
Hari berganti pagi.
Arkha terjaga dari tidurnya dan mengucek matanya karena merasa silau oleh terpaan sinar matahari pagi yang menyusup masuk dari balik jendela.
Setelah matanya terbuka lebar, Arkha tersenyum menyadari kalau tadi malam dia tidak tidur di rumahnya, melainkan memilih menginap di sebuah hotel. Dia sengaja tidak pulang dengan alasan enggan bertemu Livina.
Setelah dia tahu semua kebenaran tentangnya, dia merasa sangat marah dan kecewa. Akan tetapi, dia juga tidak mau gegabah. Sebelum menceraikan dan memenjarakan Livina, tentunya banyak bukti pendukung yang harus dikumpulkannya terlebih dahulu. Karena bila tanpa bukti, Livina bisa saja berkilah dan tidak mengakui semua kejahatannya.
Selain itu, pikirannya juga sudah jauh lebih tenang karena menyadari saat ini Mutiara, wanita yang selalu menjadi beban pikirannya selama ini kini sudah kembali dalam kehidupannya. Mutiara juga sudah aman bersama Mama Yuna di apartemennya, hal inilah yang membuatnya sangat bersemangat menjalani harinya hari itu dan sebuah senyum tidak pernah lepas selalu melekat di bibirnya.
Setelah mandi dan berkemas, Arkha check out dari hotel itu dan bergegas menuju kantornya.
Seperti biasa, saat tiba di kantor semua orang menyapa ramah dan membungkuk hormat kepadanya. Kalau biasanya Arkha akan selalu memasang wajah datar saat bertemu semua bawahannya, berbeda dengan pagi itu. Arkha ikut tersenyum ramah menanggapi sapaan para karyawan di kantornya.
"Rendy, ikut ke ruanganku!" perintah Arkha saat melihat Rendy sudah tiba lebih dahulu disana dan ikut membungkuk hormat saat Arkha tiba di depan ruang kerjanya.
"Baik, Bos!" Rendy mengikuti langkah Arkha menuju ruangannya. Namun, ada rasa segan yang tengah dirasakannya, dia takut kalau Arkha akan memarahinya karena dia sudah gagal menjalankan tugas yang dititahkan Arkha sebelumnya kepadanya.
"Kamu memang tidak becus, Rendy! Tidak satupun tugas yang aku perintahkan padamu berhasil kamu bereskan!" seringai Arkha tersenyum kecut menatap wajah Rendy yang nampak canggung di hadapannya.
"Maafkan saya, Bos. Sebenarnya saya ...," ucapan Rendy terhenti ketika Arkha langsung memotongnya.
"Sebenarnya kamu itu memang sangat payah, Rendy!" seloroh Arkha. Nada suaranya tidak terdengar seperti seseorang yang sedang marah, melainkan sedang mengejek Rendy.
"Sudahlah lupakan semua itu, Rendy! Hari ini aku tidak akan memarahimu. Dan mulai sekarang kamu tidak perlu lagi mencari Mutiara dan Mama, kalian silahkan ambil cuti saja," cibir Arkha menyeringai miring. Akan tetapi, wajahnya berbinar memancarkan kebahagiaan.
"Apa Anda sudah menemukan mereka, Bos?" tanya Rendy merasa bingung dengan sikap Arkha yang sedikit berbeda hari itu.
"Cintaku sudah kembali, Rendy. Hari ini aku sangat bahagia, karena itu aku tidak akan memarahi siapapun hari ini, aku akan menyimpan kemarahanku hanya untuk seseorang yang pantas mendapatkannya," sungut Arkha. Namun, bibirnya terus tersenyum.
Dan Rendy hanya diam terpaku, "Ini si Bos lagi kesambet apaan ya, kenapa dia berubah aneh hari ini?" sungut batin Rendy.
__ADS_1
"Sekarang, aku ingin kau melakukan satu hal untukku, Rendy." Arkha melanjutkan memberi perintah kepada Rendy.
"Apapun perintah Anda, kali ini akan saya kerjakan dengan sebaik-baiknya, Bos," sahut Rendy tegas berusaha meyakinkan Arkha kalau dia tidak akan mengecewakan atasannya itu lagi
Arkha lalu menceritakan semua kebohongan Livina kepada Rendy termasuk pemalsuan surat tes DNA antara dia dan Ardila yang dibuat oleh Livina dan Rendy pun mengangguk paham.
"Baik, Bos! Semua itu perkara mudah, saya akan menyelesaikannya segera," sahut Rendy penuh percaya diri.
"Aku mau sore ini semua sudah beres, Rendy."
"Siap, Bos!"
"Hari ini, akan aku buat Livina menyesali semua perbuatannya terhadapku dan juga Mama," geram Arkha dengan senyum sinis penuh kebencian..
"Oh ya, ada satu lagi, Rendy!" tambah Arkha seraya menjentikkan jarinya.
"Tolong siapkan semua laporan dan berkas yang harus aku tandatangani hari ini, aku ingin menyelesaikan semua pekerjaanku siang ini juga," lanjutnya.
"Memangnya anda mau kemana, Bos? Sepertinya anda sedang terburu-buru sekali?" tanya Rendy penasaran.
****
Sementara itu di apartemen Mama Yuna.
Di ruang tamu tampak Mama Yuna tengah sibuk membuka tas-tas belanjaan yang baru saja dibawakan Sandra untuknya.
"Apa kau sudah membeli semua perlengkapan yang aku minta, Sandra?" tanya Mama Yuna sambil memeriksa semua barang yang dibeli oleh Sandra sesuai permintaanya.
"Saya rasa sudah, Nyonya. Ini semua skin care dan baju-baju dari butik yang saya beli sesuai permintaan Nyonya, kalau ada yang masih kurang, siang ini saya akan ke mall untuk membelinya lagi," sahut Sandra sambil ikut membantu membuka tas-tas itu.
Mama Yuna tersenyum saat memperhatikan sebuah mini dress berwarna biru muda dengan motif bunga di tangannya.
__ADS_1
"Dress ini pasti sangat cocok jika dipakai oleh Mutiara," gumamnya.
Mama Yuna memang sengaja menyuruh Sandra pergi ke butik mahal dan membeli beberapa potong pakaian baru untuk Mutiara.
"Sandra, tolong panggilkan Mutiara kesini, aku ingin dia mencoba semua baju-baju ini, semoga ukurannya pas," ujar Mama Yuna.
"Baik, Nyonya!" sahut Sandra sambil melangkah menuju kamar Mutiara dan memanggilnya.
"Apa Nyonya memanggil saya?" tanya Mutiara saat ia sudah berada di hadapan Mama Yuna.
"Duduk disini, Ra. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," perintah Mama Yuna sambil menunjuk sofa di sebelah tempat duduknya.
Mutiara pun duduk di sebelah Mama Yuna. Mutiara terperangah saat melihat ada banyak baju-baju dan produk perawatan kulit mahal di hadapannya.
"Wah ..., apa Nyonya yang membeli semua baju-baju mahal ini?" tanyanya sangat takjub melihat barang-barang itu.
"Iya, Ra. Aku membeli ini semua untukmu, kamu pasti akan terlihat lebih cantik memakai baju-baju ini," sahut Mama Yuna tersenyum menatap wajah Mutiara.
"Hah ..., untuk saya, benarkah?" Mutiara menggeleng tidak percaya.
"Tentu saja, Ra. Baju-baju ini semua untukmu. Dan mulai sekarang kamu harus memakai baju-baju ini setiap harinya,"
"Tapi baju-baju ini pasti harganya sangat mahal, Nyonya!" sungkan Mutiara sambil sekilas memperhatikan penampilan serta baju yang sedang dipakainya saat itu.
Walau sudah tinggal di kota itu, Mutiara memang tidak pernah mengubah penampilannya, hanya kaos polos dan celana kulot panjang sederhana yang selalu setia melekat di tubuhnya. Namun, semua itu tidaklah mengurangi kecantikan alami yang terpancar di wajah polos Mutiara.
"Mahal atau tidak, semua itu tidak penting, Ra. Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Muda di keluarga Waradana, mulai sekarang kamu harus lebih memperhatikan penampilan kamu," beber Mama Yuna menjelaskan tujuannya memberikan semua baju-baju itu untuk Mutiara.
"Dan wajah cantik ini, sesekali harus kamu poles dengan make up supaya kecantikanmu lebih terpancar, Mutiara," imbuh Mama Yuna sambil mengangkat dagu Mutiara dan tersenyum menatap wajahnya.
"Tapi, Nyonya ...?"
__ADS_1
"Jangan membantah, Ra. Sekarang kamu segera pakai dress ini dan dandan yang cantik. Sebentar lagi Arkha akan kesini menjemputmu, bukan?"
Mutiara hanya mengangguk dan ikut tersenyum, ia ingat kalau siang itu Arkha memang akan datang menjemputnya untuk bersama-sama menemui Genta di rumah sakit.