Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #39 Warisan


__ADS_3

SUV hitam yang dikendarai oleh Rendy bersama Genta dan Arkha kembali meluncur di antara kemacetan jalan utama kota.


"Rendy, kita belok kiri!" perintah Arkha saat mobil itu tengah berhenti mengikuti arahan traffic light di sebuah perempatan.


"Hah belok kiri, Bos?" tanya Rendy terperanjat. "Itu kan jalan menuju rumah Bos Arkha!" pikir Rendy.


"Jangan katakan anda ingin pulang ke rumah, Bos! ini belum saatnya anda datang ke rumah itu dulu!" sergahnya.


"Iya benar, Bos! anda jangan ke rumah itu dulu, rencana kita bisa gagal kalau Nyonya Livina melihat anda, Bos!" sembur Genta membenarkan pendapat Rendy.


"Kalian berdua tidak usah banyak bacot! ikuti saja perintahku!" geram Arkha sambil menatap kedua asistennya itu dengan tatapan mata iblisnya.


Genta dan Rendy kembali terdiam, mereka tidak berani membantah lagi kecuali menurut saja apa perintah atasannya itu. Perlahan Rendy memutar stir mobil lalu mengarahkannya menuju ke sebuah rumah besar yang terletak tidak jauh dari jalan utama.


"Stop! kita berhenti disini saja, Rendy!" ujar Arkha saat mereka sudah berada di depan rumah besar itu.


Rendy lalu meminggirkan mobil itu dan berhenti sekitar sepuluh meter di dekat halaman yang sangat luas di depan rumah besar itu.


Arkha mengenakan kacamata hitamnya lalu menurunkan kaca mobil di sebelahnya dan menatap ke luar. Pandangannya menyapu semua sudut di rumah itu, rumah kediamannya yang terlihat masih sama seperti saat sebelum ditinggalkannya.


Arkha terpaku ketika melihat seorang wanita keluar dari pintu utama rumah itu menuju ke halaman samping rumah sambil mendorong sebuah baby stroller.


"Livina!" gumam Arkha.


"Genta, Rendy, apakah bayi yang sedang bersama Livina itu putriku?" tanya Arkha kepada kedua asistennya.


Saat itu tampak Livina sedang mengangkat seorang bayi mungil dari stroller lalu menggendongnya.


"Betul, Bos. Itu putri anda," sahut Genta.

__ADS_1


Dalam pandangan Arkha, bayi itu terlihat sangat cantik dan imut apalagi saat Livina mengangkat tubuh mungil bayi itu lebih tinggi di depan kepalanya lalu bayi berusia enam bulan itu terkikik geli.


Tanpa sadar sebuah senyum tersimpul di bibir Arkha. "Aku tidak menyangka kalau aku sudah menjadi seorang ayah!" Arkha menggelengkan kepalanya, ada rasa haru mengisi hatinya.


"Ya Tuhan, putriku sudah sebesar itu dan baru hari ini aku bisa melihatnya!" ucap Arkha lirih.


"Tapi maafkan papa, sayang. Untuk saat ini papa belum bisa menggendongmu," Arkha kembali menggumam dan terus tersenyum haru.


Tidak lama kemudian, senyum Arkha seketika berubah sinis saat ia melihat seorang pria juga menyusul keluar dari dalam rumah itu dan mengambil alih bayi mungil itu dari gendongan Livina. Senyum bahagia terpancar dari wajah Livina dan pria itu lalu keduanya bercanda kecil dengan bayinya yang terus terkikik lucu dan terlihat semakin menggemaskan. Beberapa kali pria itu terlihat menggoda Livina sambil mengecup pipinya mesra.


"Alfin!" decak Arkha.


"Seenaknya saja pengkhianat itu mengakui darah dagingku sebagai anaknya! tidak akan aku biarkan, Alfin! aku akan merebut putriku darimu!" dengus Arkha semakin gusar.


Entah mengapa tidak ada lagi rasa cemburu yang dirasakan Arkha saat melihat kemesraan Alfin dan Livina, namun yang ada adalah kemarahan yang kini memenuhi jiwanya.


"Alfin..! dasar brengsek!"


"Kau boleh merasa menjadi pemenang sekarang, Alfin! tunggu pembalasanku. Aku akan merebut kembali semua yang telah kau ambil dariku!" sungut Arkha sangat marah.


"Kita harus segera pergi dari sini, Bos! jangan sampai Pak Alfin dan Nyonya Livina melihat kita!" seru Genta memberi isyarat agar Arkha mau menurutinya untuk segera meninggalkan rumahnya. Arkha hanya mengangguk lalu menutup kembali kaca mobilnya dan mobil itu pun berlalu cepat meninggalkan rumah itu.


Mobil itu kini berhenti di sebuah lobby apartemen mewah, ketiga pria di dalam mobil itu turun bersamaan dan menaiki lift menuju lantai lima belas apartemen itu.


"Untuk sementara anda tidak perlu keluar dari sini, Bos! semua kebutuhan anda, kami yang akan memenuhinya!" tegas Rendy.


"Ini saya belikan sebuah ponsel baru untuk anda, Bos! nomor kami sudah tersimpan disini!" Genta menyerahkan sebuah ponsel untuk Arkha.


"Kami juga sudah mengumpulkan semua aset aset anda, yang sampai saat ini belum bisa diambil oleh Pak Alfin, Bos!" tegas Rendy sambil menyerahkan sebuah map kepada Arkha yang dengan cepat diraih oleh Arkha.

__ADS_1


Arkha hanya tersenyum tipis memandangi map itu lalu perlahan Arkha membukanya dan membaca satu persatu kertas di dalam map itu.


"Pak Alfin memang serakah! demi semua warisan anda ini, dia sengaja menipu kami semua dan mengakui sesosok mayat tak di kenal sebagai anda." lanjut Rendy.


"Iya tentu saja! kalau tidak ada bukti surat kematianku, maka semua warisan ini tidak akan bisa diambilnya!" decit Arkha.


"Karena anda belum meninggal, apa itu artinya anda bisa mengambil lagi perusahaan dan rumah anda, Bos?' imbuh Rendy bertanya, namun Arkha hanya menggeleng.


"Rumah itu seharusnya menjadi milik Mama Yuna, tapi Livina sudah mengambilnya, aku yakin alasannya adalah karena Mama sedang mengalami gangguan jiwa saat ini. Sedangkan perusahaanku, seharusnya Livina lah yang menjalankannya bukan Alfin!" gusar Arkha.


"Genta, besok kamu panggilkan pengacaraku! aku akan mengurus semua ini," perintah Arka pada Genta.


"Aku tidak akan membiarkan sepeserpun harta ini diambil oleh pengkhianat itu!" geram Arkha lagi dengan aura kemarahan masih menghiasi wajahnya.


"Baik, Bos!" sahut Genta.


Meski sudah dinyatakan meninggal, Arkha tidak sepenuhnya mewariskan semua hartanya untuk Livina, ada beberapa aset yang diwariskannya untuk Mama Yuna dan juga anaknya, namun dalam surat wasiatnya itu, ia juga menuliskan bahwa semua harta yang diwariskan untuk anaknya bersama Livina, hanya akan bisa diambilnya apabila anak itu sudah genap berusia delapan belas tahun, karena itulah Alfin belum sepenuhnya bisa mengambil semua kekayaannya.


Termasuk juga apartemen yang akan ditempatinya sekarang, apartemen itu adalah apartemen milik Arkha yang di dalam surat wasiatnya seharusnya di wariskan untuk Livina, namun di surat itu juga Arkha menulis bahwa apartemen itu hanya bisa berpindah tangan menjadi milik Livina apabila anak mereka sudah berusia delapan belas tahun.


"Bos kami harus segera pergi dari sini, kami tidak mau ada yang curiga melihat kami disini, saya takut Pak Alfin mengirim mata matanya untuk mengawasi kami!" ujar Rendy.


"Iya, Bos! kami juga akan pergi untuk mengumpulkan informasi lain tentang kecelakaan kapal waktu itu!" pamit Genta.


"Saya akan segera kumpulkan anak buah kita untuk menjalankan rencana kita selanjutnya!" imbuh Rendy sambil beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Genta.


"Ingat, Bos! anda jangan keluar dulu!' kalau anda butuh sesuatu telpon saja kami!" tegas Rendy lagi.


Arkha hanya tersenyum kecut mendengar ucapan kedua asistennya itu, namun dalam hatinya dia sangat mengagumi kesetiaan Genta dan Rendy kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2