Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #49 Tsunami


__ADS_3

Tangan Arkha tremor hebat saat melihat layar ponselnya. Berita tentang gempa dimuat di mana-mana, semua media memberitakan tentang kejadian tersebut, dan seketika menjadi trending topic di semua kanal kanal yang ada di internet. Pemutakhiran - pemutakhiran tentang informasi gempa juga memenuhi laman internet, mana berita yang benar, mana yang salah, yang pasti di internet banyak terdapat berita bohong ikut tersebar dalam situasi darurat seperti itu.


Belum sempat memilah dan membaca semua berita itu, tiba tiba guncangan itu terjadi lagi. Arkha dan Rendy yang duduk di sofa terkejut merasakan gedung apartemennya kembali bergoyang, gempa susulan terjadi lagi, namun hanya sebentar dengan kekuatan guncangannya yang tidak sebesar sebelumnya.


Orang orang kembali berhamburan keluar, suasana masih sangat mencekam dan teriakan teriakan itu terdengar lagi.


"Gempa susulan lagi, Bos!" seru Rendy ikut merasa panik dan seketika berdiri dari tempat duduknya.


Arkha tetap tidak bergeming, kekhawatirannya akan keselamatan Mutiara membuatnya membeku di tempat duduknya.


Rendy menyambar remote televisi yang ada di meja dan segera mencari channel berita. Sudah pasti berita tentang gempa itu langsung dilihatnya.


"Berita di TV pasti lebih update, berita di internet kebanyakan hoax!" sungutnya sambil kembali duduk di sofa di sebelah Arkha dengan remote televisi masih ada dalam genggamannya.


Rendy dan Arkha sama sama melebarkan matanya ketika melihat layar televisi, sebuah berita terkini yang menyebutkan bahwa bahwa gelombang besar tsunami sudah terjadi di wilayah selatan. Gelombang tsunami itupun diberitakan sudah naik ke daratan dan menenggelamkan pulau pulau kecil di area itu termasuk pulau tempat tinggal Mutiara dan Pak Imran. Tsunami juga sudah merusak dan memporak porandakan kampung kampung nelayan di pesisir, korban jiwa pun tak terelakkan.


Kejadiannya begitu cepat, sehingga peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak sampai di pulau pulau terpencil di wilayah itu. Banyak warga disana yang menjadi korban karena tidak sempat menyelamatkan diri.


"Mutiara!" teriak Arkha tertahan. Air matanya menetes begitu saja saat menyaksikan berita itu di televisi. Mulutnya bergetar tanpa bisa berucap sepatah katapun, pandangannya nanar, hatinya bergemuruh sangat hebat bahkan melebihi guncangan gempa yang terasa sebelumnya.


"Tidak! berita ini pasti salah, Rendy! aku tidak bisa mempercayainya!" ucapnya lirih sambil mengusap air mata di pipinya dan memukul mukul kepalanya sendiri.


Hatinya sungguh tidak bisa menerima, berita yang sangat menyesakkan jiwa, dan membuatnya tidak bisa berpikir apa apa lagi saat itu.


"Tenang, Bos. Sabar dulu, berita ini belum kita cek lagi kebenarannya. Saya akan coba hubungi anak buah saya yang ada di wilayah selatan, semoga ada berita baik dari sana," ucap Rendy berusaha menenangkan Arkha yang terlihat makin khawatir dan sedih.


Ting...!


Suara notifikasi pesan singkat terdengar di ponsel Rendy dan langsung dibacanya.


Kembali Rendy membulatkan matanya, sebuah pesan yang dikirim oleh anak buahnya yang bertugas mengawasi pelabuhan dan mengatakan bahwa gelombang tsunami juga sudah sampai ke pelabuhan itu, namun hanya seperti gelombang pasang biasa tidak terlalu berdampak sampai di kota itu karena pusat gempa cukup jauh dari pelabuhan itu.

__ADS_1


"Gelombang pasang sudah sampai di pelabuhan, Bos. Itu artinya tsunami memang benar sudah terjadi." ucap Rendy datar, ia semakin bisa merasakan kegalauan yang dirasakan Arkha saat itu, terlebih berita di televisi terus memberitakan hal yang sama.


"Arrgghhh....! tidak!" decak Arkha sambil kembali mengusap wajahnya kasar dan menampar pipinya sendiri, "apa aku sedang bermimpi?" pikirnya semakin galau.


"Oh Tuhan, kenapa sampai seperti ini? firasatku ternyata benar, sesuatu yang buruk telah terjadi," ucapnya frustasi.


"Mutiara, apa yang terjadi dengannya dan Pak Imran di pulau itu? Ya Tuhan, tolong beri keselamatan untuk mereka berdua," doanya dengan kekhawatiran yang semakin tidak dapat dibendungnya.


"Sabar, Bos. Sampai saat ini belum ada berita yang pasti tentang korban jiwa dari bencana ini, saya akan kirim anak buah saya ke lokasi untuk mencari tahu semua data korban!" tegas Rendy sambil mengusap punggung Arkha yang terlihat sangat sedih.


Rendy langsung memainkan jarinya di layar ponselnya dan sibuk menelpon anak buahnya untuk mencari berita berita terkini tentang bencana yang tengah terjadi.


Televisi juga masih terus menyiarkan tentang berita tsunami itu. Arkha hanya mampu memantau perkembangan berita itu melalui layar televisi dan juga ponselnya, rasa cemas dan takut terus menghantuinya.


Waktu terus berjalan dan malam sudah tiba, namun Arkha semakin gelisah. Berita tentang korban bencana terus dipantaunya, dia sangat berharap ada berita baik tentang Mutiara dan kampung nelayan tempat tinggalnya.


Berkali - kali dia mencoba menghubungi Genta, namun tidak tersambung. HT dan ponselnya tidak aktif, yang membuat kegelisahannya semakin membuncah menghujaninya.


"Mutiara, maafkan aku, Sayang!" gumamnya.


"Aku menyesal meninggalkanmu di pulau itu, seandainya saja aku membawamu dan Pak Imran ikut bersamaku waktu itu, pasti kalian akan aman disini." sesalnya.


"Semoga kalian selamat, aku tidak sanggup kehilanganmu, Mutiara," harap nya, air mata kembali menetes di pipinya, Arkha tidak bisa menahan kecemasannya.


Hingga hari itu berganti, tidak sedetikpun Arkha bisa memejamkan matanya. Dia terus berdoa berharap Mutiara dan Imran selamat dari bencana tsunami yang menimpa kampung nelayan tempat tinggalnya itu.


Arkha kembali menatap layar ponsel yang selalu ada di genggamannya, dibukanya pesan yang baru saja dikirim oleh Rendy kepadanya, pesan itu berisi lembaran - lembaran dalam format pdf berkop surat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Daftar nama - nama korban meninggal dan hilang akibat tsunami ada di lembaran itu.


Satu per satu lembaran itu dibacanya, hampir semua nama nama yang tercantum di sana adalah nama yang tidak dikenalnya, namun tiba tiba Arkha membelalakkan matanya, nama Mutiara dan Imran tertulis di lembaran terakhir daftar itu.


"Tidak mungkin, tidak..!" teriak Arkha dengan tubuhnya yang langsung lemas terduduk di lantai kamarnya.

__ADS_1


Kepalan tangannya menghantam kuat lantai itu hingga jari - jarinya terluka dan darah segar menetes dari lukanya itu.


"Mutiara, kenapa harus seperti ini? kau pergi meninggalkanku secepat ini, Sayang!" isaknya menangis tersedu.


"Tidak! berita ini pasti salah, aku tidak percaya Mutiara dan Pak Imran sudah tiada, mereka pasti selamat, aku akan menjemput mereka sekarang!"


Arkha berdiri dari duduknya, meraih kunci mobil yang ada di meja nakas dan melangkah cepat hendak keluar dari apartemennya.


Arkha meraih gagang pintu, saat pintu apartemennya itu terbuka, Arkha tersentak karena Rendy sudah ada di depan pintu dan menatapnya datar.


"Anda mau kemana, Bos?" tanya Rendy sambil menahan pundak Arkha yang mencoba keluar dari apartemennya.


"Aku harus mencari tahu tentang Mutiara, Rendy! aku tidak percaya dengan berita yang kau kirimkan tadi. Aku yakin Mutiara dan Pak Imran selamat, aku akan menjemput mereka sekarang!" tegas Arkha.


"Jangan bertindak ceroboh, Bos! memangnya kemana anda akan menjemput mereka?" Rendy menyeringai.


"Anda tahu pulau tempat tinggal mereka sudah tenggelam oleh tsunami, memangnya kemana anda akan mencarinya?" ketus Rendy lagi.


"Aku akan ke barak barak pengungsian, aku yakin mereka ada disana!" sahut Arkha.


"Bos, saya paham dengan kekhawatiran anda! lalu bagaimana caranya anda akan pergi kesana? apa dengan cara berenang di tengah laut?" Kembali Rendy menyeringai sambil mendorong Arkha agar kembali masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintu.


Keduanya lalu duduk di sofa ruang tamu.


Arkha menarik nafas dalam dalam, "apa yang harus aku lakukan, Rendy? aku sungguh tidak sanggup kehilangan Mutiara, aku tidak sanggup menerima kenyataan kalau dia sudah tiada akibat bencana itu!" ucap Arkha sambil menggelengkan kepalanya dan wajahnya tampak semakin sedih.


"Anda tidak perlu melakukan apa apa, Bos. Asal anda tahu, saya juga sedih mengetahui berita ini," sahut Rendy menunjukkan empatinya terhadap Arkha.


"Lalu apa anda pikir dengan menyusulnya kesana anda akan bisa dengan mudah menemukan mereka disana, Bos? anda tahu pulau itu sangat jauh, tidak ada pesawat ataupun kapal yang bisa menjangkau tempat itu, sarana dan prasarana hancur total disana, bagaimana anda bisa kesana?" tanya Rendy dengan nasehatnya.


Rendy ikut menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir, ia sangat bisa memahami kesedihan yang dirasakan Arkha saat itu. Kesedihan itu juga telah membuatnya hilang logika sehingga berniat menyusul Mutiara ke pulau yang kini sudah tenggelam oleh tsunami dan jaraknya juga sangat jauh dari kota itu.

__ADS_1


__ADS_2