
Malam semakin larut, tetapi Arkha tidak dapat memejamkan matanya. Bayangan wajah cantik Mutiara selalu melintas di ingatannya.
"Mutiara, aku pastikan setelah ini kita tidak akan terpisah lagi, kita akan selalu bersama dan hidup bahagia," gumam Arkha dalam hati sambil tersenyum membayangkan saat dimana mereka akan bersatu lagi dalam ikatan yang baru.
"Gara-gara Livina aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Mutiara dan Baruna. Perempuan itu memang benar-benar sial!" geramnya dengan rasa kebencian terhadap Livina yang semakin memuncak di jiwanya.
Arkha meraih ponsel yang tadi diletakkannya di atas meja nakas.
"Aku akan telpon Mutiara, semoga saja dia belum tidur." Arkha membatin sambil tersenyum penuh rasa rindu.
Belum sempat Arkha menekan nomor Mutiara, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya dan Rendy sedang menghubunginya.
"Iya ada apa, Rendy?" Dengan malas Arkha menjawab panggilan dari Rendy di ponsel itu.
"Polisi sudah berhasil menangkap Nyonya Livina, Bos. Sekarang mereka ada di kantor polisi." Suara Rendy terdengar sangat berapi-api saat menjawab pertanyaan Arkha.
"Benarkah? Wow ..., cepat juga polisi bertindak." Arkha tersenyum senang.
"Benar, Bos. Untuk itu sebaiknya kita ke kantor polisi sekarang!"
"Ok, Rendy. Aku akan segera kesana sekarang,"
"Baik, Bos. Kita langsung bertemu di kantor polisi saja,"
"Ohya, Rendy. Jangan lupa kau bawa semua bukti-bukti kecurangan Livina yang lain, termasuk surat hasil tes DNA palsu yang ia buat di rumah sakit,"
"Tentu, Bos,"
Arkha kembali tersenyum setelah menutup pembicaraannya melalui telepon dengan Rendy.
"Livina ..., malam ini akan tamat riwayatmu. Kau akan mendekam di penjara bersama Alfin," geram Arkha sambil tersenyum sinis.
Arkha bergegas mengganti piyama tidur yang sebelumnya ia kenakan dengan kaos dan celana panjang jeans. Tanpa berpikir panjang Arkha segera mengambil kunci mobil dan meninggalkan rumahnya untuk menuju ke kantor polisi.
Saat Arkha tiba di kantor polisi, Rendy sudah ada lebih dulu menunggunya di sana.
"Dimana Livina, Rendy?" tanya Arkha sambil berjalan cepat mencari jalan masuk menuju ruang penyelidikan karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Livina.
"Nyonya Livina sudah dibawa ke ruang penyelidikan, Bos," sahut Rendy sambil ikut berjalan cepat mengimbangi langkah Arkha.
"Papa ...!" seru Ardila saat Arkha tiba di ruangan itu.
Ardila langsung berhambur ke pelukan Arkha sambil menangis tersedu-sedu.
"Papa, Dila sama Mama mau pulang sama Papa. Jangan biarkan polisi membawa Mama ke penjara," rengek Ardila.
__ADS_1
"Hiks ..., huhu ..." Ardila terus menangis.
Arkha ikut memeluk erat tubuh Ardila sambil mengusap kepalanya dengan lembut. Arkha lalu menatap lekat wajah Ardila. Walau sekarang dia tahu kalau gadis kecil itu bukanlah anak kandungnya, tetapi perasaan Arkha tetap sama.
Sedari kecil anak itu tumbuh dengan cinta dan kasih sayangnya, sehingga baginya Ardila tetaplah putri kecilnya yang selalu dia sayangi.
"Iya, Dila Sayang. Papa ke sini memang untuk menjemput Dila agar bisa pulang sama Papa," sahut Arkha berusaha menghentikan tangis Ardila.
"Lalu Mama gimana, Pa? Apa polisi akan membawa Mama ke dalam ruangan yang ada kerangkeng itu?"
"Biar Papa yang menyelesaikan semuanya ya, Sayang!" janji Arkha.
"Sekarang Dila tunggu di luar dulu sama Om Rendy, Ok!" ujar Arkha sambil menoleh ke arah Rendy.
"Ayo, Dila! Kita tunggu di luar saja, yuk! Nanti Om belikan es krim buat Dila," bujuk Rendy dan Ardila hanya mengangguk tidak berani membantah perintah Arkha.
Rendy menggandeng tangan Ardila dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Mata Arkha kini tertuju kepada Livina yang duduk sambil menundukkan wajahnya di depan meja penyidik. Rona kemarahan langsung terpancar dari wajahnya saat ia melihat wanita itu.
"Sekarang kamu rasakan semua akibat dari perbuatan burukmu selama ini, Livina. Mulai hari ini aku pastikan kamu akan meringkuk di dalam penjara seumur hidupmu!" geram Arkha sambil menudingkan telunjuknya ke wajah Livina.
Sebelumnya Rendy memang sudah membeberkan semua bukti kebohongan Livina kepada polisi sehingga Livina sudah tidak bisa menghindar lagi dari semua proses hukum yang akan di jalaninya.
Perlahan Livina mengangkat wajahnya, air mata ketakutan mengalir deras dari kedua matanya.
"Dasar perempuan licik, tidak tahu malu!" bentak Arkha sinis sambil mencebikkan bibirnya dan melepaskan tangan Livina dari tangannya dengan kasar. Arkha kemudian mencengkram pipi Livina juga dengan sangat kasar, dan menatap mata Livina dengan penuh kemarahan.
"Kau bilang apa tadi, hah? Cinta? Cihh ...! Perempuan Munafik ...! Aku jijik mendengar kata-katamu itu, Livina!"
"Aku mohon bawa aku pulang, Kha. Aku nggak mau masuk penjara, aku tidak bersalah!"
"Setelah semua kebohongan dan kejahatanmu kau masih berani mengaku kalau kau tidak bersalah? Perempuan macam apa kau itu, Livina?"
"Aku tidak mau tinggal di dalam penjara, Arkha. Tempat ini pasti sangat dingin dan kotor. Aku tidak terbiasa tinggal di tempat jorok seperti ini, Arkha." Livina terus merengek dan memohon.
"Sekali lagi aku mohon, tolong jangan tuntut aku, Kha! Aku ..., aku minta maaf atas semua kesalahanku." Livina mencoba meyakinkan Arkha dan membela diri.
"Setelah apa yang kamu lakukan terhadap Mama serta semua kebohonganmu terhadapku, apa kau pikir kalau kau masih pantas untuk dimaafkan, Livina?" Arkha kembali membentak Livina dan menunjukkan sorot matanya yang semakin memerah.
Livina lalu berlutut memegang kaki Arkha sambil terus merengek dan menangis.
"Demi anak kita Ardila, aku mohon jangan penjarakan aku, Arkha!" isak Livina tak dapat menahan tangisannya.
"Anak kita? Cih ..., Ardila bukan anak kandungku, Livina. Dia hanya anak yang kau jadikan alat agar kau bisa menguasai semua kekayaanku saja!" Arkha menyeringai. Dia semakin tidak tahan mendengar kebohongan Livina.
__ADS_1
"Apa ini artinya kau sudah tahu semuanya, Arkha?" Livina menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa hanya buang-buang waktu saja kalau aku harus menjelaskan semuanya lagi padamu, Livina. Sudah bukan waktunya kau berpura-pura lagi di hadapanku, sekarang bersiaplah menerima semua balasan atas semua kebohonganmu!"
"Tidak Arkha, aku tidak pernah bohong padamu, Ardila itu anak kandungmu, anak kita, kau sendiri melihat hasil tes DNA Ardila denganmu, semuanya cocok, Kha."
"Peduli setan dengan tes DNA itu, Livina! Aku sudah tahu kalau itu hanya rekayasamu dan Alfin saja!"
"Meski aku tahu Ardila itu adalah darah dagingnya Alfin, bagiku Ardila tetap adalah anakku, Livina! Setelah nanti aku menceraikanmu, aku yang akan mengambil hak asuh atas Ardila, anak itu tidak berdosa, dia tidak perlu tahu kalau dia punya orang tua berhati busuk seperti kalian!" pekik Arkha sangat berang.
"Tidak, Arkha. Kau tidak bisa menceraikan aku semudah itu, kau juga tidak boleh mengambil Ardila dariku,"
"Kenapa tidak, Livina? Kau sudah terbukti melakukan tindakan pidana, kau tidak akan bisa mengelak. Semua itu akan mempermudah perceraian kita."
"Jangan, Kha! Aku tidak mau bercerai darimu. Bagaimana aku bisa hidup susah di penjara yang sempit, gelap dan dingin itu, Arkha." Livina terus berteriak dan menangis, memohon agar Arkha mencabut tuntutannya dan membebaskannya dari jeratan hukum.
Akan tetapi, Arkha kembali hanya tersenyum miring menanggapinya. Dengan angkuh, Arkha membalikkan badannya meninggalkan Livina yang masih terus menangis meraung dan berteriak memanggil namanya untuk meminta pengampunan.
Arkha keluar dari ruang penyidikan polisi dan mendapati Rendy masih duduk di ruang tunggu bersama Ardila.
"Dila, ini sudah malam, Sayang. Ayo kita pulang!" ajak Arkha kepada gadis kecil itu.
"Mama mana, Pa? Apa Mama nggak pulang sama kita juga?" tanya Ardila polos.
"Tidak, Sayang. Mama harus tinggal disini untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahannya," sahut Arkha jujur.
"Memangnya Mama salah apa, Pa? Kenapa Mama harus di hukum?" Ardila kembali menangis saat Arkha mengatakan kalau Livina tidak akan ikut pulang bersama mereka.
Arkha menghela nafas panjang, dia pun bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Ardila. Perlahan Arkha berjongkok menyetarakan posisinya dengan Ardila sambil tersenyum menatap wajah lugu gadis itu.
"Dila, sekarang Papa mau tanya sama Dila. Kalau Dila nggak buat PR, Dila dimarah nggak sama guru di sekolah?"
"Iya, dimarah, Pa!" jawab Ardila.
"Kalau berbuat salah atau berbohong, dikasih hukuman nggak sama guru?"
"Iya, dihukum juga, Pa." Ardila mengangguk.
"Nah, karena Mama sudah berbohong, jadi sudah sepantasnya Mama dihukum. Dila paham maksud Papa, kan?" Arkha mencoba menjelaskan secara pelan-pelan kepada Ardila agar Ardila tidak salah paham terhadapnya.
"Untuk saat ini kita biarkan Mama menjalani hukumannya dulu disini. Sekarang sudah malam, kita harus pulang, ya!" sambung Arkha lagi.
Meski belum terlalu mengerti dengan semua yang terjadi, Ardila hanya bisa menganggukkan kepalanya menuruti apa yang dikatakan Arkha.
------‐------------------
__ADS_1
Buat semua readers tercinta, Author ucapkan selamat bermalam takbiran.
Selamat menyongsong matahari Idul Fitri yang indah bagi semua umat muslim yang merayakan 🙏