Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #78 Semakin Membaik


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit jiwa.


Setelah menyelesaikan program pelatihan, Mutiara sudah bisa merawat Mama Yuna di paviliunnya. Kondisi fisik Mama Yuna sudah semakin membaik sehingga kondisi mentalnya juga sedikit demi sedikit ikut lebih baik.


Therapy yang rutin dijalani Mama Yuna, membuat kestabilan emosinya bisa sedikit terkontrol, sehingga Mama Yuna sudah bisa berinteraksi dan berbicara dengan orang lain khususnya Mutiara dan Baruna. Akan tetapi, dia masih sangat tertutup kepada orang lain.


Sehari-harinya, Mama Yuna sangat senang bermain bersama Baruna dan begitu juga dengan bocah kecil itu yang selalu bersemangat saat Mama Yuna menemaninya. Namun, Mama Yuna masih tetap menganggap Baruna adalah Kaka, putra kecilnya.


Hari itu, Mama Yuna tengah asyik bermain bersama Baruna di halaman paviliunnya. Mutiara hanya memperhatikan mereka sambil duduk di sebuah bangku di pinggir halaman itu.


Mutiara menatap layar ponselnya dan ada keresahan terlihat di raut wajahnya.


"Sudah sebulan aku di kota ini, kenapa sampai sekarang Bang Genta masih belum bisa dihubungi dan kenapa juga dia tidak pernah menghubungiku?" Pikiran Mutiara teringat akan Genta yang sampai saat itu belum ia ketahui bagaimana kabar dan dimana keberadaannya.


"Kenapa aku tiba-tiba sangat mengkhawatirkannya? apa sesuatu yang buruk telah terjadi padanya?" Berbagai pertanyaan muncul di benak Mutiara.


"Bang Genta, semoga saja saat ini kau baik-baik saja, Bang. Aku tidak bisa mencarimu, aku belum mengenal kota ini dengan baik. Aku hanya berharap kamu akan segera menghubungiku kembali, Bang," batin Mutiara menggumam.


"Ibu...!"


Teriakan Baruna yang memanggilnya membuyarkan lamunannya. Baruna berlari ke arahnya dan langsung naik ke pangkuannya.


"Oma jadi cinga, Ibu! Ada cinga ngejal Una!" seru bocah itu sambil cekikikan, terkekeh dan membenamkan wajahnya di pelukan Mutiara seperti sedang ketakutan.


"Ehh..., kamu lagi main apa sama Oma Yuna, Sayang?" tanya Mutiara juga ikut terkekeh karena dia tahu saat itu Baruna sedang bermain kejar-kejaran dengan Mama Yuna. Mutiara ikut tertawa terbahak, dari balik rimbunan semak-semak di taman itu, nampak Mama Yuna menyembulkan wajahnya seraya menirukan gerakan seekor singa yang sedang mengaum terlihat sangat lucu.


"Mau lari kemana lagi kau, Anak Kecil? Singa ini sedang lapar. Dia akan memakanmu, roaarr....!" raung Mama Yuna sambil mendekati Baruna yang masih duduk di pangkuan Mutiara.


"Sini kau, akan ku bawa kau ke tengah hutan!" pekik Mama Yuna sambil ikut tertawa dan mengambil Baruna dari pangkuan Mutiara lalu menggendongnya. Baruna semakin tergelak melihat kelucuan yang dibuat Mama Yuna. Keduanya begitu asyik bermain, kedekatan secara emosional diantara mereka pun semakin terlihat jelas.

__ADS_1


Mutiara kembali hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Baruna dan Nyonya Yuna sangat dekat, entah mengapa aku seperti merasa ada sebuah ikatan diantara kami," batin Mutiara.


"Ah tidak, tidak! itu tidak mungkin, kenapa aku bisa berpikiran sejauh itu? aku dan Baruna bukan siapa-siapanya Nyonya Yuna." Pikiran Mutiara mengalihkan.


Tanpa dia sadari, senyum terus terulas di bibirnya saat melihat Mama Yuna dan putranya semakin hari semakin dekat seperti layaknya seorang nenek dan cucu kandungnya.


****


Di area parkir rumah sakit itu, nampak sebuah mobil baru saja berhenti di sana.


Seorang wanita turun dari mobil itu lalu dengan tergesa menuju lobby rumah sakit itu. Tiba disana, ia langsung mendekati konter resepsionis.


"Saya ingin bertemu Mama Yuna!" ujar wanita itu kepada resepsionis yang sedang bertugas di sana dengan wajahnya yang diangkat, tidak mau menatap resepsionis yang diajaknya berbicara, dan sikapnya sangat acuh.


"Maaf, Nyonya! Nyonya Yuna tidak boleh menerima kunjungan dari siapapun. Tuan Kaka melarang ada orang asing menemuinya," sahut resepsionis itu sambil membungkukkan punggungnya dan menundukkan kepalanya.


"Sekali lagi maaf, Nyonya. Kalau saya boleh tahu, Anda ini siapanya Nyonya Yuna?" tanya resepsionis sambil terus membungkukkan punggungnya. Akan tetapi, sekilas dia menaikan bola matanya untuk melihat lebih jelas wajah wanita yang berdiri angkuh di hadapannya.


"Heh..., kau dengar ya! buka mata dan telingamu lebar-lebar! aku ini Livina, istri dari Arkha, donatur terbesar untuk rumah sakit ini. Jadi, Mama Yuna itu adalah Mama mertuaku. Apa kau paham!" ketus Livina sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah resepsionis itu dan tersenyum sumbang.


"Maafkan saya tidak mengenali Anda, Nyonya Livina," sahut resepsionis itu. Tentu saja dia tidak mengenali Livina, karena selama Mama Yuna dirawat disana, tidak sekalipun Livina pernah mengunjunginya.


"Tapi saat ini Nyonya Yuna sedang tidak boleh dikunjungi, Nyonya. Beliau sebentar lagi akan menjalani therapy," sambung resepsionis itu tetap melarang Livina bertemu Mama Yuna, karena memang jadwal Mama Yuna harus menjalani beberapa therapy saat itu.


"Memangnya kamu siapa, berani melarangku? apa kau ingin aku melaporkanmu kepada Arkha, karena sudah bersikap tidak sopan terhadapku?" bentak Livina sinis dengan senyum seringai miringnya.


Lagi-lagi resepsionis itu menundukkan wajahnya, "mohon tunggu sebentar, Nyonya. Saya tanya atasan saya dulu," jawabnya.

__ADS_1


Resepsionis itu lalu meraih gagang telepon diatas konternya dan terlihat menelpon atasannya untuk mendapat persetujuan, dan mengizinkan Livina menemui Mama Yuna.


Dari balik pintu lobby itu, Mama Yuna secara tidak sengaja melihat Livina ada disana. Saat itu dia tengah bersembunyi dari Baruna yang mengajaknya bermain petak umpet.


Mengetahui kehadiran Livina di rumah sakit itu, wajah Mama Yuna seketika terlihat panik. Dengan tergesa ia berlari ke paviliunnya dan mencari Mutiara.


"Ara...., kita harus segera pergi dari sini! ada orang jahat yang datang kesini dan ingin menyakitiku!" pekik Mama Yuna sambil menarik tangan Mutiara dan mengajaknya keluar dari rumah sakit itu.


"Tidak, Nyonya, tidak ada yang akan menyakiti Nyonya. Selama saya disini tidak akan ada yang berani mengganggu Anda," terang mutiara.


Walau saat itu Mama Yuna terlihat sangat panik, Mutiara tetap tenang menghadapinya, karena dia mengira kalau emosi Mama Yuna hanya sedang tidak terkontrol saja, sehingga dia kembali dilanda kecemasan seperti itu.


"Aku tidak sedang berbohong Ara. Wanita itu kesini pasti ingin menyakitiku. Dia wanita yang sangat jahat dan kejam, dia juga seorang penipu!" ulang Mama Yuna, terus mencoba meyakinkan Mutiara.


"Nyonya mungkin sedang tegang saja, Nyonya. Sebaiknya Nyonya beristirahat di kamar. Ayo saya antar Anda ke kamar!" ajak Mutiara tidak ingin menanggapi semua ucapan Mama Yuna.


"Tidak, Ara! kau harus membawaku pergi dari sini, kalau tidak, wanita itu pasti akan membunuhku!" rengek Mama Yuna.


Sejenak Mutiara terdiam, dia merasa sedikit aneh dengan sikap Mama Yuna, karena sebelumnya dia tidak pernah terlihat begitu panik dan cemas seperti saat itu.


"Siapa wanita itu, Nyonya?" tanya Mutiara, dia berusaha mengorek lebih banyak dari Mama Yuna, karena dia curiga kalau Mama Yuna sudah mengingat sesuatu dan bisa jadi saja hal itulah yang menyebabkan Mama Yuna selama ini sampai menderita gangguan mental.


"Dia menantuku, dia sangat jahat!" Kembali Mama Yuna menegaskan ceritanya.


"Menantu?" Mutiara membelalakkan matanya dan sangat kaget mendengar pengakuan Mama Yuna.


"Nyonya bilang wanita itu menantu Nyonya? apa ini artinya Nyonya sudah mulai mengingat semuanya, Nyonya?" sentak Mutiara dengan matanya yang membulat sempurna.


Selama ini Mama Yuna mengira Baruna adalah Kaka putra tunggalnya yang masih kecil. Tetapi, kini Mama Yuna mengaku mempunyai seorang menantu, itu artinya dia telah mengingat kalau Kaka putranya itu kini sudah dewasa. Bahkan, dia sudah mempunyai seorang istri.

__ADS_1


"Iya, Ara. Aku ingat semuanya, aku sudah sembuh. Sebenarnya aku tidak gila, wanita itulah yang membuatku menjadi tidak waras," sahut Mama Yuna.


__ADS_2