
"Una, kamu tidak apa-apa, Sayang?" Arkha menatap lekat wajah Baruna yang masih terlihat shock.
Bocah kecil itu hanya menggelengkan kepalanya. Arkha mengecup pucuk kepala bocah itu sambil mengusapnya lembut dan kembali memeluknya. Air mata haru menggenang hingga tidak tertahankan menetes dari sudut matanya.
"Tolong ...! Lepaskan aku ...!"
Teriakan Mutiara membuyarkan suasana haru antara ayah dan anak yang baru bertemu.
"Ibu ....!" pekik Baruna ketika mendengar teriakan minta tolong Ibunya.
Arkha segera menoleh ke arah pria yang masih menyandera Mutiara.
"Mutiara ....!" Arkha ikut berteriak saat melihat pria itu mulai menyeret Mutiara menjauh dari tempat itu. Sambil menggendong Baruna, Arkha berlari cepat menyusulnya.
"Berhenti!" teriak Arkha lagi. Namun, pria itu tetap menarik tangan Mutiara dan mempercepat laju kakinya melintasi trotoar di pinggir jalan itu.
Arkha mendengus geram, lalu berlari lebih cepat menghadang pria itu.
"Lepaskan dia! Dasar brengsek, apa kau mau aku mencabut nyawamu disini?" ancam Arkha berang, sambil menatap tajam ke arah pria itu.
Ciut akan ancaman Arkha, pria itu langsung mendorong dan menghempaskan tubuh Mutiara hingga terjatuh di atas trotoar.
"Aww ...!" Mutiara meringis karena tubuhnya terbentur di sebuah batu di trotoar itu.
"Mutiara ...!" Arkha kembali memekik dan berlari mendekati Mutiara. Dengan cepat Arkha menyelipkan satu tangannya di ketiak Mutiara untuk membantunya berdiri, setelah itu ia langsung melepaskan kain penutup wajah Mutiara.
Setelah kain itu terbuka, wajah Arkha dan Mutiara saling berhadapan begitu dekat. Di tengah temaram lampu penerangan jalan, untuk beberapa detik mereka saling memandang, keempat netra mereka beradu.
"Bang Segara ...!" Tanpa aba-aba, kata itu terlontar begitu saja dari bibir Mutiara. Tanpa diundang pun, air mata seketika berhambur dari kedua titik hitam di matanya.
__ADS_1
"Mutiara ...!" Bibir Arkha juga menyebutkan nama itu dengan cara yang sama. Ada perasaan yang tidak bisa terungkapkan dengan kosa kata apapun, kini bergejolak di hati keduanya.
Akan tetapi, saat yang sama, Mutiara menoleh ke depan dan melihat pria yang tadi menangkapnya kini sudah ada tepat di balik punggung Arkha. Pria itu memegang sebuah balok kayu dan sudah di posisi akan memukulkannya ke arah Arkha.
"Awas, Bang!" teriak Mutiara sambil mendorong kuat pundak Arkha untuk menghindar. Sehingga, pukulan pria itu tidak sampai mengenai mereka.
"B*ngs*t ...!" pekik Arkha semakin geram.
"Tolong jaga Baruna, Ra. Tunggu disini, aku akan mengatasi bajingan ini dulu," bisik Arkha cepat sambil menyerahkan Baruna kepada Mutiara.
Sambil mengambil alih Baruna dari tangan Arkha, Mutiara mundur beberapa langkah untuk menjauh. Di tepi jalan ia duduk sambil memeluk erat tubuh putra kecilnya.
Arkha melangkah mendekati pria itu. Beberapa kali pria itu menyabetkan balok kayu itu ke arah Arkha. Namun, Arkha sangat gesit menghindarinya.
"Uushh ...!" Arkha mendesis gusar lalu dengan sebuah gerakan jump up parkour, Arkha berhasil melewati tubuh pria itu dan menendang tengkuk pria itu dengan sangat keras.
Buggh ...!
"Mampus kau!" pekik Arkha sambil tersenyum miring saat melihat pria itu terkapar di tanah. Belum puas sampai disitu, dengan geram dicengkramnya jaket pria itu sambil menarik paksa penutup wajahnya.
"Siapa kau, dan apa tujuanmu menangkap Mutiara?" bentak Arkha sambil menatap pria itu dengan tatapan penuh interogasi. Akan tetapi, dia sama sekali tidak mengenali pria itu.
"A-a-ampuni saya, Tuan. Sa-saya hanya orang suruhan," sahut pria itu terbata, darah segar masih terus menetes dari hidung dan mulutnya.
"Orang suruhan?" tanya Arkha sambil menggeleng heran.
"Siapa yang menyuruh kalian?" bentaknya geram.
"Ka-kami ditugaskan untuk mengawasi dan menangkap Suster Ara oleh Nyo ...," jawab pria itu tercekat.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu? Katakan, cepat!" dengus Arkha tidak sabar mendengar jawaban pria itu.
"Nyo-nyonya Livina, Tuan," sahut pria itu terbata.
"Apa, Livina?" Arkha membelalakan matanya lebar-lebar mendelik tajam ke arah pria itu.
"Iya, Tuan. Dia yang membayar dan menyuruh kami menculik Suster Ara, karena hanya Suster Ara yang tahu dimana Nyonya Yuna berada, Tuan!" ungkap pria itu dengan suara bergetar ketakutan.
"Argghh ...! Kurang ajar!"
Blaakk ...!
Arkha meninju keras rahang pria itu hingga kembali terjerembab ke tanah dan tidak sadarkan diri.
"Keterlaluan kamu Livina ...! Aku akan buat perhitungan denganmu!" luap Arkha tidak mampu menahan amarahnya.
"Rendy ...! Kali ini kerjamu memang tidak becus!" decaknya merasa kecewa.
Arkha merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya lalu menelpon asistennya itu.
"Rendy, kali ini aku sangat marah padamu!" ketus Arkha saat Rendy sudah menerima panggilannya.
"Kau dan anak buahmu sebenarnya bisa kerja nggak sih? Kau tahu? Orang suruhan Livina jauh lebih gercep dari pada kalian!" terang Arkha berteriak dan menyeringai.
"Jangan banyak alasan kamu, Rendy! Serkarang, segera kirim orang-orangmu untuk mebereskan empat orang ini!" perintah Arkha sambil menutup telponnya lalu mengirim lokasinya saat itu ke ponsel Rendy. Lagi-lagi Arkha hanya mengangkat satu ujung bibirnya saat melihat keempat pria itu sudah terkapar di sekitarnya.
"Mutiara ...!" Arkha teringat akan Mutiara dan Baruna. Arkha lekas membalikkan badannya dan berlari menghampiri Mutiara dan Baruna yang masih duduk dan tertunduk ketakutan di tepi jalan.
Mutiara mengangkat wajahnya saat Arkha sudah di dekatnnya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja, Bang?" tanyanya dengan nada cemas.
"Iya, Ra. Kamu tidak perlu takut lagi. Kalian sudah aman bersamaku, Sayang. Orang-orang itu tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Arkha sambil berjongkok di sebelah Mutiara dan memeluk mereka dengan erat. Air mata haru tidak terbendung mengalir deras di pipinya.