Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #96 Kecemasan Livina


__ADS_3

Pagi menjelang siang di hari yang sama.


Di sebuah butik ternama di kota itu, Livina terlihat sangat puas karena sudah mendapatkan sebuah tas branded dengan harga mahal yang sudah lama diincarnya.


"Akhirnya tas yang sudah berbulan-bulan aku idam-idamkan, hari ini bisa aku bawa pulang," gumamnya tersenyum senang.


Livina lalu melangkahkan kakinya menuju meja kasir hendak membayar tas dengan harga yang lumayan fantastis itu. Dengan percaya diri dan tersenyum angkuh, Livina menyerahkan sebuah kartu kredit platinum kepada kasir di sana.


"Mohon maaf, Nyonya. kartu kredit yang ini tidak berfungsi, apa ada kartu yang lain?" ujar kasir di butik itu sambil mengembalikan kartu kredit kepada Livina. Sudah berkali-kali kasir itu mencoba melakukan transaksi dengan kartu kredit milik Livina. Namun, transaksi selalu gagal.


"Tidak berfungsi?" Livina membulatkan matanya dan dengan sorot mata tajamnya mendelik ke arah kasir itu.


"Eh, kamu! Jangan coba meremehkanku, ya! Kartu kreditku memang bukan black card tapi kartu ini punya limit sampai seratus juta!" ketus Livina sambil menudingkan telunjuknya ke wajah kasir di hadapannya.


"Tapi mohon maaf, Nyonya. Saat ini kartu ini tidak bisa dipakai, transaksi gagal terus," sahut kasir itu acuh sambil menengadahkan telapak tangannya dan mengangkat kedua pundaknya.


"Coba sekali lagi!" sergah Livina.


Kasir itu lalu meletakkan mesin EDC ke atas meja di hadapan Livina. Dengan sengaja agar disaksikan langsung oleh Livina, kasir itu mengulang menggesek kartu kreditnya sampai beberapa kali.


Livina semakin membulatkan matanya. Transaksi demi transaksi yang dicoba pada kartu itu selalu gagal dan di layar mesin EDC selalu muncul tulisan yang sama yaitu 'declined'.


"Ada apa dengan kartu ini, apa limitnya sudah habis?" pikir Livina bingung.


"Ku rasa tidak mungkin sampai limit, bulan ini aku sama sekali belum memakainya." Livina menggelengkan kepalanya tidak percaya kalau limit kartu kredit itu sudah mencapai batas pemakaian.


Selama ini Arkha memang memberikan batasan pada kartu kreditnya. Hal itu dilakukan Arkha untuk mencegah agar dia tidak kebablasan dalam pengeluarannya. Akan tetapi, Livina tahu kalau limit kartu kredit itu seharusnya jauh melebihi harga tas mahal yang akan dibelinya.


"Mungkin ada masalah dengan jaringannya, Mbak! Bisa coba diulang lagi?" pinta Livina masih tidak percaya.


"Sekali lagi maaf, Nyonya. Kami tidak punya masalah jaringan di sini, kartu Anda memang tidak bisa dipakai. Kemungkinan kartu ini sudah diblokir dan sebaiknya Anda pakai kartu kredit yang lain atau bisa membayar secara tunai," terang kasir itu tidak bersedia mengulang transaksi dengan kartu itu lagi.

__ADS_1


Livina semakin kesal dengan sikap kasir yang acuh padanya. Sambil mengangkat satu ujung bibirnya, ia lalu mengeluarkan beberapa kartu kredit yang lain termasuk juga kartu debitnya dari dalam dompetnya. Satu-persatu kartu itu dicoba untuk digesek oleh kasir itu. Namun, hasilnya sama. Semua kartunya declined, bahkan kartu debitnya pun kosong tidak ada saldo tersisa di sana.


"Argh ...! Ya sudah aku transfer cash saja!" decak Livina. Dia merasa panik setelah semua kartu kreditnya tidak berfungsi.


Livina lalu merogoh ponsel dari dalam tasnya dan membuka mobile banking di sana. Lagi-lagi Livina membulatkan matanya ketika melihat saldo di mobile banking-nya pun ternyata kosong, hal itu tentu membuatnya menjadi sangat gusar dan juga semakin panik. Livina bingung dan seketika gugup karena tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada kasir kalau dia tidak akan bisa membayar tas itu.


"Ada apa ini? Untuk apa Arkha memblokir kartu kredit dan menutup rekening ku?" dengus Livina merasa kesal dan bingung.


"Bagaimana, Nyonya. Apa sudah di transfer?" Seketika pertanyaan kasir membuat Livina menjadi semakin kesal.


"Belum! Saat ini aku belum bisa membayar tas ini. Aku minta diberi waktu dua hari lagi aku akan kesini lagi untuk membayarnya," sahutnya ketus.


"Tapi banyak orang yang menginginkan tas ini, Nyonya! Kalau menunggu dua hari lagi, saya tidak menjamin tas ini bisa Anda dapatkan, siapa cepat dia yang akan dapat," acuh kasir itu lagi.


"Aku bilang, keep dulu! Aku pasti akan membayarnya. Jangan coba-coba dikasih ke orang lain!" pekik Livina jengkel karena merasa diremehkan oleh kasir itu.


"Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku ini istri sultan di kota ini!" sambungnya lagi semakin ketus dan kasir itu hanya menggeleng, tetap acuh kepadanya.


Livina meninggalkan butik itu dengan perasaan kecewa. Ia sangat kesal karena semua kartu kreditnya sudah terblokir dan semua rekeningnya pun sudah ditutup oleh Arkha.


"Kenapa tiba-tiba saja  Arkha memblokir kartu kredit dan menutup semua rekening-ku?" Hati Livina penuh tanya dan seketika ia merasa khawatir kalau Arkha telah mengetahui sesuatu tentangnya.


Livina memacu mobilnya pelan menuju rumah besar Arkha. Pikirannya sangat tidak tenang, cemas dan takut kini datang menghantuinya.


"Apa Arkha tahu sesuatu tentangku?" gumamnya. Pertanyaan itu kini selalu ada di kepalanya.


"Dari kemarin bahkan Arkha tidak pulang tanpa mengabari apapun kepadaku." Livina semakin tidak dapat menahan kecemasannya.


Dari kemarin Arkha belum pulang ke rumah, dan selama itu juga Arkha tidak ada menghubunginya. Namun, pikiran Livina berusaha mengalihkan karena memang beberapa waktu belakangan mereka sangat sering bertengkar. Jadi, kalaupun Arkha tidak menghubunginya, Livina bisa menerimanya karena mereka sedang tidak saling bicara.


"Doni ..., kenapa sampai sekarang dia juga tidak menghubungiku? Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadanya, apa anak buahnya sudah berhasil menemukan Mama Yuna?" batin Livina terus bertanya-tanya. Kini dia teringat akan Doni, satu-satunya asisten kepercayaan Alfin yang masih setia kepadanya. Doni lah yang sudah di tugaskannya untuk mencari keberadaan Mama Yuna setelah dia kabur dari rumah sakit jiwa itu sebelumnya.

__ADS_1


Triing ...!


Triing ...!


Ponsel Livina yang ia letakkan di atas head unit mobilnya tiba-tiba berdering dan dengan cepat Livina meraih ponsel itu.


"Akhirnya Doni menghubungiku." Livina merasa sedikit lega karena yang ditunggu akhirnya menelponnya. Bergegas Livina menepikan mobilnya ke pinggir jalan yang dilaluinya untuk lebih leluasa bisa menjawab panggilan dari Doni.


"Iya, Doni. Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Mama Yuna," tanyanya langsung begitu mengangkat teleponnya.


"Maafkan saya, Nyonya Livina. Saya harus menyampaikan berita tidak baik ini kepada Anda, Nyonya," sahut Doni dari seberang.


"Berita apa, Doni?"


"Saat ini saya sudah ada di luar kota, Nyonya,"


"Di luar kota? Bagaimana bisa, Doni? Lalu bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?"


"Sekali lagi maaf, Nyonya. Anak buah saya sudah ditangkap oleh Tuan Arka dan asistennya,"


"Apa? Ditangkap oleh Arkha?" Livina langsung membulatkan matanya mendengar berita yang disampaikan oleh Doni.


"Benar, Nyonya. Dan sepertinya Tuan Arkha juga sudah menemukan Nyonya Yuna. Anak buah saya dilumpuhkan oleh Tuan Arkha langsung saat mencoba menangkap Suster Ara," terang Doni menceritakan semua yang terjadi tentang anak buahnya.


"Karena itu, saya terpaksa melarikan diri ke luar kota, Nyonya. Soalnya kalau saya masih di kota ini, polisi juga pasti akan mencari saya setelah tahu saya terlibat dalam kasus ini," sambung Doni.


"Tapi, Doni. Kalau anak buahmu sudah tertangkap, apa itu artinya mereka akan menceritakan tentang aku juga kepada Arkha?" Livina menjadi sangat cemas setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Doni.


"Kemungkinan besar iya, Nyonya. Karena hal itu juga, ini terakhir kalinya saya berani menghubungi Nyonya. Setelah ini saya akan menghapus nomor ini supaya tidak ada seorangpun yang bisa menghubungi saya lagi," pungkas Doni.


"Tapi, Doni ...?" ucapan Livina langsung terhenti karena Doni sudah menutup telponnya. Livina mencoba menghubungi Doni lagi. Tetapi, ponsel Doni sudah tidak aktif lagi.

__ADS_1


"Arghh ..., sial!" Livina berdecak nanar, rasa takut dan cemas kini sudah tidak bisa disembunyikan lagi, terpancar jelas dari wajahnya yang tiba-tiba pucat pasi. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Doni, dia sangat yakin kalau Arkha sudah mengetahui semua kebohongannya selama ini.


Dengan kegelisahan yang teramat sangat, Livina kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Pikirannya sangat kalut dia bahkan tidak dapat berpikir apa yang akan dilakukannya saat itu.


__ADS_2