Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #21 Ciuman Pertama


__ADS_3

Tak jauh dari hutan kecil yang merupakan perbatasan kampung nelayan itu, nampak seorang pria terus mengawasi Segara dan Mutiara yang sudah jauh meninggalkan tempat itu dan kini sudah masuk di wilayah kampung mereka. Pria itu nampak sangat kesal, ia harus menelan pil pahit karena tidak berhasil menjalankan rencananya mencelakai dan menculik Mutiara.


"Sialan....., benar benar sial! kenapa mereka selalu saja bisa lolos! Segara tidak bisa aku anggap enteng, laki laki itu ternyata bernyali besar!" umpat pria itu berdecak nanar, sambil melepaskan penutup wajahnya dengan kasar dan menghempaskannya ke tanah.


Pria itu tak lain adalah Togar, ia bersama anak buahnya menyamar menjadi perampok dengan tujuan membalaskan sakit hatinya kepada Mutiara. Togar memang sudah dari awal berencana menculik Mutiara, namun di luar dugaannya, Segara justru dengan sangat mudah melumpuhkan anak buahnya, bahkan Togar sendiri ciut nyali dibuatnya.


"Segara...! aaahhh....brengsek...!" teriak Togar dengan sangat berang.


"ini semua gara gara laki laki sialan itu! aku harus bisa menyingkirkannya dari kampung ini!" sangkaknya.


Togar masih belum bisa menghilangkan kekecewaannya karena penolakan Mutiara, sehingga kini yang ada hanya kebencian yang membuatnya semakin hilang akal.


****


Segara dan Mutiara sudah tiba di rumahnya. Setelah memarkirkan motornya, Mutiara langsung memapah Segara menuju kamar mereka dan menyandarkan tubuh Segara di tepi atas tempat tidur. Wajah Segara nampak pucat karena banyak mengeluarkan darah dan menahan rasa perih akibat lukanya.


"Ada apa dengan Segara, apa yang terjadi?" tanya Imran yang nampak terkejut melihat Mutiara masuk ke kamarnya bersama Segara yang terlihat meringis kesakitan.


Imran semakin kaget saat melihat luka di lengan kanan Segara dan banyak mengeluarkan darah.


"Kau terluka, Gara! kenapa bisa sampai seperti ini?" cemasnya dengan wajah yang nampak sangat khawatir.


"Kami diserang kawanan perampok, Pak! mereka membawa senjata tajam dan mereka berhasil melukai Bang Gara!" tutur Mutiara dengan perasaan risau.


"Awalnya Bang Gara berhasil mengalahkan mereka, tapi pimpinan perampok itu melukai Bang Gara dengan cara curang!" tambah Mutiara dengan nada kesal melanjutkan bercerita kepada Imran.


"Syukurnya kalian bisa kembali pulang, tempat itu dari dulu memang rawan perampokan dan begal, karena disana sangat gelap sepi." Imran ikut bercerita.


"Pantas saja perasaan bapak tadi tidak enak, Bapak sangat mengkhawatirkan kalian karena sudah malam belum juga pulang!" ujarnya lagi.

__ADS_1


"Maafkan kami, Pak. Tadi kami jalan jalan sebentar di taman kota, kami lupa waktu, sampai kami pulang kesorean!" Mutiara menyesali kesalahannya.


"Bapak tidak menyalahkan kalian, ini pertama kalinya kalian keluar berdua, bapak bisa memahami kalau kalian ingin menghabiskan lebih banyak waktu jalan jalan disana!" Imran sama sekali tidak ingin menghakimi Mutiara dan Segara.


"Bapak percaya kalau kau bisa menjaga Mutiara dengan baik, Gara. Bapak hanya mencemaskan keadaanmu!" Imran menoleh ke arah Segara yang masih meringis menahan perih di lukanya.


"Tidak apa apa, Pak! ini hanya luka kecil saja, jangan terlalu mengkhawatirkanku." tukas Segara agar Imran tidak terlalu khawatir dengan keadaannya.


Imran berjalan cepat menuju ruang tengah untuk mengambil kotak P3K dan menyerahkannya kepada Mutiara.


"Ra, kau harus mengobati luka suamimu dan balut segera dengan perban agar tidak infeksi!" perintah Imran kepada Mutiara.


"Baik, Pak!" Mutiara mengangguk dan meraih kotak itu dari tangan Bapaknya. Imran lalu meninggalkan putri dan menantunya berdua di kamar.


Mutiara membantu Segara membuka jaketnya.


"Ini pasti sakit sekali ya, Bang?" tanya Mutiara saat membersihkan luka Segara dengan cairan antiseptik pembersih luka.


"Iya sedikit perih, Ra!" erang Segara. "Hanya tergores sedikit saja kok, palingan besok sudah sembuh." sangkal Segara semata mata hanya agar Mutiara tidak terlalu risau dengan keadaannya. Setelah dibersihkannya, luka di lengan Segara lalu di balut dengan perban oleh Mutiara, sehingga darah tidak lagi keluar dari luka itu.


"Abang istirahat ya, aku mau siapkan makan malam dulu!" Mutiara berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum melihat Segara yang juga sudah bisa tersenyum kepadanya karena perih lukanya sudah berkurang.


"Tunggu dulu, Ra!" Segara memegang erat tangan Mutiara mencegahnya keluar dari kamar itu. Mutiara kembali duduk di tepi ranjang di sebelah Segara


"Makasih banyak karena sudah selalu merawatku, Ra!" ucap Segara sambil menatap wajah Mutiara dengan senyum manisnya.


"Sudah kewajibanku sebagai istri untuk selalu merawatmu, Bang! Lagian Abang terluka juga karena melindungiku!" ucap Mutiara juga ikut tersenyum membalasnya.


Segara merangkul pundak Mutiara dan membawanya ke dalam dekapannya, tanpa rasa canggung Mutiara ikut membenamkan kepalanya di dada bidang Segara dan Mutiara dapat mendengar jelas irama detak jantung Segara tepat di telinganya tanpa penghalang, karena Segara tengah bertelanjang dada saat itu.

__ADS_1


Segara mengusap lembut kepala Mutiara dan membelai rambutnya. Segara mengangkat wajah Mutiara dan menyentuh kedua pipi Mutiara dengan kedua telapak sambil terus menatap wajah cantik istrinya yang terlihat sangat polos.


"Ra, jangan pernah bosan merawatku seperti ini ya! dan aku juga ingin senantiasa melindungimu, aku ingin kita selalu bersama dalam suka maupun duka!" ucap Segara sambil terus menatap wajah Mutiara.


"Aku sayang sama kamu, Ra." tambahnya lagi dengan binar mata jujur mengungkapkan semua isi hatinya.


"Aku juga sayang sama Bang Gara." jawab Mutiara juga ikut jujur, tak ingin mengingkari semua perasaannya terhadap Segara.


Segara mengecup lembut kening Mutiara sambil kembali membelai rambutnya. Mutiara kembali membenamkan kepalanya ke dada Segara dan Segara juga kembali memeluknya sangat erat.


"Aku mau ke dapur, Bang. Aku harus masak untuk makan malam kita!" tiba tiba Mutiara teringat kalau dia harus memasak untuk makan malam mereka dan Mutiara segera melepaskan pelukan Segara. Tetapi Segara tidak langsung melepaskan pelukannya, ia kembali menatap mata Mutiara dengan tatapan penuh arti.


Segara mendekatkan wajahnya ke wajah Mutiara lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir Mutiara yang seketika membuat Mutiara terperangah. Mutiara langsung menundukkan wajahnya yang berubah merah merona karena tersipu malu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bibirnya disentuh oleh bibir laki laki dan jantung Mutiara berdebar sangat kencang karenanya. Segara hanya tersenyum melihat wajah Mutiara yang tiba tiba bersemu merah setelah ciuman pertama mereka.


"Aku mau masak, Bang!" ucap Mutiara tergagap karena Segara masih menatap matanya dengan senyumnya yang begitu menggoda, lalu dengan cepat ia berdiri dan meninggalkan Segara sendiri di kamarnya.


Mutiara melangkah ke dapur dan mulai mempersiapkan bahan bahan yang akan dimasaknya.


"Aku harus memasak sesuatu yang istimewa untuk Bang Gara!" gumamnya.


Mutiara terus saja tersenyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja dialaminya, walau tangannya tetap dengan cekatan mulai memasak, namun pikirannya melayang jauh, ciuman pertamanya bersama Segara membuatnya mabuk.


"Ehemm...!" Imran yang memperhatikan tingkah Mutiara yang tidak biasa saat itu, bergegas menghampirinya ke dapur.


"Kamu kenapa, Ra? Bapak lihat senyum senyum terus dari tadi!" tanya Imran dengan senyum khasnya menggoda putrinya.


"Nggak apa apa, Pak! aku hanya senang tadi siang bisa jalan jalan di kota!" bohongnya.


Imran hanya tersenyum mendengar pengakuan Mutiara, dengan sangat mudah ia menyadari kalau putrinya saat itu sedang jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2