
Sambil menggendong Baruna, wanita itu berjalan cepat menyusuri tepi jalan meninggalkan area taman kota dan melintasi sebuah ruas jalan yang saat itu terlihat sepi.
"Maaf, Bu. Mau dibawa kemana anak saya?" teriak Mutiara ikut menyusul wanita itu. Meski tidak ada tanda wanita itu akan menyakiti Baruna, namun Mutiara tetap khawatir karena wanita itu sepertinya tidak waras, dia takut bisa saja wanita itu akan melakukan hal-hal yang terduga terhadap putranya.
Merasa tidak di respon, Mutiara lalu mempercepat langkahnya mendahului wanita itu dan menghadang jalannya.
"Saya mohon anak saya jangan dibawa kemana-mana, Bu," pinta Mutiara.
Dia mengulurkan tangannya dan mencoba merebut kembali Baruna dari gendongan wanita itu.
"Minggir! jangan halangi jalanku, dia Kaka ku, aku akan mengajaknya pulang dan kau jangan coba-coba mengambilnya dariku!" ketus wanita itu sambil mendorong pundak Mutiara agar tidak menghalangi jalannya. Supaya Mutiara tidak merebut Baruna darinya, wanita itu kemudian berlari cepat meninggalkan Mutiara.
"Tunggu, Bu. Kembalikan anak saya!" teriak Mutiara ikut berlari mengejar wanita yang kini menyeberangi jalan di depannya.
Mutiara semakin takut jika wanita itu benar-benar ingin membawa Baruna pergi, dia mempercepat gerak kakinya dan setelah berhasil menyusul wanita itu Mutiara merebut paksa Baruna dari gendongannya, kemudian berlari cepat ke seberang jalan menghindar dan menjauhi wanita itu.
Wanita itu diam di tempat dan menangis meraung-raung saat melihat Mutiara membawa pergi Baruna darinya.
"Kembalikan Kaka ku....! Huuaaa...hiks..hiks...!"
Wanita itu terus menangis dan tatapan matanya kembali kosong, dia berjalan pelan menyeberangi jalan untuk menyusul Mutiara.
"Dimana Kaka ku, dimana? Kembalikan dia padaku!" teriak wanita itu sambil melangkah tertatih tanpa arah.
Di seberang jalan Mutiara menghentikan laju kakinya, matanya masih tertuju ke arah wanita itu yang terlihat begitu sedih ketika dia mengambil Baruna darinya yang membuat perasaan iba muncul di hati Mutiara.
Saat bersamaan, terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi melintas di jalan itu, saat Mutiara menoleh ke jalan yang tengah dilalui wanita itu, posisi mobil sudah sangat dekat dengannya.
"Ibu, awas....!" jerit Mutiara sambil berlari secepat kilat mendekati wanita yang saat itu masih berdiri di tengah jalan.
__ADS_1
"Stop....!" teriak Mutiara dengan sekencang-kencangnya menghentikan mobil yang tengah melesat cepat ke arah wanita itu..
Triiiiitttttt...!
Suara rem mobil itu berderit dan memekik kencang. Beruntung mobil itu berhasil berhenti tepat di hadapan Mutiara juga wanita itu.
"Woy..., kalau nyebrang lihat-lihat dong, kalian mau mati, ya!" pekik seorang pria sambil mendongakkan kepalanya melalui kaca mobilnya yang hampir saja menabrak mereka.
"Maaf, Pak. Maafkan kami," mohon Mutiara sambil menempelkan tangannya di dadanya dan mengatur nafasnya yang berderu kencang karena tegang dan takut membayangkan mobil itu nyaris saja menabraknya. Sambil menenangkan dirinya, Mutiara lalu memapah wanita itu berjalan perlahan ke pinggir jalan.
Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu tampak berkerumun menyaksikan ketegangan yang baru saja terjadi.
"Hampir saja orang gila itu tertabrak."
"Iya, untung saja wanita yang bawa anak itu menolongnya," bisik-bisik diantara orang-orang itu.
Dari ujung jalan yang lain, nampak dua orang wanita berpakaian perawat berlari menyeruak diantara kerumunan orang-orang disana.
"Jangan bawa pergi Kaka, dia anakku, hiks...., hiks...," wanita itu masih menangis dan tatapannya semakin nanar seperti tidak ada rasa bersalah karena sudah menimbulkan suasana mencekam di sana.
Mutiara memeluk erat tubuh Baruna yang juga terlihat tegang setelah kejadian itu, namun bocah itu tidak menangis Baruna hanya diam dan makin erat mengalungkan tangannya di bahu Mutiara.
"Terimakasih banyak karena Mbak sudah menyelamatkan pasien kami," ujar salah seorang suster itu kepada Mutiara.
"Huuhh.., untung saja Nyonya Yuna tidak apa-apa," ucap suster yang satunya sambil memegang tangan wanita yang tidak lain adalah Mama Yuna itu.
"Apa Ibu ini pasien rumah sakit jiwa?" tanya Mutiara kepada suster itu.
"Iya benar, Mbak. Ibu ini sudah empat tahun dirawat di rumah sakit kami, tapi tadi beliau lepas dari pengawasan kami dan keluar dari paviliunnya," jelasnya.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih banyak karena Mbak sudah menyelamatkannya." Suter itu kembali membungkuk mengucapkan terima kasih kepada Mutiara.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nyonya Yuna, kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan rumah sakit kami. Nyonya ini adalah ibu dari donatur terbesar rumah sakit kami, kalau dia sampai terluka pasti Tuan Kaka akan marah besar dan mencabut izin rumah sakit kami. Entah bagaimana nasib kami para pekerja kalau sampai rumah sakit kami ditutup," tutur suster itu bercerita panjang lebar.
"Oh, jadi Kaka itu nama putra Nyonya ini ya, Suster? pantas saja dia selau memanggil anak saya dengan panggilan Kaka," angguk Mutiara, dia mulai bisa memahami kenapa Mama Yuna terus memanggil Baruna dengan panggilan Kaka.
"Baiklah, Suster. Saya permisi."
Karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu diperpanjang di sana, Mutiara bermaksud kembali ke warung tempatnya bekerja karena Baruna juga sudah waktunya makan.
"Jangan pergi! jangan bawa Kaka ku!" teriak Mama Yuna lagi sambil meronta melepaskan tangan suster yang memegangnya.
"Nyonya, anak itu bukan Kaka. Ayo sekarang kita kembali ke rumah sakit!" ajak suster itu sambil menahan tubuh Mama Yuna.
"Tidak! aku mau Kaka, aku mau dia ikut pulang bersamaku! huaaa...huaaa...," bentak Mama Yuna sambil mengeraskan tangisannya dan terus meronta-ronta mencoba lepas dari suster-suster yang memegang kedua lengannya. Suster itu merasa kewalahan menangani Mama Yuna yang terus meronta dan menolak diajak kembali ke rumah sakit.
"Maaf, Mbak. Apa Mbak bisa bantu kami membujuknya agar mau kami ajak kembali ke rumah sakit?" pekik suster itu menghentikan langkah Mutiara.
Mendengar permintaan suster itu, Mutiara yang semula berniat meninggalkan tempat itu semakin merasa iba. Dia tidak tega melihat keadaan Mama Yuna yang terus menangis dan merengek agar Baruna ikut bersamanya.
"Suster, apa rumah sakitnya jauh dari sini?" tanya Mutiara kembali mendekati kedua suster tadi.
"Nggak, Mbak. Rumah sakitnya di ujung jalan itu, apa Mbak bersedia ikut kami ke rumah sakit untuk mengantarkan Nyonya Yuna?" harap suster itu dengan setengah memelas.
"Baiklah saya bersedia," jawab Mutiara.
"Kaka, sini! Kaka sama Mama," ucap Mama Yuna, setelah Mutiara bersedia ikut mengantarnya kembeli ke rumah sakit, dia sudah bisa tersenyum dan menghentikan tangisnya sambil mengambil alih Baruna dari gendongan Mutiara.
"Ama...," seru Baruna tidak menolak saat Mama Yuna ingin menggendongnya.
__ADS_1
Setelah Baruna digendongnya, Mama Yuna langsung menurut ikut berjalan bersama dua suster itu untuk kembali ke paviliun rumah sakit tempatnya dirawat. Mutiara juga tetap mengikutinya, namun dia merasa sangat heran mengapa Baruna terlihat begitu dekat dengan Nyonya Yuna.