Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #25 Sekali Lagi


__ADS_3

Malam semakin larut, hujan yang tadinya begitu deras kini sudah mulai sedikit reda.


Segara memeluk Mutiara dengan sangat erat seakan enggan untuk melepaskannya. Kecupan kecupan sayang pun masih terus dilancarkannya di seluruh bagian wajah Mutiara. Hasrat yang sudah lama dipendamnya akhirnya tercurahkan dengan begitu indah bersama wanita yang sangat dicintainya malam itu.


Keduanya masih sama sama belum mengenakan pakaiannya, hembusan angin pantai yang dingin seolah tak dirisaukan oleh dua insan yang sedang didera panasnya gairah asmara.


"Sayang, mau sekali lagi?" goda Segara sambil mencium bibir Mutiara yang lebih banyak diam setelah pergulatan mereka.


Mendengar ajakan Segara, Mutiara hanya tersenyum tersipu malu, lalu dengan gemas wanita yang baru saja kehilangan kegadisannya itu mencubit dada suaminya.


"Aw... sakit, Sayang!" ringis Segara, sambil membalas mencubit pipi Mutiara juga dengan sangat gemas.


'Kita pulang yuk, Bang! mumpung hujannya agak mereda." ajak Mutiara sambil berusaha melepaskan pelukan Segara.


"Sebentar lagi, Ra. Aku masih sangat nyaman memelukmu seperti ini!" bisik Segara, ia justru semakin mempererat pelukannya.


"Bapak di rumah pasti mengkhawatirkan kita, Bang!" bujuk Mutiara lagi.


Meski tak ingin, akhirnya Segara melepaskan juga pelukannya dan membiarkan Mutiara beranjak bangun dari kasur tipis, tempat mereka baru saja menjalankan ritual malam pertama mereka yang tertunda hampir tiga bulan lamanya setelah pernikahan mereka.


Perlahan Mutiara berdiri, namun tiba tiba saja lututnya gemetar sehingga tak mampu menyangga tubuhnya untuk bisa tegak berdiri.


Brugg...!


Mutiara terjatuh dan Segara yang masih duduk di atas kasur itu dengan cekatan menangkap tubuh Mutiara, sehingga tidak sampai terhempas ke lantai.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Segara nampak cemas.


"Lututku gemetar, Bang! aku nggak kuat berdiri." ujarnya sambil meringis.


Segara hanya tersenyum menatap wajah Mutiara yang nampak sangat kelelahan, setelah beberapa kali menikmati kehangatan sentuhan cintanya, Mutiara bahkan tidak mampu berdiri dengan tegak karenanya. Maklum saja, ini pertama kalinya seorang pria dengan begitu gagah perkasa menjejal nya dengan serangan maut.


Segara kemudian mengangkat tubuh mungil Mutiara dan menggendongnya menuju kamar mandi kecil yang ada di sebelah dapur di warung itu. Mutiara sudah mulai tidak canggung lagi padanya, sehingga dengan manja ia mengalungkan kedua tangannya di bahu Segara saat Segara menggendongnya, dan senyum bahagia nampak menghiasi wajah keduanya saat mereka bertatapan begitu dekat.


Setelah membersihkan badannya dan sama sama mengenakan kembali pakaiannya yang masih setengah basah, keduanya lalu meninggalkan warungnya.

__ADS_1


Hujan masih turun namun hanya gerimis kecil. Segara dan Mutiara berjalan menerobos gelapnya malam, melewati jalan setapak, menuju rumah mereka, bernaung di bawah satu payung. Segara merangkul pundak Mutiara dan Mutiara juga merangkul pinggang Segara sangat erat, rintik air hujan menjadi saksi bisu kemesraan pasangan yang tengah dimabuk asmara itu.


"Syukurlah kalian sudah pulang!" Imran masih terjaga, ia menunggu putri dan menantunya pulang sambil duduk di ruang tamu dan nampak cemas.


"Bagaimana warungnya, Ra? apa kerusakannya parah?" tanya Imran khawatir.


"Satu bagian atapnya terlepas, Pak. Tapi untungnya Bang Segara sudah bisa memperbaikinya dan tadi kami mengeringkan air yang masuk sampai di dalam ruangan dulu, makanya kami agak lama disana!" sahut Mutiara memberi alasan.


"Ya sudah, kalau begitu kalian segera ganti baju dan istirahatlah!" perintah Imran, karena melihat pakaian Mutiara dan Segara yang nampak masih basah.


Segara dan Mutiara segera masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, keduanya lalu sama sama merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ra, apa kamu masih lelah, Sayang?" tanya Segara sambil memeluk Mutiara yang sedang merebahkan kepalanya di dadanya.


"Uahhhem.....! iya, aku sangat mengantuk, Bang!" jawab Mutiara sambil menguap dan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Ehh... nggak boleh tidur dulu, Sayang! kita belum melakukannya lagi!" bisik Segara genit.


Segara mengangkat wajah Mutiara dengan tangannya lalu mencium bibir tipisnya itu dengan sangat mesra. Ciuman yang begitu panas dan membawa mereka kembali terbuai dalam gairah. Tangan Segara pun kembali liar berkelana menjelajahi semua bagian bagian yang tersembunyi di balik daster tipis yang dikenakan Mutiara.


"Itu karena kamu belum terbiasa, Sayang! setelah beberapa kali pasti tidak akan sakit lagi!" bujuk Segara makin genit, ia semakin bergairah mendengar keluhan lugu yang keluar dari bibir Mutiara.


Tanpa menunggu ijin Mutiara, Segara langsung menindih tubuh istrinya itu dan terus menerus melancarkan cumbuannya. Untuk kedua kalinya, mereka bergulat dalam gairah yang tengah membara. Hanya deru nafas dan ******* yang terdengar lirih, suasana begitu panas di dalam kamar itu.


Keduanya sama sama kelelahan setelah menyelesaikan pergulatan panasnya, hingga mereka tertidur begitu lelap.


Pagi menyapa, Segara perlahan membuka matanya dan merasakan kehangatan tangan Mutiara masih memeluknya. Keduanya masih bertelanjang bulat, namun tubuh mereka ditutupi selimut yang menambah rasa hangat pelukan itu.


Sekilas Segara melirik jam dinding di kamar itu yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


"Bangun, Ra! sudah pagi, kamu nggak ke warung hari ini?" Segara mengecup pucuk kepala Mutiara yang masih tertidur menindih dadanya.


"Malas ah, Bang. Hari ini aku libur saja, badanku pegal semua." jawabnya pelan dengan matanya yang masih tertutup. Mutiara memang sudah lebih dulu terbangun sebelum Segara, namun ia enggan membuka matanya karena masih lelah dan merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.


Segara tersenyum menyadari betapa kerasnya pergumulan yang sudah mereka lakukan tadi malam, sehingga Mutiara menjadi begitu lemas pagi itu.

__ADS_1


"Kamu istirahat aja dulu, Ra! biar aku yang siapkan sarapan!" Segara melepaskan pelukan Mutiara dan beranjak dari ranjang itu.


"Memangnya kamu bisa masak, Bang?" tanya Mutiara meremehkan.


Segara hanya membalas pertanyaan Mutiara dengan senyuman sambil memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai dan mulai mengenakannya satu persatu.


Segara lalu keluar meninggalkan Mutiara yang masih berbaring malas di atas ranjangnya.


Mutiara beranjak dari ranjang itu dan meraih dasternya yang sudah diletakkan di atas tempat tidur oleh Segara.


Mutiara berdiri di depan cermin dan memandangi tubuh polosnya yang masih belum mengenakan apa apa. Noda merah bekas kenakalan bibir Segara nampak bertebaran di leher dan dadanya, Mutiara tersenyum kecut mengingat betapa panasnya malam yang telah ia lewati bersama suaminya, ia menyentuh bagian paling sensitifnya yang masih terasa perih. Mutiara menghela nafas dalam, ia menyadari kalau dirinya sudah kehilangan kegadisannya dan sudah ia serahkan dengan suka rela kepada Segara, orang yang memang berhak mendapatkan semua itu darinya.


Mutiara segera memakai kembali semua pakaiannya dan melangkah tertatih menuju ke dapur menyusul Segara.


Sampai di dapur Mutiara mencium aroma masakan mengguar memenuhi seisi rumah.


"Masak apa, Bang!" Mutiara mendekati Segara yang masih sibuk dengan wajan dan spatula di tangannya.


"Cuma telur dadar aja, Sayang!" Segara tidak menoleh ke arah Mutiara karena masih fokus menggoreng telur untuk sarapan mereka pagi itu.


"Sini biar aku yang lanjutin, Bang! seharusnya aku yang masak." Mutiara merebut spatula kayu dari tangan Segara.


"Hei.. kamu istirahat aja, Ra. Cuma masak telur aja kok! pokoknya hari ini kamu istirahat, biar aku yang mengerjakan semuanya" tegas Segara.


"Kamu nggak jualan hari ini, Ra!" Imran yang juga mencium aroma masakan dari dapur langsung bangun dan menghampiri Segara dan Mutiara.


"Mutiara sedikit tidak enak badan hari ini, Pak. Mungkin karena kehujanan tadi malam, jadi aku melarangnya pergi ke warung tadi pagi!" terang Segara.


"Iya, Pak! badanku ngilu semua, mungkin masuk angin!" sambung Mutiara sambil memijat sendiri pundak dan bahunya yang terasa kaku.


"Oh jadi karena itu makanya suamimu yang masak hari ini, ya? dasar manja!" seloroh Imran menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa apa, sesekali biar aku yang melayani istriku, Pak!" timpal Segara sambil terkekeh.


Ketiganya lalu sama sama tersenyum dan tertawa kecil.

__ADS_1


Imran merasa sangat bahagia semenjak kehadiran Segara di keluarganya, kalau biasanya hanya ada dia dan Mutiara saja di rumah itu, kini ada Segara yang ikut meramaikan suasana rumahnya yang sebelumnya dirasa sepi semenjak istrinya tiada.


__ADS_2