Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #98 Melarikan Diri


__ADS_3

Arkha kembali menjalankan mobilnya pelan saat keluar dari rumah sakit. Rasa bahagia memenuhi hatinya karena Baruna kini sudah mulai terbiasa memanggilnya Papa.


Demikian pula dengan Mutiara, kini sudah tidak ada lagi beban pikirannya tentang Genta. Meski Genta masih belum sembuh, tetapi dia yakin kalau Arkha akan memberikan perawatan terbaik untuk Genta.


"Habis ini kita kemana? Apa Una mau jalan-jalan lagi?" tanya Arkha kepada Baruna yang saat itu sudah duduk manis di pangkuan Mutiara. Dia ingin bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama Mutiara dan Baruna serta mengajak jalan-jalan berkeliling di kota itu


"Mau, Papa. Una pengen dayan-dayan cama Papa," jawab bocah itu sambil menggerak-gerakkan badannya girang.


"Kita akan ke toko mainan. Papa akan belikan mainan yang banyak untuk Una," ajak Arkha ikut tersenyum senang melihat tingkah girang Baruna.


"Tapi, ini sudah sore, Bang. Nyonya Yuna menyuruh kita langsung pulang setelah dari rumah sakit, kan?" Mutiara yang patuh akan nasehat Mama Yuna, mencoba mengingatkan Arkha.


"Aahh ..., Mama itu memang terlalu banyak aturan," gerutu Arkha tersenyum kecut.


"Nyonya Yuna tidak salah menyuruh kita agar cepat pulang, Bang. Abang itu masih berstatus suami orang, wajar kalau Nyonya Yuna melarang kita terlalu dekat saat ini,"


"Tapi aku masih kangen sama kamu dan juga Baruna, Ra." Arkha menatap mata Mutiara dan tersenyum menggoda. Tangan kanannya masih fokus di atas stir mobilnya. Tetapi, tangan kiri Arkha meraih tangan Mutiara lalu membawanya ke bibirnya dan memberi kecupan mesra di sana.


Mutiara membalasnya juga dengan tersenyum manis, wajahnya kembali merona menanggapi perlakuan Arkha terhadapnya.


Drrrtt ...! Drrrtt ...!


Ponsel Arkha mengeluarkan suara dan Arkha merasakan benda itu bergetar di dalam saku jasnya.


"Siapa lagi sih yang menelpon? mengganggu saja!" sungut Arkha kesal sambil melepaskan tangan Mutiara. Kemudian dengan cepat ia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Arkha menyerngitkan dahinya saat melihat panggilan masuk di layar ponselnya.


"Telpon dari rumah? Siapa yang menelpon?" batin Arkha.


Tidak biasanya ada yang berani menelponnya dari rumahnya kecuali Mamanya. Namun, saat itu Mama Yuna sedang ada di apartemen, pastinya bukan Mama Yuna yang menelpon, bahkan Livina pun tidak pernah menelponnya dengan telpon rumah.


"Hallo ...!" Arkha menjawab telponnya.


"Maafkan saya menelpon Anda, Tuan. Saya ingin menyampaikan informasi penting," sahut suara dari sambungan telpon.

__ADS_1


"Hmm ..., iya ada apa?" Arkha bisa mengenali kalau pelayan di rumahnya yang menelpon.


"Nyonya Livina baru saja meninggalkan rumah, Tuan. Nyonya membawa koper besar dan juga mengajak Nona Ardila bersamanya. Nyonya terlihat sangat buru-buru saat pergi," beber pelayannya.


"Meninggalkan rumah?" Arkha membulatkan matanya.


"Benar, Tuan. Kami tidak berani mencegahnya karena Nyonya Livina mengancam dan marah-marah pada kami,"


"Pergi kemana perempuan itu?" pikir Arkha.


"Ada hal lain yang lebih penting yang juga ingin saya sampaikan kepada Anda, Tuan," sambunng pelayannya lagi.


"Hal penting apa?"


"Sepertinya Nyonya Livina pergi dengan membawa beberapa surat-surat penting yang diambil dari ruang kerja Anda. Tadi saya sempat cek ke ruangan itu dan safety deposit box di sana sudah dibobol oleh Nyonya Livina, Tuan!"


"Apa?" Arkha tersentak mendengar berita yang disampaikan pelayannya.


"Kami khawatir banyak barang berharga lainnya juga dibawa pergi oleh Nyonya Livina, Tuan."


"Rupanya Livina sudah lebih dulu tahu kalau aku sudah mengetahui semua kecurangannya." Sejenak Arkha membatin. Ada kemarahan yang kembali menyesakkan dadanya.


"Ada apa, Bang?" tanya Mutiara heran melihat Arkha yang berubah tampak sangat kesal setelah menerima panggilan di ponselnya.


Sontak saja pertanyaan Mutiara membuat kekesalan Arkha buyar.


"Maafkan aku, Ra. Aku belum bisa mengajak kalian jalan-jalan hari ini. Ada urusan penting yang harus segera aku selesaikan," ujar Arkha. Namun, aura kemarahan tak dapat disembunyikannya, terlihat jelas dari wajahnya yang tetiba memerah.


"Iya nggak apa-apa, Bang," sahut Mutiara tanpa berani bertanya lagi. Dari raut wajah Arkha, Mutiara bisa memahami kalau saat itu ada permasalahan serius yang lebih penting harus diselesaikan oleh Arkha.


"Maafin Papa ya, Una Sayang. Sekarang Papa belum bisa membelikan mainan untuk Una. Papa ada pekerjaaan penting," jelas Arkha kepada Baruna dan bocah kecil itu hanya menganggukkan kepalanya.


Arkha mempercepat laju mobilnya untuk mengantarkan Mutiara dan Baruna ke apartemen Mamanya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Arkha langsung kembali pulang ke rumahnya untuk mencari tahu kebenaran berita yang disampaikan oleh pelayannya.


Tiba di rumahnya, semua pelayan tertunduk takut saat melihat Arkha pulang. Setelah apa yang terjadi di rumah itu, mereka berpikir pastinya Arkha akan sangat marah dan membentak mereka.


Akan tetapi, tanpa membalas sapaan pelayannya, Arkha bergegas menuju ruang kerjanya. Benar saja, ruangan itu terlihat berantakan dan safety deposit box-nya sudah terbuka. Sejumlah uang cash raib dari dalam kotak itu.


"Sial ...! Livina bisa membobol safety deposit box-ku. Dasar perempuan culas!" dengus Arkha.


"Aahh ..., bodoh sekali aku!" Arkha mengacak rambutnya dan berdecak kesal. Ia teringat kalau dia sudah menggunakan tanggal ulang tahun Ardila sebagai PIN di safety deposit box itu, sehingga Livina dengan mudah bisa membobolnya.


Arkha memeriksa beberapa dokumen lainnya dari laci meja kerjanya dan Arkha kembali berdecak penuh amarah saat tidak menemukan beberapa surat penting disana termasuk juga sertifikat rumah besarnya itu.


"Livina ...! Perempuan matre itu sudah kabur membawa surat-surat berharga milikku!" sungut Arkha dengan geram.


Arkha kemudian masuk ke kamarnya. Di sana dia tambah terkejut karena mendapatkan lemari pakaian Livina sudah kosong. Selain pakaian, Livina juga sudah membawa semua perhiasan berharga miliknya serta passport dan beberapa ID card lainnya.


"Kau coba melarikan diri ke luar negeri rupanya, Livina!" sinis Arkha sambil menaikkan satu ujung bibirnya.


"Tidak semudah itu, Livina! Kau tahu betul siapa aku. Aku tidak akan mebiarkanmu lolos!" Mata Arkha tampak semakin menyala.


Arkha meraih ponselnya dan menelpon Rendy.


"Rendy, Livina kabur dari rumah dan mencoba melarikan diri. Sekarang kau laporkan kepada polisi saja! Biar polisi yang mengerjakan semuanya, kau tidak perlu ikut campur!" perintah Arkha kepada asistennya itu.


"Siap, Bos!" sahut Rendy dari seberang.


Arkha menyandarkan tubuhnya di head board tempat tidurnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan kembali tersenyum sinis.


"Livina sangat bodoh! Dengan cara melarikan diri dia pikir dia bisa lepas dariku. Dia tidak tahu kalau dengan caranya pergi seperti ini, aku akan bisa lebih mudah menggiringnya ke penjara," dengus Arkha.


Senyum penuh kemenangan kini terulas di bibirnya. Kepergian Livina dengan membawa surat-surat berharga miliknya mempermudahnya mengajukan laporan kepada polisi.


---------------------------------

__ADS_1


Konflik masih ada ya guys, cerita belum berakhir. Tetap author tunggu like dan komennya dari pembaca setia semuanya.


__ADS_2