Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #40 Setelah Dua Hari Berpisah


__ADS_3

Setelah dua asistennya pergi dari apartemennya, Arkha menyandarkan tubuhnya di sofa.


Arkha menghela nafasnya panjang, setahun lebih dia menghilang dari kota itu, dan selama itu pula, begitu banyak hal yang sudah terjadi.


Arkha meraih ponsel yang tadi diberikan oleh Genta kepadanya dan perlahan membukanya.


"Setahun lebih aku melupakan benda ini, selama aku di pulau itu aku sama sekali tidak tahu dunia luar'" Arkha tersenyum getir memandangai sebuah ponsel canggih di tangannya.


Selama tinggal di pulau terpencil itu, ia sama sekali tidak pernah berselancar di dunia maya, tinggal di kampung nelayan itu menyadarkannya akan sebuah kehidupan nyata tanpa bercampur ilusi dunia maya.


Yang pertama kali dilakukan Arkha adalah menginstal sosial media di ponsel barunya itu, melalui salah satu akun jejaring sosialnya, Arkha men-stalking akun Livina dan juga Alfin.


"Livina! dia terlihat begitu bahagia bersama Alfin, sepertinya dugaanku memang benar kalau selama ini mereka menjalin hubungan di belakangku?" gumamnya.


"Tapi dia sudah melahirkan putriku! apa jangan jangan bayi itu juga bukan berasal dari benihku?" Arkha kembali tersenyum kecut.


"Tidak, tidak! aku tidak boleh berpikiran seperti itu, bayi itu anakku, darah dagingku sendiri, aku yang sudah merenggut kegadisan Livina malam itu. Lagi pula Livina baru menikah dengan Alfin setelah bayi itu lahir, sudah pasti bayi itu memang adalah anakku," meski pikiran Arkha dipenuhi kebimbangan namun ia tetap meyakinkan dirinya bahwa bayi yang dilahirkan Livina adalah anaknya.


Arkha terus menjelajah di akun sosial media Livina dan ia kembali tersenyum saat mendapatkan satu informasi yang lain. Ardila Putri Waradana, itu nama yang diberikan Livina untuk bayi mungilnya itu.


"Ardila..., nama yang sangat cantik, inisial nama Arkha dan Livina, berarti bayi itu benar benar adalah putri kecilku!" pikirnya.


Malam menjelang, Arkha sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah perjalanan panjang di laut, dia bahkan belum sempat beristirahat semenjak sampai di kota.


Arkha berusaha memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur namun bayangan Mutiara selalu hadir dalam ingatannya.


"Mutiara, baru beberapa hari berpisah denganmu, aku sudah sangat merindukanmu, Sayang."


Arkha menyentuh kasur di sebelahnya. Kasur yang sangat empuk dan nyaman, namun terasa sangat dingin baginya. Selama bersama Mutiara di kampung nelayan itu Arkha selalu merasakan kebahagiaan, meski hanya tinggal di rumah sederhana dan tidur beralaskan kasur keras dan usang, semuanya terasa begitu hangat saat bersama cintanya.

__ADS_1


Malam itu menjadi terasa begitu hampa bagi Arkha tanpa Mutiara bersamanya.


"Mutiara, maafkan aku, mungkin aku akan lama disini, banyak sekali urusan yang harus aku slesaikan dulu."


"Sementara waktu, aku akan tugaskan Genta untuk mengunjungimu setiap dua minggu sekali ke kampung itu, agar kamu tahu bahwa aku selalu ingat dan peduli padamu, Sayang!"


Meski malam semakin larut, namun Arkha belum juga dapat memejamkan matanya.


****


Sama halnya dengan Arkha, malam itu Mutiara yang tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya juga sedang tidak mampu memejamkan matanya. Bayangan Segara selalu ada melintas di pelupuk matanya.


Malam itu terasa begitu dingin tanpa Segara yang biasanya ada memeluknya. Beberapa kali Mutiara membolak balikkan badannya, namun matanya tak kunjung bisa terpejam.


Perlahan Mutiara bangun dari ranjangnya dan berdiri di depan cermin memandangi wajahnya yang terlihat kusut, semenjak kepergian Segara seolah tidak ada lagi senyum yang bisa diulasnya di bibir manisnya itu.


"Bang Segara, baru beberapa hari kamu pergi, Bang. Tapi aku sudah sangat merindukanmu," gumamnya sambil terus memandangi dirinya di pantulan cermin.


"Semoga Abang tetap setia disana, Bang. Aku akan selalu setia untukmu disini," gumamnya.


Perlahan Mutiara melangkah ke dapur dan mengambil segelas air.


Setelah membasahi tenggorokannya dan buang air kecil, ia kembali ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur, ia berharap bisa tidur setelah itu.


Mutiara terbangun saat suara kokok ayam mulai terdengar saling bersahutan di telinganya. Bergegas ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Seperti biasa ia harus segera ke pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan bapaknya.


"Ueekkk..!" tiba tiba saja ia merasakan perutnya mual dan ingin muntah, kepalanya juga sedikit pusing.


"Aduh aku kenapa ya, kenapa tiba tiba pusing dan mual begini?" bingungnya.

__ADS_1


Setelah mandi dan berganti pakaian, Mutiara langsung menuju dermaga dan melakukan kegiatan rutinnya disana hingga membuka warungnya.


"Aku dengar Segara pergi bekerja ke kota ya, Ra?" tanya salah seorang pria nelayan yang sudah menjadi langganannya disana.


"Iya, Bang! Bang Segara bekerja di sebuah perusahaan besar di sana dan akan ditugaskan menjaga kapal ikan antar pulau." jawab Mutiara sambil menyuguhkan mie instan yang dipesan pelanggannya itu.


"Suamimu itu beruntung sekali bisa bekerja di perusahaan besar, Ra. Sudah pasti gajinya juga sangat besar disana," ujar seorang pria nelayan yang lain dan Mutiara hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Kamu sendiri kenapa nggak ikut dengannya, Ra?" tanya pria itu lagi.


"Bang Segara akan lebih banyak ada di lautan, Bang. Dia akan sangat jarang ada di darat, daripada ikut dengannya lebih baik aku tinggal di kampung ini saja, Bang," sahut Mutiara.


"Tapi kamu hati hati loh, Ra! di kota itu banyak godaanya, semoga saja Segara tidak terpikat sama wanita lain disana, apalagi suamimu itu sangat tampan dan ganteng pasti banyak gadis yang suka padanya!" cibir salah seorang dari mereka lagi.


Kembali Mutiara hanya tersenyum menanggapi cibiran pelanggannya itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Semoga saja Bang Segara tidak seperti itu," gerutunya.


Hari semakin siang dan warungnya pun kini sudah sepi. Mutiara mulai membereskan semua area warungnya dan mencuci semua mangkuk dan cangkir bekas pakai di wastafel. Kalau biasanya ada Segara yang membantunya mengerjakan semua pekerjaan itu, namun hari itu dia mengerjakan semuanya sendiri.


Praaang...!


Sebuah gelas terjatuh dari tangannya dan pecah berkeping keping. Entah mengapa ia merasa tangannya begitu lemas dan kepalanya kembali terasa pusing.


"Ueekkk..., ueekkk" sambil memegang kepalanya, Mutiara berlari ke kamar mandi di warung itu dan memuntahkan semua isi perutnya, ia kembali merasa mual dan ingin muntah.


"Ra, kamu kenapa, Nak? apa kamu sakit?" Imran yang masih ada di warungnya mendadak merasa cemas melihat wajah putrinya yang tiba tiba terlihat pucat.


"Nggak tahu, Pak. Sedari bangun tidur tadi aku merasa pusing dan mual, sepertinya aku masuk angin," sahut Mutiara sambil memijat kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Pakai ini, Ra!" Imran menyerahkan botol minyak kayu putih untuk putrinya.


Mutiara meraih minyak kayu putih itu dari tangan bapaknya dan menggosokkannya di tengkuk dan dadanya. Untuk sesaat, menghirup aroma kayu putih itu bisa mengurangi rasa pusing dan mualnya.


__ADS_2