
Arkha mengusap lembut kepala Baruna yang juga terlihat senang saat ada di pangkuannya.
"Baruna, namamu bagus sekali," puji Arkha sambil terus tersenyum menatap wajah lugu bocah itu.
"Kenapa aku seperti bercermin pada diriku sendiri saat memandangi wajah anak ini," batin Arkha. Dengan kedua telapak tangannya, ia menyentuh kedua pipi Baruna dan matanya makin lekat menatap wajah malaikat kecil dihadapannya tanpa sekalipun berkedip. Baruna juga tersenyum, untuk sesaat kedua manusia yang sebenarnya memiliki hubungan darah itu hanyut dalam sebuah ikatan yang tidak mereka sadari.
"Kamu lihat itu, wajah Baruna benar-benar mirip dengan Tuan Kaka," bisik seorang suster kepada kawannya.
"Iya, kamu benar. Mereka memang sangat mirip, seperti ayah dan anak," sahut suster yang satunya juga dengan berbisik.
"Bukan cuma kalian yang punya pikiran seperti itu, saya dari pertama kali melihat anak itu sudah menyadarinya," sela dokter itu ikut berbisik menimpali dua susternya.
Dari awal orang-orang di rumah sakit itu memang menyadari kemiripan Baruna dengan Arkha. Namun, mereka semua tidak ada yang mempunyai dugaan kalau sebenarnya mereka punya hubungan darah. Bagaimana mungkin mereka mengira seperti itu, sedangkan perbedaan antara keduanya sangatlah kontras. Mutiara yang mereka kenal bernama Ara hanyalah seorang wanita kampung yang sederhana. Sementara Arkha, dia adalah seorang pria terpandang dan kaya raya di kota itu.
"Tuan Kaka, Nyonya Yuna masih tidur, apa Anda jadi menemuinya?" tanya dokter mengingatkan.
__ADS_1
Mendengar kata-kata dokter itu, Arkha yang masih larut dengan perasaannya bersama Baruna, hanya bisa menghela nafasnya pelan.
"Iya tentu saja," jawab Arkha singkat.
Merasa tidak ingin melepaskan Baruna darinya, Arkha lalu menggendong Baruna dan membawanya ikut menemui Mama Yuna yang tengah tidur di kamarnya.
Arkha kembali merekahkan senyum saat melihat Mamanya tidur begitu lelap dan tenang. Arkha kemudian duduk di tepi ranjang Mama Yuna sambil memangku Baruna. Arkha perlahan meraih dan menggenggam tangan wanita yang sudah melahirkannya itu, dan dia bisa melihat jelas kalau wajah Mama Yuna yang semula terlihat sangat lusuh kini sudah sedikit cerah. Selain itu, tubuhnya yang sebelumnya terlihat semakin melemah saat itu sudah jauh lebih bugar.
"Ama, Una cayang Ama!" seru Baruna sambil ikut memandangi Mama Yuna yang tertidur pulas.
"Iya, Baruna memang selalu memanggil Nyonya Yuna dengan panggilan Ama, Tuan. Itu karena Nyonya Yuna sendiri yang menyuruh Baruna memanggilnya dengan panggilan Mama," terang dokter yang terus ada mendampingi mereka saat itu.
Arkha hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Mulai sekarang Una panggil dia Oma saja, ya! dia bukan mamanya Una, dia mamanya Om," bujuk Arkha bergurau dengan bocah lugu itu.
__ADS_1
"Iya, Om. Oma! Oma Una," sahut Baruna menuruti permintaan Arkha.
"Ohya, Dokter. Apa benar Ibu dari anak ini yang akan diangkat menjadi suster pribadi untuk Mama saya?" tanya Arkha saat dia teringat kembali informasi yang disampaikan Kepala Rumah Sakit kepadanya melalui telepon sebelumnya.
"Iya benar, Tuan," jawab dokter itu.
"Siapa namanya dan apa aku bisa bertemu dengannya?"
"Nama Ibunya Baruna adalah Ara, Tuan. Tapi saat ini dia sedang mengikuti pelatihan. Sebelum mulai merawat Nyonya Yuna, Ara harus dibekali sedikit pengetahuan tentang medis," terang dokter itu.
"Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja," pinta Arkha.
"Baik, Tuan," sahut dokter itu manut. Meski sebenarnya saat melaksanakan pelatihan Mutiara tidak boleh diganggu, dokter itu tentunya tidak berani membantah keinginan Arkha.
"Suster, tolong panggil Ara kesini, Tuan Kaka ingin bertemu dengannya," perintah dokter itu kepada salah seorang suster yang ada disana.
__ADS_1
"Baik, Dok," sigap suster itu sambil melangkah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke ruang pelatihan dan memanggil Mutiara.