Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Bonus Part #7


__ADS_3

Setelah Arkha dan Mutiara sama-sama memakai pakaiannya kembali, Arkha bergegas menuju pintu kamarnya dan membukanya lebar-lebar.


"Selamat pagi, Papa!" sapa Ardila tersenyum ceria.


"Kita jadi dayan-dayan kan, Pa?" sergah Baruna sambil memandangi papanya yang terlihat masih kusut.


Arkha lalu berjongkok agar posisinya sejajar dengan dua bocah itu.


"Papa mandi dulu ya, Sayang. Kalian sarapan aja dulu sama Oma. Nanti Papa sama Mama nyusul, ya!" ujar Arkha sambil menunjukan senyuman dan mengusap kepala Ardila serta Baruna secara bergantian.


"Mama Mutiara mana, Pa?" tanya Ardila sambil mendongakkan kepalanya mencari keberadaan Mutiara di dalam kamar itu.


"Mama masih tidur, Mama lagi nggak enak badan," sahut Arkha sambil menoleh ke arah Mutiara yang masih berbaring lelah di atas ranjang.


"Mama ...!" seru kedua bocah itu bersamaan sambil berlari kecil menghampiri Mutiara di tempat tidurnya.


"Mama cakit ya?" Baruna langsung naik ke atas tempat tidur itu dan mengusap kening Mutiara.


Tingkah bocah itu terlihat sangat lucu saat mencoba menirukan gaya seorang dokter ketika sedang memeriksa pasiennya yang sedang sakit.


"Eh, jangan ganggu Mama dulu, Una!" cegah Arkha. Tetapi ia juga terkekeh, semua tingkah polah putra kecilnya selalu terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.


"Mama Mutiara, sakit apa?" Ardila juga ikut duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan Mutiara.


Tiga bulan Mutiara tinggal di rumah itu, dan selama itu ketulusan, kelembutan perilaku serta kasih sayang Mutiara sudah mampu meluluhkan hati lugu seorang Ardila. Sehingga, Ardila sudah mau menerimanya dan bisa menyayangi Mutiara sebagai Mama sambungnya.


"Mama nggak apa-apa, Sayang. Hanya sedikit pusing dan mual saja," jawab Mutiara tidak ingin anak-anaknya terlalu mengkhawatirkannya. Mutiara juga menatap dan mengusap wajah dua bocah itu secara bergantian dengan pandangannya yang nampak sayu karena masih merasa lelah setelah pertempurannya bersama Arkha.


"Yah, kalau Mama cakit, nggak jadi dayan-dayan dong," sungut Baruna kecewa karena merasa rencana jalan-jalannya akan batal hari itu.


"Nanti agak siangan ya, Sayang. Mama sama Papa mau mandi dulu, setelah sarapan kita akan pergi jalan-jalan," hibur Mutiara untuk menyenangkan anak-anaknya.

__ADS_1


"Memangnya Mama sakit apa?" Ardila kembali mengulang pertanyaannya.


"Mama kalian lagi ngidam, sepertinya sebentar lagi kalian akan punya adik bayi," ceplos Arkha. Rasa senang setelah mengetahui kehamilan istrinya yang kedua, membuatnya tidak sabar ingin berbagi kebahagiaan itu bersama anak-anaknya.


"Beneran kita bakalan punya adik bayi lagi, Ma?" girang Ardila.


"Mudah-mudahan, Sayang," sahut Mutiara belum sepenuhnya meyakinkan kalau dirinya sedang hamil saat itu.


"Hoyee ..., Una mau punya adik bayi!" Baruna melompat-lompat di atas kasur itu sangat senang mendapat berita kalau dia akan punya adik lagi.


"Asyik ..., aku ingin punya adik perempuan, Ma. Biar ada yang bisa aku ajak main boneka!" timpal Ardila juga terlihat sangat senang.


Arkha dan Mutiara saling melempar pandang dan sama-sama tersenyum. Kehadiran calon anggota baru di keluarga itu akan menambah kebahagiaan mereka.


"Baruna ..., ayo kita sarapan dulu!" Dari luar kamar itu, terdengar Mama Yuna tengah memanggil cucunya.


Mendengar Baruna masuk ke kamar orang tuanya, Mama Yuna ikut menyusul mencari keberadaan Baruna di sana, untuk mengajak cucu kesayangannya itu sarapan pagi bersama.


"Mutiara sedang nggak enak badan, Ma. Makanya aku melarangnya bangun dan menyuruhnya istirahat dulu," kilah Arkha.


"Rupanya kamu sakit, Ra? pantesan tumben hari ini kamu nggak bangun pagi," sosor Mama Yuna menyerngitkan keningnya menoleh ke arah Mutiara yang masih terlihat bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.


"Cuma sedikit pusing saja, Ma," sahut Mutiara lirih dan merasa sedikit gugup karena untuk pertama kalinya setelah tinggal di rumah itu dia bangun belakangan dari mama mertuanya.


"Sebentar lagi kami akan punya adik bayi, Oma!" seru Ardila sumringah.


"Apa? Punya adik bayi?!" Mama Yuna membulatkan matanya menatap wajah polos dan jujur Ardila. Tiba-tiba saja sebuah senyum tergambar menghiasi wajahnya.


Meskipun sebenarnya dia tidak menyukai Ardila, tetapi bujukan Arkha dan Mutiara yang selama ini ingin agar dia bisa menerima Ardila di rumah itu, sudah mampu membuatnya perlahan bisa menyayangi Ardila. Walau tetap tidak mau mengakuinya sebagai cucunya, pada akhirnya Mama Yuna tetap berusaha untuk tidak keberatan menerima Ardila ikut berada di tengah keluarganya.


"Apa itu benar, Ra?" tanya Mama Yuna ikut merasa senang menatap wajah sayu menantunya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku belum test sih, Ma. Tapi aku sudah tidak datang bulan lebih dari dua minggu, dan setiap bangun pagi aku merasa pusing dan mual sepertinya aku mengalami morning sickness," terang Mutiara.


Kembali Mama Yuna tersenyum, "Sudah pasti kamu hamil lagi itu, Ra," terka Mama Yuna penuh keyakinan.


"Mulai sekarang, kamu nggak boleh capek lagi, Ra. Semua pekerjaan rumah biar Mama yang atur," sambung Mama Yuna dan Mutiara kembali hanya menganggukkan kepalanya.


"Dan kamu, Arkha. Kamu harus jaga baik-baik istrimu. Biarkan dia lebih banyak beristirahat. Jangan semena-mena!" hardik Mama Yuna, menatap tajam ke arah putranya.


"Baik, Ma," sahut Arkha tersenyum samar dan mengangguk pelan. Dia sangat paham dengan maksud nasehat Mamanya itu.


"Supaya lebih yakin, sebaiknya kamu panggil dokter pribadi keluarga kita untuk datang ke sini, Arkha. Kalau benar istrimu hamil, dia harus mendapatkan vitamin dari dokter dan obat untuk emesis-nya juga," perintah Mama Yuna.


"Iya, Ma. Nanti siang aku akan panggil dokter ke sini," sahut Arkha setuju.


"Sekarang kalian mandi saja dulu. Mama akan tunggu kalian di meja makan sama anak-anak," lanjut Mama Yuna.


"Ayo, Una. Kita sarapan duluan." Mama Yuna menjulurkan tangannya hendak menggendong Baruna yang masih duduk di atas ranjang di sebelah Mutiara.


"Baik, Oma." Baruna langsung menurut dan segera berdiri, berhambur ke gendongan Omanya.


Mama Yuna langsung membawa Baruna keluar dari kamar itu diikuti oleh Ardila meninggalkan Arkha dan Mutiara berdua saja di sana.


"Sepertinya semuanya sangat senang mengetahui kalau aku hamil lagi, Bang," ujar Mutiara tersenyum bahagia.


"Sudah pasti, Sayang. Kamu memang pembawa kebahagiaan di rumah ini." Arkha terus tersenyum menatap wajah istrinya. Kebahagiaan terasa lengkap di rumah itu semenjak kehadiran Mutiara bersamanya.


______________________


Hai Readers,


Masih mau lanjut lagi nggak nih? Kalau masih, tetap beri dukungan dan tinggalkan like dan komennya ya...

__ADS_1


Bonus part masih akan secepatnya Author sambung lagi. Tetapi, tidak akan terlalu banyak ya, nanti kalian bosan :)


__ADS_2