
"Mbak, saya pesan satu satu nasi campur sama es teh manis ya, nggak pake lama!" seru seorang pembeli di sebuah warung sederhana yang ada di sudut taman kota.
Siang itu warung itu terlihat sangat ramai dan para pembeli harus antri menunggu pesanannya.
"Baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar!" sahut Mutiara sambil tersenyum ramah. Meski melayani pembeli-pembeli yang tidak sabaran, namun Mutiara tetap tersenyum, tangannya juga sangat cekatan mengerjakan semua pekerjaannya, maklum saja, dia sudah terbiasa melayani pembeli seperti itu saat masih tinggal di kampungnya.
Hari ini adalah hari ketiga setelah Mutiara tinggal di kota dan bekerja di warung makan sederhana itu. Melihat Mutiara yang begitu rajin dan ramah kepada semua pelanggannya, membuat Bu Rahma si pemilik warung sangat senang mempekerjakannya. Bahkan sudah dua malam setelah sampai di kota itu, Mutiara diijinkan tinggal menginap di warungnya bersama Baruna. Mutiara juga sangat senang karena dengan bekerja di warung Bu Rahma, dia tidak kebingungan mencari tempat tinggal di kota itu sedangkan untuk urusan makan, dia tidak merasa risau lagi karena di warung itu, Bu Rahma memberikan jatah makan yang cukup untuk dia dan juga putranya.
"Huh, akhirnya selesai juga!" sungut Mutiara sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya saat dia sudah selesai mencuci semua piring dan gelas disana.
Warung sudah mulai sepi karena hari semakin sore dan waktu makan siang juga sudah selesai.
"Kalau pekerjaanmu sudah beres kamu boleh istirahat sebentar, Ara. Jangan lupa kasih makan anakmu, sudah jam segini pasti dia lapar," ujar Bu Rahma saat melihat Mutiara sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Baik terimakasih banyak, Bu," sahut Mutiara. Dia kemudian bergegas mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih dan sayur serta beberapa lauk kesukaan Baruna.
Mutiara bergegas masuk ke dalam ruangan di warung itu hendak menemui putranya yang dibiarkannya bermain sendiri selama dia bekerja.
"Una, kita makan dulu, yuk! sudah sore pasti Una lapar, kan?" kata Mutiara sambil masuk ke dalam ruangan itu. Mutiara tersenyum saat tidak menemukan putranya di sana, dia menyangka kalau Baruna pasti tengah bersembunyi di salah satu sudut ruangan itu untuk mengerjainya.
"Una, kamu dimana, Sayang?" panggilnya. "Kalau Una nggak mau keluar, makanannya Ibu habiskan sendiri, ya!" seru Mutiara, dia berharap setelah itu putranya akan keluar dari tempatnya bersembunyi. Namun, beberapa kali Mutiara memanggil, Baruna tidak muncul juga lalu Mutiara mulai mencarinya ke semua tempat di warung itu.
"Una..., Baruna kamu dimana, Nak?" Mutiara terus memanggil dan mencari putranya di warung itu, akan tetapi Baruna tidak juga ditemukannya.
"Loh anakmu nggak ada di dalam, Ra?" tanya Bu Rahma yang melihat Mutiara seperti tengah kebingungan mencari Baruna.
"Iya, Bu. Anak itu memang suka bercanda, dia suka main petak umpet," sahut Mutiara sambil terus berkeliling di area warung itu untuk mencari putranya. Beberapa kali mengelilingi warung itu, namun Mutiara tetap tidak menemukan putranya.
"Entah bersembunyi dimana bocah nakal itu?" Mutiara menggerutu, tiba-tiba dia merasa khawatir, Baruna memang tidak bisa diam, pastinya anak itu bosan kalau hanya disuruh bermain sendiri saja, saking sibuknya bekerja, Mutiara tidak sempat mengawasinya.
"Jangan-jangan dia keluar dan main di taman," duganya.
__ADS_1
"Bu Rahma, saya ijin sebentar mencari anak saya ya, Bu. Dia tidak ada di dalam, mungkin saja dia bermain di taman," ujar Mutiara meminta izin kepada pemilik warung.
"Iya, silahkan saja!" sahut Bu Rahma.
Mutiara lalu keluar dari warung itu untuk mencari Baruna di taman kota.
"Baruna..., jangan main jauh-jauh! awas ya nanti ketemu Ibu jewer kuping Una!" teriaknya sambil berkeliling di area taman dan terus memanggil anaknya, namun anak itu tidak kunjung ditemukannya.
Setelah beberapa kali mengitari taman, Mutiara menjadi sangat cemas karena Baruna tidak terlihat ada di sana. Dia juga bertanya kepada beberapa orang yang ditemuinya di area itu, namun tak seorangpun mengaku melihat Baruna.
"Una, kamu ada dimana, Nak!," gumamnya merasa takut terjadi apa-apa dengan putranya. Bagaimana tidak, mereka baru beberapa hari ada di kota itu dan selama itu mereka belum pernah keluar dari warung tempatnya bekerja.
"Kemana Ibu harus mencarimu, Una," sungut Mutiara merasa menyesal karena abai mengawasi Baruna.
Mutiara terus menoleh kesana-kemari berharap menemukan Baruna di tempat itu.
"Ibu.....!"
"Una, kamu kemana saja?" sentak Mutiara sambil bergegas menangkap tubuh Baruna yang berlari mendekatinya, lalu menggendongnya.
"Anak Ibu ini sangat nakal! kemana saja kamu, Una? Una pergi tanpa minta izin dulu sama Ibu!" cecar Mutiara sambil mencubit pipi bocah itu. Dia menjadi sangat kesal karena putranya sudah membuatnya merasa cemas.
"Ke cana, Ibu. Una main di cana!" ucap polos bocah itu sambil menunjukkan sebuah mainan miniatur kapal di tangannya.
"Heh, Una dapat dari mana mainan ini?" tanya Mutiara merasa heran karena tiba-tiba saja anak itu sudah membawa mainan yang bukan merupakan mainan miliknya.
"Dikacih cama Ama, Ibu," sahut Baruna jujur.
"Ama siapa, Una?"
"Ama, Ibu. Ama yang baik!"
__ADS_1
"Una nggak boleh bohong sama Ibu! sekarang katakan darimana Una mendapatkan mainan ini? pasti Una mengambilnya dari orang lain, kan?" hardik Mutiara.
Selama ini dia selalu mendidik putranya agar tidak pernah mengambil barang yang bukan kepunyaanya, karena itu dia menjadi marah melihat Baruna yang tiba-tiba datang membawa mainan itu.
"Bukan, Ibu. Ini punya Una!" bantah Baruna mengelak dari tuduhan Ibunya.
"Sekarang Una kembalikan mainan ini. Ibu nggak suka Una mengambil barang orang lain tanpa izin!" Mutiara mengambil mainan itu dari tangan Baruna.
"Nggak mau, Ibu. Itu punya Una," rengek Baruna sambil berusaha merebut kembali mainannya dari Mutiara.
"Enggak, Una. Mainan ini bukan punyamu, Nak! kamu harus mengembalikannya. Sekarang ayo tunjukkan ke Ibu dari mana Una mendapatkan ini!" Mutiara tetap tidak mengembalikan mainan itu kepada Baruna.
Baruna kembali menunjuk ke ujung jalan tadi sehingga Mutiara pun melangkahkan kakinya menuju jalan yang selalu ditunjuk oleh putranya.
"Itu Ama, Ibu!" tunjuk Baruna dan Mutiara menoleh ke seberang jalan. Disana terlihat seorang wanita seperti tengah kebingungan.
"Itu Ama!" teriak Baruna lagi.
"Apa nenek itu yang ngasih mainan ini sama Una?" tanya Mutiara.
"Iya, Ibu!" Baruna menganggukkan kepalanya.
Mutiara lalu menyeberangi jalan itu dan menghampiri wanita paruh baya yang berdiri linglung di sisi jalan. Wajah wanita itu tampak lusuh tanpa ekspresi dan tatapannya nanar.
"Kaka, jangan pergi! jangan tinggalin Mama lagi!" teriak wanita itu saat melihat Baruna dan Mutiara mendekat ke arahnya.
"Kembalikan Kaka ku!" bentak wanita itu marah karena tidak suka melihat Baruna bersama Mutiara. Wanita itu lalu berusaha merebut Baruna dari gendongan Mutiara dan anehnya Baruna sama sekali tidak menolak justru bocah itu malah sengaja mencondongkan badannya melepaskan gendongan Mutiara lalu berhambur ke gendongan wanita itu.
"Kaka jangan pergi lagi ya," ucap wanita itu tersenyum sambil mengusap kepala Baruna dan Baruna terlihat sama sekali tidak takut terhadap wanita itu, namun justru terlihat sangat akrab.
Mutiara terdiam tak dapat mencegah semua yang terjadi di hadapan matanya. Entah ada ikatan apa antara putranya dengan wanita itu sehingga Baruna tidak menolak diperlakukan seperti itu oleh wanita yang baru saja dikenalnya itu. Terlebih dengan cara bicara serta penampilan wanita itu yang terlihat tidak wajar, Mutiara bisa menebak kalau wanita itu memiliki gangguan kejiwaan.
__ADS_1