
Pagi hari itu terasa sangat cerah, sinar matahari begitu hangat menyinari semua sudut kota.
Di rumah besar kediaman Arkha, Livina nampak sibuk mempersiapkan sarapan di ruang makan. Aneka jenis roti dan selai sudah tersaji di sana dan secangkir kopi juga sudah disiapkan Livina di satu sisi meja untuk Arkha.
"Sayang, sarapannya sudah siap, ayo makan dulu!" teriak Livina memanggil putrinya.
"Iya, sekarang, Mama!" sahut Ardila yang saat itu sudah menuju meja makan digendong oleh Arkha. Keduanya sudah sama-sama berpakaian rapi, Arkha sudah siap akan berangkat ke kantor dan Ardila sudah siap dengan pakaian sekolahnya.
"Huh, Bidadari Papa sudah berat sekarang, Papa sudah tidak kuat lagi menggendongmu!" keluh Arkha bercanda dengan putrinya sambil mendudukkannya di salah satu kursi di ruang makan itu.
"Lagian Dila sudah besar, kenapa masih minta digendong?" sergah Livina sambil mencubit gemas pipi anaknya itu dan Ardila hanya terkekeh.
Gadis kecil itu memang sangat manja terhadap Arkha, bahkan Ardila lebih dekat dengan Arkha daripada dengan Livina ibu kandungnya.
"Ayo sarapan dulu biar kamu nggak lemes nanti di sekolah!" perintah Livina sambil menyuguhkan semangkuk sereal untuk Ardila dan bocah itu langsung menyuap serealnya sendiri dengan lahap.
Arkha juga ikut mulai menikmati sarapannya dengan menyeruput kopi sambil menggigit croissant dengan olesan butter kesukaannya.
Livina duduk di kursi sebelah Arkha dan mereka sarapan bersama.
"Aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu, Kha?" tanya Livina mulai membuka perbincangan antara mereka.
"Iya, apa?" Arkha balik bertanya.
"Aku mau minta uang lagi, last minute besok teman-teman arisan ngajakin ke Bali," jawab Livina. Dia sudah tahu kalau Arkha tidak akan menolak permintaanya.
"Kamu butuh berapa?" balas Arkha sambil meraih ponsel di saku jasnya hendak mentransfer uang ke rekening Livina.
"Nggak banyak kok, sepuluh juta saja," sahut Livina dengan enteng, menurutnya uang sejumlah itu pastilah tidak ada apa-apanya bagi Arkha.
Arkha tidak menjawab, namun terlihat sibuk memainkan jarinya di atas layar ponselnya.
"Sudah aku transfer," ucap Arkha singkat sambil kembali menyeruput kopinya.
__ADS_1
Livina hanya tersenyum mendengar ucapan Arkha sambil ikut meraih ponselnya yang sedari tadi ada di atas meja. Sudah pasti ada notifikasi dari mobile banking di ponselnya dan menunjukkan kalau dana yang ditransfer Arkha sudah masuk ke rekeningnya.
"Oh ya, Vin. Aku juga mau mengatakan sesuatu kepadamu," sambung Arkha.
"Iya, katakan saja, Kha."
"Sudah empat tahun Mama dirawat di rumah sakit jiwa dan sampai sekarang belum ada tanda kesembuhannya. Aku berencana merawat Mama di rumah saja."
"Apa? merawat Mama di rumah?" Livina membulatkan matanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Arkha tiba-tiba ingin membawa Mama Yuna pulang ke rumah itu.
"Iya, memangnya kenapa, Vin? apa kamu keberatan?" sosor Arkha. Dia heran kenapa Livina begitu terkejut saat dia mengatakan akan merawat Mamanya di rumah.
"E..., bukan! bukan keberatan, Kha! hanya saja menurutku Mama sebaiknya tetap dirawat di rumah sakit itu saja, soalnya kalau di sini Mama tidak akan bisa mendapat perawatan sebaik disana," kilah Livina.
Tentunya dia sangat tidak suka apabila Arkha membawa pulang Mama mertua yang tidak pernah akur dengannya itu.
"Kamu nggak perlu khawatir, Vin. Aku bisa membayar suster dan psikiater terbaik yang bisa menjaga Mama di rumah ini,"
"Tapi aku tetap tidak setuju kalau kamu merawat Mama di rumah ini, Kha!" sergah Livina sambil menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Dila Sayang, Dila tunggu di ruang tengah, ya! setelah Papa selesai sarapan, Dila berangkat bareng Papa, ok!" perintah Livina sambil mengalungkan tas bekal di punggung putrinya.
"Baik, Mama!" patuh gadis kecil itu sambil mencium pipi dan tangan Livina.
"Tunggu Papa sebentar ya, Sayang!" sambung Arkha dan gadis kecil itu pun langsung berlari menuju ke ruang tengah sambil menunggu Arkha selesai sarapan dan akan bersamanya berangkat ke sekolah.
Setelah Ardila meninggalkan ruang makan, Livina kembali menunjukkan ketidaksetujuannya akan keputusan Arkha yang ingin membawa Mamanya ke rumah itu.
"Kha, kau lihat Ardila, kan? dia masih kecil, dia belum mengerti apa-apa, karena itu aku tidak setuju kalau kamu membawa Mama pulang ke rumah ini sebelum Mama benar-benar sembuh!" tegasnya.
"Apa salahnya dengan semua itu, Vin?"
"Apa kau tahu, kalau Mama ada di rumah ini, semua teman-teman Ardila pasti akan mengejeknya, mereka pasti akan merundung putri kita dan mengatakan kalau dia adalah cucu orang gila!" ketus Livina semakin tidak senang.
__ADS_1
"Ok, baiklah Vin, aku tidak akan memaksa kalau itu alasanmu." Arkha hanya menganggukan kepalanya mendengar alasan Livina yang terdengar cukup bisa diterima oleh akal sehatnya, sehingga dia mengurungkan niatnya membawa Mamanya pulang ke rumah itu. Lagipula selama ini di rumah sakit itu, Arkha juga sudah memberikan fasilitas terbaik untuk Mamanya.
Livina tersenyum licik dan merasa senang karena sudah berhasil mempengaruhi Arkha.
"Untung saja Arkha mau membatalkan rencananya membawa Mama Yuna ke rumah ini," batinnya.
"Huh... Jangan sampai wanita tua itu sembuh, kalau dia bisa ingat dan menceritakan semuanya pada Arkha, hidupku akan dalam bahaya besar, Arkha pasti akan memasukkan aku ke dalam penjara juga seperti Alfin!" gerutunya dalam hati.
Livina menghela nafas dalam, tiba-tiba dia merasa sangat khawatir apabila kebohongannya terbongkar oleh Mama Yuna saat dia sembuh dari gangguan mental yang dideritanya saat ini.
Drrrtt....! Drrrtt....!
Ponsel Arkha mengguncang meja di hadapannya dan dengan cepat Arkha menyambarnya karena melihat ada panggilan dari Rendy asistennya.
"Iya, Rendy. Ada apa?" Arkha menjawab panggilan itu
"Ada kapal kargo mencurigakan di area pelabuhan kita, Bos!" sahut Rendy di seberang melalui sambungan telepon itu.
"Apa, kapal mencurigakan?" Arkha terkejut mendengar sebuah berita yang disampaikan Rendy kepadanya.
"Iya, Bos. Dari pantauan anak buah saya, sudah berhari-hari kapal itu ada disana tapi tidak ada pergerakan sama sekali, saya curiga ada sesuatu yang disembunyikan di dalam kapal itu!" seru Rendy memperjelas berita yang disampaikannya kepada atasannya itu.
"Ok, siapkan semua anak buahmu, kita akan cek ada apa di kapal itu dan aku akan menyusul ke pelabuhan sekarang juga!" perintah Arkha kepada Rendy lalu menutup pembicaraanya di telpon dengan Rendy.
Arkha lalu menoleh ke arah Livina yang masih duduk di sebelahnya.
"Vin, hari ini tolong antarkan Ardila ke sekolah, ya! aku ada urusan mendadak, aku harus segera ke pelabuhan!" pinta Arkha kepada Livina sambil beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi meninggalkan ruang makan.
"Papa, kita berangkat sekarang?" seru Ardila saat melihat Arkha melewati ruang tengah.
"Maaf, Sayang. Papa ada urusan mendadak, Papa harus ke pelabuhan. Hari ini Dila diantar sama Mama ya," sahut Arkha sambil mencium kening gadis kecil itu.
Meski kecewa Ardila hanya diam dan tidak berani protes, bocah kecil itu sangat memahami kesibukan Papanya.
__ADS_1
Arkha langsung melangkah keluar meninggalkan rumahnya dan dengan cepat melajukan SUV hitamnya menuju pelabuhan pribadi milik perusahaanya.