Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #63 Penyekapan


__ADS_3

Genta melangkah dengan percaya diri menaiki kapal baru tempatnya akan bekerja. Bukan lagi di kapal ikan, namun kali ini dia akan bekerja di sebuah kapal kargo milik perusahaan ekspedisi ternama yang memberinya kontrak kerja eksklusif dan gaji yang cukup besar.


Semua kru kapal menyambutnya dengan hormat dan sebagai seorang kapten yang akan memimpin semua operasional di kapal itu tentunya semua orang menatap segan terhadapnya.


Di dalam locker di kapal itu, Genta memandangi bayangan dirinya di pantulan cermin, dia baru saja selesai memakai seragam barunya. Dia tersenyum bangga, kesuksesan tengah ada ditangannya kini. Inilah alasan yang menyebabkan Genta begitu ingin membawa Mutiara dan Baruna ikut bersamanya ke kota. Cita-citanya ingin membangun rumah tangga bahagia bersama Mutiara tapi tidak tinggal di kampung itu, dia ingin Baruna bisa mendapatkan kehidupan serta pendidikan terbaik di kota dan dengan gaya hidup yang tentunya lebih modern.


"Semoga kau mau menyusulku ke kota, Ra. Aku ingin kau dan juga Baruna bisa hidup lebih baik di sana," gumamnya sambil berkhayal membayangkan saat dia dan Mutiara akan membangun keluarga kecil bersama.


"Bos Arkha, dia sudah kembali dan hidup bahagia dengan Nyonya Livina, aku sangat yakin kalau dia memang sudah melupakan Mutiara." Genta tersenyum kecut.


Selama bekerja di kapal sebelumnya, Genta memang sering datang ke kota, disana dia mendapat banyak informasi tentang Arkha serta perusahaanya termasuk juga kehidupan pribadinya. Setelah mengetahui bahwa Arkha sudah kembali bersama Livina, dia menjadi tidak ragu untuk membawa Mutiara bersamanya dan tinggal lagi di kota itu. Genta tahu betapa dulu Arkha mencintai dan tergila-gila terhadap Livina, saat dia sudah kembali dengan Livina, tentunya cintanya itu juga kembali dan dipikiran Genta, pastilah Arkha sudah melupakan Mutiara karena Arkha mengira Mutiara sudah tiada saat bencana tsunami terjadi.


Selain itu, mereka juga akan tinggal di kota dengan identitas baru, sehingga Genta begitu yakin Mutiara tidak akan pernah kembali bersama Arkha.


"Maaf, Capt. Anda sudah ditunggu, kapal harus segera berangkat!" seru seorang kru kapal yang menghampirinya.


Genta mengangguk dan menyudahi lamunannya lalu bergegas akan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.


Genta melangkah tegap dan mengangkat kepalanya tanpa menoleh ke arah kru kapal yang membungkuk hormat kepadanya, itu dilakukannya untuk menunjukkan wibawanya sebagai seorang kapten dan akan memimpin dan beertanggung jawab di kapal itu selama perjalanan.


Di balik kesuksesan yang tengah diraihnya itu, tentunya tidak semua orang memandangnya juga dengan rasa senang hati. Terlebih Genta baru masuk bekerja di perusahaan ekspedisi besar itu dan langsung mendapatkan jabatan terbaik di kapalnya, para kru kapal yang sudah bertahun tahun bekerja disana pastinya merasa iri kepadanya. Persaingan di kehidupan pelayaran memang sangatlah keras, semua itu memaksa pribadi-pribadi pekerja kapal juga menjadi sangat keras dan juga kejam.

__ADS_1


Di sebuah lorong di dalam kabin kapal diantara container-container besar di kapal itu, empat pria berbadan kekar dan tampang sangar terlihat berkumpul tengah mendiskusikan sesuatu. Di wajah-wajah mereka nampak ada raut kebencian dan terlihat tidak senang akan kehadiran Genta di kapal itu.


"Orang baru itu sangat sombong, kita lihat saja berapa lama dia akan bertahan di sini!" ujar salah seorang dari mereka.


"Aku sudah tidak sabar ingin memberinya pelajaran!" Seorang dari mereka yang badannya penuh tato ikut menimpali.


"Biarkan saja orang itu bersenang-senang dulu, setelah sampai di kota kita habisi dia!" geram seorang lagi.


Keempat orang itu lalu saling membisikan rencana mereka untuk menyingkirkan Genta dari kapal itu.


Deru mesin kapal terdengar bergemuruh, perlahan kapal itu kini melaju meninggalkan pelabuhan.


Satu hari satu malam penuh mereka dalam perjalan, hingga kini mereka sudah sampai di pelabuhan terbesar di kota itu. Hari sudah cukup terik, matahari tepat diatas kepala saat kapal mereka bersandar


Genta turun dari kapal itu dan melangkah menuju terminal, senyum bangga masih terus terulas di bibirnya.


Genta merogoh ponsel dari sakunya lalu mengambil foto selfie menunjukkan dirinya dengan pakaian seorang kapten kapal kebanggaanya, tentunya foto itu akan dikirimkannya kepada Mutiara.


"Aku sudah sampai di kota, Ra!" seru Genta melalui saluran telepon. Dia menepati janjinya untuk langsung menghubungi Mutiara saat dia tiba di kota sekaligus mengirimkan foto-foto selfienya.


"Iya aku harap kamu dan Baruna segera menyusulku ke sini,Ra!" desak Genta mengakhiri percakapan mereka setelah cukup lama di sambungan telepon dengan Mutiara. Sebelum menutup teleponnya, dia menyempatkan berbicara melalui telepon itu dengan Baruna.

__ADS_1


"Dah..., Una. Ayah tunggu di kota, ya!" pungkas Genta menutup perbincangannya. Mendengar celotehan lucu dari bibir bocah kecil itu membuatnya ingin selalu tersenyum.


Genta berjalan lalu berkeliling di area terminal itu diantara orang-orang yang tengah sibuk bongkar muat barang-barang ekspedisi di sana. Selain bertanggung jawab penuh di kapal selama perjalanan, dia juga harus mengecek semua container-container peti kemas di kapalnya dan memastikan semua sesuai dengan daftar pengiriman.


Sesaat mata Genta tertuju ke pelabuhan pribadi milik perusahaan Arkha yang tak jauh dari terminal peti kemas perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Genta hanya menggeleng melihat ke pelabuhan itu, sejenak dia teringat kalau di pelabuhan itulah awal karirnya dimulai.


"Bos Arkha, semakin hari perusahaannya semakin maju saja," Batin Genta memuji, meski tidak bekerja dengan Arkha lagi, dalam hatinya dia tetap punya rasa bangga dan segan kepada mantan atasannya itu.


Bruugg....!


Tiba-tiba tubuh Genta ambruk ke lantai terminal itu. Tanpa disadarinya seseorang memukul keras tengkuknya dengan sepotong kayu yang seketika membuat Genta tak sadarkan diri.


Empat orang pria kru kapal yang ingin menyingkirkan Genta itu kini sudah mulai menjalankan rencananya.


"Bawa dia masuk, cepat!" seru seorang pria yang bertato gambar naga di lengannya.


Kemudian tiga pria yang lain langsung mengikat kedua tangan Genta di belakang punggungnya serta menutup kepalanya dengan kain berwarna hitam.


"Kita sekap dia!" perintah pria bertato itu lagi, lalu mereka menyeret tubuh Genta menuju ke sebuah container cargo yang kosong dan membawanya masuk kesana.


Area terminal itu memang tersembunyi dan sangat sepi saat kejadian, selain Genta, hanya ada empat pria itu disana sehingga tidak ada saksi mata yang menyaksikan kejadian tersebut. Selain itu, keempat pria tadi memang sudah sangat paham tentang situasi disana, sehingga dengan mudah mereka bisa melancarkan rencananya untuk menyekap Genta.

__ADS_1


Genta masih tidak sadarkan diri, dia sama sekali tidak tahu kalau kru kapalnya ingin mencelakainya dan kini menyekapnya di dalam sebuah container cargo.


__ADS_2