Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #66 Pertemuan Yang Tidak Disadari


__ADS_3

Meski mengetahui bahwa tempat itu merupakan area pribadi, Mutiara tetap mendekati pos security yang ada di sana. Bagaimanapun juga, daya ponselnya tetap harus diisi karena alamat tujuannya masih tersimpan di pesan singkat yang terakhir dikirim oleh Genta di ponsel itu.


"Permisi, Pak! apa saya boleh numpang nge-charge? ponsel saya mati," tanya Mutiara kepada salah seorang satpam yang berbadan tegap dengan seragam ketat memperlihatkan otot-otot lengannya yang keras.


Satpam itu tidak langsung menjawab permintaan Mutiara namun dia malah memandangi Mutiara dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya dengan sorot mata tidak senang.


"Mbak bisa baca tidak, ini area pribadi. Mbak tidak boleh sembarangan masuk kesini!" tegur satpam itu dengan ketus sambil menunjuk tulisan di papan nama perusahaan itu.


"Maaf, Pak. Saya tahu ini area pribadi, tapi saya mohon ijinkan saya untuk mengisi daya ponsel saya sebentar saja. Saya harus cari alamat tujuan saya di ponsel ini!" pinta Mutiara dengan sedikit memelas.


"Tidak bisa, Mbak! Mbak tidak boleh masuk ke area ini," kata satpam itu dengan nada semakin sinis.


"Saya mohon sebentar saja, Pak. Saya juga harus memesan taksi online dengan ponsel ini," bujuk Mutiara tetap memohon.


Seorang satpam lain yang tengah berjaga di dalam pos itu tidak tega melihat Mutiara yang nampak kebingungan. Satpam yang memiliki tubuh tinggi dan kekar itu lalu ikut menghampiri mereka.


"Kasihan dia, Bon. Biarkan saja dia masuk dan numpang ngecharge. Sebentar saja kan tidak masalah," ujar satpam itu ikut membujuk temannya yang bernama Bono.


"Sebentar lagi Bos kesini, Wan. Kau tahu kan, Bos kita itu paling tidak suka ada orang luar masuk ke area ini?" balas Bono tidak menyetujui keinginan kawannya yang bernama Ridwan.


Dan Ridwan hanya menggeleng sambil menoleh ke arah Mutiara yang masih memasang wajah memelas.


"Mbak baru sampai di kota ini, ya?" tanya Ridwan dengan sopan kepada Mutiara, sesaat mata Ridwan melirik ke arah Baruna yang masih tertidur di gendongan Mutiara, selain itu Mutiara juga nampak kesusahan membawa dua tas besar di tangannya yang membuat Ridwan semakin merasa iba.


"Iya, Pak. Saya baru datang dari kampung, saya kesini mau menyusul suami saya, tapi alamatnya ada di ponsel ini dan ponsel saya lowbat," beber Mutiara tetap berharap satpam itu akan mengijinkannya menumpang mengisi daya ponselnya di sana.


"Baiklah, ayo masuk, Mbak. Silahkan charge HP-nya di sudut ruangan itu!" ajak Ridwan sambil menunjuk ke dalam ruangan pos jaganya.


"Wan, kamu yakin membiarkannya masuk? Nanti dilihat Boss, bisa kena marah kita!" sergah Bono dengan setengah berbisik kepada Ridwan.


"Tenang saja, Bon. Cuma sebentar nggak akan apa-apa!" sahut Ridwan dengan santai sambil menengadahkan tangannya mempersilahkan Mutiara masuk ke pos jaganya dan membantu membawakan tasnya. Bono tidak berani mencegahnya lagi, karena jabatan Ridwan satu tingkat lebih tinggi darinya, dan Ridwan lah yang akan bertanggung jawab lebih apabila atasannya marah karena mengizinkan orang luar masuk ke area pelabuhan pribadi itu.


"Mari, biar saya yang charge kan HP-nya, Mbak. Dan sambil menunggu, Mbak silahkan duduk disini dulu!" ujar Ridwan meminta ponsel Mutiara saat mereka sudah sampai di pos jaga itu.


"Terimakasih banyak, Pak," sahut Mutiara sambil menyerahkan ponselnya kepada Ridwan, lalu duduk menunggu di bangku di depan pos jaga satpam yang tadi ditunjuk oleh Ridwan.

__ADS_1


"Ini putramu ya, Mbak? anak ini tampan sekali," puji Ridwan sambil tersenyum ramah kepada Mutiara dan menoleh ke arah Baruna yang masih lelap tertidur.


"Iya, Pak. Terimakasih," jawab Mutiara membalas senyum ramah Ridwan sambil mengusap rambut Baruna.


Sejenak mereka mengobrol dan berkenalan di sana, Mutiara juga menyempatkan bertanya kepada Ridwan tentang alamat yang disebutkan Genta yang nanti akan ditujunya.


"Iya, kalau naik taksi online jalan itu tidak jauh dari sini, Mbak. paling sekitar satu jam kalau tidak macet," terang Ridwan menjelaskan tentang alamat yang ditanyakan Mutiara kepadanya.


"Iya, Pak. Kalau HP saya sudah bisa dipakai, saya akan pesan taksi online dari sini!" sahut Mutiara sedikit lega setelah mendapatkan informasi dari Ridwan


 Ridwan menyambar cepat handy talky di meja pos jaga itu, ada sebuah panggilan terdengar di sana.


"Pos satu monitor!"


"Masuk!"


"RI satu meluncur, portal harap dibuka!"


"Di copy!"


"Mbak, owner perusahaan ini sedang menuju kesini, Mbak tolong tunggu di dalam sebentar supaya Bos saya tidak sampai melihat Mbak ada disini!" pinta Ridwan kepada Mutiara.


Ridwan dan Bono bergegas membuka portal di pos itu dan tak lama kemudian sebuah Premium MPV berwarna hitam terlihat memasuki area pelabuhan itu. Ridwan juga Bono membungkuk hormat dan menundukkan kepalanya, tidak ada yang berani menoleh ke arah mobil mewah yang baru saja masuk itu.


Mobil tadi lalu berhenti tepat di lobby utama pelabuhan pribadi itu yang letaknya lumayan jauh dari pos satpam gerbang utama. Terlihat sopir langsung turun dan berdiri dekat pintu penumpang sambil membungkuk hormat. Saat sliding door mobil itu terbuka secara otomatis, seorang pria berpenampilan rapi terlihat turun dari sana. Dengan kemeja putih, jas abu-abu dan kacamata hitamnya, pria itu nampak sangat gagah dan berwibawa.


Seorang asistennya juga tampak turun dari kursi penumpang paling depan dan segera menghampiri pria berjas abu-abu itu.


Mereka tak lain adalah Arkha bersama Rendy yang akan meninjau kedatangan kapal-kapal ikan mereka di pelabuhan hari itu.


Sejenak Arkha menoleh ke pos security di gerbang utama, entah ikatan apa yang membuatnya tiba-tiba ingin melihat kesana, sehingga tanpa disadarinya kakinya melangkah mendekati pos jaga itu.


"Bos, kita harus segera masuk, klien kita sudah menunggu di kapalnya!" seru Rendy menghentikan langkah Arkha menuju pos itu.


Arkha melirik jam yang melingkar di tangan kanannya lalu menganggukan kepalanya dan berbalik arah.

__ADS_1


"Ah iya, kita sudah terlambat. Ayo cepat kita harus segera menemuinya!" sahutnya sambil mengikuti langkah cepat Rendy menuju ke pelabuhan itu.


Mutiara yang mengintip dari dalam ruangan pos jaga security tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang turun dari mobil itu.


"Pria itu pasti pemilik perusahaan ini, dan pastinya dia sangat kaya dan juga disegani, sehingga semua orang menunduk hormat kepadanya." Mutiara menggumam, ada kekaguman dalam hatinya melihat pria itu.


Setelah Arkha dan Rendy masuk ke pelabuhan, Mutiara keluar dari ruangan pos satpam itu sambil melirik ponselnya yang kini sudah bisa menyala.


"Pak Ridwan, batre ponsel saya sudah cukup terisi. Saya ucapkan terimakasih untuk tumpangannya," ucapnya kepada Ridwan.


"Iya sama-sama, Mbak Ara," jawab Ridwan.


Mutiara mulai memesan taksi online dari ponselnya sambil mengecek kembali alamat yang diberikan Genta kepadanya.


"Saya permisi, Pak Ridwan. Taksi saya sudah menuju ke sini, saya akan menunggu di dekat halte saja dan sekali lagi terimakasih banyak karena sudah memberi tumpangan ngecharge!" ujar Mutiara sambil melangkah menuju halte bus di seberang pos jaga itu.


"Iya hati-hati ya, Mbak. Semoga selamat sampai tujuan." Ridwan tetap menanggapi Mutiara dengan sopan.


Mutiara duduk di halte bus dan menunggu taksi yang dipesannya datang menjemput. Wajahnya tampak letih dan keringat bercucuran dari keningnya. Membawa dua buah tas besar sambil menggendong Baruna yang masih tertidur tentunya terasa sangat berat baginya.


"Pangeran kecil Ibu sudah berat sekarang, Ibu nggak kuat gendong kamu terus-terusan, Sayang," gerutunya sambil mengusap kepala Baruna yang membuat Baruna terbangun dari tidurnya.


"Ayah...! Ayah dicana, Ibu!" Tangan Baruna menunjuk ke arah pelabuhan pribadi perusahaan Arkha.


"Bukan, Sayang. Ayah tidak ada disana, sekarang kita lagi menunggu taksi yang akan mengantar kita ke rumah Ayah," terang Mutiara memberi penjelasan kepada putranya.


"Dicana, Ibu! Ayah dicana!" Baruna terus menunjuk ke arah pelabuhan itu. Seperti ada ikatan batin yang membuat Baruna selalu menunjuk ke pelabuhan itu.


Mutiara hanya tersenyum menanggapi tingkah bocah itu yang dianggapnya lucu dan menggemaskan.


"Una haus? mau minum, Sayang?" tanya Mutiara dan Baruna hanya mengangguk. Dia lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam tasnya dan memberikannya kepada putranya.


Tak lama menunggu, sebuah Low MPV datang menghampiri mereka dan Mutiara langsung berdiri mendekati sopir mobil itu.


"Mbak Ara, ya?" tanya sopir mobil itu saat melihat Mutiara mendekat ke arahnya. Mobil itu adalah taksi online yang dipesan Mutiara untuk membawanya menuju alamat rumah Genta.

__ADS_1


"Iya benar, Pak."


Sopir itu langsung turun dari mobilnya dan mengambil semua tas yang dibawa Mutiara untuk di taruh di bagasi mobilnya.


__ADS_2