Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #37 Kepergian Segara


__ADS_3

Air mata Mutiara seketika tumpah saat Segara mengutarakan keinginannya untuk pergi ke kota dan bekerja disana. Mutiara menangis tersedu dipelukan Segara dan nampak sangat sedih ketika mengetahui bahwa Segara tidak akan membawanya ikut serta bersamanya pergi ke kota.


Meski tidak ingin pergi dari kampung itu, namun Segara tidak punya pilihan lain, mau tidak mau dia harus kembali ke kota untuk menyelesaikan semua urusannya dengan Alfin, sahabatnya yang telah mengkhianatinya.


"Bagaimana aku bisa hidup disini tanpamu, Bang?" isak Mutiara sambil terus memeluk suaminya. Sungguh berat baginya saat mengetahui bahwa Segara akan pergi meninggalkannya di kampung itu.


"Aku juga sangat berat meninggalkanmu, Sayang! tapi bagaimanapun juga, keputusan ini tetap harus aku jalani, ini kesempatan emas untuk kita bisa memperbaiki masa depan kita, Ra." sahut segara sambil terus mengusap kepala Mutiara yang menangis tersedu di pelukannya.


"Kenapa kau tidak bawa saja Mutiara ikut bersamamu ke kota, Segara? dia istrimu, sudah kewajibannya ikut denganmu kemanapun kau pergi. Bukankah dalam susah maupun senang, kalian harus selalu bersama?" ujar Imran memberi saran, sama halnya dengan Mutiara, ia pun merasa sedih dengan keputusan Segara yang ingin pergi meninggalkannya untuk bekerja di kota.


"Maafkan aku, Pak. Untuk sementara ini aku akan pergi sendiri dulu. Aku akan bekerja di kapal ikan milik sebuah perusahaan besar, hari hariku akan lebih banyak tinggal di atas kapal laut daripada di darat, karena itulah untuk sementara waktu aku tidak bisa membawa kalian ikut denganku." sahut Segara berbohong.


"Aku berjanji, ketika aku sudah bisa meraih impianku disana, aku pasti akan segera pulang dan menjemput kalian!" ujarnya lagi.


"Tapi berapa lama kamu akan pergi, Bang?" tanya Mutiara masih dengan tangisnya yang semakin terisak.


"Aku juga belum tahu, Ra. Secepatnya aku pasti akan pulang!" ucap Segara menyenangkan hati Mutiara, air matanya juga tak tertahankan ikut menetes membasahi pipinya, sejujurnya dalam hatinya, dia juga sangat tidak ingin mengatakan semua itu kepada Mutiara, dia tidak sanggup meninggalkan cintanya disana.


Malam itu terasa begitu singkat bagi Segara dan Mutiara, keputusaan Segara sudah bulat, besok pagi ia akan pergi ke kota bersama Genta dan Rendy.


Isak tangis Mutiara bahkan belum berhenti saat mereka sudah sama sama merebahkan tubuh mereka di atas peraduan.


"Sayang, percayalah aku pergi tidak akan lama, setelah pekerjaanku semuanya jelas disana, aku berjanji aku pasti akan menjemputmu kesini!" ucap Segara kembali berusaha menenangkan Mutiara yang terus menangis sedih mengingat besok Segara akan meninggalkannya untuk pergi ke kota.


"Bagaimana kalau setelah Abang di kota nanti, ingatanmu kembali, Bang? apa Abang akan seketika melupakanku disini?" tanya Mutiara makin sedih, dia menjadi sangat khawatir apabila ingatan Segara pulih setelah ia di kota, dia justru akan lupa padanya.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, Ra! aku tidak akan pernah melupakanmu dan juga Bapak disini, aku berhutang nyawa kepada kalian berdua, seumur hidupku aku tidak akan bisa membalasnya!" sahut Segara sambil mengusap air mata di pipi wanita yang sangat dicintainya itu.


"Sayang, sabarlah. Jaga selalu hatimu disini untukku, dan aku juga akan menjaga hatiku untukmu, kita pasti akan bisa melewati semua ini dengan mudah. Aku sangat mencintaimu, Ra! dan demi cintaku aku pasti akan pulang untuk memelukmu lagi secepatnya, Sayang!"


"Apa aku bisa pegang semua janjimu itu, Bang?"


"Iya tentu saja, Sayang! aku pasti akan pulang dan kita akan bersama lagi untuk selamanya."


"Aku juga sangat mencintaimu, Bang!" sahut Mutiara dengan raut wajah pasrah, sedikit demi sedikit ia berusaha mengurangi kesedihannya, ada satu hal yang membuatnya percaya yaitu cinta, apabila Segara memang benar benar mencintainya, Segara pasti akan kembali pulang untuknya.


Sesaat suasana haru menyelimuti pasangan itu, Segara terus menatap mata Mutiara yang terlihat sembab karena tak henti hentinya menangis. Segara mengusap wajah sayu itu dengan lembut, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan hangat di bibir Mutiara. Kecupan yang untuk sesaat mampu membuai mereka ke dalam kehangatan cinta mereka.


Untuk terakhir kalinya sebelum Segara pergi, mereka hanyut dalam manisnya gairah cinta mereka, isak tangis Mutiara berubah menjadi d*sahan hangat malam itu, keduanya hanyut dalam panasnya kemesraan yang selalu mereka rengkuh bersama selama ini.


"Aku pasti akan sangat merindukan semua ini, Sayang." ucap Segara sambil memeluk Mutiara sesaat setelah keduanya sama sama menikmati puncak kehangatannya malam itu.


"Jangan berkata seperti itu, Sayang! aku sangat mencintaimu, cintaku tulus kepadamu, dan bukan hanya karena nafsu." sahut Segara sambil kembali mencium bibir Mutiara dengan penuh kehangatan.


****


Malam berlalu begitu cepat, suara deburan ombak di dermaga pagi itu terasa membawa kesedihan yang sangat dalam bagi Mutiara.


Segara sudah bersiap akan pergi ke kota.


"Bapak, aku titip Mutiara ya, Pak!" ucap Segara sambil memeluk Imran dengan sangat erat.

__ADS_1


"Tolong jaga dia untukku dan aku pasti akan segera pulang!" tambahnya lagi seraya meraih tangan mertuanya itu dan menciumnya sebagai salam perpisahan.


"Iya, Segara. Bapak doakan kamu sukses di kota, dan segeralah pulang, kami akan sangat merindukanmu!" ujar Imran dengan matanya yang berkaca kaca sambil menepuk pundak menantunya itu.


Segara kembali mendekati Mutiara yang masih terisak, lalu memeluknya sangat erat.


"Kamu jaga diri baik baik ya, Sayang. Percayalah aku pasti akan segera kembali, doakan semua pekerjaanku lancar disana!" ucap Segara sambil mengecup kening Mutiara dan mengusap air mata yang terus saja membasahi pipi istrinya itu.


"Aku pasti akan selalu mendoakan yang terbaik buat Abang, kamu juga hati hati ya, Bang. Aku akan selalu setia menunggumu pulang kembali ke kampung ini!" ujar Mutiara sambil ikut mengusap pipi Segara yang juga basah karena air mata yang tak disadarinya menetes dari ujung matanya.


Genta dan Rendy yang juga ada disana saat itu, hanya bisa menundukkan kepalanya, keduanya ikut terbawa suasana haru menyaksikan perpisahan mereka.


"Bang Genta, Bang Rendy, tolong jaga baik baik suamiku ya! jangan sampai dia berbuat nakal disana, kalau sampai dia macam macam disana, tolong kalian laporkan padaku!" kelakar Mutiara pada Genta dan Rendy sekedar menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu tenang saja, Ra. Aku pastikan Segara akan tetap menjadi orang baik disana, kami tidak akan membawa pengaruh buruk kepada suamimu!" sahut Genta.


"Iya, Ra! aku pastikan dia pasti akan sukses disana dan bisa segera menjemputmu kesini!" Rendy ikut menimpali.


"Segara, ayo kita harus berangkat sekarang mumpung cuaca sangat baik! semakin cepat kita berangkat maka kita akan semakin cepat sampai di kota!" ajak Rendy sambil menarik lengan Segara yang masih berdiri kaku seakan tidak sanggup melangkah pergi dari tempat itu.


"Sampai jumpa, Sayang. Aku akan selalu merindukanmu!" pekik Segara sambil melangkah meninggalkan Mutiara dan Imran yang masih berdiri di tempat itu.


"Selamat jalan, Bang! aku juga akan senantiasa menunggumu disini!" sahut Mutiara sambil melambaikan tangannya.


Imran juga ikut melambaikan tangannya saat Segara sudah berjalan menaiki kapal bersama Genta dan Rendy.

__ADS_1


Deru suara mesin kapal semakin terdengar bergemuruh, tak lama kemudian kapal itu pun sudah melaju kencang menerobos gelombang meninggalkan pulau itu.


Segara berdiri di deck kapal sambil terus melambaikan tangannya ke arah Imran dan Mutiara yang juga masih terus membalas lambaian tangannya sampai kapal itu kini sudah tak terlihat lagi.


__ADS_2