
Jarum jam sudah mulai condong ke kanan tanda siang hari yang panas sudah beranjak menjemput sore yang hangat. Matahari yang semula begitu jumawa menyinari dunia dengan sengatan teriknya, kini sudah mulai menunduk untuk menyambut senja yang akan segera tiba.
Deru mesin kendaraan di jalan utama kota yang padat juga terdengar semakin riuh mengiringi langkah langkah cepat kaki kaki para pejuang rupiah yang ingin segera kembali pulang setelah lelah bekerja. Sebuah gambaran kehidupan di kota yang begitu keras, dan memaksa kaki kaki itu harus terus bergerak demi kelangsungan hidupnya.
Dari lantai lima belas sebuah apartemen mewah, Arkha berdiri menatap ke luar melalui kaca bening berbingkai di balkon apartemennya itu, gedung gedung pencakar langit yang ada di kota itu juga masih tampak berdiri angkuh seolah ikut memanggilnya agar segera menjalankan rencananya untuk membalas pengkhianatan Alfin sahabatnya.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera melancarkan rencana kita, Rendy!" decak Arkha sambil menatap sebuah gedung perkantoran yang terletak tidak terlalu jauh dari pelabuhan, yang samar samar bisa terlihat dari jendela apartemennya. Gedung kantor perusahaannya yang kini sudah dikuasai oleh Alfin.
"Kantor, perusahaan dan semua aset aset ku yang sudah diambil Alfin, harus segera aku rebut kembali!" geramnya dengan kedua tangannya yang mengepal menandakan sebuah kemarahan yang masih ditahannya.
"Besok semuanya akan dimulai, Bos. Anak buah saya sudah mengirimkan sandi agar kita segera menyerang markas Pak Alfin di pelabuhan!" ujar Rendy sambil tersenyum sinis.
"Bukti bukti kecurangan Pak Alfin juga sudah terkumpul, sebentar lagi Pak Alfin akan membusuk di penjara untuk mempertanggung jawabkan semua kejahatannya," imbuh Rendy dengan raut dendam juga terlihat di wajahnya.
"Tapi Genta belum kembali, Rendy. Bagaimana kita bisa memulai penyerangan tanpa dia?" tanya Arkha sambil mendekati Rendy yang tengah duduk di sofa ruang tamu apartemen itu.
"Harusnya Genta sudah kembali pagi ini, tapi kenapa sampai sekarang dia belum datang? aku hubungi dia melalui handy talky juga tidak ada jawaban, apa sesuatu terjadi padanya?" gerutu Arkha tiba tiba merasa khawatir karena Genta yang belum kembali ke kota semenjak ia pergi ke kampung nelayan itu untuk menemui Mutiara.
"Cuaca di laut sana sangat tidak menentu, Bos. Mungkin saja Genta harus memutar arah dan sedang menghindari badai, saat itu HT tidak akan berfungsi" ujar Rendy menangkis kekhawatiran Arkha.
"Iya semoga saja memang seperti itu!" sahut Arkha menganggukkan kepala, namun ada keraguan dalam hatinya. Sebenarnya ada firasat tidak biasa sedang mengganggu pikirannya saat itu.
"Saya permisi dulu, Bos. Setelah Genta kembali, saya akan kesini lagi bersamanya untuk memulai misi kita!" pamit Rendy seraya melangkah menuju pintu utama, keluar dari apartemen Arkha.
Arkha kembali berdiri dan mendekat ke arah jendela, pandangannya juga tetap diarahkannya keluar, namun kali ini tatapan itu nampak kosong, lagi lagi firasat tidak biasa itu memenuhi kepalanya.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini? apa terjadi sesuatu pada Mutiara, kenapa Genta belum kembali dari kampung itu?" batinnya galau. Arkha mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar, kegelisahan nampak jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Ahh.. tidak, jangan sampai terjadi apa apa dengannya." Arkha terus berusaha mengalihkan firasat buruk yang dirasakannya saat itu.
"Mutiara, sebentar lagi aku akan menyelesaikan semua urusanku disini, Sayang. Aku sudah tidak sabar ingin segera menjemputmu, cintaku!" gumamnya sambil tersenyum membayangkan saat saat dimana ia akan bertemu dengan tambatan hatinya yang sudah sangat dirindukannya itu.
Arkha terus berdiri dan menatap hampa ke luar jendela, pikirannya terus teringat akan kenangan indahnya bersama Mutiara, kini rasa rindu seakan sudah mengaliri seluruh jiwanya. Tanpa ia sadari, sudah hampir tiga puluh menit ia hanya berdiri di tempat itu.
Gedung gedung yang semula tampak berdiri kokoh tiba tiba bergoyang, jendela kaca di sebelah Arkha terdengar mengeluarkan suara gemeretak dan saling bertautan, pijakan kaki Arkha juga berguncang keras.
Dari kaca bening jendela apartemennya, Arkha bisa melihat banyak orang berlari berhambur dengan tergesa gesa keluar dari dalam gedung gedung tinggi itu seraya mencari tempat lapang untuk berlindung.
"Gempa!"
"Gempa!"
Terdengar suara teriakan menggelegar memenuhi seisi kota. Sebuah fenomena alam terjadi dan membuat panik semua warga kota.
"Allahu Akbar!"
"Allahu Akbar!"
Akan tetapi, Arkha tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri, guncangan gempa itu membuat firasat buruk itu semakin merajam di benaknya.
"Ya Tuhan semoga tidak terjadi apa apa. Kenapa tiba tiba aku begitu mengkhawatirkan Mutiara, apa hubungan semua ini dengan gempa yang baru saja terjadi," kalutnya.
Rasa khawatir itu kini benar benar memenuhi pikirannya.
Gempa itu terjadi sangat cepat dan kini sudah berhenti, namun orang orang masih berkeliaran di jalan, mereka takut masuk ke dalam gedung ataupun rumah mereka, khawatir akan terjadi gempa susulan.
__ADS_1
Suasana mencekam menyelimuti seluruh kota.
Jalanan tiba tiba menjadi sangat macet, beberapa marka jalan roboh ke tengah jalan sehingga menghalangi para pengendara melintasi jalan itu yang membuat kemacetan semakin parah.
Rendy yang baru saja keluar dari apartemen Arkha nampak ikut panik di dalam taksi online yang ditumpanginya. Taksi itu diam di tempat semula, tidak bisa bergerak karena terhalang oleh kemacetan parah.
"Barusan terjadi gempa, jangan jangan Bos Arkha keluar dari apartemennya karena panik!" gerutu Rendy mencemaskan keadaan atasannya itu. Dia takut Arkha akan berlari keluar apartemennya sehingga keberadaannya bisa saja terbongkar karenanya.
"Aku harus kembali ke apartemen Bos Arkha!" pekik Rendy sambil mengeluarkan dompetnya dan memberi beberapa lembar uang kertas kepada sopir taksi dan segera keluar dari dalam taksi itu. Rendy segera berlari menyeruak diantara orang orang yang masih berkerumun di jalan dan segera menuju apartemen Arkha. Rendy dengan cepat menaiki anak tangga darurat di apartemen itu, karena lift sudah pasti tidak berfungsi saat gempa terjadi.
Dengan terengah ia menekan tombol bel di apartemen Arkha.
"Bos, barusan terjadi gempa, saya takut anda berlari keluar tadi!" serunya kepada Arkha yang saat itu sudah membukakan pintu untuknya dan Rendy langsung menghempaskan pantatnya di sofa ruang tamu sambil mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
"Aku tidak sebodoh itu, Rendy!" sahut Arkha dengan seringai miringnya.
Rendy meraih ponselnya dan membuka situs berita online mencari berita tentang gempa yang terjadi.
Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8,5 skala richter mengguncang laut bagian selatan, hari ini pukul 15:56 waktu setempat dan dilaporkan BMKG berpotensi tsunami
Rendy membaca berita yang langsung muncul di ponselnya dengan suara keras yang seketika membuat Arkha membulatkan matanya.
"Apa, Rendy? samudra bagian selatan? berpotensi tsunami?" decak Arkha sangat terkejut.
"Pulau tempat tinggal Mutiara ada di wilayah laut selatan, bisa jadi pulau itu terkena dampak tsunami!" jeritnya dengan wajah yang sangat cemas.
Arkha meraih ponselnya dan ikut mencari berita online untuk memastikan kebenaran berita yang tadi dibaca Rendy.
__ADS_1