
Beberapa minggu berlalu setelah hari pernikahan Segara dan Mutiara, benih benih cinta sudah mulai bersemi diantara mereka. Ciuman pertama mereka sudah membawa ciuman kedua, ketiga dan seterusnya. Hal itu seolah sudah menjadi candu bagi keduanya sehingga mencium Mutiara saat sebelum berangkat melaut sudah menjadi kebiasaan Segara. Mutiara pun tidak pernah menolak diperlakukan seperti itu oleh Segara, akan tetapi itu hanya sebatas kecupan saja, mereka tidak berani sampai berciuman lebih dalam dari itu.
Meski sudah saling mencintai, namun keduanya masih sama sama tidak mengutarakan perasaannya, terutama Mutiara, kekhawatirannya tentang masa lalu Segara yang sampai sekarang belum diingatnya, membuatnya tak berani meyakinkan hatinya untuk menjalin hubungan terlalu dalam dengan Segara dan ia pun berusaha menolak kata hatinya bahwa ia tengah jatuh cinta kepada Segara.
Keraguan Mutiara yang seperti itulah yang membuat Segara juga enggan menyatakan cintanya kepada Mutiara, dia tidak ingin memaksakan semuanya kepada Mutiara, dia hanya berharap Mutiara tulus mempercayainya bahwa ia akan selalu menjaganya walau nanti ingatannya sudah kembali.
Walaupun Segara dan Mutiara tidur di dalam kamar dan diatas ranjang yang sama, namun tidak pernah terjadi apa apa diantara mereka. Sering terlintas di pikiran nakal Segara berharap ada khilaf yang indah diantara mereka, tetapi semua itu tidak pernah terjadi. Kendati kadang tanpa sengaja mereka saling berpelukan saat tertidur, namun mereka akan segera melepaskan kembali pelukannya saat mereka terbangun. Selain itu, kesempatan mereka untuk melewati malam bersama juga sangat jarang. Segara lebih banyak menghabiskan malam untuk pergi melaut bersama Imran.
Malam itu adalah malam bulan purnama, Segara dan Imran tidak pergi melaut.
Segara dan Mutiara sudah sama sama merebahkan tubuhnya di tempat tidur, namun keduanya sama sama belum mampu memejamkan mata.
"Kamu belum tidur, Ra?" tanya Segara yang bisa merasakan kalau Mutiara masih belum tidur dan terlihat gelisah karena terus saja membolak balikkan tubuhnya mencari posisi ternyaman untuk bisa tidur, sambil menggulung kedua kakinya dengan selimut tebalnya.
"Nggak tahu nih, Bang. Tadi aku sudah ngantuk tapi mata ini tiba tiba tidak bisa diajak berkompromi, malah melek terus sampai sekarang nggak bisa dipejamkan. Mungkin karena udara malam ini sangat dingin." jawabnya menggerutu.
Segara lalu memiringkan badannya menghadap ke arah Mutiara sambil menatap wajah Mutiara yang terlihat cerah belum ada rasa mengantuk.
"Ra, apa aku boleh tidur sambil memelukmu? aku juga kedinginan, tapi kau tidak berbagi selimut dengan ku!" harap Segara dengan setengah menyeringai.
"Maaf, Bang! aku lupa. Biasanya Abang kan nggak suka pakai selimut!" kilah Mutiara sambil melepaskan selimutnya dan mulai membaginya dengan Segara.
"Selimutnya sudah, peluknya belum, Ra!" sambung Segara lagi dengan nada menggoda Mutiara. Segara lalu meraih tangan Mutiara dan dilingkarkannya di bahunya. Segara pun ikut menyelipkan tangannya di pinggang Mutiara sehingga keduanya kini berpelukan sangat erat dan wajah mereka begitu dekat. Merasakan tubuhnya sedekat itu dengan Segara, membuat jantung Mutiara berdetak sangat kencang, pikirannya menjadi sangat tidak karuan, melayang entah kemana.
Segara kembali mendaratkan sebuah kecupan di bibir Mutiara yang membuat Mutiara seketika memejamkan matanya.
"Kita ini pasangan suami istri, Ra! kamu jangan canggung seperti ini terhadapku!" tuntut Segara yang merasakan sikap dingin Mutiara terhadapnya.
Dari kata kata yang diucapkan Segara itu, Mutiara bisa merasakan ada gairah yang terselip di balik sikap hangat Segara malam itu terhadapnya.
__ADS_1
"Aku bukannya canggung, Bang. Aku hanya belum siap melakukannya!" jawabnya lugu.
"Memangnya kenapa, Ra? kita ini pasangan yang sah, apa aku salah kalau aku menuntut itu darimu?" tanya Segara lagi dengan sedikit bercanda.
Segara menatap mata Mutiara dengan penuh arti. "Ra, kali ini aku serius, aku ingin jujur sama kamu, kalau aku sebenarnya sudah jatuh cinta sama kamu, Ra!" terang Segara. Ia sudah tidak mampu lagi memendam perasaannya. Dipikirannya, Mutiara adalah gadis yang sangat polos, sudah pasti Mutiara tidak akan mau mengutarakan perasaannya terlebih dahulu, maka dari itu Segara langsung menembaknya duluan.
Meski sudah menyadari hal itu, namun saat mendengar ungkapan cinta yang keluar langsung dari mulut Segara, Mutiara pun tertunduk haru, matanya berkaca kaca tak mampu menahan kebahagiaan di dalam hatinya, akan tetapi ia juga bingung bagaimana harus menjawabnya. Meski dia sangat yakin kalau dia juga mencintai Segara, tapi keraguannya akan masa lalu Segara kembali membuatnya diam tanpa kata.
"Katakan kalau kamu juga cinta sama aku, Ra! walau pernikahan kita diawali karena sebuah kesalahan pahaman, tapi kita sudah janji akan belajar saling mencintai bukan?" karena Mutiara hanya terdiam, lalu Segara kembali melanjutkan kalimatnya.
"Iya, Bang! aku juga cinta sama kamu." akhirnya jawaban jujur itu keluar juga dari bibir Mutiara yang berucap lirih.
Mendengar jawaban Mutiara, Segara semakin mengeratkan pelukannya, "terimakasih karena sudah mencintaiku, Ra! percayalah, apapun yang akan terjadi aku akan selalu menjaga dan mencintaimu. Aku tidak peduli lagi dengan masa laluku, Ra! Bagiku hanya ada masa depan, dan kau lah masa depanku itu!" Segara menegaskan kata katanya.
Mutiara langsung menangis dalam pelukan Segara, namun air mata kebahagian yang mengalir dari kedua matanya.
Tak lagi hanya mengecup, Segara kini mencium bibir Mutiara sangat dalam dan Mutiara hanya mampu membalas ciuman itu juga dengan penuh perasaan, keduanya hanyut dalam kehangatan cinta mereka.
Seolah tak ingin lepas, Segara terus menciumi Mutiara hingga gairah menyapanya syahdu. Ciuman di bibir kini sudah berpindah ke leher dan dada Mutiara yang membuat Mutiara sejenak terbuai. Jantungnya berdetak tak beraturan, tubuhnya gemetar. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya seorang pria menyentuhnya begitu intens. D*sahan kecil keluar tak terbendung dari bibirnya.
Segara terus melancarkan serangannya mencumbu Mutiara, hingga meninggalkan beberapa noda merah tanda kepemilikannya di leher Mutiara, tangannya yang sebelumnya hanya memeluk pinggang Mutiara kini mulai nakal menjamah semua yang ada di tubuh mungil Mutiara. Perlahan tangan tangan kekar itu menyusup diantara kaos ketat yang dikenakan Mutiara hingga menyentuh dua tonjolan yang masih bersembunyi di balik bra tipis yang menutupinya.
"Aaaahhh....Bang....!" d*sahan Mutiara semakin tak terbendung, Segara meremas lembut dua bagian sensitif di dadanya yang seketika membuat tubuhnya menegang.
"Aku sangat mencintaimu, Ra!" bisik Segara di telinga Mutiara sambil memberi kecupan di telinganya itu. Hangat hembusan nafas Segara membuat Mutiara semakin tidak dapat mengendalikan dirinya, gairah pun kini sudah menguasainya.
Segara melepaskan pengait bra Mutiara sambil mengusap lembut benda bulat yang tersembul di balik bra yang sudah terlepas itu, Segara membenamkan kepalanya di antara belahan dua benda itu dan bibirnya menyentuh lembut ujungnya yang berwarna coklat ranum dan seketika membuat Mutiara semakin mend*sah.
Sesaat Mutiara hanyut dalam gairahnya bersama Segara, namun saat yang sama tiba tiba ia teringat akan siapa Segara yang seketika kembali membangkitkan keraguannya.
__ADS_1
Dengan kedua tangannya, Mutiara mendorong tubuh Segara yang sedang menindihnya, "jangan dilanjutkan lagi, Bang!" pekiknya sambil membalikkan badannya menjauhkannya dari tubuh Segara.
Segara terperanjat akan penolakan Mutiara yang terjadi begitu tiba tiba, padahal tadinya Mutiara terlihat begitu menikmati gairah mereka.
"Kamu kenapa, Ra? apa aku sudah menyakitimu?" Segara nampak sangat bingung dengan sikap Mutiara yang tiba tiba berubah terhadapnya.
"Maafkan aku, Bang! aku tidak bisa melakukannya, aku sungguh belum siap, Bang!" jawab Mutiara disertai isak tangisnya. Mutiara menarik selimutnya untuk menutupi dadanya, kaos dan bra yang sebelumnya dikenakannya sudah terhempas entah kemana oleh tangan Segara yang sempat menjamahnya.
Segara menarik nafas dalam. Ia lalu beranjak dari ranjang, membenahi pakaiannya serta mengambil kaos dan bra Mutiara yang tadi sempat dihempaskannya.
"Ini, pakai lagi bajumu, Ra! maafkan aku, aku terlalu terburu buru meminta ini darimu!" Segara menyerahkan kaos dan bra Mutiara kepadanya sambil mengusap air mata di pipi Mutiara.
Segara lalu keluar dari kamar itu dan Mutiara kembali memakai pakaiannya.
"Minum dulu, Ra!" Segara sudah kembali masuk ke kamarnya sambil membawakan segelas air putih untuk Mutiara.
Tangan Mutiara gemetar saat meraih gelas dari tangan Segara, dia sangat takut setelah penolakannya Segara akan marah dan kecewa padanya.
"Maafkan aku, Bang! aku sungguh sungguh belum siap melakukan semua ini, aku tahu kau pasti akan sangat kecewa terhadapku, Bang!" isaknya.
"Sudahlah, lupakan saja, Ra! aku yang salah, tidak seharusnya aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaanmu."
"Aku tahu kau berhak melakukannya, Bang! tapi aku...aku...?"
"Stttt.....!" Segara memotong kalimat Mutiara dengan meletakkan telunjuknya di bibir Mutiara yang masih terisak.
"Tidak perlu minta maaf, Ra! aku mengerti perasaanmu! aku tidak akan memintamu melakukan itu lagi, dan aku akan setia menunggu sampai kamu benar benar siap memberikan semuanya untukku, Ra!" ucap Segara menenangkan Mutiara.
"Hubungan kita bukan hanya sebatas nafsu, Ra! aku tulus mencintaimu, sekali lagi maafkan aku, aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi, Ra!" Segara memeluk Mutiara dengan penuh perasaan, ada rasa bersalah mengisi relung hatinya, ia sungguh tak ingin menuntut haknya dari Mutiara apabila Mutiara sendiri belum siap memberikannya.
__ADS_1