Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #23 Semakin Mesra


__ADS_3

Semenjak kejadian malam itu, hubungan antara Segara dan Mutiara yang sempat hangat kembali menjadi dingin. Ditambah lagi, Segara tiap malam ikut pergi melaut bersama Imran, sehingga hampir tidak ada waktu antara Segara dan Mutiara menghabiskan malam bersama atau hanya sekedar ngobrol berdua.


Hari itu, seperti biasa sepulang dari melaut Segara membantu Mutiara di warungnya.


"Bang, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Mutiara saat mereka baru saja selesai membereskan warungnya yang sudah sepi.


Segara tak menyahut, ia hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya dan tetap melanjutkan membersihkan ikan ikan sortiran yang akan mereka masak untuk makan siangnya hari itu.


"Kopinya kenapa belum diminum? keburu dingin loh, Bang!" Mutiara mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka, dengan mengalihkan.


"Ikannya biar aku saja yang bersihkan, Bang! Bang Gara istirahat aja dulu, pasti Abang lelah semalaman belum tidur kan?" celotehnya lagi meramaikan suasana hening antara dia dan Segara, namun Segara tetap diam dan hanya fokus dengan ikan ikan di hadapannya.


Mutiara menghela nafas pelan, wajahnya seketika murung merasakan sikap dingin Segara terhadapnya. Perlahan ia mendekati Segara lalu merebut ikan ikan dari tangan Segara.


"Ini semua biar aku saja yang kerjakan, Bang! Bang Gara istirahat saja, sepertinya Abang sangat lelah sampai sampai berbicara sama aku saja, Abang tidak bisa!" ketus Mutiara. Gadis lugu itu menjadi sangat kesal menghadapi sikap dingin Segara terhadapnya.


"Nggak apa apa, Ra! aku cuma sedikit mengantuk!" sahut Segara tetap dingin.


"Ya sudah, Abang pulang saja duluan, akan lebih nyaman kalau Abang tidur di rumah!" decak Mutiara masih dengan nada kesal.


Segara lalu tersenyum menyeringai, wajah cemberut Mutiara membuatnya seketika merasa gemas.


Segara mencuci bersih tangannya dengan sabun karena Mutiara sudah mengambil alih semua ikan ikan itu dari tangannya. Setelah mengeringkan tangannya Segara mendekati Mutiara yang tengah asyik melanjutkan membersihkan ikan ikan sisa sortiran yang jumlahnya lumayan banyak hari itu.


Segara melingkari pinggang Mutiara dengan kedua tangannya dari belakang, lalu memberi sebuah kecupan di pipi Mutiara yang spontan membuat Mutiara terperanjat dan membulatkan matanya.


"Iiih... Bang Gara, apaan sih!" pekiknya.


"Kalau kamu lagi cemberut seperti ini, kamu jadi terlihat menggemaskan loh, Ra!" goda Segara dengan senyum khas yang selalu terulas di bibirnya.


"Lepas, Bang! jangan seperti ini!" Mutiara mencoba melepaskan tangan Segara yang masih memeluknya erat.


"Nanti kalau ada yang lihat, kita bisa diseret ke rumah kepala kampung lagi loh!" gurau Mutiara sambil tersenyum malu.


"Kau kan sudah jadi istriku, memangnya siapa yang berani memfitnah kita lagi?" sindir Segara.


Keduanya lalu saling melempar senyum manis, Mutiara sangat senang karena ternyata Segara sudah tidak marah lagi padanya.

__ADS_1


"Abang sudah nggak marah lagi sama aku kan?" Mutiara meyakinkan dugaannya lagi.


"Kapan aku pernah marah sama kamu, Ra? yang ada kamu itu selalu membuatku tersenyum, aku sangat bahagia bisa sama kamu terus seperti ini!" sahut Segara dengan rayuan.


"Gombal!" seru Mutiara sambil tersenyum kecut lalu menjulurkan lidahnya ke arah Segara, yang membuat Segara semakin gemas padanya.


Segara kembali mempererat pelukannya sambil terus mendaratkan kecupannya di pipi kanan dan kiri Mutiara, wajah polos gadis belia itu sudah menjadi candu baginya dan membuatnya tidak pernah bosan ingin mencium Mutiara dengan sangat mesra. Senyum bahagia terus mengembang di bibir keduanya.


"Aku mau masak loh, Bang! kalau Abang ganggu terus kapan selesainya ini?" protes Mutiara.


"Abang tiduran aja dulu di kasur lipat itu, Bang! nanti kalau aku sudah selesai masak, aku bangunin!" lanjut Mutiara sambil melepaskan pelukan Segara karena ia harus melanjutkan memasak untuk makan siang mereka.


Segara lalu melangkah ke dalam ruangan di warung itu dan merebahkan tubuhnya di kasur lipat. Saking ngantuknya ia pun tertidur sejenak disana.


Semenjak saat itu kedekatan Segara dan Mutiara semakin terjalin erat, meski belum mengecap indahnya ritual malam pertama, namun keduanya tetap melewati hari harinya penuh kemesraan.


****


Hari itu hujan turun seharian tanpa sempat berhenti, sesekali angin bertiup sangat kencang disertai kilatan petir dan suara gemuruh yang menggelegar. Imran, Segara dan Mutiara duduk di ruang tengah.


"Hujan nggak kurun reda, sebaiknya malam ini kita tidak usah melaut, Gara! Bapak takut di tengah laut terjadi badai!" keluh Imran yang terlihat gelisah sedari tadi sore, karena mereka tidak bisa melaut malam itu.


"Iya sudah, malam ini kita beristirahat saja, besok kalau cuaca sudah membaik baru kita melaut lagi!" sambung Imran sambil melangkah menuju kamarnya hendak beristirahat.


Segara dan Mutiara saling menatap dan tersenyum, akhirnya malam itu mereka bisa menghabiskan malam bersama karena Segara tidak akan pergi melaut.


"Kita juga harus beristirahat, Ra!" ajak Segara sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Mutiara.


Mutiara tersipu dan hanya membalas ajakan Segara dengan senyuman.


Belum sempat beranjak dari tempat duduknya, tiba tiba terdengar ketukan pintu.


"Mutiara, buka pintunya, Ra!" terdengar suara seorang wanita memanggilnya di luar sana.


Mutiara segera berlari dan membukakan pintu.


"Mbak Lis!" Mutiara membulatkan matanya melihat Mbak Lis ada di depan pintu rumahnya dalam keadaan basah kuyup dan terlihat panik.

__ADS_1


"Ada apa Mbak, kesini basah basahan begini?" tanya Mutiara.


"Warungmu, Ra!" jawab Mbak Lis dengan bibirnya yang gemetar karena kedinginan. "Aku baru saja dari dermaga, dan aku lihat atap warungmu ada yang terlepas diterbangkan angin, dan aku lihat air sudah masuk ke dalam ruangan di warungmu, Ra!" terangnya.


Mutiara sangat terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Mbak Lis dan kini wajahnya pun ikut terlihat panik.


'Astaga, bagaimana ini?" Mutiara menepuk keningnya sangat khawatir dengan kondisi warungnya saat itu.


"Sebaiknya kamu kesana saja, Ra! hujan sangat deras, warungmu pasti kebanjiran itu!" saran Mbak Lis yang juga ikut peduli dengan kondisi warung Mutiara.


Segara langsung bangun dari tempat duduknya setelah mendengar semua percakapan antara Mbak Lis dan Mutiara, ia berjalan menghampiri mereka.


"Ada apa, Ra?" Segara ikut cemas melihat kedua wanita yang terlihat panik di hadapannya.


"Atap warung kita diterbangkan angin, Bang! Pasti seisi warung akan basah dan besok aku nggak bisa jualan!" keluh Mutiara dan nampak was was.


"Aku permisi dulu, Ra! dari tadi aku kehujanan, aku mau pulang mandi, bajuku basah!" sela Mbak Lis yang ingin segera pulang ke rumahnya karena sudah merasa kedinginan.


"Iya, makasih banyak sudah mengabari keadaan warungku ya, Mbak!" sahut Mutiara.


Mbak Lis langsung berlari kecil di tengah hujan menuju ke rumahnya yang hanya beberapa meter dari rumah Mutiara.


"Jangan sedih gitu, Ra! aku akan kesana sekarang!" Segara mengusap wajah Mutiara yang terlihat sedih karena merisaukan keadaan warungnya.


"Tapi, Bang? apa yang kita bisa lakukan di tengah hujan seperti ini?"


"Aku akan cek dulu seberapa parah kerusakannya, Ra!"


Segara lalu mengambil jas hujan dan memakainya karena akan pergi melihat kondisi warungnya.


"Tunggu, Bang! aku ikut sama Abang!" seru Mutiara.


"Jangan, Ra! kamu tinggal di rumah saja, aku tahu kok apa yang harus aku lakukan!" tolak Segara.


"Nggak, Bang! aku harus ikut, aku nggak mau Abang sendiri kesana!" bujuknya.


"Ya sudah, ambil payung kita sama sama kesana!"

__ADS_1


Mutiara lalu mengambil payung dan tak lupa, ia juga berpamitan kepada Imran.


Mutiara dan Segara langsung berjalan menerobos derasnya hujan menuju ke warungnya. Sambil berjalan, Segara merangkul erat pundak Mutiara, meski bernaung di bawah payung namun derasnya hujan tak elak membuat mereka tetap basah oleh tampias air hujan.


__ADS_2