
Pancaran mata Genta meredup, sesaat matanya terpejam dan hanya hembusan nafasnya yang terdengar pelan.
"Panjang ceritanya, Bos," sahutnya lirih.
"Saat saya mengunjungi Mutiara di kampung nelayan itu, saya berniat membawa Mutiara ikut bersama saya ke kota ini untuk menemui Anda, Bos. Tapi sayang saat di perjalanan, kapal kami diterjang tsunami. Kami terbawa arus hingga terdampar di sebuah kampung, untungnya kami berhasil selamat dan kami ditampung di tempat pengungsian bersama korban bencana yang lain," beber Genta.
"Membawa Mutiara ke kota ini?" Arkha membelalakkan matanya.
"Apa tujuanmu membawa Mutiara ke sini? sedangkan waktu itu aku sudah berkali-kali mengatakan padamu kalau aku sendiri yang akan menjemputnya ke sana!" decak Arkha menatap tajam mata sayu Genta. Arkha gusar karena merasa Genta telah melanggar perintahnya saat itu.
"Sabar, tenang dulu, Bos. Biarkan Genta menyelesaikan dulu ceritanya!" sergah Rendy menengahi.
"Mutiara sudah tahu kalau pria yang hilang ingatan dan dia kenal bernama Segara itu adalah Arkha, yaitu Anda, Bos! Karena itulah saya bermaksud membawanya ke sini. Dan seandainya saja Mutiara tidak ikut bersama saya waktu itu, mungkin saja dia juga akan bernasib sama dengan Pak Imran, Bos," kilah Genta.
"Jadi, Mutiara sudah tahu kalau ingatanku sudah kembali?"
"Iya, Bos. Saya terpaksa menceritakan semuanya kepada Mutiara," jawab Genta jujur.
Untuk sesaat Arkha terdiam, dia tidak tahu apakah harus marah atau justru berterima kasih pada Genta yang sudah menceritakan tentang jati dirinya kepada Mutiara. Marah pun percuma, karena semua sudah terjadi. Namun, di sisi lain karena alasan itulah justru Genta bisa membawa Mutiara ikut bersamanya sehingga Mutiara bisa selamat dari bencana waktu itu.
"Pak Imran? Bagaimana dengan Bapak, Genta?" Arkha teringat akan ayah mertuanya yang saat itu masih tinggal di kampungnya.
"Pak Imran sudah tiada, Bos. Kampung tempat tinggalnya sudah tenggelam karena bencana itu!"
Arkha mengusap wajahnya pelan, ia menyadari kalau ayah mertuanya itu memang tidak selamat dan sudah tewas menjadi korban bencana.
"Kau dan Mutiara selamat, tapi mengapa kau tidak mengabariku? Dimana kalian, dan apa yang sudah terjadi selama tiga tahun ini, Genta?"
Kepala Arkha dipenuhi berjuta tanya, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Genta mendengus lemah, pertanyaan Arkha yang terlontar bertubi-tubi kepadanya, membuat dia bingung harus mulai dari mana menceritakan semuanya kepada Arkha.
Dengan suara yang sangat pelan dan lemah, akhirnya Genta menceritakan bagaimana Mutiara menolak untuk kembali ke kota bersamanya dan memilih tetap tinggal di kampung itu.
"Mutiara, kenapa kau meragukan aku seperti itu, apa kau tidak tahu betapa aku sangat mencintaimu dan betapa menderitanya aku saat aku tahu kau sudah tiada? Arkha ini tetap adalah Segara mu, Mutiara!" Arkha bergumam sambil mengusap dadanya, tanpa bisa ditahannya bulir air mata menetes membasahi pipinya setelah mendengar cerita Genta.
"Anak buahku sudah berkali-kali menyisir kampung relokasi itu, Genta. Tapi mengapa mereka tidak ada yang tahu tentang keberadaan kalian?" pekik Rendy. Dia meragukan cerita Genta, karena anak buahnya sudah pernah mencarinya ke kampung itu. Namun, tidak pernah mendapat informasi tentang mereka di sana.
"Selama ini kami mengganti identitas kami, Rendy. Orang-orang disana mengenal namaku adalah Tirta sedangkan Mutiara adalah istriku," terang Genta.
Rendy hanya mengangguk paham, "pantas saja kami tidak menemukan kalian, rupanya kalian ganti identitas," sungutnya.
"Untuk apa harus mengubah identitas seperti itu, Genta?" Arkha kembali berdecak kesal, alasan Genta tidak sesuai dengan logikanya.
"Saya tidak punya pilihan lain selain membiarkan orang-orang mengira saya sudah tewas, Bos. Apa Anda ingat? kapal yang membawa saya ke pulau itu adalah kapal perusahaan Anda yang saat itu masih dikuasai oleh Pak Alfin? Setelah tahu kapal itu diterjang tsunami, pastinya Pak Alfin akan mencari saya. Sedangkan, saat itu saya tidak dapat berkutik di pengungsian, kalau dia sampai melakukan apa-apa terhadap saya, bagaimana dengan Mutiara, Bos? Siapa yang bisa melindunginya di sana?" Genta mulai bisa meninggikan nada suaranya.
"Tapi kenapa harus mengaku sebagai suami Mutiara, Genta?" geram Arkha lagi tidak bisa memahami alasan Genta.
"Saya tidak ingin ada omongan miring tentang Mutiara di sana, Bos. Karena saat itu Mutiara sedang hamil, saya terpaksa mengaku sebagai suaminya," ungkap Genta.
__ADS_1
"Apa? hamil?" Arkha lagi-lagi membulatkan matanya.
"Iya, Bos. Saat itu Mutiara tengah mengandung benih Anda, karena itulah saya ingin sekali membawanya ke kota ini dan bertemu dengan Anda, agar Anda tahu kalau dia akan segera melahirkan darah daging Anda, Bos!" terang Genta dengan suaranya yang mulai datar.
Arkha mengangkat satu ujung bibirnya dan mendengus kesal, ia kembali menatap tajam mata Genta.
"Tiga tahun kau tinggal bersamanya di kampung itu, Genta. Apa kau tidak ada niat sekalipun untuk memberitahuku tentang Mutiara? Kau bahkan sengaja menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku!" bentak Arkha.
"Ma - maafkan saya, Bos!" sahut Genta terbata.
"Selain karena memang Mutiara menolak saya ajak ke kota ini, saya..., sa - saya juga tidak ingin dia bertemu dengan Anda, Bos," imbuhnya masih dengan suara terbata.
"Memangnya kenapa, Genta? ada apa dengan kalian?" Arkha menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.
"Sa - saya..., saya jatuh cinta kepada Mutiara, Bos!" aku Genta sejujurnya.
"Kau bilang apa, Genta? Kau jatuh cinta terhadap istriku?" geram Arkha.
Mendengar pengakuan jujur Genta, Arkha semakin tersulut emosinya, seketika dia bangun dari tempat duduknya dan menunjukkan tangannya yang mengepal kuat di depan wajah Genta.
Genta hanya bisa memejamkan matanya menanggapi kemarahan Arkha. Karena, ia tidak dapat bergerak dari posisinya saat itu.
"Seharusnya kau membawa Mutiara kembali kepadaku, Genta. Tapi kenapa kau malah jatuh cinta kepadanya? keterlaluan kamu, Genta!" tuding Arkha penuh amarah.
"Tenang, Bos! jangan terbawa emosi. Genta masih sangat lemah, percuma Anda memarahinya. Dia belum menyelesaikan ceritanya!" pekik Rendy sembari menarik pundak Arkha agar dia kembali ke tempat duduknya.
Setelah Arkha kembali duduk di kursinya, Genta memutar bola matanya menoleh ke arah Arkha yang masih terlihat kesal, Genta menatap Arkha dengan tatapan penuh arti.
"Mutiara tidak pernah bisa mencintai saya, Bos. Cinta Mutiara hanyalah milik Segara, seorang pria biasa yang pernah tinggal bersamanya di kampung itu," ujar Genta dengan suara pelan. Akan tetapi ada emosi yang tersirat dari kata-katanya itu.
"Mutiara hanya mencintai pria sederhana yang dia kenal bernama Segara. Bukan saya, dan juga bukan Arkha, pria yang baginya merupakan pria yang sangat ambisius dan tega berbohong padanya hanya demi mempertahankan kekayaannya," pekik Genta dengan mulutnya yang mulai bergetar menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Uhhukk..., uhhukk!" saking emosinya, Genta merasakan suaranya tercekat dan tenggorokannya tersedak.
"Minum dulu, Genta!" tanggap Rendy sambil mengambil gelas yang berisi air putih di meja di sebelah ranjangnya dan membantu Genta untuk meminumnya.
Arkha terdiam dan menundukkan kepalanya, perlahan tangannya mengusap kepalanya, kembali ada air mata yang membasahi pipinya. Berbagai perasaan bergejolak, mengguncang hatinya. Penyesalan kini membuncah di jiwanya.
"Aku tidak pernah ingin berbohong kepadamu, Mutiara. Keadaan yang memaksaku untuk tidak jujur terhadapmu waktu itu," sungut Arkha sambil memijat keningnya sangat menyesal.
"Lalu bagaimana dengan anakku, Genta? Mutiara pasti sudah melahirkan buah hati kami, kan?" cecar Arkha lagi.
"Sudah, Bos," sahut Genta.
"Putra anda sudah berumur lebih dari dua setengah tahun sekarang, dia sangat tampan dan sangat mirip dengan Anda," terang Genta.
"Berarti anakku laki-laki, siapa namanya, Genta?" Saat teringat akan putranya, Arkha mulai dapat mengontrol sedikit kemarahannya, ada sekelumit bahagia menyelinap di relung hatinya.
"Namanya Baruna, Bos," jawab Genta dengan suara yang kembali melemah.
__ADS_1
"Baruna?" Arkha tersentak.
"Benar, Bos. Dan Mutiara dengan identitas barunya sekarang bernama Ara," lanjut Genta.
"Ara?" Untuk kesekian kalinya, cerita Genta membuat Arkha begitu terkejut.
"Baruna dan Ara, apakah mereka yang merawat Mama selama ini di rumah sakit?" Arkha membatin.
"Apakah mereka ada di kota ini sekarang, Genta?" tanya Arkha sangat penasaran.
Genta hanya menghela nafas panjang.
"Saya tidak tahu pasti, Bos. Sebelum anak buah kapal saya menyekap saya di container cargo, saya pernah meminta Mutiara menyusul saya ke kota ini. Saya sekarang jadi khawatir, bagaimana kalau mereka benar-benar menyusul saya ke kota ini sedangkan saya tidak ada? Mutiara bahkan tidak mengenal kota ini sama sekali," keluh Genta, ada rasa cemas dan menyesal yang sulit diterangkannya saat itu.
"Apa, Genta? Kau tega membiarkan Mutiara ke kota ini sendiri?" Arkha menggelengkan kepalanya, ingin sekali dia mengumpat marah kepada Genta. Akan tetapi, dia juga ikut mengkhawatirkan Mutiara di kota itu.
"Tapi saya sudah menitipkan Mutiara pada Mardi teman saya, Bos. Kalau saja drama penyekapan itu tidak terjadi, Mutiara pasti aman di kota ini bersama saya," kilah Genta.
"Rendy, tolong telponkan Mardi untukku, dia pasti tahu dimana Mutiara saat ini," pinta Genta sambil menoleh ke arah Rendy yang sedari tadi hanya diam menyimak apa yang diceritakannya.
"Nomornya berapa, Genta?" Rendy meraih ponselnya dan mulai menekan nomor yang disebutkan oleh Genta.
Beberapa menit, Genta terdengar sangat serius saat berbicara melalui sambungan telepon bersama Mardi.
"Mutiara dan Baruna ada di kota ini, Bos," ujar Genta setelah menutup pembicaraan di telepon dengan Mardi.
Arkha menghela nafas dalam-dalam setelah mendengar keterangan Genta.
"Dugaanku benar..., Suster Ara, perawat pribadi Mama itu adalah Mutiara, dan putranya Baruna adalah putraku, darah dagingku! Pantas saja ada perasaan berbeda yang aku rasakan saat bertemu bocah kecil itu. Dan Mama..., tidak heran Mama begitu dekat dengan Baruna, kami terikat hubungan darah," gerutu Arkha dengan air mata yang kembali menetes tanpa diminta di ujung matanya.
"Apa Anda pernah bertemu dengan mereka, Bos?" tanya Genta merasa penasaran mendengar ucapan Arkha.
"Iya, Genta. Aku sudah bertemu dengan putraku, tapi aku belum bertemu Mutiara," ucap Arkha menyesal.
"Oh, Tuhan! Ternyata selama ini mereka begitu dekat denganku, tapi mengapa aku tidak menyadarinya sama sekali?"
"Arghhh..., bodohnya aku!" Penyesalan Arkha semakin dalam.
"Semoga saja mereka baik-baik saja di kota ini, dan Mama juga ada bersama Mutiara sekarang, aku yakin Mutiara bisa menjaganya dengan baik," harap Arkha.
"Rendy, kita harus cari mereka sekarang. Mereka ada di kota ini, aku sangat yakin kita akan lebih mudah mencarinya."
Ada sebuah senyum kini menghiasi wajah Arkha, harapannya akan bertemu orang-orang yang sangat dicintainya semakin terbuka di depan mata.
"Baik, Bos!" sahut Rendy sigap.
"Livina..., aku semakin yakin kalau dia benar-benar ada kaitannya dengan kaburnya Mama dari rumah sakit itu, mungkin saja Mama tahu ada rahasia yang disembunyikan Livina selama ini."
"Aku minta kamu untuk terus mengawasi Livina, Rendy! aku makin curiga padanya" titah Arkha berdecak geram.
__ADS_1
"Siap, Bos!" tegas Rendy.