
"Togar!"
Segara mendengus sangat marah.
"Lepaskan istriku, Togar! atau kalau tidak, aku akan mengabisimu disini!" teriaknya memberi ancaman pada Togar.
"Bang Gara, tolong aku, Bang!" suara Mutiara terdengar sangat ketakutan, pisau di tangan Togar menempel sangat dekat di lehernya.
"Jangan coba coba mendekat, Segara! aku tidak sedang main main, aku akan melukai istri kesayanganmu ini ha..ha..!" seru Togar sambil terbahak.
"Apa maumu sebenarnya, Togar? kenapa kau ingin menyakiti istriku?" pekik Segara makin marah.
"Aku sangat membenci kalian berdua! Mutiara sudah menolak cintaku dan justru menikah dengan laki laki tidak jelas sepertimu! hari ini aku akan balas sakit hatiku terhadap kalian!" Togar kembali tertawa namun sebenarnya ia sangat takut, tatapan mata iblis seorang Segara membuatnya keder.
"Togar, aku mohon baik baik sama kamu, tolong lepaskan istriku dan lupakan semua dendammu. Tidak ada gunanya kau mendendam, Mutiara tidak akan pernah mencintaimu!" bujuk Segara dengan suara datar.
Meskipun sedang marah sebenarnya Segara tidak ingin melakukan kekerasan, apalagi alasan Togar membencinya adalah karena urusan hati. Segara bisa paham kekecewaan yang dirasakan Togar dan berharap semua bisa diselesaikannya baik baik.
Togar adalah seorang pria yang berpendidikan sangat rendah, karena itulah ia sering bertindak lebih banyak dengan uratnya daripada menggunakan akalnya sifatnya pun sangat kekanakan dia sangat mudah membenci untuk hal kecil sekalipun.
"Jangan banyak bac*t kau, Segara! aku tidak peduli apapun yang kau katakan! aku tetap tidak suka kalian memamerkan kemesraan kalian dihadapanku!" bentaknya dengan sangat kesal.
"Lalu apa yang kami harus lakukan, Togar? kami sudah menikah dan Mutiara adalah istri sah ku, apa salah kalau aku bermesraan dengannya?" tanya Segara dengan seringai miringnya.
"Aku ingin kalian berdua pergi dari kampung ini dan enyahlah dari hadapan mataku!"
"Kampung ini adalah kampung kami, Togar! memangnya kami harus pergi kemana?"
"Aku tidak peduli! pokoknya kalian segera pergi tinggalkan kampung ini! aku muak melihat kalian berdua!" ancam Togar.
Saat itu, walau mata Mutiara tengah di tutup dan tangannya diikat, ia bisa merasakan Togar dalam keadaan lengah sehingga dengan seluruh sisa kekuatannya ia menggigit kuat tangan Togar sehingga pisau di tangannya terlepas dan Togar meringis kesakitan karena gigitan Mutiara.
Saat itulah Mutiara segera berlari ke arah Segara.
__ADS_1
"Bang, ayo kita lari dari sini!" ucap Mutiara sambil terengah engah karena ketakutan.
Segara segera melepaskan penutup mata dan tali yang mengikat tangan Mutiara sambil menarik tangan Mutiara agar berlindung di balik tubuhnya karena Togar kembali menghunus pisaunya dan ditodongkannya ke arah Segara.
Secepat kilat Segara mengarahkan sebuah tendangan ke tangan Togar sehingga pisau itu kembali terhempas dari tangannya. Togar juga kembali meringis merasakan sakit akibat tendangan Segara.
"Ayo Bang, kita lari!" Mutiara segera menarik tangan Segara dan mereka berlari sekencang kencangnya meninggalkan gubuk itu.
Saat tengah berlari, tiba tiba kaki Mutiara tersandung sehingga ia terjerembab ke pasir dan meringis kesakitan.
"Mutiara! kamu nggak apa apa, Sayang?" Segara langsung mengangkat pundak Mutiara dan membantunya berdiri.
"Bang, awas.....!" teriak Mutiara lagi
Bruugg...!
Mutiara mendorong kuat tubuh Segara untuk menghindar karena Togar sudah ada di belakang mereka dan hendak menghujamkan pisaunya ke arah Segara.
"Tolong.... Tolong!" teriak Mutiara meminta tolong kepada warga yang ada di area itu. Mereka sudah cukup jauh berlari sehingga posisi mereka kini sudah cukup dekat dengan permukiman warga. Tidak butuh waktu lama, warga mulai berdatangan ke tempat itu dan Togar menjadi sangat panik.
"Bang Segara...!" Mutiara menoleh ke arah Segara yang terjatuh saat ia mendorongnya sangat kuat. Segara nampak meringis kesakitan, saking kuatnya Mutiara mendorongnya, Segara terjatuh dan kepalanya menghantam sebuah batu di sebelahnya, ada tetesan darah mengalir di kening Segara.
"Bang, Abang nggak apa apa?" tanya Mutiara yang terlihat panik melihat kepala Segara yang mengeluarkan darah
"Nggak apa apa, Ra. Hanya terhantuk di batu itu saja, kamu nggak usah khawatir!" pungkasnya.
"Ayo kita bawa dia ke kepala kampung!"
Warga yang datang kesana sudah berhasil mengamankan Togar dan beramai ramai mereka menyeret Togar untuk dibawanya ke rumah kepala kampung.
Segara dan Mutiara masih terdiam di tempat semula.
"Apa yang terjadi, Ra? apaTogar menyakitimu, Sayang?" Segara mengusap kepala Mutiara dan mendekapnya erat di dadanya.
__ADS_1
"Kemarin sore setelah Abang berangkat melaut, Bang Togar bersama kawan kawannya datang ke warung dan mereka bilang mau beli kopi dan mie, Bang!" sambil menangis terisak Mutiara menceritakan semua kejadian yang menimpanya tadi malam saat Segara dan Imran meninggalkannya di warungnya untuk pergi melaut.
"Biadab! Togar memang sangat keterlaluan!" ujar Segara geram. Ia sangat marah setelah mendengar cerita Mutiara yang mengatakan bahwa Togar ingin menculiknya.
"Sudahlah, Bang! warga sudah membawanya ke rumah kepala kampung, semoga Pak Kepala Kampung bisa memberinya hukuman yang setimpal dan aku yakin setelah ini dia akan jera!" Mutiara menatap wajah Segara yang masih terlihat sangat marah.
"Ahh... kepalaku sakit, Ra!" tiba tiba Segara kembali meringis menekan keningnya. Kepalanya terasa sangat sakit setelah menghantam batu sangat keras.
"Ayo kita pulang, Bang! aku akan mengobatimu setelah sampai di rumah!" Mutiara memapah Segara dan berjalan perlahan menuju rumah mereka.
Setibanya di rumahnya, Segara langsung duduk di kursi di ruang tengah dan Mutiara segera mengambil kotak P3K.
Mutiara mulai membersihkan luka di kening Segara dengan kain kasa dan cairan antiseptik.
"Aaahhh...sakit sekali!" Segara terus merintih menahan sakit kepalanya yang sangat hebat. Sakit kepala itu bukan dari lukanya, namun sakit kepalanya sungguh tidak biasa saat itu.
"Ini minum obat penghilang rasa sakitnya, Bang!" Mutiara menyerahkan sebutir tablet penghilang rasa sakit serta segelas air kepada Segara.
"Abang istirahat saja di kamar ya, Bang!"
Mutiara lalu memapah Segara menuju ke kamarnya dan membaringkan tubuh Segara di atas tempat tidur.
"Aku tinggal ke dapur ya, Bang. Aku akan menyiaapkan sarapan untuk Abang!" Mutiara lalu meninggalkan Segara sendiri di kamar.
Segara terus memegang kepalanya yang terasa sangat sakit tak tertahankan. Dia memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya namun rasa sakit itu tidak kunjung hilang.
Di tengah rasa sakit luar biasa yang menghujani kepalanya, Segara seperti merasakan sesuatu yang tidak biasa melintas dalam ingatannya. Sepintas, wajah seorang wanita tiba tiba muncul dalam ingatannya itu.
"Livina....!"
Tanpa sadar ia menyebut nama seorang wanita yang ia ingat dari masa lalunya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sampai disini sudah cukup penasaran kan kelanjutannya? Buat kalian yang masih setia menyimak kisah Segara dan Mutiara, jangan lupa dukungannya untuk karya ini ya! tinggalkan like dan komennya sehingga cerita ini tidak akan berhenti di tengah jalan.