Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #32 Ingatan Yang Sudah Kembali


__ADS_3

Segara kembali menekan keningnya, sakit kepalanya semakin menjadi jadi. Bayangan orang orang di masa lalunya satu per satu muncul kembali dalam ingatannya, namun hanya samar samar saja ia bisa mengingatnya.


Segara lalu menyandarkan punggungnya di tepi atas ranjangnya sambil kembali mengatur nafasnya perlahan.


"Apa yang terjadi denganku? Apa ingatanku sudah kembali?" Segara terus memijat kepalanya sendiri mencoba mengurangi rasa sakit yang masih dirasakannya.


Dia belum sepenuhnya bisa meyakinkan semua yang mulai ada dalam ingatannya. Segara lalu kembali membaringkan tubuhnya dan mencoba menutup matanya.


Karena pengaruh obat penghilang rasa sakit yang diminumnya, akhirnya ia pun tertidur.


Hari semakin siang. Sinar matahari sudah memenuhi kamar itu, Segara memicingkan matanya yang terasa perih karena silau oleh pancaran sinar matahari yang sangat terang menerpa matanya.


"Abang sudah bangun? kita sarapan dulu yuk, Bang!" sapaan lembut Mutiara seketika membuat Segara terperanjat dan langsung beranjak dari atas ranjang, ia lalu duduk di tepi ranjang itu.


Tiba tiba saja ia merasa linglung dan ia merasa seperti baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang sangat panjang.


"Aku dimana? apa aku sedang bermimpi?" jeritnya pelan sambil mengucek matanya dan mengusap wajahnya kasar.


"Bang, Abang kenapa?" Mutiara sangat terkejut dengan sikap Segara yang seperti orang yang tengah kebingungan, lalu perlahan ia mengusap punggung Segara.


"Abang mimpi buruk ya, Bang?" tanya Mutiara lagi, dia menjadi sangat khawatir dengan keadaan suaminya.


"Apa kepala Abang masih sakit?" Mutiara menyentuh kening Segara dan melihat sudah tidak ada lagi darah yang keluar dari lukanya.


Segara masih hanya terdiam, pertanyaan Mutiara tidak satupun dijawabnya, ia terus menundukkan kepalanya sambil mengusap rambutnya.


Mutiara ikut duduk di tepi ranjang di sebelah Segara .


"Bang, Abang baik baik saja, kan?" Mutiara terus bertanya sambil memegang pundak Segara dan menatap wajahnya yang nampak sendu.


Segara mengangkat wajahnya dan ikut menatap wajah Mutiara namun ia tetap tak berucap sepatah katapun, sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin diungkapkannya namun hatinya melarangnya untuk berbicara.


"Aku mencintaimu, Ra!" akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir kakunya.


"Iya aku tahu, Bang! aku juga cinta sama Abang." sahut Mutiara namun ada rasa penasaran di hatinya, tidak biasanya Segara bersikap seperti itu kepadanya.

__ADS_1


"Ra, aku mau tanya sesuatu." ucap Segara lagi.


"Iya apa, Bang?"


"Kalau aku ingin pergi ke kota dan mencari pekerjaan disana, apa kau mau ikut denganku, Ra?"


"Emangnya Abang punya niat pindah ke kota ya, Bang?" tanya Mutiara heran.


"Kita tidak bisa selamanya tinggal di kampung ini saja, Ra. Kita tidak akan bisa berkembang kalau hanya tinggal disini, di kota kita bisa belajar banyak hal!" ujar Segara menjelaskan.


Mutiara hanya terdiam, rasa penasaran makin memenuhi hatinya karena tidak biasanya Segara membahas tentang kehidupan di kota, selama ini mereka hidup damai di kampung itu. Meski hidup sangat sederhana, namun mereka sangat bahagia disana.


"Bang aku ini istrimu, aku akan selalu setia bersamamu kemanapun kamu pergi, Bang!" sahut Mutiara polos.


"Makasih ya, Ra! aku sangat mencintaimu dan aku nggak mau kehilangan kamu, sayang!" Segara mengusap kepala Mutiara dan membawanya ke dalam dekapannya. Segara membelai rambut Mutiara sambil mengecup keningnya, ada perasaan yang sungguh tidak bisa ia ungkapkan saat itu.


"Kita makan yuk, Bang! aku sudah masak nasi goreng untuk kita sarapan," ajakan Mutiara menyadarkan Segara dari lamunannya.


Segara hanya mengangguk menerima ajakan Mutiara sambil melepaskan pelukannya. Keduanya lalu beranjak menuju meja makan dimana Imran sudah menunggu mereka disana.


"Sudah lebih baik, Pak!" sahut Segara sambil ikut duduk di kursi di sebelah Imran.


"Tadi Mutiara sudah menceritakan semua sama Bapak, dan Pak Kepala Kampung juga sudah menemui Bapak, Togar sudah di usir dari kampung ini, selain mencoba menyakiti Mutiara, Togar dan kawan kawannya juga terbukti sering melakukan perampokan di wilayah perbatasan kampung kita, yang selama ini membuat resah warga!" Imran bercerita.


"Syukurlah, mulai sekarang kampung kita akan lebih aman setelah kawanan perampok itu tertangkap!" sahut Segara menanggapi cerita Imran


"Iya itu juga karena kamu yang berhasil melumpuhkan mereka, Gara!" puji Imran, ia menjadi semakin bangga kepada menantunya itu.


Segara hanya tersenyum tipis sambil meraih segelas air putih di hadapannya dan meneguknya perlahan.


"Ayo dimakan dulu sarapannya, ngobrolnya nanti saja dilanjutkan lagi!" sela Mutiara sambil menyuguhkan nasi goreng untuk Segara dan Imran. Mutiara juga ikut duduk di sebelah Segara dan mereka makan bersama.


"Aku akan ke warung, Pak! aku belum sempat membereskan warung setelah kejadian tadi malam." ujar Mutiara kepada Imran, sesaat sesudah mereka menyelesaikan sarapannya.


"Aku akan ikut denganmu, Ra!" Segara menimpali.

__ADS_1


Imran hanya mengangguk kemudian Mutiara dan Segara mencium tangannya bergantian, keduanya lalu keluar dari rumah itu menuju ke warungnya.


Tiba di warungnya, Mutiara langsung disibukkan dengan peralatan dapurnya yang sangat berantakan akibat kejadian tadi malam.


Segara duduk di bangku paling ujung di warung itu sambil memandang hamparan lautan di hadapannya. Pikirannya menerawang jauh, setelah kepalanya terhantam keras di batu tadi pagi, ia menyadari kalau perlahan ingatannya sudah kembali.


"Aku bukan Segara, namaku Arkha! Arkha Waradana," gumamnya.


"Aku sudah satu tahun terdampar di pulau ini, dan tak ada seorangpun yang mencariku, mereka sudah menganggap aku sudah mati!"


"Genta..., dia kesini juga hanya kebetulan saja karena kapalnya mengalami kerusakan. Pantas saja dia sangat terkejut saat melihatku, sepertinya dia curiga terhadapku!"


"Mama Yuna, apa kabar mama disana? semoga semua baik baik saja, Ma! pasti mama sangat sedih mendengar berita kematianku."


"Livina..., dia istri sahku, aku menikahinya karena aku sangat mencintainya,"


"dan Mutiara, dia hanya mengenalku sebagai seorang Segara, tapi aku juga sangat mencintai Mutiara."


"Apa yang harus aku katakan pada Mutiara sekarang? dia pasti akan sangat kecewa padaku saat mengetahui aku sudah punya istri sebelum dia!"


"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Selama ini aku sangat bahagia tinggal disini bersama Mutiara dan Pak Imran walau kami hidup sangat sederhana tapi aku merasa menemukan keluargaku disini."


"Setelah ingatanku kembali apa aku juga harus kembali ke kehidupanku sebelumnya?"


Segara mengusap rambutnya dengan kedua tangannya, berbagai pertanyaan kini memenuhi kepalanya dan ia menjadi sangat bimbang.


"Ahh.... kepalaku sakit lagi!" Segara kembali meringis dan memegang kepalanya yang kini kembali terasa sakit luar biasa.


"Bang, kepala Abang sakit lagi ya?" Mutiara yang melihat Segara terlihat gelisah segera menghampirinya.


"Ayo, Bang! Abang istirahat di dalam saja, ya!" Mutiara mengalungkan lengan Segara di lehernya dan memapahnya ke ruangan di warungnya.


"Abang tiduran dulu, Bang. Aku akan buatkan teh hangat buat Abang!" Mutiara melangkah menuju dapur dan membuat air panas.

__ADS_1


Segara lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat di lantai ruangan itu. Kepalanya terasa makin sakit, sungguh tak tertahankan.


__ADS_2