Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #95 Merubah Penampilan


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Mutiara tersenyum malu memandangi bayangannya dari pantulan cermin.


"Apa aku pantas memakai baju ini, San? Jujur saja, aku tidak terbiasa memakai baju seperti ini," keluh Mutiara merasa tidak nyaman dengan mini dress yang tengah dikenakannya.


Sandra yang ada bersamanya di kamar saat itu hanya menanggapinya dengan tersenyum lebar.


"Kamu sangat cocok mengenakan dress ini, Ra. Nyonya Yuna pasti akan sangat senang melihat kamu memakai baju pilihannya," puji Sandra mengagumi kecantikan Mutiara.


"Tapi, baju ini terlalu terbuka dan pendek, San. Aku malu kalau harus keluar memakai baju seperti ini," aku Mutiara dengan polosnya.


Lagi-lagi Sandra hanya tersenyum saat mendengar pengakuan lugu Mutiara.


"Ini dress model kekinian ala artis-artis Korea itu, Ra, dan kamu sangat cocok memakainya." Sandra mengedipkan sebelah matanya sambil terkekeh dan terus tersenyum.


Mutiara hanya menggeleng, sesungguhnya dia sangat tidak nyaman mengenakan dress itu. Namun, mau tidak mau dia harus tetap mengenakannya, karena itu merupakan perintah dari Mama Yuna yang tidak mungkin ditolaknya.


"Sekarang kamu harus pakai make up, Ra. Nyonya Yuna mau kamu dandan yang cantik hari ini." Sandra mengeluarkan kotak kosmetik yang baru dibelinya. Di kotak itu, berbagai jenis kosmetik dan skin care produk terkenal dengan harga mahal ada di dalamnya.


Mutiara kembali hanya menggeleng. "Aku tidak pernah pakai make up, San. Bahkan sekedar lipstik saja, aku sangat jarang memakainya," ucap Mutiara jujur.


Sandra lalu menoleh dan memperhatikan wajah Mutiara. Wajah itu memang terlihat sangat polos tanpa pernah tersentuh riasan apapun. Kulit mulus tanpa cacat serta bibir berwarna pink alami yang dimiliki Mutiara memang terlihat sangat sempurna. Warna kulit Mutiara memang tidak terlalu putih. Tetapi, wajah itu selalu tampak berkilau bagaikan mutiara yang sesungguhnya.


"Ayo duduk, Ra!" Sandra menunjuk kursi meja rias di hadapan Mutiara. "Aku akan pakaikan sedikit bedak di wajahmu. Ini akan membuat wajahmu terlihat lebih glowing," terang Sandra sambil mengambil satu-persatu kosmetik itu dan mulai mengoleskannya di wajah Mutiara.


Kendati merasa sedikit risih, Mutiara tidak menolak dan membiarkan saja Sandra mendandaninya.


"Perfect!" Sandra mengacungkan jempolnya saat sudah menyelesaikan riasan tipis di wajah Mutiara.


"Sumpah, kamu cantik banget, Ra. Aku sangat mengagumimu. Tuan Arkha sangat beruntung memiliki calon istri secantik dirimu," puji Sandra lagi. Dia memang tidak sanggup menyembunyikan kekagumannya saat melihat kesempurnaan yang terpancar di wajah Mutiara.


Mutiara ikut tersenyum memandangi wajahnya di pantulan cermin. Dengan make up flawless yang diaplikasikan Sandra, kini wajahnya terlihat lebih cerah berseri.


"Ini yang terakhir, Ra!" seru Sandra sambil memperlihatkan sepasang high heels berwarna perak kepada Mutiara.


Melihat benda itu, Mutiara langsung membelalakan matanya.

__ADS_1


"Apa aku harus pakai sepatu itu juga, San?" tanyanya ragu.


"Memangnya kenapa, Ra?"


"Sepatu itu terlalu tinggi, Sandra! Aku tidak akan sanggup berjalan dengan sepatu itu,"


"Kamu belum mencobanya kan, Ra?" bujuk Sandra sambil berjongkok di hadapan Mutiara dan meletakkan sepatu itu di depan kedua kaki Mutiara.


"Ayo pakai!" seru Sandra dan Mutiara hanya bisa menurutinya saja.


High heels setinggi 7 cm dan size 38 itu sangat pas dengan ukuran kaki mungil Mutiara sehingga Mutiara juga merasa cukup nyaman memakainya.


"Sudah selesai, sekarang ayo keluar. Aku ingin tahu bagaimana pendapat Nyonya Yuna melihat hasil make over ku terhadapmu." Sandra tersenyum puas lalu menggandeng tangan Mutiara dan mengajaknya keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dimana Mama Yuna sudah menunggunya di sana.


"Ibu ...! Ibu tantik tetayi!" seru Baruna saat melihat Ibunya kini ada di hadapannya dengan dandanannya yang sedikit berbeda hari itu. Baruna yang saat itu tengah asyik bermain bersama Mama Yuna langsung berlari berhambur ke gendongan Mutiara.


"Makasih, Sayang. Anak Ibu juga ganteng sekali hari ini," ujar Mutiara sambil mencubit gemas hidung Baruna yang saat itu juga sudah dipakaikan baju baru oleh Mama Yuna. Keduanya memang sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Genta.


Mama Yuna ikut tersenyum, ia sangat terpesona melihat penampilan Mutiara dengan dandanan simple-nya. Namun, terlihat sangat elegan sehingga tidak akan ada seorangpun yang menyangka kalau awalnya dia hanyalah seorang wanita kampung yang sederhana.


"Mulai hari ini kamu harus berpenampilan seperti ini terus, Mutiara!" ujar Mama Yuna penuh rasa kagum.


Ting .... Tung ...!


Belum habis kekaguman Mama Yuna, bel apartemennya bersuara nyaring.


"Itu pasti Arkha datang!" serunya.


"Mutiara, kamu masuk ke kamarmu dulu, Aku akan buat surprise untuk Arkha," perintah Mama Yuna sambil mengambil alih Baruna dari gendongan Mutiara.


Sandra bergegas membukakan pintu dan seperti dugaan Mama Yuna, Arkha sudah berdiri di depan pintu dengan senyum sumringahnya.


Tanpa menunggu dipersilahkan masuk, Arkha langsung menerobos melebarkan langkahnya ke dalam ruangan apartemen itu.


"Hai ..., Ma. Bagaimana kabar Mama?"

__ADS_1


Melihat Mamanya sedang duduk di sofa, Arkha langsung menghampiri dan mencium tangannya.


"Om Ganteng!" Baruna yang ada di pangkuan Mama Yuna langsung berpindah ke pangkuan Arkha.


"Anak Papa, kamu ganteng sekali hari ini, Sayang. Papa kangen sama kamu," seru Arkha memeluk dan mencium pipi Baruna penuh kasih sayang.


"Kamu datang lebih awal, Arkha. Apa kamu tidak ke kantor hari ini?" Mama Yuna tersenyum melihat raut wajah bahagia putranya saat berada dekat dengan Baruna.


"Pekerjaanku sudah beres, Ma. Makanya aku langsung kesini,"


"Eleh! Bilang saja kalau kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mutiara, kan?" seloroh Mama Yuna dengan senyum cibirannya.


"He ... he ..., Mama tahu aja," sahut Arkha terkekeh dan tersipu malu.


"Apa Mutiara sudah siap?" tanya Arkha.


"Sudah!" terdengar sebuah suara menjawab. Dari balik pintu kamarnya, Mutiara melangkah anggun menuju ruang tamu.


Arkha terperangah, penampilan Mutiara yang sangat berbeda hari itu begitu menarik perhatiannya, sehingga tanpa disadarinya matanya menatap Mutiara tanpa berkedip dan mulutnya menganga sangat terpesona.


"Mutiara, kamu cantik sekali!" Kata pujian itu meluncur seketika dari mulutnya.


Mutiara hanya menundukkan wajahnya dan tersipu. Sebuah senyum juga tidak mampu disembunyikan. Bibir yang diolesi lipstik glossy warna pink itu kini tampak semakin merona karenanya.


"Kalau kalian sudah siap sebaiknya segera pergi sekarang, dan ingat sebelum jam empat sore kalian sudah harus balik!" sosor Mama Yuna membuyarkan semua yang terjadi di depan matanya.


"Hah! Jam empat?" Arkha membulatkan matanya.


"Mama jangan pelit gitu dong sama aku, Ma! Perjalanan dari sini sampai ke rumah sakit aja sudah satu jam lamanya. Mana mungkin aku bisa kembali jam empat?" Arkha menggeleng heran, tidak setuju dengan perintah Mamanya.


"Mama nggak mau tahu. Pokoknya sebelum maghrib kalian sudah harus kembali! Ingat kalian itu bukan muhrim. Jadi, setelah semua urusan kalian selesai, kalian harus segera pulang!" tegas Mama Yuna meninggikan tekanan suaranya.


"Iya, Ma! kalau itu aku paham, Mama tidak usah khawatir. Aku bukan anak kecil lagi!" tampik Arkha menyeringai.


Arkha dan Mutiara lalu saling menatap dan tersenyum geli. Sikap overprotective Mama Yuna memang cukup berlebihan terhadap mereka.

__ADS_1


__ADS_2