Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #102 Hari Bahagia


__ADS_3

Arkha dan Mutiara melangkah bergandengan tangan di atas karpet merah dengan sangat anggun dan senyum manis selalu menghiasi wajah mereka.


Beberapa tangkai bunga mawar merah dalam satu rangkaian hand bouquet juga ada menghiasi indah tangan Mutiara saat itu.


Semua perhatian kini tertuju kepada pasangan pengantin itu. Semua orang berdecak kagum, ketampanan Arkha dan juga kecantikan Mutiara mampu membius semua undangan yang hadir disana.


Sorak gembira dan tepuk tangan bahagia terdengar hingar-bingar di dalam ballroom besar tempat acara resepsi pernikahan mereka digelar saat itu. Euphoria dan kemegahan sebuah pesta pernikahan mewah sangat terkesan di hati semua undangan.


Puluhan kameramen dengan silih berganti mengambil gambar mereka dari sudut-sudut yang berbeda.


Runtunan acara pernikahan orang yang sangat terpandang di kota itu pastilah menjadi momen yang sangat di tunggu-tunggu oleh banyak wartawan maupun kaum vlogger dan youtuber infotainment, tentunya acara pernikahan mewah itu akan sangat menarik untuk mereka jadikan sebagai konten yang bisa mereka unggah di akun mereka.


Satu persatu rundown acara berjalan dengan lancar, hingga kini acara sudah berakhir dan para undangan juga sudah meninggalkan ballroom itu.


Yang tersisa di tempat itu kini hanya beberapa keluarga inti dan kolega dekat saja.


"Papa ...! Mama ...!" seru Baruna sambil menaikkan kedua tangannya berharap digendong oleh Arkha. Dengan cepat Arkha mengangkat tubuh bocah itu dan menggendongnya.


"Maafkan, Papa dari tadi belum sempat bersama Una," ucap Arkha sambil mencium pipi Baruna.


Arkha memperhatikan penampilan Baruna yang saat itu terlihat sangat menawan. Mama Yuna juga sudah memilihkan setelan kemeja dan jas untuk bocah itu sehingga Baruna terlihat sangat gagah dengan pakaian yang dikenakannya.


"Anak Papa sangat tampan," puji Arkha sambil tersenyum manis menatap wajah imut Baruna.


"Papa juga ganteng," sahut Baruna jujur yang membuat Arkha semakin gemas dan seketika mengusap rambut putranya itu.


Seharian menjalani semua prosesi pernikahannya, Arkha dan Mutiara memang belum sempat bersama putranya hari itu. Mama Yuna dan Sandra lah yang menjaga Baruna selama Arkha dan Mutiara menjalani semua acara. Baruna pun seharian itu sangat patuh kepada Mama Yuna. Meski kakinya yang tidak pernah bisa diam selalu berlari kesana-kemari, tetapi anak itu tidak merepotkan atau mengganggu siapapun. Seolah ikut merasakan kebahagiaan kedua orang tuanya, Baruna sangat anteng menuruti semua perintah Omanya.


"Una ..., sekarang Una sama Oma, ya! Papa sama Mama harus segera pergi," sela Mama Yuna segera mengambil alih Baruna dari gendongan Arkha. Bocah kecil itupun tetap patuh tidak membantah perintah Mama Yuna.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat sekarang!" perintah Mama Yuna. Dia sudah sangat tidak sabar ingin menunjukkan kejutan yang sudah ia persiapkan untuk bulan madu Mutiara bersama putranya.


Arkha dan Mutiara hanya saling menatap dan tersenyum. Mereka sama sekali tidak tahu kejutan apa yang tengah direncanakan Mamanya untuk bulan madu mereka.


Tanpa bertanya dan sambil terus bergandengan tangan mesra, Arkha bersama Mutiara berjalan mengikuti langkah Mama Yuna menuju ke lobby hotel itu diiringi oleh beberapa orang kerabat termasuk juga Rendy dan Sandra.


Tiba di pick up zone di depan lobby hotel, dua buah premium MPV yang telah dihias dengan bunga sudah siaga menunggu kedatangan mereka.


Arkha dan Mutiara masuk di satu mobil, sedangkan Mama Yuna bersama Baruna, Sandra dan Rendy di satu mobil yang lain.


Mobil itu kini melaju beriringan di tengah padatnya jalanan kota malam itu.


"Sayang, apa kamu tahu apa rencana yang Mama siapkan untuk bulan madu kita?" tanya Arkha kepada Mutiara saat mereka berdua sudah ada di dalam mobil yang berjalan lambat di tengah kemacetan.


"Aku nggak tahu, Bang," sahut Mutiara lirih sambil bersandar manja di bahu Arkha.


"Ah ..., kemanapun itu aku tidak peduli, yang penting malam ini kita bisa berduaan sepanjang malam," sambung Arkha sambil menatap wajah Mutiara sangat dekat dan mengedipkan sebelah matanya. Setelah menyelesaikan semua acara hari itu, sudah pasti kini kesempatan mereka akan bisa bermesraan sepanjang malam.


Dengan senyum genit dan pupil matanya yang melebar, Arkha mendekatkan wajahnya ke wajah Mutiara yang juga ikut membalas senyumnya. Tanpa mempedulikan sopir yang tengah duduk di depan mereka, Arkha mencium mesra bibir Mutiara dan Mutiara pun tidak ingin menolaknya. Suara khas kecupan yang sangat dalam menggema di dalam mobil itu dan sang sopir hanya bisa menelan salivanya menyaksikan kemesraan dua orang yang tengah dimabuk asmara di belakangnya.


Tanpa terasa mobil itu kini sudah sampai di tujuan. Arkha membelalakkan matanya ketika mobil itu justru memasuki area pelabuhan pribadi milik perusahaannya.


"Hah ...! Kenapa Mama membawa kita kesini?" gerutu Arkha. Dengan rasa penasaran dan sambil terus menggandeng tangan Mutiara, Arkha perlahan turun juga dari mobil itu.


Mama Yuna, Baruna, Sandra dan Rendy sudah lebih dahulu sampai di tempat itu. Mereka berdiri menunggu Arkha dan Mutiara di sebuah koridor yang menuju ke dermaga di pelabuhan itu. Akan tetapi, suasana disana cukup gelap saat itu, hanya beberapa lampu saja yang menyala temaram.


"Kenapa Mama membawa kami kesini?" tanya Arkha heran.


"Sudah jangan banyak tanya, kalian sekarang masuk saja," ujar Mama Yuna sambil menengadahkan tangannya mempersilahkan Arkha dan Mutiara masuk terlebih dahulu ke dermaga itu.

__ADS_1


Saat akan melangkah masuk, Arkha langsung tercengang, sepanjang jalan di dermaga itu ternyata sudah di alasi karpet merah dan hiasan bunga-bunga memenuhi setiap sudut yang ada di sana. Beberapa lilin besar juga menghiasi pinggiran jalan sehingga redupnya lampu tersamarkan oleh lilin yang menyala terang.


Keduanya terus berjalan di dermaga itu dan Arkha langsung tersenyum sumringah saat melihat sebuah kapal pesiar mewah sedang berlabuh di sana.


Kapal pesiar yang biasanya hanya melayani para wisatawan untuk paket one day cruise itu, kini sudah di buy out oleh Mama Yuna khusus untuk bulan madu putranya bersama Mutiara.


"Oh, jadi ini kejutan dari Mama?" Arkha berdecak kagum, selain di buy out, kapal pesiar mewah itu juga sudah dihiasi banyak bunga dan lilin di seetiap pinggir deck.


Beberapa orang pelayan berpakaian seragam ala sailor moon yang akan bertugas melayani Arkha dan Mutiara di kapal itu, juga terlihat sudah berdiri berjejer di depan kapal dan siap menyambut kedatangan pasangan yang akan berbulan madu di sana.


"Selamat ya, Tuan Arkha dan Nyonya Mutiara. Semoga bulan madunya menyenangkan." Sandra menjabat tangan Arkha dan Mutiara bergantian.


"Makasih banyak ya, San." Mutiara menyambut ucapan selamat dari Sandra dengan tersenyum ramah dan keduaanya cipika-cipiki.


"Selamat bersenang-senang, Bos! Ingat siapkan staminanya, gas terus jangan kasih kendor," kelakar Rendy berbisik di telinga Arkha sambil menjabat erat tangannya.


"Kau juga harus segera menyusul, Rendy! Jangan jadi jomblo akut terus, kasihan pedang pusakamu, kan sesekali harus diasah juga!" balas Arkha tersenyum mengejek Rendy.


Kedua pria itu lalu tersenyum terkekeh menyadari obrolan dewasa mereka yang sangat konyol.


"Una, Mama sama Papa akan pergi sekarang. Una jangan nakal, ya. Jagain Oma!" Mutiara mengusap kepala Baruna sambil mencium pipinya.


Baruna yang saat itu di gendong oleh Mama Yuna hanya menganggukkan kepalanya seolah paham dan tidak keberatan saat orang tuanya akan meninggalkan dia untk beberapa hari lamanya.


"Kalian berdua tidak perlu merisaukan Baruna. Cucuku ini sangat penurut. Mama akan menjaganya dengan baik selama kalian berbulan madu," ujar Mama Yuna meyakinkan agar Arkha dan Mutiara lebih tenang menikmati masa bulan madunya tanpa perlu mengkhawatirkan Baruna.


"Terimakasih banyak ya, Ma."


Arkha dan Mutiara mencium tangan Mama Yuna secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2