajah Livina melihat Arkha yang setiap hari pulang terlambat sehingga jarang memperhatikannya dan juga Ardila.
"Aku sibuk! Pekerjaanku banyak sekali," sahut Arkha dingin tanpa menoleh ke arah Livina.
Semenjak mengetahui bahwa Mutiara masih hidup, hati Arkha sudah tidak bisa lagi berpura-pura mencintai Livina. Selama ini dia terus berusaha membuka hatinya kembali untuk Livina, karena itulah dia selalu mencoba memahami semua tindak-tanduk Livina dan menyetujui setiap keinginannya. Namun, kini semua perasaannya sudah berubah. Semua yang dilakukan Livina terasa salah di matanya.
"Vin, ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu!" seru Arkha sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat saja dulu, besok pagi kita bicara," sahut Livina sambil mengambil alih jas dan tas laptop dari tangan Arkha.
__ADS_1
"Nggak, Vin. Kita harus bicara sekarang, ini penting!" tegas Arkha. Livina lalu ikut duduk di sebelah Arkha dan menatap wajahnya yang tampak letih.
"Ehmm..., sepenting apa sih, Kha. Sampai tidak bisa ditunda?" Livina terlihat bingung dengan sikap Arkha yang mulai berubah terhadapnya.
"Kali ini aku tidak akan membatalkan lagi rencanaku untuk merawat Mama di rumah ini, Vin," terang Arkha.
"Apa?" Livina membelalakkan matanya dan sangat terkejut mendengar apa yang baru saja diutarakan oleh Arkha. Muncul tanya di benaknya, bagaimana bisa Arkha kembali membahas hal itu, sedangkan sebelumnya dia sudah setuju untuk tetap merawat Mama Yuna di rumah sakit saja.
"Kamu tidak sedang bercanda kan, Kha? Lalu nanti siapa yang akan merawat Mama disini?" tolaknya seraya menunjukkan rasa tidak suka dengan keputusan Arkha.
"Kali ini aku sangat serius, Vin. Kondisi Mama sekarang sudah jauh lebih baik, dan kau juga tidak usah khawatir, di rumah sakit Mama sudah mempunyai suster pribadi yang cocok dengannya. Aku juga akan membawa suster itu kesini,"
"Tapi, Kha. Bagaimana dengan Ardila? kamu mau putri kita diejek oleh teman-temannya?" Livina terus berusaha menolak dan mencari alasan.
"Diejek?" Arkha mengangkat satu ujung bibirnya, "itu hanya alasan kamu saja, Vin! mana pernah ada orang yang mengejeknya, semua itu hanya omong kosongmu saja, agar aku tidak membawa Mama ke rumah ini, kan?" sosor Arkha sambil tersenyum sinis menatap Livina.
"Arkha! atas dasar apa kamu bilang aku tidak pernah suka sama Mama? Kamu kan tahu, kalau Mama yang sebenarnya tidak pernah suka sama aku, dari dulu dia tidak pernah menyetujui pernikahan kita!" tampik Livina dengan suaranya yang menyembur bagai deru mesin turbo.
"Jangan cari kambing hitam! Mama tidak menyukaimu, itu karena kau sendiri, Vin! Kau yang tidak pernah bisa mengambil hati Mama," geram Arkha dengan jari telunjuknya yang diarahkannya ke wajah Livina.
"Kamu terlalu egois! kau hanya mementingkan dirimu sendiri saja!" sambung Arkha dengan tatapan matanya yang mulai memerah.
"Tega kamu menuduhku seperti itu, Kha!" hardik Livina sambil mendengus kesal.
"Menuduh mu! Kau bilang aku menuduhmu, Vin?" tanya Arkha menyeringai, lalu dia bangun dari tempat duduknya dan menarik lengan Livina.
"Kamu lihat, Vin! perhatikan dirimu baik-baik di cermin ini!" Arkha membawa Livina berdiri tepat di depan sebuah cermin hias antik yang ada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu berikan untukku dan juga Mama selama ini? Apa, hah?" ketus Arkha mempertegas kecamannya.
"Aku tahu dari dulu kau tidak pernah sungguh-sungguh mencintaiku, Livina! kau itu hanya perempuan matrealistis, kau ada disini hanya demi uangku saja!" tuduh Arkha lagi dengan senyum kekecewaannya. Arkha sudah menyadari kalau Livina selama ini hanya memanfaatkan dirinya saja demi mendapatkan semua yang diinginkannya.
Livina berdiri membatu di depan cermin tanpa berani menatap bayangannya, kata-kata Arkha seperti petir di siang bolong menyambar jantungnya yang berdegup kencang. Setelah menikah lagi dan hidup bersama Arkha, dua tahun belakangan ini Arkha tidak pernah semarah itu kepadanya. Kalaupun terjadi pertengkaran kecil, pada akhirnya Arkha yang terpaksa minta maaf karena Livina yang akan selalu memperlakukan dirinya sebagai korban dan membuat Arkha takluk kepadanya.
"Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu, Kha. Apa salahku sampai kau begitu marah terhadapku?" tanya Livina penuh sandiwara, meski dia tahu penyebab kemarahan Arkha padanya. Namun, dia tetap berpura-pura tidak berdosa.
"Kau tidak perlu bermain drama lagi, Vin. Aku sudah tahu semuanya!" seru Arkha dengan aura kemarahan masih terlukis di matanya.
"Suka ataupun tidak suka, aku akan tetap membawa Mama pulang ke rumah ini, karena rumah ini adalah miliknya!" Arkha menekankan kembali keinginannya sambil memalingkan wajahnya dari Livina.
"Arkha, dengarkan aku! Kau tidak bisa seenaknya menuduhku tanpa alasan seperti ini!" balas Livina berusaha membela diri.
"Aku malas bertengkar denganmu, Vin! aku capek, aku mau istirahat," sahut Arkha sambil membalikkan badannya hendak menuju kamarnya.
"Tunggu, Arkha! Kita belum selesai bicara, kau belum mendengarkan penjelasanku." Livina menarik tangan Arkha dan menahan langkahnya.
"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Vin! aku sudah tidak peduli semua omong kosongmu!" bentak Arkha sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan Livina sendiri di ruangan itu.
Livina kembali menghempaskan tubuhnya di sofa dan menghela nafas panjang.
"Apa yang sudah Arkha ketahui tentang aku? kenapa sikapnya begitu berubah terhadapku, dan kenapa tadi dia marah-marah nggak jelas seperti itu?" Livina menggerutu dengan berjuta tanya mengganjal di kepalanya.
"Tadi dia bilang kalau kondisi Mama sudah membaik, jangan-jangan Mama sudah bisa menceritakan semuanya pada Arkha?" Tiba-tiba pikiran Livina menjadi sangat kacau, dia sangat takut kalau Arkha sudah mengetahui semua kebohongannya.
"Oh tidak, ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu," gumamnya dengan wajahnya yang berubah panik, ada ketakutan di hatinya apabila Mama Yuna sudah sembuh dan sudah bisa menceritakan semua tentangnya kepada Arkha.
__ADS_1
"Mama Yuna, aku harus menyingkirkan wanita gila itu untuk selama-lamanya. Kalau tidak, semua rencanaku bisa hancur! Arkha pasti akan membunuhku kalau dia tahu semua tentang rahasiaku," Livina semakin tidak dapat menyembunyikan rasa cemasnya, dia sangat takut saat mengetahui kalau kondisi Mama Yuna sudah membaik, dia khawatir Mama Yuna akan membongkar semua rahasia kejahatannya.