Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #90 Membongkar Satu Kebohongan


__ADS_3

Arkha dan Mutiara kini tiba di apartemen Mama Yuna. Saat itu, Baruna sedang tertidur lelap di gendongan Mutiara. Bocah kecil itu memang sudah sangat lelah dan mengantuk. Sehingga, saat masih di dalam mobil pun dia sudah tertidur.


Mutiara segera menekan bel saat mereka sudah ada di depan pintu apartemen itu. Dari balik pintu yang setengah terbuka, terlihat Sandra menatap ke arah Mutiara sambil memasang wajah kesal.


"Habis dari mana saja kamu malam-malam begini, Ra? Apa kamu tahu kalau Nyonya Yuna sangat mengkhawatirkanmu dan juga Baruna?" Pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Sandra dengan nada menyeringai.


"Ma-maafkan aku, San. Tadi aku hanya ingin cari angin segar sebentar di luar," sahut Mutiara berbohong.


"Tapi, kenapa kamu nggak minta izin dulu sama Nyonya Yuna? Aku hubungi ponselmu juga tidak aktif. Kamu tahu kan, kalau Nyonya Yuna melarangmu keluar dari apartemen ini?" gerutu Sandra kesal.


"Iya, sekali lagi maaf, San. Aku nggak punya maksud membuat kalian jadi khawatir," ucap Mutiara.


"Ya sudah, cepat masuk!" Sandra lalu membuka pintu itu lebih lebar agar Mutiara segera masuk. Saat pintu itu terbuka sepenuhnya, pandangan Sandra langsung tertuju kepada seorang pria yang ada bersama Mutiara.


"Tuan Arkha!" Sandra membelalakkan mata dan sangat terkejut saat melihat Arkha ada bersamanya.


"Kenapa Tuan Arkha bisa bersamamu, Ra?" tanyanya sangat heran.


"Tadi kami bertemu di jalan dan aku mengantarnya ke sini," sahut Arkha mendahului menjawab pertanyaan Sandra.


"Tapi ...?" Sandra semakin bingung.


"Biarkan kami masuk dulu, San. Kita bicara di dalam saja," sergah Mutiara sambil bergegas masuk dan Arkha juga mengikutinya masuk ke dalam apartemen itu.


"Sandra, dimana Mama?" tanya Arkha saat mereka sudah ada di ruang tamu.


"Tadi Nyonya sangat sedih karena Ara dan Baruna pergi tanpa pamit padanya, karena Ara tidak bisa dihubungi jadinya Nyonya menelponku untuk datang kesini, dan sekarang Nyonya mengurung diri di kamar," terang Sandra panjang lebar.


Ia masih merasa kesal karena kepergian Ara tanpa pamit, membuat dia harus datang ke apartemen itu menemani Mama Yuna.


"Aku akan menidurkan Baruna dulu di kamar, setelah itu aku akan menemuinya," ujar Mutiara sambil melangkah ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah Mutiara masuk ke kamarnya, sejenak Sandra dan Arkha hanya saling beradu tatap.


"Kenapa Tuan bisa bersama Ara?" tanya Sandra heran.


"Ceritanya panjang, Sandra. Nanti juga kau akan tahu semuanya," balas Arkha tanpa banyak memberi alasan.


"Sandra ..., apa Ara dan Baruna sudah kembali?" Mama Yuna keluar dari kamarnya dan langsung ke ruang tamu sambil melontarkan pertanyaan kepada Sandra.


Belum sempat Sandra menjawab pertanyaan itu, Mama Yuna sudah terlihat sangat terkejut saat melihat Arkha ada di sana bersamanya.


"Arkha ...! Buat apa kamu kesini, Anak Bodoh! Dan dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?" Mama Yuna menatap tajam ke arah Arkha yang masih berdiri di ruang tamu. Arkha hanya tersenyum, walau melihat Mamanya marah, Arkha merasa senang karena dia menyadari bahwa kini Mama Yuna sudah mengenalinya lagi.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya yang mengajak Tuan Arkha ke sini." Mutiara yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menaggapi pertanyaan Mama Yuna.


"Ara, kau ...!" bentak Mama Yuna sambil melotot ke arah Mutiara merasa kesal karena Mutiara melanggar perintahnya agar merahasiakan keberadaan mereka di apartemen itu kepada putranya.


"Aku yang memaksa Mutiara agar membawaku kesini menemui Mama," sela Arkha mengalihkan kekesalan Mamanya.


"Mutiara?" Kini Mama Yuna juga terlihat bingung.


"Sudah tiga tahun aku kembali ke kota ini, Ma, dan selama itu, aku nggak pernah bisa komunikasi sama Mama. Sekarang aku pingin ngobrol sama Mama sebentar," pinta Arkha sambil mendekati Mamanya dan meraih tangannya. Arkha lalu mencium tangan Mamanya sambil merangkulnya dan membawanya duduk di sofa.


Mutiara juga ikut duduk di sebelah mereka.


"Bagaimana keadaan Mama, apa Mama sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Arkha sambil terus memegang tangan Mama Yuna dan menatap wajahnya.


Untuk sesaat Mama Yuna hanya terdiam menundukkan wajahnya. Namun, ada air mata yang menetes membasahi pipinya.


"Arkha, Mama sangat senang karena ternyata kau masih hidup, tadinya Mama mengira kita sudah tidak akan pernah bisa bersama lagi seperti ini," ucap Mama Yuna sendu sambil ikut menatap wajah putranya dan mengusap pipinya dengan kedua tangannya.


"Ma, kecelakaan itu belum membuatku mati, Tuhan masih memberi kesempatan untuk aku hidup dan kembali bersama Mama disini," sahut Arkha ikut merasa haru melihat kondisi Mamanya yang terlihat sudah normal.

__ADS_1


"Alfin dan Livina memang jahat! Mereka berdua pantas dihukum karena sudah berbuat sekeji itu terhadapmu, Arkha!" dengus Mama Yuna penuh kemarahan.


"Alfin sudah mendapat ganjarannya, Ma. Sekarang dia sudah mendekam di penjara," terang Arkha.


"Tapi kamu sangat bodoh, Arkha! Mengapa hanya Alfin saja? Livina juga seharusnya di penjara seperti Alfin. Tapi kenapa kau justru menikahinya lagi? Dasar bodoh!" umpat Mama Yuna sambil menoyor kening Arkha dengan telunjuknya.


"Aku tahu Mama memang nggak suka sama Livina, tapi bagaimanapun juga dia adalah ibu dari putriku Ardila, karena itulah aku terpaksa menikahinya lagi, aku harus bertanggung jawab untuk anak itu, Ma. Dia cucu kandung Mama juga!" kilah Arkha.


Mama Yuna menggeleng dan tersenyum sinis.


"Ardila bukan cucuku! Anak itu bukan anak kandungmu, Arkha!" pekik Mama Yuna kembali menatap tajam ke arah Arkha.


"Maksud Mama?" Arkha juga menatap mimik wajah Mamanya yang terlihat sangat emosi saat mengucapkan kata-katanya.


"Alfin dan Livina sudah membohongimu, Arkha!" sengit Mama Yuna sambil membuang nafas kasar.


"Bohong?" Arkha menyerngitkan dahinya, semakin tidak mengerti maksud perkataan Mamanya.


"Ardila itu anak dari hasil hubungan gelap Alfin dan Livina, mereka sengaja membohongi semua orang dan mengatakan kalau anak itu adalah darah dagingmu agar semua warisanmu jatuh ke tangan mereka, Kha!" ungkap Mama Yuna.


"Apa?" Arkha membulatkan matanya, yang dikatakan Mamanya membuatnya berdecak tidak percaya.


"Tidak mungkin, Ma. Ardila itu putriku, aku sendiri yang menerima surat hasil tes DNA ku dan Ardila dari rumah sakit, dan hasilnya semua cocok, Ardila itu darah dagingku, Ma!" elak Arkha.


"Itu semua hasil rekayasa Livina, Arkha! Wanita matre itu sudah munyuap petugas lab di rumah sakit agar membuat surat hasil tes DNA palsu!" sosor Mama Yuna menerangkan semua kebohongan Livina.


"Dari mana Mama tahu semua itu, Ma?" tanya Arkha masih tidak percaya.


"Mama mendengarnya sendiri saat Alfin dan Livina membahas tentang harta warisanmu, beberapa hari setelah penguburan jenasah yang orang-orang kira itu adalah kau, Arkha!"


"Livina ...! berarti memang benar selama ini dia sudah menipuku dan berpura-pura manis di hadapanku hanya demi mendapatkan hartaku!" sungut Arkha.

__ADS_1


"Dasar perempuan mata duitan! Tidak tahu malu!" hujat Arkha geram. Semua yang diceritakan Mamanya membuat kecewa dan amarah seketika menyala dan berkobar di dalam dadanya.


Mutiara hanya tertunduk diam menyimak perbincangan antara Mama dan putranya itu, meski dia tidak sepenuhnya memahami pembahasan Mama Yuna dan Arkha mengenai warisan yang dimaksud, Mutiara setidaknya tahu kalau semua kebohongan Livina itulah yang membuat Mama Yuna selama ini begitu membenci menantunya itu.


__ADS_2