
Setelah Sandra meninggalkan apartemen itu, Mutiara duduk membeku di sofa ruang tamu. Semua yang didengarnya dari Sandra membuat hatinya seketika galau dan gundah gulana.
"Ternyata kota ini begitu sempit, aku tidak menduga akan mengetahui semuanya secepat ini disini," gumam Mutiara.
"Apakah ini takdir atau hanya kebetulan saja?" Pikiran Mutiara kini dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Yang aku takutkan terjadi selama ini ternyata benar, setelah ingatannya kembali, Bang Segara memang sudah melupakan aku. Dia sangat mencintai Livina istri pertamanya, padahal Mamanya membenci wanita itu, tapi dia tetap menikahinya." Batin Mutiara menggerutu.
"Sedangkan aku? aku sangat bodoh karena sampai saat ini aku masih sangat mencintainya." Tanpa diminta, air mata mengucur deras dari kedua inti matanya. Luka hati yang lama sanggup ditutupinya seakan menganga kembali bahkan bagaikan disiram air garam, begitu terasa perih dan menyakitkan baginya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Mutiara menjadi bimbang tidak tahu harus bagaimana setelah mengetahui kalau Mama Yuna adalah Mama dari pria yang sangat dicintainya. Akan tetapi, pria itu juga lah yang sudah membuatnya begitu kecewa dan sakit hati.
"Bagaimana kalau Nyonya Yuna tahu tentang Baruna?" Mutiara kembali berpikir.
"Sekarang saja Nyonya Yuna sudah sangat dekat dengan Baruna, dia sudah mengambil alih semua tugasku sebagai ibunya, bagaimana kalau nanti dia tahu bahwa anak itu adalah cucu kandungnya? Pastinya dia akan benar-benar mengambilnya dariku!" Hati Mutiara menjadi sangat bimbang, berbagai pikiran buruk kini seakan menari-nari mengejek di dalam kepalanya.
Mutiara mengusap kasar air mata di pipinya dengan punggung tangannya lalu menarik nafas dalam-dalam mencoba menghentikan tangisnya.
"Tidak..., tidak boleh seorangpun mengambil Baruna dariku!" Mutiara berdecak sengit.
"Aku harus segera pergi dari sini, aku harus menjauhkan Baruna dari orang-orang yang ingin memisahkannya dariku!" jengahnya.
Mutiara bergegas beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Mama Yuna. Kecemasan mulai melandanya, dia takut kalau Mama Yuna mengunci pintu kamarnya lagi seperti tadi siang.
Mutiara meraih gagang pintu, dan memutarnya perlahan. Kecemasannya sedikit berkurang karena ternyata pintu itu tidak terkunci dan Mutiara langsung masuk ke dalam.
Di dalam kamar Mama Yuna, lagi-lagi Mutiara tidak dapat menahan air matanya saat menyaksikan pemandangan mengharukan di depan matanya.
Baruna dan Mama Yuna tengah tertidur pulas dan Baruna terlihat begitu tenang ada di dalam pelukan Mama Yuna.
"Ya Tuhan, apa mungkin aku memisahkan mereka? Baruna dan Nyonya Yuna sudah sangat dekat, ikatan diantara mereka begitu kuat," sungutnya penuh rasa haru.
__ADS_1
"Nyonya Yuna baru saja mulai stabil emosinya, kalau aku membawa pergi Baruna darinya, bagaimana dengan kondisi kejiwaannya nanti? emosinya pasti akan tidak bisa di kontrol lagi dan kesehatan mentalnya pasti akan semakin buruk." Mutiara semakin bimbang dan merasa terkurung dalam dilema.
Di satu sisi dia takut apabila Arkha dan Mama Yuna akan mengambil Baruna darinya, sedangkan di sisi lain dia tidak tega memisahkan Baruna dari Mama Yuna.
Mutiara mengusap dadanya lalu keluar dari kamar Mama Yuna. Dia masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Sejenak dia memejamkan matanya mencoba menenangkan kegalauannya. Namun, pikirannya kian menerawang dia sangat bingung menentukan apa yang harus dilakukannya setelah mengetahui semua tentang Arkha dan Mama Yuna.
Mutiara membenamkan kepalanya di atas bantal dan meremas bantal itu kuat-kuat. Hatinya sangat kacau kecemasan dan rasa takut akan dipisahkan dari putranya semakin membuncah. Air matanya terus menetes tak tertahankan hingga membasahi bantal itu.
"Tuhan tolong berikan petunjukMu," doanya dalam hati, "apa aku harus pergi atau tetap di sini?" ucapnya.
Setelah cukup lama berfikir, Mutiara lalu bangun dari atas ranjangnya sembari menghembuskan nafas kasar. Dengan segera, ia mengambil tas pakaiannya dari dalam lemari.
"Aku harus pergi dari sini, aku tidak akan membiarkan Arkha dan Nyonya Yuna mengambil Baruna dariku!" Mutiara meyakinkan jalan yang dipilih oleh hatinya.
"Mumpung Nyonya Yuna sedang tidur, aku akan pergi diam-diam malam ini juga!"
Mutiara bergegas mengemas beberapa pakaiannya dan pakaian Baruna lalu menutupi kepala dan wajahnya dengan sebuah kerudung.
"Una, bangun, Sayang! kita harus pergi dari sini," bisik Mutiara sambil mengusap lembut kepala bocah kecil itu.
Baruna tersentak saat Mutiara membangunkannya. "Ibu...!" teriaknya kaget.
"Ssttt...!" Mutiara langsung menenangkan Baruna dengan kode jari telunjuk yang diletakkannya di bibirnya.
"Jangan bicara keras-keras, Sayang. Nanti Oma Yuna bangun," larang Mutiara dengan berbisik di telinga Baruna.
"Kita mau kemana, Ibu?" tanya Baruna juga ikut berbisik.
"Kita akan pergi cari Ayah Tirta," bohong Mutiara.
"Hoyee..., cayi Ayah!" Baruna kembali berteriak girang.
__ADS_1
"Ssttt...!" Mutiara kembali meletakkan telunjuk di bibirnya dan Baruna langsung diam, paham akan perintah Ibunya.
Perlahan Mutiara mengangkat tubuh Baruna dari tempat tidur itu lalu menggendongnya. Dia kembali mengendapkan langkahnya meninggalkan Mama Yuna yang masih lelap tertidur.
Di depan pintu apartemen itu, Mutiara kembali menghentikan langkahnya sambil menghela nafas panjang.
"Maafkan saya, Nyonya Yuna. Saya harus membawa Baruna pergi dari sini, saya tidak punya pilihan lain, saya tidak mau Nyonya ataupun putra Nyonya mengambilnya dari saya," batin Mutiara berusaha yakin akan keputusannya pergi meninggalkan apartemen itu.
Matahari sudah tidak nampak lagi, hari sudah semakin gelap dan lampu-lampu yang menghiasi seisi kota sudah mulai menyala terang.
Sambil menggendong Bruna, Mutiara terus melangkahkan kakinya tanpa arah, dia hanya ingin bisa pergi sejauh-jauhnya dari apartemen Mama Yuna.
"Kemana kita cayi Ayah Tilta, Ibu?" tanya Baruna merasa heran karena mereka sudah cukup jauh berjalan. Namun, yang dicari tidak kunjung ditemuinya.
"Sabar ya, Sayang, nanti pasti kita ketemu Ayah," sahut Mutiara sambil tersenyum menatap wajah putranya.
"Aku juga tidak tahu harus pergi kemana malam-malam begini?" sungut Mutiara dalam hati. Meski sedang gelisah dan bingung, dia tetap harus tersenyum di hadapan Baruna.
"Aku akan cari penginapan di sekitar sini, besok baru aku akan pikiran lagi kemana aku harus membawa Baruna pergi," pikirnya.
Mutiara terus berjalan di pekatnya malam menerobos trotoar di pinggir jalan yang cukup sepi di kota itu, matanya selalu menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemukan penginapan murah di sekitar tempat itu.
_____________________
Buat kamu yang gregetan menantikan pertemuan antara Mutiara dan Segara, mohon bersabar ya, sebentar lagi akan author pertemukan.
Sambil menunggu mereka berkumpul lagi, boleh deh selingkuh dulu ke karya Kakak Senior aku Weny Hida. Novel ini sudah tamat dan ceritanya dijamin bikin baper.
Tapi selingkuhnya jangan lama-lama, saat Segara up lagi, nongol balik lagi lah dimari ye...!
__ADS_1