
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah satu tahun lamanya Segara tinggal di kampung nelayan itu.
Sudah kurang lebih enam bulan juga ia merengkuh kebahagiaan sebagai suami sejati untuk Mutiara, meski hidup sangat sederhana, namun ia sangat bahagia tinggal di kampung itu bersama Imran dan Mutiara yang begitu menyayanginya dan senantiasa bersamanya dalam suka maupun duka. Merasa memiliki keluarga yang sempurna, membuatnya tidak ingin lagi mengingat masa lalunya.
Cintanya untuk Mutiara juga semakin hari semakin dalam, kasih sayang dan perhatian yang diberikan Mutiara kepadanya membuatnya semakin jatuh cinta akan kesederhanaan dan kepolosan gadis itu.
Selama di kampung nelayan itu, Segara sangat rajin ikut Imran melaut dan membantu Mutiara mengurus warungnya. Kemampuannya tentang segala macam mesin juga membuatnya sering dicari beberapa orang disana untuk memperbaiki mesin penyimpan ikan dan kapal, ataupun mesin mesin yang lainya termasuk motor dan mobil. Dari penghasilan pekerjaan sampingannya itu, ia dan Mutiara mulai menabung untuk memperbaiki warungnya.
Di suatu pagi yang sangat cerah.
Segara baru saja selesai membantu Mutiara di warungnya.
"Sayang, maaf aku nggak bisa nemenin kamu sampai selesai masak. Aku harus pulang duluan karena harus antar Bapak ke kota kecamatan."
Segara mengecup kening Mutiara, siang itu ia harus mengantarkan Imran pergi ke kota kecamatan untuk membayar listrik dan air, selain itu ada beberapa kebutuhan melaut juga yang harus dibelinya disana.
Biasanya Imran hanya pergi sendiri ke kota kecamatan, namun semenjak beberapa bulan lalu Segara selalu mengantarnya karena ia tidak tega membiarkan Imran pergi sendiri mengendarai motornya yang semakin butut dan sering mogok di tengah jalan.
"Iya hati hati ya, Bang! tolong jaga Bapak!" sahut Mutiara sambil mencium punggung tangan suaminya.
Segara pun meninggalkan Mutiara sendiri di warungnya dan Mutiara segera menuju dapur untuk melanjutkan memasak makan siangnya.
Di dermaga yang tak jauh dari warungnya nampak sebuah kapal ikan yang tidak terlalu besar menepi disana. Dua orang awak kapal turun dari kapal itu dan mulai mengecek semua bagian kapal itu. Terjadi kerusakan kecil di kapal itu yang memaksanya menyandar sementara disana.
Seorang pria juga turun dari kapal itu dan terlihat gelisah.
"Aku haus dan lapar sementara persediaan makanan di kapal sudah habis!" pria itu mengusap lehernya dan merasakan tenggorokannya sangat kering sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari cari sekiranya ada warung di sekitar tempat itu.
Mata pria itu langsung tertuju ke warung Mutiara, dengan tergesa ia melangkahkan kakinya menuju kesana.
"Ada minuman apa aja, Mbak? aku haus dan lapar!" pria itu langsung bertanya saat tiba di warung itu dan melihat Mutiara tengah sibuk memasak di dapur yang ada di area belakang warung itu.
__ADS_1
Mutiara terkejut karena tidak biasanya ada pembeli lagi di jam jam seperti itu. Mutiara semakin kaget saat melihat pria yang menghampiri warungnya itu adalah seorang pria asing yang belum pernah dilihatnya sebelumnya, dan sudah pasti pria itu bukanlah warga kampung itu.
"Abang mau minuman panas atau dingin, Bang?" sahut Mutiara mempromosikan dagangannya sambil menunjuk sebuah kulkas showcase yang ada di pojok warungnya.
Semenjak beberapa bulan bersama Segara, warung miliknya memang banyak perubahan, dari hasil kerja kerasnya bersama suaminya, warung itu sudah di renovasi dan dibuat lebih luas. Jenis makanan ringan yang dijualnya juga makin bertambah, selain pagi hari, Mutiara juga sering membuka warungnya sampai sore, ia juga berjualan untuk para nelayan yang hendak pergi melaut. Dia dan Segara bahkan sering tidak pulang dan memilih menginap di warungnya, berada di warung itu membuat mereka selalu terkenang akan malam pertamanya yang sudah mereka lewati berdua disana.
"Aku pesan kopi hitam sama mie rebus ya, Mbak!" seru pria itu sambil membuka pintu showcase, mengambil sebotol air mineral dan duduk di bangku terdekat dari dalam warung itu. Mutiara segera membuatkan kopi dan mie rebus yang dipesan pria tadi.
"Silahkan kopi dan mie nya, Bang!" ucap Mutiara sangat ramah sambil membawa sebuah nampan kecil berisi secangkir kopi dan semangkuk mie pesanan pria itu dan menyajikannya di meja dihadapannya.
"Makasih ya, Mbak!" ujar pria itu sambil ikut tersenyum ramah, namun matanya terus saja menatap kagum ke arah Mutiara.
"Kamu warga asli kampung ini ya, Mbak?" pria itu bertanya sopan.
"Iya, Bang. Aku memang lahir dan besar di kampung ini!" jawab Mutiara ramah.
"Kamu cantik sekali, Mbak. Tidak biasanya ada wanita secantik kamu di pulau terpencil seperti ini!" puji pria itu dengan tersenyum dan masih sangat sopan tidak ada niat menggoda Mutiara, hanya sebatas mengagumi saja.
"Aku juga tumben lihat kamu, Bang! kamu pasti bukan warga kampung sini kan?" tanya Mutiara.
"Iya, aku dari kota, Mbak. Kapal ikanku mengalami kerusakan dan kami terpaksa bersandar sementara disini, padahal persediaan makanan kami di kapal sudah habis!" pria itu terus bercerita sambil meniup kuah mie nya yang masih panas dan memakannya perlahan.
"Ohh... Abang dari kota ya, pantas aku tumben lihat Abang disini!" Mutiara menganggukkan kepala.
"Kenalin namaku Genta, Mbak. Nama Mbak siapa?" lanjut pria itu lagi memperkenalkan dirinya.
"Panggil Mutiara saja, Bang! nggak perlu panggil Mbak!" jawab Mutiara menyambut ramah salam perkenalan dari pria itu.
"Bang Genta baru pertama kali ya, ke pulau ini?" tanya Mutiara lagi mencoba akrab dengan Genta.
"Iya. Itu pun karena kapalku mengalami kerusakan, kalau tidak, mungkin aku juga tidak akan pernah mampir disini." jelasnya.
__ADS_1
Dari kejauhan nampak dua pria awak kapal yang tadi memeriksa mesin kapalnya, berjalan cepat menuju warung Mutiara dan ikut menghampiri Genta di tempat duduknya.
"Kita nggak bisa balik ke kota hari ini, Bos!, mesin kapal kita rusak dan tadi saya sudah menghubungi tim di kota melalui handy talky, katanya besok baru ada kapal yang mengarah kesini untuk menjemput kita!" ujar pria awak kapal itu.
"Berarti malam ini kita harus menginap disini, ya?" Genta mengerutkan keningnya sambil menghela nafas dalam.
"Iya betul, Bos!" sahut awak kapal yang satunya lagi.
"Apa ada penginapan di sekitar kampung ini, Mutiara? kapal kami rusak dan kami terpaksa harus menginap disini malam ini!" Genta bertanya kepada Mutiara.
"Wah.. kalau di kampung ini nggak ada penginapan, Bang. Penginapan cuma ada di kota kecamatan, itupun hanya losmen kecil saja dan kota kecamatan masih satu jam perjalanan lagi dari sini!" beber Mutiara panjang lebar.
Mendengar penjelasan Mutiara, Genta hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Kita terpaksa harus bermalam di dalam kapal dan kedinginan!" gerutunya.
"Ohya, Bang! suamiku mengerti tentang mesin kapal, tapi sayangnya, sekarang dia lagi ke kota kecamatan, nanti sore dia sudah kembali, nanti coba Abang berdiskusi dengannya, kali aja suamiku bisa bantu Abang!" ujar Mutiara.
Genta kembali mengernyitkan dahinya, dia tampak ragu dengan ucapan Mutiara, dia tidak percaya di kampung terpencil seperti itu ada orang yang lebih ahli darinya dalam urusan perkapalan.
"Jadi kamu sudah punya suami ya, Ra? " tanyanya menyembunyikan keraguannya.
"Iya aku sudah menikah, Bang!" jawab Mutiara dengan senyum ramah di bibirnya.
"Kamu cantik dan masih sangat muda, tapi sayangnya sudah menikah! padahal tadi aku naksir sama kamu, loh!" seloroh Genta, akhirnya terucap juga kalimat godaan itu dari mulutnya yang membuat Mutiara terkekeh.
"Bos, kami juga lapar, apa kami boleh pesan mie juga?" sela salah seorang awak kapal itu kepada Genta.
Genta hanya tersenyum sinis.
"Pesan dua mie dan dua kopi lagi ya, Ra!" serunya kepada Mutiara, memesan makanan untuk dua orang awak kapalnya itu.
__ADS_1