
Bencana datang tanpa diduga, mungkin itu adalah peringatan Tuhan kepada hambanya. Terlalu sibuk mengejar kenikmatan duniawi terkadang membuat umat manusia lalai dan melupakan Sang Pencipta, sehingga Tuhan memberi teguran melalui sebuah bencana yang terjadi.
Pasca tsunami melanda samudra bagian selatan, pulau pulau di area itu nampak hancur, porak poranda. Gelombang tsunami menyapu seluruh wilayah pesisir pasca gempa dangkal berkekuatan tinggi yang terjadi di dasar samudera. Semua orang yang tinggal di pulau pulau itu dihadapkan pada alam yang telah menunjukkan kekuatannya.
Gelombang besar yang begitu kuat itu tidak hanya menghanyutkan warga dan menghancurkan pemukimannya, namun juga menghancurkan perahu perahu dan kapal nelayan di pesisir bahkan ada yang sampai ikut tersapu ke daratan.
Pasca gempa dan tsunami yang terjadi, jaringan listrik dan saluran telekomunikasi juga seketika putus, sehingga kondisi benar - benar darurat disana.
Ratusan orang ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia tak bisa menyelamatkan diri, dan entah berapa banyak yang hilang akibat tersapu gelombang, tertimpa reruntuhan dan sebagainya. Kejadian itu pastinya menyisakan duka dan trauma yang sangat mendalam bagi semua warga disana.
Warga yang masih selamat pun kehilangan tempat tinggalnya, untuk sementara mereka ditampung di beberapa lokasi pengungsian.
Mutiara bersama Genta yang tengah dalam perjalanan ketika bencana terjadi juga tak luput dari terjangan gelombang tsunami. Posisi kapalnya yang tengah mendekat ke pantai saat itu ikut terbawa arus hingga ke daratan, namun sungguh beruntung Mutiara dan Genta selamat dan kini mereka sudah aman berada di tempat pengungsian.
Di tempat pengungsian itu, beberapa orang relawan yang bertugas memberi pertolongan kepada korban korban yang selamat dari guncangan gempa dan terjangan tsunami juga terlihat lalu lalang, selain memberi pertolongan, mereka juga mendata semua warga yang selamat dari bencana dan datanya akan dilaporkan ke BNPB.
Suara isak tangis orang yang kehilangan sanak saudaranya serta jerit kesakitan terdengar bersahutan, suasana sangat mencekam dan mengharu biru terasa di tempat pengungsian itu.
"Syukurlah Mbak sudah sadar, sungguh sebuah keajaiban, Mbak bisa selamat dari terjangan gelombang tsunami!" ucap seorang relawan di sebuah barak pengungsian.
Kata kata itu membuat Mutiara seketika membuka matanya dan tersentak bangun dari tempatnya berbaring.
"Saya ada dimana, Mbak?" tanya Mutiara pada relawan itu sambil berusaha mengingat ingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Mbak sudah aman, sudah ada di pengungsian dan alhamdulillah, bayi dalam kandungan Mbak juga selamat!" jawab relawan itu lagi. Relawan itu terlihat mengenakan jas putih dan ada sebuah stetoskop tergantung di lehernya, sudah pasti dia adalah seorang dokter.
Mendengar kata kata relawan itu, Mutiara langsung mengusap perutnya lalu kembali hanya terdiam seolah tidak percaya dengan apa yang sudah dialaminya, raut trauma nampak di wajahnya.
"Bencana, tsunami?" semua itu seperti sebuah mimpi buruk bagi Mutiara.
__ADS_1
"Kenapa saya bisa ada di sini, Mbak? siapa yang menyelamatkan saya?" tanya Mutiara lagi pada relawan itu.
"Suami Mbak yang menyelamatkan Mbak. Saat kapal yang Mbak tumpangi terbawa gelombang sampai ke daratan, Mbak sama suami Mbak ada di deck kapal sehingga berhasil selamat." ujar relawan itu.
"Suami?" tanya Mutiara bingung, kenapa relawan itu mengatakan dia bersama suaminya padahal yang ia ingat terakhir kali saat gelombang tsunami menyeretnya ke darat, ia sedang bersama Genta saat itu.
"Iya, Mbak Ara suami Mbak, Pak Tirta lah yang sudah menyelamatkan Mbak!" jawab relawan itu sambil melangkah meninggalkan Mutiara karena harus menolong korban yang lain yang juga ada di barak pengungsian yang sama.
"Ada apa ini, apa aku sedang bermimpi?" batinnya. Mutiara mengusap wajahnya perlahan dan kembali berusaha mengingat ingat semua hal yang menimpanya.
Genta yang sebelumnya ada di luar tenda pengungsian itu, langsung masuk saat mengetahui Mutiara sudah siuman.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Ra! kita sangat beruntung bisa selamat dari bencana ini dan ini betul betul sebuah keajaiban." ucapnya sambil menghampiri Mutiara yang masih terduduk linglung.
"Apa kamu terluka, Ra?" tanya Genta sambil menatap wajah Mutiara yang terlihat sedikit pucat.
"Apa yang terjadi, Bang? kenapa kita bisa ada di tempat ini?" tanya Mutiara bingung.
"Kita selamat dari terjangan tsunami, Ra. Saat kapal kita mendekati pantai, tiba tiba saja gelombang besar menerjang, tapi sayangnya Abey dan Johan tewas, mereka terjebak di dalam kabin kapal." jawab Genta dengan wajah sedih karena dua anak buahnya ikut tewas karena bencana itu.
"Kau juga sudah tidak sadarkan diri hampir dua puluh empat jam lamanya, Ra. Aku sangat mengkhawatirkanmu!" ujar Genta.
"Tapi syukurnya kau dan bayi dalam kandunganmu selamat!" tambah Genta lagi sambil tersenyum menatap wajah Mutiara yang masih nampak bingung dengan semua yang dialaminya.
"Kenapa relawan tadi bilang aku diselamatkan oleh suamiku, Bang? dia juga bilang namaku Ara dan suamiku Tirta. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mutiara.
"Maafkan aku, Ra. Para relawan itu mendata semua orang yang selamat, aku terpaksa mengubah identitas kita dan mengatakan bahwa kau adalah istriku dan namamu adalah Ara sedangkan namaku Tirta," jawab Genta.
"Kenapa harus memberikan data palsu, Bang?" tanya Mutiara terperangah mendengar penjelasan Genta.
__ADS_1
"Panjang penjelasannya, Ra. Nanti pasti akan aku ceritakan padamu, yang terpenting sekarang kita selamat dan aku akan memikirkan cara bagaimana kita bisa segera pulang ke kota!" sahut Genta memotong semua pertanyaan Mutiara.
Mutiara kembali terdiam, terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepalanya dan dia semakin bingung dengan semua hal yang tengah dialaminya.
Sejenak ia memandangi suasana di sekelilingnya, ada ratusan orang di dalam barak pengungsian itu. Ada yang tengah menjerit kesakitan ada pula yang terisak menangis dan berteriak teriak ketakutan. Bencana yang terjadi menyisakan duka dan trauma begitu dalam bagi semua orang.
"Bapak!" jerit Mutiara teringat akan Imran.
"Bagaimana dengan kampungku, Bang? apa disana juga kena dampak tsunami? apa Bapak selamat?" tanya Mutiara dengan kekhawatiran tersirat jelas dari kata kata yang diucapkannya.
Genta hanya menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan tanpa menjawab.
"Katakan, Bang. bagaimana keadaan Bapak? kenapa Abang hanya diam saja," desak Mutiara sambil memegang tangan Genta.
"Kampungmu adalah wilayah yang paling keras terdampak, Ra. Bahkan pulau itu kini sudah rata dengan lautan, semua yang ada di pulau itu sudah tenggelam, termasuk Pak Imran," jawab Genta jujur, dia tidak bisa menyembunyikan kenyataan pahit itu dari Mutiara, tanpa disadarinya, matanya berkaca saat ia harus menceritakan semua itu kepada Mutiara.
"Bapak....," teriak Mutiara sambil menangis terisak, air matanya tumpah tak tertahankan mengetahui berita tentang kampungnya yang sudah tenggelam dan tentunya Pak Imran juga tidak bisa menyelamatkan diri dari sana.
"Tidak, Bang, Tidak! Bapak pasti selamat, aku nggak mau kehilangan Bapak!" isak Mutiara sangat sedih dan frustasi menyadari Imran yang sudah meninggalkannya untuk selama lamanya tanpa bisa melihatnya di saat saat terakhirnya.
"Ra, kamu yang sabar, ya. Ini semua kehendak Yang Kuasa, bukan kita yang menentukan! kau lihat orang orang itu? mereka juga mengalami nasib yang sama, semua orang sedih, semua orang menderita," ucap Genta sambil menunjuk ke orang orang yang ada di pengungsian itu.
"Harusnya aku tidak meninggalkan Bapak, Bang. Harusnya aku tidak ikut denganmu untuk pergi ke kota," sesal Mutiara.
"Jangan berkata seperti itu, Ra! ini sudah suratan takdir namanya, kalau kau tidak ikut denganku mungkin nasibmu akan sama seperti Pak Imran. Ini adalah keajaiban Tuhan yang harus kamu syukuri, kau dan calon bayimu selamat!" hibur Genta.
"Aku percaya bahwa bayi yang kau kandung itu pembawa keberuntungan, Ra. Aku sendiri tidak percaya kita bisa selamat dari bencana itu, ini sungguh mukjizat Tuhan!" lanjut Genta lagi.
Kembali Mutiara memandangi sekelilingnya, isak tangis juga terdengar memenuhi barak pengungsian itu, bukan hanya dirinya yang sedang bersedih, banyak orang merasa kehilangan, bencana dahsyat itu juga sudah merenggut orang orang yang mereka sayangi.
__ADS_1