
Waktu terus berjalan, hari demi hari terus berlalu.
Tanpa terasa sudah lebih dari sebulan Segara meninggalkan Mutiara di kampung itu. Setelah mengetahui kehamilannya, Mutiara sudah mulai bisa lebih semangat menjalani hari harinya. Ada secercah harap di hatinya bahwa Segara akan segera pulang untuk kembali padanya apabila mengetahui saat ini ia tengah mengandung buah hati mereka.
Siang itu Mutiara duduk beristirahat di sebuah bangku di warungnya yang paling dekat dengan pantai, kehamilannya membuatnya cepat merasa lelah, walau pekerjaannya belum selesai, namun ia memilih beristirahat sebentar.
"Bang Segara, kapan kamu akan pulang, Bang?" pertanyaan itu selalu ada dalam hati Mutiara. Sambil tersenyum, Mutiara mengusap perutnya yang masih tampak biasa biasa saja, belum terlalu kentara kalau saat itu ia tengah mengandung.
Senyum itu terus terulas di bibirnya, dan Mutiara semakin melebarkan senyumnya tatkala memandang ke tengah laut dan melihat sebuah kapal mendekati dermaga.
"Bang Segara semoga kali ini kamu benar benar pulang, Bang!" gumamnya penuh harap.
Tak lama kemudian, kapal itu pun sudah berlabuh di dermaga, namun Mutiara merasa tidak ingin menghampiri kapal itu.
Mutiara hanya memperhatikan kapal itu dari tempat duduknya, ia memilih menyimpan harapannya, karena takut akan kecewa apabila kapal yang datang itu ternyata tidak membawa suaminya pulang.
Tak lama setelah kapal itu bersandar, Mutiara melihat Genta hanya sendiri berjalan cepat turun dari kapal itu. Senyum hambar kembali terpasang di bibirnya, dia semakin yakin Segara memang tidak ikut pulang bersama Genta saat itu.
Selain Genta, hanya ada dua anak buahnya yaitu Abey dan Johan yang terlihat turun dari kapal itu setelah Genta, keduanya membondong banyak barang barang kebutuhan sehari hari dan langsung membawanya ke dalam ruangan di warung milik Mutiara.
"Mutiara, aku datang lagi!" hambur Genta saat melihat Mutiara yang tengah duduk sendiri melamun di salah satu bangku di warungnya.
Genta lalu ikut duduk di bangku yang lain di sebelah Mutiara.
"Bagaimana kabarmu, Ra? sekarang kamu sudah sehat, kan?" Genta langsung bertanya kabar saat ia sudah duduk di sebelah Mutiara.
"Pasti Bang Segara belum bisa ikut lagi ya, Bang?" Bukannya menjawab pertanyaan Genta, Mutiara justru balas bertanya kepada Genta.
"Iya, Ra. maklumlah Bos Arkha masih sangat sibuk di kota, makanya dia menyuruhku kesini lagi menemuimu." jawab Genta sambil menyulut sebatang rokoknya.
"Bos Arkha? siapa yang Bang Genta maksud?' tanya Mutiara sedikit heran, yang dia tanyakan pada Genta adalah suaminya, tapi mengapa Genta justru menyebut nama orang lain.
__ADS_1
"ee..ee.. itu anu?" Genta tergagap, pertanyaan Mutiara seketika membuat ia tersadar akan kecerobohannya yang sudah keceplosan berbicara dan menyebut nama Arkha.
"Bos Arkha itu nama Bos kami, orang yang punya perusahaan tempat aku dan Segara bekerja sekarang!" bantah Genta dengan cerita bohongannya.
"Oh, jadi maksud Abang, Bang Segara belum bisa ikut kesini karena Bos Abang yang bernama Arkha itu masih memberinya banyak pekerjaan, begitu ya, Bang?" tanya Mutiara mencoba menyimpulkan sendiri maksud ucapan Genta.
"Aaaa... iya benar, itu maksudku, Ra!' sahut Genta terkekeh, dia yakin akan sangat mudah membohongi Mutiara, karena gadis itu baginya sangat lugu, pasti dia akan sangat mudah mengiyakan apapun alasan yang dikarangnya.
"Barang barang itu Bang Segara yang membelinya lagi ya, Bang?" tanya Mutiara lagi.
Dia semakin heran dengan kedatangan Genta bersama anak buahnya yang selalu membawakan banyak barang barang kebutuhan sehari hari untuknya, dan pastinya untuk membeli barang barang itu dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
"Iya, Ra. Aku memang sengaja mampir di pulau ini lagi untuk membawa barang barang itu, semua itu titipan dari Segara untukmu," beber Genta sambil menyemburkan asap rokok dari mulutnya.
"Buatkan aku kopi dong, Ra! dari tadi aku duduk disini kamu belum menawari aku minum," ujar Genta mengalihkan.
Mutiara hanya tersenyum tipis menanggapi permintaan Genta lalu bergegas masuk ke warungnya hendak membuatkan tiga cangkir kopi untuk Genta, dan juga kedua anak buahnya.
Tak lama kemudian, Mutiara keluar dari dalam warungnya dengan tiga cangkir kopi dan menyuguhkannya kepada Abey dan Johan terlebih dahulu.
"Ini Bang, kopinya!" seru Mutiara menyodorkan kopi untuk Genta sambil kembali ikut duduk di samping Genta.
"Disini jaringan GSM tidak ada, Bang. Ponselmu nggak akan berfungsi disini!" cibir Mutiara saat melihat Genta begitu asyik menatap layar ponselnya.
"Iya, Ra. Ponsel ini memang tidak bisa dipakai untuk menelepon di sini, tapi ponsel ini bisa aku pakai untuk memotret wajah cantikmu itu!" seloroh Genta sambil membuka kamera di ponselnya dan langsung mengambil gambar wajah Mutiara tanpa menunggu izin terlebih dahulu dari Mutiara.
"Foto kamu ini akan aku tunjukkan kepada suamimu saat aku kembali ke kota, Ra! dia sudah sangat merindukanmu" sambung Genta sambil melihat kembali hasil fotonya.
"Kamu memang cantik, Ra. Saat nggak senyum saja kamu terlihat cantik, apa lagi kalau senyum, ehmm... pantas saja Bos Arkha begitu tergila gila sama kamu," ucap Genta memberi pujian kepada Mutiara.
"Kok Bos Arkha lagi sih, Bang? suamiku kan Segara, kenapa dari tadi Abang menyebut nama Bos Abang itu terus?" protes Mutiara.
__ADS_1
Genta kembali terperanjat mendengar ucapan Mutiara yang memprotesnya, "astaga, aku keceplosan lagi" batinnya.
"Maaf, Ra. Maksudku suamimu, Segara!" tangkis Genta.
"Ayo, Ra. Aku mau foto kamu lagi, Segara nanti pasti akan sangat senang setelah melihat foto fotomu!" sosor Genta, ia ingin segera mengalihkan kecurigaan Mutiara karena sudah dua kali ia keceplosan menyebut nama Arkha.
Mendengar alasan Genta, tanpa rasa curiga Mutiara menyetujui saja permintaan Genta, ia langsung berpose centil sambil tersenyum manis menghadap ke arah kamera di ponsel Genta.
"Tiga, dua, satu... ok bagus!" seru Genta sambil terus memotret wajah cantik Mutiara.
"Aku boleh lihat hasil fotonya nggak, Bang?" pinta Mutiara sambil melirik layar ponsel Genta.
"Ini, lihatlah. Kamu memang benar benar cantik, Ra. Semua hasil fotonya terlihat cantik." Genta terus memuji, dalam hatinya ia memang sangat mengagumi kecantikan dan keluguan Mutiara. Genta lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Mutiara dan Mutiara hanya tersenyum melihat foto imutnya di ponsel Genta.
"Ohya, Bang. Foto Bang Segara ada nggak di ponsel Abang ini? apa aku boleh lihat juga?" pinta Mutiara lagi.
"Oh ada, Ra. Ini kamu lihat saja!" Genta menyerahkan ponselnya kepada Mutiara sambil menunjukkan foto Segara saat duduk di deck kapal di hari mereka baru saja akan berangkat ke kota sebulan yang lalu.
"Bang Segara, aku sangat merindukanmu, Bang!' gumam Mutiara sambil tersenyum dan netranya terus menatap foto suaminya di layar ponsel Genta.
"Ra, apa aku boleh pinjam kamar kecil, aku kebelet!" bisik Genta tiba tiba. Wajah Genta nampak gelisah, dia merasa ada yang tidak nyaman di perutnya.
"Iya, silahkan, Bang. Itu kamar mandinya ada di dalam di sebelah dapur!" sahut Mutiara sambil menunjuk ke arah ruangan di warungnya.
Dengan tergesa, Genta langsung berlari menuju kamar kecil di warung Mutiara, karena rasa kebeletnya yang tak tertahankan.
Mutiara masih duduk di bangkunya sambil terus menatap foto Segara di ponsel Genta. Tanpa sadar jarinya menyentuh layar ponsel itu sehingga foto itu bergeser ke foto berikutnya, Mutiara kembali tersenyum, foto suaminya masih ada di foto berikutnya sehingga ia menjadi penasaran dan jarinya semakin lincah terus menggeser foto itu satu per satu.
Mutiara membulatkan matanya, saat foto itu berpindah, selalu foto wajah suaminya yang dilihatnya, foto Segara yang sedang bersama Genta tentunya, namun dengan penampilan yang sangat berbeda. Mutiara menghentikan jarinya menggeser foto foto itu, diperhatikannya tanggal yang tertera di salah satu foto yang ada gambar wajah suaminya bersama Genta dan juga Rendy.
"Bang Segara, apa ini dia? foto ini diambil jauh sebelum Bapak menemukannya di laut. Apa ini foto dia sebelum hilang ingatan?" Mutiara terperanjat, dia seketika curiga kalau Genta memang sudah mengenal Segara sebelum ia hilang ingatan.
__ADS_1