
Satu minggu pasca tsunami, suasana di tempat pengungsian masih diselimuti duka. Meski gempa susulan sudah tidak dirasakan lagi, namun orang orang tetap bertahan di pengungsian. Hanya beberapa orang yang rumahnya tidak terlalu terdampak saja yang memilih kembali ke rumah mereka dan mulai berbenah setelah bencana besar itu terjadi.
Jumlah korban meninggal yang ditemukan pun semakin banyak, dari data yang terkumpul di BNPB menyebutkan bahwa korban meninggal dan hilang akibat tsunami tersebut mencapai ribuan orang. Kerugian materiil akibat bencana juga diperkirakan sangat besar.
Bantuan bantuan sudah mulai berdatangan dari berbagai kalangan serta relawan dari berbagai LSM pun sudah tiba di sana.
Mutiara dan Genta masih bertahan di pengungsian, kesedihan karena kehilangan bapaknya masih sangat dirasakan Mutiara, namun saat ia melihat bagaimana orang orang disekitarnya yang juga merasakan kesedihan melebihi dirinya, Mutiara bisa sedikit merasa bersyukur karena dia sendiri masih bisa selamat. Harapan untuk tetap melanjutkan hidup masih terbuka lebar di hadapannya, terlebih dengan adanya kehidupan baru yang tengah bertumbuh di dalam rahimnya saat itu.
Hari itu, setelah menikmati makan siang yang disajikan oleh para relawan, Genta dan Mutiara duduk di dalam tenda pengungsian.
"Bang Genta, kamu masih belum menceritakan kenapa kamu mengubah identitas kita disini, Bang!" tanya Mutiara ketika usai pendataan ulang korban bencana diadakan oleh badan pemerintahan setempat.
"Aku hanya ingin bisa melindungimu, Ra. Aku nggak mau banyak pertanyaan tentang dirimu dan juga kehamilanmu," sahut Genta tanpa memberi banyak alasan.
"Cuma itu, Bang?" ulang Mutiara lagi, tidak puas dengan jawaban Genta.
"Iya, cuma itu."
"Kamu bohong, Bang. Aku tidak percaya kalau cuma itu saja alasanmu, aku yakin ada hal lain yang membuatmu menyembunyikan identitas kita disini."
"Alasan apa, Ra? tidak ada alasan lain kok!" kilah Genta.
"Apa ini ada hubungannya dengan Bang Segara?" cecar Mutiara, ia merasa curiga kalau Genta menyembunyikan sesuatu lagi darinya.
Genta tak menjawab, sesungguhnya ia juga sudah ingin bercerita kepada Mutiara namun ia bingung harus mulai dari mana menceritakan semua yang menjadi alasannya mengubah identitas mereka di sana.
"Sebenarnya ceritanya panjang, Ra. Intinya dengan mengubah identitas kita untuk sementara ini, kita akan merasa aman di sini," kata Genta.
__ADS_1
"Aman yang seperti apa, Bang? kita sudah selamat dari bencana, dan bantuan pemerintah juga sudah sampai disini!"
"Kita akan aman dari orang orang yang punya niat jahat sama kita, Ra!"
"Memangnya siapa yang ingin berbuat jahat sama kita dalam situasi seperti ini, Bang?"
Kembali Genta hanya terdiam, pertanyaan Mutiara membuatnya terjebak dalam kebohongan yang ia buat sendiri dan ia menjadi bingung bagaimana harus menjawabnya.
"Begini, Ra! sebenarnya, saat ini Bos Arkha sedang menjalankan rencananya untuk merebut kembali semua kekayaannya yang diambil secara curang oleh Pak Alfin. Orang orang suruhan Pak Alfin juga tengah mengawasiku, mereka semua itu orang jahat. Sementara aku tidak bisa berkutik disini akan lebih aman kalau mereka semua menganggap aku sudah tewas diterjang tsunami, mereka tidak akan mencariku saat mengira aku sudah tiada," sahut Genta, tentu saja tidak semua hal dijelaskannya secara detail, dia tidak ingin Mutiara terlalu banyak bertanya lagi kepadanya.
Mutiara hanya menggelengkan kepalanya, sangat sulit baginya mengerti penjelasan Genta, banyak hal yang ia belum pahami tentang kehidupan masa lalu Segara.
"Aku nggak ngerti maksud kamu, Bang!" sahut Mutiara.
Sekilas yang Mutiara bisa pahami dari penjelasan Genta hanya bahwa kehidupan Segara begitu keras sebagai seorang Arkha. Dari cerita Genta, pikiran Mutiara hanya bisa menyimpulkan kalau Segara menjadi orang yang sangat ambisius setelah kembali menjadi Arkha. Keinginannya begitu besar untuk merebut kembali semua kekayaannya. Dan demi keinginannya itu, Segara bahkan berbohong pada Mutiara sengaja tidak menceritakan tentang ingatannya yang sudah kembali, sehingga membuat rasa kecewa Mutiara terhadap Segara kembali memuncak.
Entah bagaimana, saat itu isi hati Mutiara seketika berubah menjadi sangat bertentangan dengan semua maksud penjelasan Genta.
"Bang Segara begitu berambisi merebut kembali semua kekayaannya dan demi ambisinya itu dia tega melupakan semua janjinya padaku, setelah dia mendapatkan kembali semuanya, pastinya dia juga berniat merebut kembali istri pertamanya, apalagi dia sudah punya seorang anak dari istrinya itu. Sedangkan aku? dia tidak tahu kalau aku mengandung anaknya dan bahkan dia tidak pernah menginginkan bayi ini," batin Mutiara memberontak, sangat sedih dan hanya kecewa yang memenuhinya.
"Setelah situasi membaik, aku sendiri yang akan membawamu ke kota, Ra. Aku akan pastikan kamu bisa bertemu langsung dengan Bos Arkha!" tegas Genta.
"Aku rasa semua itu tidak perlu lagi, Bang. Aku tidak akan ikut bersamamu ke kota," sahut Mutiara datar dengan air mata kembali menetes di sudut matanya.
"Maksud kamu apa, Ra?" tanya Genta merasa bingung dengan ucapan Mutiara yang tiba tiba berubah.
"Aku memilih untuk tetap tinggal disini saja, Bang. Saat ini Bapak sudah tidak ada lagi, sebelumnya Bapak yang sangat menginginkan aku menyusul Bang Segara ke kota, tapi sekarang Bapak sudah tidak ada, aku juga tidak ingin lagi ikut denganmu ke kota." jawab Mutiara, perasaan kecewa terhadap kebohongan Segara sudah merubah jalan pikirannya.
__ADS_1
"Bagiku Bang Segara sudah tenggelam diterjang tsunami bersamaan dengan kepergian Bapak, Bang! sedangkan Arkha, aku sama sekali tidak mengenal pria yang bernama Arkha itu, mendengar ceritamu saja, aku tahu kalau Arkha hanyalah seorang pria egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dia seorang pembohong yang begitu mudah melupakan semua janjinya kepadaku!" ketus Mutiara, namun dengan air mata kekecewaan yang terus mengalir di pipinya.
"Di kota juga dia sudah punya istri dan seorang anak, sudah pasti baginya mereka jauh lebih penting daripada aku, Bang!" lanjutnya semakin terisak.
"Istrinya Bos Arkha sudah menikah lagi dengan pria lain, Ra. Mereka sudah tidak punya ikatan lagi. Bagaimana aku harus meyakinkanmu kalau Bos Arkha saat ini hanya mencintaimu, Ra?" ujar Genta sangat bingung dengan keputusan Mutiara yang tiba tiba berubah.
"Mereka punya seorang anak, Bang kau jangan melupakan itu! anak itu akan mengembalikan ikatan cinta mereka, apalagi istrinya itu menikah lagi karena mengira Arkha sudah meninggal, saat dia kembali, pastinya cinta mereka juga akan bersemi lagi!"
"Kenyataanya tidak seperti itu, Ra. Aku bingung bagaimana lagi caraku menjelaskan semuanya padamu!"
"Kau tidak perlu menjelaskan apa apa lagi, Bang. Kalau kau ingin kembali ke kota, kau pergilah sendiri, aku tidak akan ikut denganmu!" ketus Mutiara dengan nada penuh emosi.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri disini, Ra. Kau jangan keras kepala seperti ini, apalagi kau saat ini sedang hamil!" tegas Genta lagi kembali mencoba meyakinkan Mutiara.
"Justru kehamilanku ini yang akan membuatku kuat bertahan disini, Bang. Kau sendiri yang bilang kalau bayi ini membawa keberuntungan bagiku, karena itu, aku yakin aku pasti bisa bertahan hidup disini dan merawatnya sendiri."
"Tapi, Ra?"
"Keputusanku sudah bulat, Bang. Aku tidak akan ikut denganmu ke kota, aku akan tetap tinggal disini dan merawat calon bayiku. Lagi pula Bang Segara pasti sudah mengira aku juga sudah tewas karena tsunami, sudah pasti dia akan melupakanku!" ucap Mutiara dengan suaranya yang bergetar menahan semua perasaan yang bergemuruh di dadanya.
"Kenapa tiba tiba kamu merubah keputusanmu seperti ini, Ra. Bagaimana kamu akan hidup di kampung ini? kampung ini sudah hancur, luluh lantah akibat tsunami, kamu tidak akan punya masa depan disini!" tampik Genta tetap berusaha meyakinkannya.
"Pemerintah tidak akan tinggal diam, Bang. Setelah bencana, kampung ini pasti akan segera di rehabilitasi. Kau tidak usah mengkhawatirkan bagaimana caraku bertahan hidup disini, Bang!" sahut Mutiara sambil beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Genta disana.
Genta hanya diam, "mungkin saja Mutiara sedang kalut saat ini sehingga dia tidak bisa berfikir dengan akal sehat dan dia tiba tiba saja mengatakan semua ini," pikirnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, Ra. Aku akan tetap menjagamu disini sampai kau bersedia ikut denganku ke kota, kalaupun akhirnya kamu tidak mau ikut bersamaku ke kota, maka aku juga akan tetap tinggal disini bersamamu," gumamnya. Sedikit demi sedikit ia berusaha memahami kekecewaan yang tengah dirasakan Mutiara saat itu.
__ADS_1