Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
BARUNA


__ADS_3

Hai hai.....


Para readers semua apa kabar?


Pasti pada nggak sabar nunggu sequel cerita ini kan?


Yes, tenang saja cerita ini akan Author lanjutkan di judul yang berbeda yaitu 'BARUNA'


Tetapi ....., cerita ini baru akan up bulan depan ya guys.. Author bau kencur masih persiapkan cover dan alur yang menarik dulu. So, tetap simpan cerita ini di rak favorite kalian ya.. karena notif akan Author bagikan disini nanti.


Biar tambah penasaran, aku kasih cuplikan bab awal dulu deh...


Selamat menunggu ya...


**********************************


Eps. #1 Mabuk


Srtttt ....! Srttt ...!


Seorang pemuda menyeret tubuh seorang pria muda yang lain di sebuah lobby hotel berbintang lima yang sangat luas dan megah menuju ke arah lift. Pria yang diseretnya tampak lemas tak berdaya dengan wajahnya yang memucat. Di dalam lift, bau alkohol semakin menyengat keluar dari mulut kedua pria tersebut.


"Jangan tarik aku seperti tadi lagi, Baruna. Aku nggak mabuk. Aku hanya sedikit pusing tapi aku masih kuat jalan sendiri," celoteh pria lemah itu dengan badannya yang membungkuk karena tidak mampu berdiri tegak dan kedua tangannya menjuntai tak bertenaga. Matanya memerah, tatapannya meremang, suaranya parau dan beberapa kali dia menutup mulutnya karena merasa mual dan ingin muntah.


"Jeffrey, Jeffrey ...!" Pemuda yang bernama Baruna itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring.


"Sudah lemas begini kamu masih tidak mengaku kalau kamu mabuk? Dasar lemah! Baru minum sebotol saja kamu sudah mabuk. Percuma tadi aku memesan banyak minuman. Dasar payah!" gerutu Baruna mengejek sahabatnya Jeffrey, yang kini sudah dalam keadaan mabuk berat.


Mereka baru saja keluar dari sebuah bar ternama di kota itu yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka akan menginap.


Ting ...!


Pintu lift terbuka dan kedua pria tersebut sudah sampai di lantai sepuluh hotel mewah bertaraf internasional itu.


Lagi-lagi Baruna mencengkram kerah jaket bagian belakang Jeffrey dan menariknya, diseret menuju sebuah kamar di koridor paling pertama di hotel itu.


"Uhuk ..., uhuk ...!" Jeffrey meraba lehernya yang terasa seperti tercekik karena Baruna menarik kerah jaketnya sangat kuat.


Braaakkk ...!


Baruna menendang pintu kamar mandi dengan sangat kasar saat mereka sudah ada di dalam kamar hotel itu.


Bruuggh ...!

__ADS_1


Dengan kasar pula dia mendorong tubuh Jeffrey ke dalam kamar mandi sehingga tubuh Jeffrey langsung terjerembab ke lantai shower room yang dingin. Baruna dengan sengaja memutar water tap sehingga air shower yang dingin mengucur deras membanjiri tubuh Jeffrey.


"Ueekk ...! Ueekkk ...!" Jeffrey kembali menjeluak sehingga semua cairan yang baru saja ditegaknya keluar dari mulutnya. Seketika aroma alkohol, kecut sekaligus anyir memenuhi ruangan kamar mandi itu.


"Fiuhh ...! Menjijikkan." Baruna menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya karena tidak tahan mencium aroma tidak sedap yang menusuk penciumannya. Ia bergegas keluar dari kamar mandi itu dan mengunci pintu dari luar.


"Malam ini kamu tidur saja di kamar mandi, Jeff! Aku nggak sudi tidur sekamar dengan pria lemah dan menjijikkan sepertimu," ledek Baruna dari depan pintu kamar mandi.


"Haaah ...! Jeff betul-betul payah, baru minum segitu saja sudah mabuk!" kekeh Baruna bersungut mengejek Jeffrey.


Perlahan Baruna menjauh dari kamar mandi dan meninggalkan Jeff yang masih terkunci di dalam sana. Baruna merebahkan tubuhnya di atas salah satu ranjang yang ada di dalam twin bed room itu.


"Baruna, buka pintunya, Bar! Aku kedinginan disini, aku nggak mau tidur di sini." Teriakan Jeff terdengar memelas dari kamar mandi.


"Emang gue pikirin," acuh Baruna tidak memperdulikan sahabatnya yang terkurung di dalam kamar mandi.


"Baruna, please ...! Keluarin aku dari sini, bukan kah kita mau melanjutkan minum lagi di bar?" bujuk Jeffrey lagi. Akan tetapi nada suaranya masih terdengar tidak karuan, sangat kentara kalau tingkah lakunya masih dalam pengaruh alkohol.


Jeffrey terus menggedor pintu kamar mandi dan meracau dengan suara yang tidak jelas.


"Aaahhh ..., Jeff! Kenapa gaya mabukmu nggak berkelas banget sih?" Baruna menutup telinganya dengan kedua tangannya sambil berdecak kesal.


"Ngoceh nggak jelas! Berisik, tahu!" teriak Baruna semakin merasa terganggu dengan ocehan tidak jelas Jeffrey. Baruna beranjak dari ranjangnya. Bukannya membukakan pintu kamar mandi itu untuk Jeffrey, tetapi Baruna malah meraih gagang pintu hendak keluar dari kamar itu. Sesaat Baruna menghentikan langkahnya seraya mendekat ke pintu kamar mandi.


"Aku mau keluar cari makan, Jeff. Perutku lapar. Kamu silahkan nikmati saja dinginnya lantai kamar mandi semalaman di sana! Haha ...," ledek Baruna terkekeh sambil mengangkat satu ujung bibirnya lalu melanjutkan langkahnya keluar dari pintu kamar hotel itu.


Setelah keluar dari kamarnya, Baruna melangkah pelan di koridor hotel itu menuju lift untuk turun ke restaurant yang ada di ground floor hotel itu. Tujuannya hanyalah sekedar untuk mencari makanan dan mengisi perutnya yang terasa keroncongan setelah minum-minum di bar tempat biasa ia nongkrong bersama beberapa orang temannya, termasuk juga Jeffrey.


"Lepaskan aku, Diaz! Jangan coba macam-macam denganku!"


Sejenak Baruna menghentikan langkahnya dan menajamkan indera pendengarannya saat menangkap sebuah suara teriakan seorang wanita mengusik telinganya.


"Kamu nggak perlu berteriak, Sayang! Kita kesini untuk bersenang-senang bukan?"


Kini pekikan suara berat seorang laki-laki terdengar menimpali teriakan wanita itu, yang membuat Baruna mengernyitkan keningnya. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati sumber suara.


"Lepaskan, Diaz! Aku tidak mau. Kita tidak boleh melakukan ini kalau kita belum menikah!"


"Lepaskan ...!"


"Tolong ...! Tolong ...! Uhp ...!"


Suara wanita itu semakin jelas di pendengaran Baruna. Saat dia menoleh ke ujung koridor, sekilas dia bisa melihat seorang pria tengah menarik paksa seorang wanita masuk ke dalam salah satu kamar di sana sambil membekap mulut wanita itu agar berhenti berteriak.

__ADS_1


Blaagh ...!


Pintu kamar itu ditutup dengan cara dibanting kasar. Door stopper penyangga pintu itu pastinya sudah seketika rusak karena ditendang dengan sangat kuat oleh pria itu.


Menyaksikan hal yang terjadi tepat di depan matanya, membuat Baruna langsung naik pitam. Jiwa kepahlawanannya seolah meronta. Melihat cara pria itu memperlakukan wanitanya, pastinya itu adalah sebuah tindakan pemaksaan.


Baruna perlahan mendekat dan menempelkan telinganya di pintu kamar itu dan berusaha menguping agar tahu apa yang terjadi di dalam.


"Jangan paksa aku, Diaz. Aku tidak mau!"


"Dasar perempuan munafik! Kalau kamu terus menolak seperti ini, itu artinya kamu ingin aku memaksamu!"


Teriakan-teriakan itu kian menggema terdengar di telinga Baruna yang membuatnya semakin murka.


Praangg ...!


Kini seperti ada sebuah benda yang terjatuh di dalam kamar itu.


"Hentikan, Diaz! Tolong jangan sakiti aku. Jangan hancurkan masa depanku!"


Pekikan memelas itu kembali terngiang lirih di pendengaran Baruna yang membuat kemarahan seketika membuncah di jiwanya.


Braakk ...!


Baruna menendang pintu kamar hotel itu dengan keras sehingga pintu itu kini terbuka lebar.


Baruna membelalakkan matanya saat melihat seorang pria tengah menatap ******, menindih tubuh seorang wanita di atas ranjang sambil mencengkram kedua tangannya dengan sangat kuat.


Kedua tangan Baruna seketika mengepal tidak mampu menahan amarahnya . Dia sangat geram melihat seorang wanita diperlakukan kasar seperti itu oleh seorang laki-laki.


"Dasar bajingan laknat! Kau mau memperkosa wanita yang tak berdaya, hah!" Dengan gusar, Baruna menarik kerah baju bagian belakang pria itu seraya menghadiahkan sebuah pukulan keras di rahang pria itu yang seketika membuatnya tersungkur ke lantai kamarnya.


Baruna menoleh ke arah wanita yang masih duduk ketakutan di atas ranjang. Wanita itu menundukkan wajahnya sambil berusaha menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya karena blouse yang tengah dikenakannya sudah robek oleh jamahan tangan kasar pria yang memaksanya.


Baruna lalu menghampiri wanita itu dan memperhatikan baik-baik wajahnya yang tertutup oleh rambut panjangnya.


Baruna semakin melebarkan matanya karena merasa mengenal wanita di hadapannya. Perlahan ia menyibak rambut wanita itu untuk meyakinkan penglihatannya.


"Kak Dila!" pekik Baruna saat sudah melihat dengan jelas wajah wanita itu.


"Baruna!" Wanita itu ikut berteriak saat ia menoleh dan ikut menatap wajah pria yang sudah menolongnya.


Keduanya sama-sama tersentak kaget saat kini keempat netra mereka beradu saling memandang.

__ADS_1


***************************************


Bersambung ...


__ADS_2