
Blaaggh...!
Arkha menutup pintu mobilnya dengan kasar. Dia baru saja memarkirkan SUV kesayangannya itu di halaman rumahnya. Dengan langkah yang dilebarkan sebisa mungkin, dia masuk ke dalam rumahnya.
"Dimana Livina?" tanya Arkha dengan nada ketus tanpa menoleh ke arah pelayannya yang menyambutnya ramah saat dia datang.
"Nyonya Livina ada di ruang tengah bersama Nona Ardila, Tuan." Pelayan itu menyahut sambil membungkukkan punggungnya dan menundukkan kepalanya. Dari sikap dan gaya bicara Arkha, dia bisa melihat kalau saat itu tuannya sedang kesal. Karenanya, pelayan itu tidak berani menatap wajah Arkha yang memang terlihat sangat menyeramkan saat dia marah.
Arkha bergegas menuju ruang tengah dan mendapati Livina sedang duduk menemani Ardila belajar.
"Hore..., Papa sudah pulang!" seru Ardila senang saat melihat Arkha ada di hadapannya. Gadis kecil itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Arkha, berharap Arkha akan menggendongnya. Meski sedang memendam kemarahan, di hadapan putrinya, Arkha tetap menunjukkan sebuah senyum di bibirnya seraya mengangkat tubuh mungil Ardila dan menggendongnya.
"Tumben Papa pulang cepet, Pa?" tanya Ardila sambil semakin erat mengalungkan tangannya di bahu Arkha.
"Iya, Sayang. Kebetulan hari ini Papa lagi nggak sibuk. Jadi, Papa bisa pulang cepet," sahut Arkha sambil ikut duduk di sofa di ruangan itu dan memangku Ardila.
"Dila, ayo lanjutkan tugas sekolahnya dulu! Papa baru pulang, Papa pasti capek," sela Livina sambil melirik wajah Arkha dan ikut tersenyum. Namun, Arkha malah menatap sinis ke arah Livina.
"Dila belajar di kamar dulu ya, Sayang! Papa mau bicara sama Mama sebentar," bujuk Arkha sambil mengelus lembut kepala Ardila.
"Papa sama Mama nggak lagi marahan, kan?" tanya Ardila dengan bibirnya yang dimajukan, cemberut. Meski Arkha tetap tersenyum kepadanya, gadis kecil itu bisa menyadari kalau saat itu Arkha sedang kesal.
"Enggak, Sayang. Papa hanya ingin bahas satu hal yang sangat penting sama Mama," tegas Arkha.
Ardila tetap cemberut. Akan tetapi, dia menurut dan bersedia turun dari pangkuan Arkha lalu mengambil semua buku-bukunya.
"Pokoknya, Dila nggak mau denger Papa sama Mama ribut lagi!" ketus gadis kecil itu sambil mendekap buku-buku di dadanya.
__ADS_1
"Enggak dong, Sayang. Papa nggak akan marah kok sama, Mama." Livina ikut berusaha meyakinkan putrinya dan Ardila hanya mengangguk lalu berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan Arkha dan Livina berdua di ruangan itu.
Arkha menarik nafas panjang sambil mengusap wajahnya. Tanpa dia sadari, Ardila selama ini ternyata memperhatikan hubungannya yang semakin merenggang dengan Livina. Bahkan, Ardila juga sering mendengar adu mulutnya dengan Livina.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan denganku, Kha? Apa kamu nggak bosan mengajakku bertengkar tiap hari," seringai Livina.
"Kalau saja bukan kamu yang memulai semuanya, aku juga malas bertengkar denganmu, Vin!" ketus Arkha sambil menatap tajam ke arah Livina.
"Aku?" Livina menggelengkan kepalanya, "kau selalu saja menuduhku yang tidak-tidak, Arkha!"
"Ok, to the point saja, Vin! sekarang katakan padaku, apa tujuan kamu tadi siang pergi ke rumah sakit tempat Mama dirawat?" selidik Arkha.
"Ke rumah sakit?' Livina tersentak dan membulatkan matanya, di luar dugaannya ternyata Arkha sudah tahu bahwa siang itu dia pergi ke rumah sakit dan mencoba bertemu dengan Mama Yuna.
"Kenapa, Vin? kamu terkejut karena aku sudah tahu kelakuanmu?" pancing Arkha.
"Lalu apa salahnya, Arkha? aku kesana sengaja ingin menjenguk Mama, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Setelah kau bilang bahwa keadaan Mama sudah membaik, aku jadi sangat ingin menemuinya," ungkap Livina mencoba menutupi kebohongannya.
"Kebohongan apa, Kha? Memangnya kapan aku pernah berbohong kepadamu?" kilah Livina.
"Cukup, Vin! apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu? Memangnya kapan kamu pernah peduli sama Mama? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menemuinya?" bentak Arkha semakin kesal dengan kebohongan Livina.
"Empat tahun, Vin! empat tahun lamanya Mama dirawat disana dan selama itu kau sama sekali tidak pernah mempedulikannya. Bahkan saat setahun aku menghilang, kau juga tidak sekalipun mengunjungi Mama di sana!" sambung Arkha mempertegas tuduhannya.
Livina terdiam bagai patung, dia tidak bisa lagi mengelak dari tuduhan Arkha.
"Kalau bukan karena alasan tertentu, aku yakin kau tidak akan mau menemui Mama ke rumah sakit, Livina! Sekarang Mama menghilang dari rumah sakit, aku yakin kau ada di balik semua kejadian ini!" tuding Arkha lagi.
__ADS_1
"Tidak, Kha! kenapa kau selalu saja menuduhku dengan tuduhan tanpa bukti yang jelas? aku kesana memang hanya ingin bertemu Mama saja, tapi sayangnya aku tidak sempat bertemu dengannya. Mama lebih dulu diculik dan dibawa kabur oleh suster pribadinya yang jahat itu!" Meski Livina tahu Arkha tidak akan percaya padanya, Livina tetap berbohong dan mencari alasan untuk membela dirinya.
"Kau tidak perlu menyalahkan orang lain, atas hilangnya Mama dari rumah sakit, Vin. Masalah itu, aku sendiri yang akan menyelidikinya. Dan kalau sampai terbukti kau ada di balik semua ini, maka aku tidak akan segan untuk menghabisimu, Livina!" pekik Arkha sangat geram dengan telunjuknya yang diacungkannya ke wajah Livina.
"Tega kamu menuduh aku yang menculik Mama, Arkha. Asal kamu tahu aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan menghilangnya Mama dari rumah sakit. Aku memang kesana, tapi kami tidak sempat bertemu, suster licik itulah yang sudah membawa Mama kabur!"
"Aku tidak ada menuduh kamu yang menculik Mama, Vin. Tapi aku yakin kamu punya andil di balik semua kejadian ini!" terang Arkha.
"Sudahlah, Kha. Aku tidak suka kau terlalu membesar-besarkan masalah ini. Kau selalu saja menyalahkanku. Kamu itu egois, Arkha!" bentak Livina.
"Kau yang egois, Vin!" tampik Arkha.
"Cukup, Arkha! aku capek kalau harus selalu meributkan hal yang tidak penting denganmu!" pungkas Livina sambil melangkah meninggalkan Arkha menuju ke kamarnya.
Arkha menyandarkan punggungnya di sofa sambil mengepalkan erat kedua tangannya. Sejenak dia menghela nafasnya panjang.
"Aahh... kenapa banyak sekali masalah yang aku hadapi saat ini?" gerutu Arkha sambil mengacak-acak rambutnya jengah dan merasa semakin frustasi.
Perlahan Arkha merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya, ia lalu menelepon seseorang.
"Rendy, aku mau kau membagi anak buahmu, sebagian tetap mencari Mutiara dan sebagian lagi mencari Mama. Kali ini aku tidak mau tahu bagaimana caranya, kau harus menemukan mereka!" Arkha menelepon Rendy untuk mengingatkannya kembali semua yang diperintahkannya sebelumnya.
Dari balik dinding ruang tengah, Livina menguping pembicaraan telepon antara Arkha dan Rendy.
"Rupanya wanita yang bernama Mutiara itu masih hidup dan Arkha sedang mencarinya!" Livina menggumam.
"Kalau sampai wanita itu ditemukan maka posisiku akan semakin terjepit di sini. Arkha masih sangat mencintai wanita itu, kalau sampai Arkha tahu semua kebohonganku, Arkha tidak hanya akan menceraikanku, tapi juga mengirimku ke penjara!" sungutnya dengan wajahnya yang berubah panik.
__ADS_1
"Aku harus ikut mencari Mutiara dan Mama Yuna, jangan sampai Arkha menemukan mereka lebih dulu."
Livina lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan tergesa. Pikirannya semakin kalut, dia sangat takut kalau Arkha akan mengusirnya dari rumah itu.