Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #91 Pengakuan Mama Yuna (Flash Back Akal Busuk Alfin dan Livina)


__ADS_3

"Bukan itu saja, Arkha. Mereka juga mencoba menghabisi Mama, agar semua warisan yang harusnya jadi hak Mama bisa mereka ambil juga!" seru Mama Yuna menerangkan ceritanya.


"Tolong ceritakan semuanya padaku, Ma! Apa saja yang yang mereka sudah lakukan terhadap Mama?" tuntut Arkha berharap Mamanya membeberkan lagi semua kebusukan Alfin dan Livina selama ini.


Mama Yuna menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil menghela nafas panjang. Sejenak ia memejamkan matanya, dengan bibirnya yang bergetar Mama Yuna mulai menceritakan semua apa yang diingatnya dari kejadian empat tahun silam.


****


Flash Back


Tiga hari pasca kecelakaan yang terjadi di kapal ikan milik perusahaan Arkha, jenazah Arkha sudah ditemukan dalam kondisi rusak dan sulit dikenali. Namun, semua orang meyakini kalau itu adalah benar jasad Arkha karena di dalam saku celana jasad itu ditemukan sebuah kartu identitas milik Arkha.


Hingga lima hari setelah penguburan jenazah itu, Mama Yuna masih merasakan duka yang sangat dalam. Kehilangan putra semata wayangnya dengan cara tragis membuatnya begitu sedih dan terpukul.


Sudah selama itu juga Mama Yuna hanya mengurung diri di kamarnya. Livina juga tidak terlalu mempedulikannya karena dari awal dia menikah dengan Arkha, Mama Yuna memang tidak pernah memberikan restunya. Meski mereka tinggal satu atap, sejatinya mereka sering berselisih paham dan jarang saling menyapa.


Malam itu, tiba-tiba Mama Yuna terbangun dari tidurnya dan merasakan tenggorokannya sangat kering namun gelas di meja nakas sudah kosong. Perlahan Mama Yuna bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


Saat berada di sebelah tangga yang menuju ke lantai dua rumah itu, samar-samar Mama Yuna bisa mendengar ada suara seorang pria dari sebuah kamar di lantai dua.


"Kenapa aku seperti mendengar ada suara laki-laki dari kamar Livina?" pikirnya.


Merasa curiga, Mama Yuna melangkah menaiki anak tangga dan mendekati kamar Livina. Selama Arkha masih ada, Livina memang tidak tidur sekamar dengan Arkha. Meski mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Namun, kala itu Livina belum mencintai Arkha sehingga Arkha juga tidak pernah menuntut agar Livina tidur di satu kamar dengannya.


Di depan kamar Livina, Mama Yuna terkesiap dan tidak dapat berucap sepatah katapun saat mendengar suara d*sahan dua manusia yang tengah memadu hasrat dari dalam kamar itu.


Saat itu, Alfin dan Livina tengah berduaan di dalam kamar dan sedang sangat menikmati permainan panasnya.


"Aahhh ..., aku lelah sekali, Al. Kita sudah melakukannya berkali-kali malam ini," desah Livina lirih karena sudah beberapa kali menikmati puncak gairahnya bersama Alfin.

__ADS_1


"Ini belum seberapa, Sayang. Aku belum puas, aku mau kita melakukannya sampai pagi," bisik Alfin genit sambil terus bergerak melanjutkan aktivitasnya.


"Aahh ..., tapi aku sudah capek, Al. Kita istirahat dulu sebentar, ya! Nanti aku akan memuaskanmu lagi," sahut Livina sambil melemaskan tubuhnya karena sudah tidak sanggup mengimbangi permaina Alfin.


"Ya sudah istirahat dulu sebentar, tapi setelah ini kita harus melakukannya lagi, Sayang," tuntut Alfin sambil melepaskan tubuh Livina yang sudah bermandikan keringat dan kelelahan dari cengkramannya. Namun, Alfin masih terus mencumbu Livina dengan memberikan kecupan dan ciuman di dada dan leher Livina.


Kemudian keduanya saling menatap dan tersenyum puas. Livina menyandarkan kepalanya di bahu Alfin dan bibir mereka kembali beradu, saling ******* penuh gairah.


"Sampai kapan kita akan melakukan ini sembunyi-sembunyi begini terus, Al? Sekarang Arkha sudah tidak ada lagi, harusnya kau segera menikahiku," urai Livina mengutarakan keinginannya kepada Alfin.


"Sabar, Sayang. Kita harus berhasil menguasai semua harta Arkha dulu, setelah itu kita pasti akan menikah," sahut Alfin penuh keyakinan.


"Tapi aku belum hamil, bagaimana kita bisa meyakinkan orang-orang bahwa aku akan punya anak dari Arkha?" Livina terlihat ragu.


"Makanya kita harus lebih sering melakukannya, Vin. Agar kamu segera hamil dan punya seorang anak untuk mewarisi semua kekayaan Arkha sesuai isi surat wasiatnya," terang Alfin.


"Bagaimana kalau ada yang curiga bahwa anak kita nanti sesungguhnya bukanlah anak Arkha, Al?"


Livina mengganguk paham. "Lalu bagaimana dengan Mama Yuna, Al? Dia juga akan mewarisi sebagian dari harta itu, termasuk juga rumah ini, Al," tanyanya lagi.


"Kita akan menghabisi wanita itu secara pelan-pelan setelah bagiannya kita ambil juga, Vin. Kamu tenang saja, aku yang akan mengatur semuanya!"


Lagi-lagi Livina hanya mengangguk dia percaya kalau Alfin akan dengan mudah bisa menjalankan rencana liciknya.


Mama Yuna terus menguping pembicaraan mereka dari depan pintu, ia semakin tercengang dan seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat itu. Ibu kandung Arkha itu menjadi sangat marah setelah mengetahui pengkhianatan Livina menantunya bersama Alfin sahabat baik putranya. Dengan sangat kesal dia menggedor pintu kamar Livina dengan kedua tangannya.


"Keluar kamu, Livina! Dasar wanita murahan, pengkhianat!" pekik Mama Yuna sambil mendorong pintu itu sekuat tenaga. Sialnya Alfin dan Livina lupa mengunci pintu kamar itu sebelumnya. Sehingga, Mama Yuna bisa membukanya dengan mudah dan menerobos masuk ke dalam kamar itu.


Mama Yuna membelalakkan matanya melihat Alfin dan Livina ada di atas ranjang berdua tanpa mengenakan busana.

__ADS_1


Livina buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh bugilnya. "Mama ...!" teriaknya panik karena tidak pernah menyangka Mama Yuna tiba-tiba masuk ke kamarnya.


Alfin ikut panik, secepat kilat tangannya menyambar handuk yang ada di sebelah ranjang itu dan melilitkannya di pinggangnya. Alfin juga mengambil daster Livina yang tergeletak di lantai dan memberikannya kepada Livina.


"Alfin ..., Livina ...! Kalian berdua tak ubahnya seperti binatang jal*n. Manusia laknat! Demi harta kalian tega mengkhianati Arkha, sahabat kecil kalian sendiri!" bentak Mama Yuna dengan kobaran api kemarahan menyala di matanya.


"Livina ...! Perempuan macam apa kau itu? Dasar wanita hina, wanita rendahan! Tega kamu berbuat senista ini!"


"Cih ...! Belum juga kering tanah kuburan suamimu, kau sudah bermain kotor denga laki-laki bangs*t ini!" Mama Yuna benar-benar sudah tidak mampu menahan kemarahannya sehingga kata-kata hinaan keluar begitu saja dari mulutnya, mengumpat dua manusia di hadapannya.


Livina yang sudah mengenakan kembali dasternya, segera turun dari ranjangnya dan ikut menatap tajam ke arah Mama Yuna.


"Cukup, Ma! Mama tidak perlu menghinaku seperti itu lagi. Sekarang Arkha sudah tidak ada, hidup dan mati Mama ada di tanganku!" pekik Livina penuh ancaman karena telinganya terasa panas setelah mendengar hinaan Mama Yuna yang bertubi-tubi terhadapnya.


Tidak mampu lagi menahan luapan emosinya, Livina mendorong tubuh Mama Yuna keluar dari kamarnya.


"Sekali lagi Mama menghinaku, Mama akan merasakan akibatnya!" ancam Livina lagi sambil terus mendelikkan matanya dan mendesak Mama Yuna yang terdesak dan melangkah mundur di hadapannya.


Bruuggh ...!


Livina mendorong dada Mama Yuna dengan kuat sehingga Mama Yuna jatuh ke tangga dan berguling di anak tangga hingga ke lantai satu di rumah itu.


"Rasakan itu, Wanita Bawel!" dengus Livina sambil mengangkat satu ujung bibirnya dan hanya sekilas melirik Mama Yuna yang tersungkur tidak sadarkan diri di lantai tanpa ada rasa ingin menolongnya.


Semenjak kejadian itu, kondisi kesehatan Mama Yuna semakin menurun, jiwanya semakin terguncang dengan kelicikan dan kejahatan Livina terhadapnya, sehingga ia mengalami depresi berat. Melihat kondisi Mama Yuna yang seperti itu, Livina dan Alfin sengaja memasukkannya ke rumah sakit jiwa agar semua orang menganggapnya gila. Namun, hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu akan keberadaan Mama Yuna di rumah sakit itu.


Berada di lingkungan rumah sakit jiwa, tentunya kondisi kejiwaan Mama Yuna menjadi semakin buruk, pikirannya sangat berantakan dan emosinya menjadi tidak terkontrol hingga akhirnya ia benar-benar menderita gangguan mental dan sulit disembuhkan. Ingatannya hanya tertuju pada satu orang yaitu putra kecilnya yang selalu dipanggilnya dengan panggilan Kaka.


****

__ADS_1


"Dasar perempuan laknat! Aku tidak akan memaafkanmu, Livina! Aku akan segera mengirimmu ke penjara!" geram Arkha sangat gusar setelah mendengarkan cerita Mamanya. Kedua tangannya mengepal, suaranya bergetar sangat marah.


"Mama minta kamu segera menceraikan Livina, Arkha! Perempuan itu tidak pantas menjadi istrimu!" Mama Yuna ikut merasa gusar, semua kejadian yang sudah dialaminya selama empat tahun terakhir, menyisakan dendam yang begitu membekas di dalam hatinya.


__ADS_2