Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #69 Terungkap Satu Rahasia


__ADS_3

Tiba di pelabuhan, Arkha langsung menemui Rendy yang sudah lebih dahulu ada disana.


"Bagaimana, Rendy. Apa yang kamu temukan di kapal itu?" tanya Arkha sambil mengarahkan pandangannya ke tengah laut dimana kapal itu berada.


"Anak buah kita sudah mengepung kapal itu dari kejauhan, Bos!" sahut Rendy tegas.


"Kami tinggal menunggu perintah Anda untuk melakukan penyerangan." sambung Rendy.


"Siapkan jetski, kita sendiri yang akan kesana sekarang!" perintah Arkha.


"Baik, Bos!"


Rendy bergegas mempersiapkan jet ski sesuai perintah Arkha,


Arkha melepaskan jas yang dipakainya lalu menggantinya dengan baju pelampung yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Rendy khusus untuknya. Kali ini mereka memakai satu jetski berdua dan Arkha ada di depan mengendalikan kemudi jetski itu. Arkha melajukan jetskinya dengan kecepatan tinggi menuju kapal kargo yang kandas di tengah laut dan masih berada di kawasan pelabuhan pribadi perusahaannya. Beberapa kali dia mengelilingi kapal itu namun tidak terlihat ada aktivitas di dalam kabin kapal. Disana hanya ada sebuah container cargo kosong yang nampak tidak terurus.


"Menurutmu apa ada orang di dalam sana, Rendy?" tanya Arkha saat dia menghentikan jetskinya tepat di sebelah kapal itu.


"Sebaiknya kita masuk kesana, Bos. Kita harus pastikan apa ada orang di dalam sana," sahut Rendy.


Keduanya lalu melompat dari atas jetskinya dan naik ke atas kapal itu. Mata Rendy terus memperhatikan container cargo di kapal itu dan dia menemukan sebuah logo perusahaan ekspedisi ternama ada di dinding container peti kemas yang ada di sana.


"Bos, ini container cargo milik perusahaan ekspedisi ternama, saya heran kenapa container ini bisa ada di kapal ini!" pekik Rendy setengah berbisik kepada Arkha.


Arkha tidak menjawab karena dia juga mempunyai pertanyaan yang sama di pikirannya. Keduanya lalu berjalan mengendap-endap di deck kapal itu sambil terus mengintai keadaan disana.


"Seperti ada sesuatu yang mencurigakan di dalam container ini, Rendy,"


"Iya saya rasa juga begitu, Bos!"


Arkha dan Rendy terus memperhatikan keadaan di kapal itu dan menelisik mengelilingi container cargo itu.


"Hei...! siapa kalian dan mau apa kalian kesini!"


Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari balik container itu yang seketika membuat Arkha dan Rendy menoleh ke belakang. Seorang pria berbadan kekar dengan tubuh penuh tato sudah berdiri di belakang mereka dan menodongkan pistol ke arah mereka.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kapal ini bisa ada disini? kawasan ini masih milik perusahaanku!" seru Arkha sambil menatap pria itu dengan senyum sinisnya.


"Bukan urusan kalian! sebaiknya kalian pergi dari kapal ini sekarang, cepat!" teriak pria itu sambil terus menodongkan pistolnya ke Arah Arkha dan Rendy.


"Ini wilayah pribadi kami, kau lah yang harus pergi dari sini!" bentak Arkha lagi. Dia menjadi sangat marah karena orang itu sudah memasuki area kekuasaannya tanpa ijin.


"Jangan banyak bacot kau! cepat pergi atau peluru ini akan menembus jantung kalian!" Kembali pria bertato itu berteriak berang.


Mendengar ancaman pria itu Arkha dan Rendy sama sekali tidak merasa gentar. Dengan cepat Rendy juga mengeluarkan sebuah pistol dari balik baju pelampungnya dan ikut menodongkannya ke arah pria itu.


Sebagai seorang asisten pemilik perusahaan besar, tentunya Rendy selalu siap membekali dirinya dengan senjata itu kemanapun dia pergi.


"Kami atau kau sendiri yang akan lebih dulu mati disini?" seringai Rendy sambil berjalan mendekati pria itu dengan pistol yang masih terus ditodongkannya ke arah pria itu.


Dorr!


Dorr!


Terdengar dua kali suara tembakan di udara.


"Pergi kalian! jangan campuri urusan kami!" teriak seorang pria lain dari balik container cargo. Di tangan Pria itu juga ada sebuah pistol dan dia lah yang sudah memberikan tembakan peringatan ke udara agar Arkha dan Rendy meninggalkan kapal mereka.


Setelah memberi tembakan peringatan, pria itu langsung menodongkan pistolnya ke arah Arkha yang saat itu sedang tidak membawa senjata apapun. Arkha terdiam dan merasa terdesak, meski Rendy membawa pistol, namun dia sendiri tangan kosong saat itu.


"Lepaskan senjatamu atau aku akan menembak orang ini!" serang pria itu dengan senyum sinisnya kepada Rendy.


Rendy tidak dapat berkutik, bagaimanapun juga keselamatan atasannya saat itu sedang jadi taruhan. Kemudian Rendy melemparkan pistolnya ke lantai kabin kapal sambil mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


"Baiklah kami akan pergi! tapi kami harap kalian juga pergi dari kawasan ini, ini kawasan pribadi perusahaan kami!" pekik Rendy sambil mundur perlahan dan mendekat ke arah Arkha.


"Kalau kalian tidak mau pergi, kami akan panggil polisi untuk menangkap kalian!" seru Rendy. Meski tengah terdesak, dia masih sempat memberi ancaman.


"Jangan menyerah dulu, Rendy. Kita tidak kalah dengan semudah itu!" bisik Arkha saat Rendy sudah ada di dekatnya.


"Tapi mereka berdua membawa pistol, Bos!" sahut Rendy juga dengan berbisik.


"Tunggu mereka lengah!" tegas Arkha.


Kedua pria itu masih terus menodongkan pistolnya ke arah Arkha dan Rendy.


"Hei..., kenapa kalian masih disitu? cepat pergi dari sini!" bentak pria bertato.


"Kami belum menyerah, apa kau tahu kalau kapal ini sudah dikepung!" tantang Arkha berang.


"Kami tidak takut! kami akan habisi kalian lebih dulu!" serang pria itu tidak mau kalah.


Disaat yang sama, Arkha dengan secepat kilat membungkuk dan menggulingkan badannya ke lantai kabin untuk mengambil pistol milik Rendy yang tadi dilemparkannya.


Dorr!


Arkha mengarahkan sebuah tembakannya tepat di lengan pria yang bertato, sehingga pistol di genggamannya terlepas dan terlempar ke lantai. Dengan cepat Rendy menyambar pistol milik pria itu dan menodongkannya balik ke arah dua pria tadi.


Pria yang tertembak lengannya langsung mengerang kesakitan dan darah segar mengucur dari lengannya yang kena tembakan. Pria itu terhuyung dan seketika ambruk di atas lantai kapal.


Pria satunya tampak ciut setelah kawannya tertembak.


Dorr!


Reflek sebuah tembakan juga diarahkannya ke arah Arkha namun dengan gesit Arkha bisa menghindar.


Baku tembak di antara mereka tak terelakkan, namun Arkha dan Rendy sangatlah terlatih, dengan mudah mereka bisa menghindar dengan cara berguling dan bersembunyi di balik container cargo itu sehingga mereka tidak sampai terkena tembakan.


Merasa terdesak dengan penyerangan Rendy dan anak buahnya, akhirnya pria itu pun menyerah dan melemparkan pistolnya ke lantai.


"Katakan, apa yang sedang kalian lakukan disini!" tanya Rendy dengan sorot mata penuh amarah. Meski pria itu sudah menyerah, namun Rendy masih terus menodongkan pistolnya ke arah pria itu. Dengan satu tangannya yang lain, Rendy mencengkram kerah jaket pria itu, ujung pistolnya menempel tepat di kening pria itu


"Ampuni saya! tolong lepaskan saya! saya hanya orang suruhan!" sahut pria itu dengan tangan gemetar takut.


"Kami menyekap seseorang di dalam container ini, orang itu tidak ada hubungannya dengan kalian!"


Tidak hanya tangannya, saking takutnya bibir pria itu juga ikut gemetar. Kemarahan dan tatapan Rendy membuat nyalinya seketika menciut.


"Cepat buka container ini!" teriak Rendy lagi dengan nada penuh ancaman.


Pria itu lalu mengambil sebuah kunci dari saku jaketnya dan membuka container itu.


"Siapa dia?" pekik Rendy sambil melebarkan matanya saat melihat seorang pria terikat dengan kepala tertutup kain hitam di dalam container itu.


"Dia kapten kapal kami, tapi kami tidak suka padanya makanya kami menyekapnya disini dan kami ingin melenyapkannya," ungkap pria itu sambil menunjuk ke dalam container itu.


"Dasar biadab!" geram Rendy sambil mendorong tubuh pria itu hingga pria itu terjengkang ke lantai kapal.


"Bereskan dua orang ini, cepat!" Rendy memberi perintah kepada anak buahnya untuk menangkap kedua pria itu dan langsung digiring menuju fast boat mereka.


"Siapa pria itu, Rendy, untuk apa mereka menyekapnya disini?" Arkha ikut melihat ke dalam container cargo.


"Cepat lepaskan dia dan buka penutup wajahnya!" perintah Arkha kemudian.


Rendy langsung menyeret tubuh seorang pria yang sudah tidak berdaya itu keluar dari container dan membuka tali yang mengikat tangannya. Perlahan Rendy juga membuka penutup wajah pria itu, saat kain penutup wajahnya terlepas, Arkha dan Rendy sama-sama membelalakan matanya dan tersentak kaget.


"Genta!"

__ADS_1


Keduanya meneriakkan nama yang sama secara bersamaan. Rendy membaringkan tubuh Genta di lantai kapal itu lalu berjongkok di sebelahnya. Arkha juga ikut berjongkok di sebelah Rendy.


"Ambilkan air, cepat!" teriak Rendy memberi perintah kepada anak buahnya yang ada disana.


"Bos Arkha, Rendy!" ucap Genta lirih dan terbata, pandangannya sangat kabur saat itu. Keadaan Genta juga sudah sangat lemah dan mengenaskan saat itu, tubuhnya penuh luka lebam akibat disiksa oleh pria-pria yang menyekapnya namun dia masih sadar, samar-samar dia bisa melihat wajah Arkha dan Rendy yang kini ada di hadapannya.


"Kau masih hidup, Genta! apa yang terjadi denganmu?" seru Rendy seolah tidak percaya sahabatnya itu ternyata belum tewas akibat tsunami seperti dugaannya selama ini. Rendy lalu mengangkat pudak Genta dan membantunya meminum air dari botol air mineral yang diberikan oleh anak buahnya.


"Katakan apa yang terjadi, Genta?" Arkha ikut menimpali, dia juga sama terkejutnya seperti Rendy.


"Bos Arkha.....," bisik Genta dengan suara semakin pelan.


"Iya ini aku, Genta," sahut Arkha.


"Mutiara, Bos!" ucap Genta sangat lirih, tubuhnya sudah sangat lemah sehingga dia sangat sulit berbicara.


Mendengar nama Mutiara disebut Arkha semakin membulatkan matanya.


"Ada apa dengan Mutiara, Genta? apa dia juga masih hidup?" desak Arkha sangat penasaran. Arkha ikut memegang pundak lemah Genta dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Mu..Mu.. Mutiara, Bos...," ucap Genta lagi dengan sangat pelan dan terbata.


"Cepat katakan, Genta! apa yang terjadi dengan Mutiara?" jerit Arkha semakin tidak sabar mendengar penjelasan Genta.


Perlahan Genta berusaha mengangkat wajahnya menatap ke arah Arkha.


"Mu--Mutiara ma... ma... masih hi... hi... hidup, Bosss....,"


Bluugh!


Tubuh Genta langsung lemas jatuh ke lantai dan matanya yang tadi sedikit terbuka kini tertutup rapat.


"Genta, katakan dimana Mutiara! katakan Genta!" teriak Arkha sambil mengangkat kedua pundak Genta dan menggoyang-goyangkan tubuhnya berharap Genta membuka matanya dan melanjutkan penjelasannya tentang Mutiara lagi.


"Bangun, Genta! katakan dimana Mutiaraku?" Arkha tetap mengguncang-guncangkan pundak Genta yang sudah tidak sadarkan diri.


"Genta pingsan, Bos! tapi dia masih hidup," ujar Rendy setelah mengecek denyut nadinya.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit, Genta harus segera mendapat pertolongan!" teriak Rendy memberi perintah kepada anak buahnya. Dengan cepat mereka mengangkat tubuh Genta lalu dibawa ke fast boatnya dibawa menuju ke pelabuhan.


Arkha diam mematung di tempatnya semula. Mendengar berita bahwa Mutiara masih hidup membuat berjuta perasaan bergemuruh bercampur aduk di benaknya.


"Mutiara! benarkah kau masih hidup, Sayang?" Sebuah senyum terlukis di bibirnya.


"Tapi ada dimana Mutiara sekarang?" Arkha mengusap wajahnya pelan.


"Aku harus mencarimu dimanapun kamu berada, Sayang!" Arkha menggumam. Tentunya setelah dia tahu bahwa Mutiara masih hidup, dia bertekad akan mencarinya kemanapun.


"Rendy!" panggilnya.


"Iya, Bos!"


"Beri perawatan terbaik untuk Genta, dia harus segera sadar dan memberi tahu dimana Mutiara berada!"


'Pasti, Bos!"


"Kerahkan juga semua anak buahmu, kita harus cari Mutiara sampai ketemu!"


"Baik, Bos!"


"Kirim orang-orangmu untuk mengawasi semua bandara, pelabuhan, stasiun dan terminal, aku ingin mereka semua mencari Mutiara!"


"Siap, Bos!"

__ADS_1


Arkha semakin mengembangkan senyumnya. Setelah mengetahui Mutiara masih hidup, hatinya merasa begitu penuh harap. Dia sangat yakin akan bisa menemukan cintanya kembali.


__ADS_2