Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #64 Menyusul Ke Kota


__ADS_3

Mutiara duduk di teras rumahnya sambil menjaga warungnya, saat itu sedang tidak ada pembeli yang terlihat di sana.


Pagi itu Mutiara tampak gelisah menatap layar ponselnya. Sudah sepuluh hari Genta meninggalkan dirinya dan Baruna ke kota untuk bekerja di kapal yang baru, namun sudah semenjak seminggu terakhir Genta tidak ada menghubunginya lagi, padahal saat terakhir berbicara di telepon Genta berjanji akan setiap hari berkabar walau hanya melalui pesan singkat.


Berkali-kali Mutiara mencoba menelpon Genta, namun ponselnya tetap tidak bisa dihubungi dan pesan singkat yang dikirimnya juga hanya bercentang satu.


"Kenapa Bang Genta tidak berkabar lagi, sesibuk apa dia disana, apa dia sudah kembali berlayar?" Mutiara membatin, tiba-tiba saja ada perasaan yang tidak enak melintas di benaknya.


Mutiara terus menatap layar ponselnya dan memainkan jarinya di sana, sambil kembali membaca pesan singkat terakhir yang dikirim Genta kepadanya. Pesan singkat Genta itu hanya berisi foto-foto selfie-nya saat dia berada di pelabuhan. Selain itu, di pesan singkat terakhir yang dikirim Genta, dia juga memberi tahu Mutiara nama sebuah jalan di kota, yang menunjukkan alamat rumah yang akan Genta tempati setelah tinggal disana.


"Ayah!"


"Telpon Ayah Tilta, Ibu!"


Baruna yang tadinya asyik bermain sendiri di teras itu langsung berlari ke arah Mutiara saat melihat Mutiara memainkan ponselnya. Dari ponsel itu bisanya dia akan dapat mendengar suara Genta yang selalu dirindukannya.


"Ayah tidak bisa dihubungi, Una. Ibu sudah mencobanya berkali-kali tapi tetap tidak bisa, Sayang," sahut Mutiara sambil mengangkat tubuh putranya dan membawanya ke pangkuannya.


"Telpon Ayah!"


"Telpon Ayah!" ucap bocah itu lagi sambil berusaha merebut ponsel itu dari tangan Mutiara.


"Tidak bisa, Sayang. Ayah lagi sibuk di kota, kita tidak boleh mengganggunya." Mutiara berusaha mencari alasan agar Baruna tidak terus memintanya menelepon Genta lagi.


"Ayah!"


"Telpon Ayah, Ibu!"


Baruna terus merengek dan menangis, Mutiara sangat bingung bagaimana harus menenangkan putranya. Entah mengapa sudah beberapa hari ini bocah kecil itu selalu menangis dan memanggil nama Genta.


"Iya, sabar ya, Una. Kita akan susul Ayah Tirta ke kota," hibur Mutiara namun bocah kecil itu masih terus menangis. Baruna terus menunjuk ponsel Mutiara berharap agar Ibunya menelepon Genta dan bisa mendengar suaranya di ponsel itu.


Mendengar rengekan putranya itu, perasaan Mutiara semakin tidak biasa, seperti ada kekhawatiran yang tengah dirasakannya, dia merasa seakan sesuatu telah terjadi pada Genta di kota. Biasanya meskipun Genta sedang berlayar, Genta pasti selalu menyempatkan waktunya untuk berkabar walau hanya untuk mengirim sebuah pesan singkat saja. Berbeda dengan kepergiannya kala itu, Mutiara menjadi cemas karena Genta sudah beberapa hari ini Genta tidak mengubunginya bahkan ponselnya terus saja tidak aktif.


"Una mau nggak ibu ajak pergi ke kota? tanya Mutiara sambil tersenyum menatap wajah putranya yang terlihat sedih.

__ADS_1


"Kita susul Ayah ke sana," terang Mutiara kepada Baruna lagi dan tetap berusaha menghentikan tangis Baruna. Benar saja, tangis bocah itu langsung berhenti saat Mutiara mengatakan akan mengajaknya pergi ke kota.


Setelah beberapa hari memikirkan tawaran Genta, saat itu Mutiara memang sudah membulatkan tekadnya untuk menyusul Genta ke kota, namun karena Genta tidak bisa dihubungi, dia menjadi bingung kapan sebaiknya dia berangkat ke sana.


"Mau, Ibu. Mau!" seru Baruna sambil mengangguk-anggukan kepalanya senang. Baruna lalu turun dari pangkuan Mutiara dan menarik tangannya.


"Ayo, Ibu. Cayi Ayah!" seru Baruna sambil terus menarik tangan Mutiara seolah ingin mengajaknya ke suatu tempat.


"Hei, kamu mau ajak Ibu kemana, Sayang?" Mutiara bingung karena Baruna terus menarik tangannya.


"Cayi Ayah, Ibu. Cayi Ayah!" rengek bocah itu lagi sambil menunjuk jalan di depan rumahnya.


"Cari Ayah kemana, Sayang? Ayah kan lagi di kota!" Mutiara berusaha menahan tangan Baruna agar tidak menariknya lagi.


"Dicana, Ibu. Dicana." Baruna masih terus menarik tangan Mutiara berharap dia mau mengikuti keinginannya.


Mutiara akhirnya beranjak juga dari tempat duduknya mengikuti kemana putra kecilnya itu akan mengajaknya.


"Pelan-pelan, jangan lari, Una! nanti kamu jatuh!" seru Mutiara mengikuti Baruna yang berlari cepat menyusuri jalan di depan rumahnya dan menuju jalan setapak yang menuju ke pantai.


Tiba di pantai itu, Baruna langsung menuju ke dermaga dan menunjuk ke arah beberpa kapal yang ada di sana.


"Naik itu, Ibu. Cayi Ayah!" teriak Baruna sambil mendekati sebuah kapal ikan yang baru saja bersandar di dermaga itu. Kapal itu memiliki logo yang sama dengan kapal tempat Genta bekerja sebelumnya.


"Jangan ke sana, Una. Berbahaya!" pekik Mutiara sambil menyusul Baruna dan menangkap tubuh mungil putranya itu lalu menggendongnya.


"Ke sana, Ibu. Cayi Ayah!" Hanya kata-kata itu yang terus diucapkan Baruna sambil terus menunjuk kapal ikan itu.


"Iya, Sayang. Kita akan naik kapal dan menyusul Ayah ke kota, tapi bukan naik kapal ikan itu, Ayah sudah tidak bekerja disana lagi. Kita akan ke pelabuhan dan naik kapal penumpang!" jelas Mutiara, namun bocah sekecil Baruna belum mengerti apa yang diterangkan oleh Ibunya, yang dia tahu bahwa semua kapal bisa membawanya pergi ke kota.


"Hai, Ara. Sedang apa kamu disini?"


Sibuk memberi pengertian kepada putranya, Mutiara tidak menyadari seorang pria menghampirinya di dermaga itu.


"Eh, Bang Mardi." Mutiara tersenyum menoleh ke arah pria yang sudah berdiri di sebelahnya itu, pria itu adalah teman sepelayaran Genta selama bekerja di kapal ikan.

__ADS_1


"Bang Mardi kapan datang, Bang?" tanya Mutiara.


"Baru saja sampai, Ra! tapi aku cuma singgah sehari dan besok sudah harus ke kota lagi!" sahut pria yang bernama Mardi itu.


"Bagaimana kabar suamimu? Aku sangat kagum pada Tirta, dia sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus di kapal kargo," tanya Mardi tersenyum bangga dengan kesuksesan sahabat dekatnya selama dua tahun terakhir dan Mardi juga adalah warga di kampung relokasi itu.


"Bang Tirta sudah sampai di kota, Bang. Dia sudah mulai bekerja di kapal barunya," ujar Mutiara juga tersenyum bangga, "ini lihat, Bang! dia sempat kirim foto-fotonya selama disana," lanjut Mutiara sambil menunjukkan foto-foto Genta di ponselnya kepada Mardi.


"Wah, Tirta memang hebat. Perusahaan ekspedisi tempatnya bekerja itu sangat ternama, semua orang berlomba-lomba ingin bekerja disana," puji Mardi.


"Apa Bang Mardi tahu ini di pelabuhan mana, Bang?" tanya Mutiara


"Ini pelabuhan terbesar di kota itu, Ra. Besok juga aku akan berangkat ke sana."


"Dari sini berapa lama untuk sampai di sana, Bang?" tanya Mutiara penuh rasa ingin tahu.


"Kurang lebih dua puluh empat jam, Ra. Memangnya kenapa, kamu jadi nyusul Tirta ke kota ya, Ra?" tanya Mardi. Dari cara bertanya Mutiara kepadanya, Mardi bisa menebak kalau Mutiara sudah ingin pergi ke kota itu.


"Rencananya sih gitu, Bang. Tapi aku masih bingung, Bang Tirta belum bisa dihubungi, ponselnya tidak aktif," keluh Mutiara berkata jujur.


"Iya, namanya juga kerja di kapal, Ra. Kadang memang susah di hubungi," papar Mardi tak mengindahkan keluhan Mutiara.


"Hoyee..., kita ke kota, cayi Ayah Tilta!" seru Baruna menyela percakapan Mutiara dan Mardi. Toddler itu sangat senang saat mendengar dia akan diajak pergi ke kota.


"Kalau kamu mau ke kota, besok pagi ikut saja bersamaku, Ra. Kebetulan kru kapalku juga tidak terlalu banyak, masih ada ruang kosong di kabin untukmu dan anakmu selama perjalanan!" ajak Mardi, "Tirta dulu pernah bilangin aku, kalau kamu mau nyusul ke kota, biar kamu ikut di kapalku saja. Ra!" sambung Mardi lagi menegaskan ajakannya.


Sebelum Genta pindah bekerja ke kapal kargo, Genta memang pernah berpesan kepada Mardi untuk mengajak Mutiara dan Baruna ke kota bersama di kapalnya. Daripada naik kapal penumpang lewat pelabuhan, Genta lebih memilih mempercayakan Mutiara kepada sahabatnya itu, untuk mencegah sesuatu hal terjadi pada Mutiara karena dia sama sekali belum pernah pergi ke kota.


"Beneran, Bang? apa aku dan Baruna boleh ikut pergi ke kota bersama kapalmu?" tanya Mutiara sangat antusias.


"Kenapa tidak!" jawab Mardi dengan entengnya.


Mutiara tersenyum mendengar jawaban Mardi. Dia menjadi semakin yakin ingin segera menyusul Genta ke kota.


**Buat semua pembaca setia yang merayakan Ramadhan, author ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.

__ADS_1


Marhaban ya Ramadhan ๐Ÿ™๐ŸŒนโ™ฅ๏ธ**


__ADS_2